My Ustadz My Husband

My Ustadz My Husband
Part 86



Khadijah melipat sebuah kertas yg baru saja ia menuliskan sesuatu disana, dan kemudian ia menandatangani sebuah surat, dan menyimpannya di laci.


Dering ponsel nya sedikit mengagetkan nya. Ia pun segera menjawab panggilan itu.


"Assalamualaikum, Mas" Sapa nya.


"Waalaikum salam, bagaimana keadaan mu, Khadijah?"


"Baik kok, engga usah khawatir, lagian Mas Bilal nanyain itu terus tiap hari. Engga ada pertanyaan lain apa?" Terdengar suara kekehan Bilal dari seberang telpon.


"Ya aku khawatir aja"


"Aku baik, kalau ada apa apa juga aku pasti panggil Ummi atau Hubab"


"Maaf ya, aku belum bisa pulang"


"Engga apa apa, bagaimana keadaan kamu, Mas?. Kaki kamu sudah baikan?"


"Iya, jauh lebih baik"


"Em Mas... Apa Asma masih marah sama aku?"


"Jangan fikirkan itu terus, dia pasti akan memaafkan mu"


"Hm"


Khadijah hanya menggumam, semua orang mengatakan padanya bahwa Asma pasti akan memaafkan nya. Tapi Khadijah sendiri tidak bisa memaafkan dirinya sendiri sebelum Asma benar benar memaafkannya.


"Ya udah, aku mau sholat Isya dulu"


"Iya, besok aku telpon lagi.


"Assalamualaikum, Mas"


"Waalaikumsalam, Sayang"


Setelah memutus sambungan telponnya, Khadijah bergegas untuk melaksanakan sholat Isya bersama di Musholla bersama Bi Mina.


"Ibu makin hari makin pucat, apa engga sebaik nya kerumah sakit ?" Tanya Bi Mina khawatir saat melihat Khadijah berjalan menuruni tangga.


"Engga apa apa, Bi. Aku baik baik aja kok" Jawab Khadijah, mereka pun bersiap sholat Isya bersama.


.


.


.


Bilal menatap istri nya dengan tatapan yg sangat mencurigakan, Asma yg menyadari itu pun tiba tiba memiliki firasat buruk. Sehingga ia membalas tatapan Bilal dengan penuh kewaspadaan.


Bilal tersenyum samar karena hal itu, Asma merangkak naik ke atas ranjang, menarik selimut dan berbaring memunggungi Bilal.


"Engga boleh tidur memunggungi suami, Zahra" Tapi Asma tak mengindahkan peringatan suami nya itu.


Asma memejamkan matanya, namun kemudia ia kembali membuka matanya lebar lebar.


"Bilal..." Ia memanggil suaminya itu tanpa menoleh, Bilal hanya menjawab nya dengan gumaman samar "Sebenarnya kamu sedih engga sih kalau aku minta cerai?" Bukannya menjawab, Bilal malah tertawa kecil membuat Asma langsung menoleh padanya yg ternyata Bilal sudah berbaring di belakang nya dan tanpa permisi, Bilal mengecup singkat bibir Asma membuat Asma tersentak.


"Kenapa sih bibir kamu ini begitu mudah mengucapkan kata cerai?. Membayangkan nya saja aku tidak mampu" Asma berdecak dan ia kembali memunggungi Bilal. Bilal melingkarkan tangan nya di perut Asma dan mendekapnya. Tentu hal ini lah yg membuat Asma heran, bagaimana bisa Bilal bersikap biasa aja setelah semua yg terjadi di antara mereka.


"Aku sudah pernah memutuskan dengan sangat yakin untuk bercerai, aku bahkan sudah membuat surat gugatan cerai dan sudah aku tanda tangani, sudah di kirim juga ke rumah mu, tapi kata Bi Mina engga ada surat atau paket apapun"


"Aku tahu, Adil sudah memberi tahu ku"


"Lalu?. Dimana surat itu?. Apa istri mu yg menerima nya?" Mendengar kata 'Istri mu' Bilal hanya bisa mengulum senyum dan malah mengeratkan pelukannya. Ia bisa mengerti jika Asma masih marah pada Khadijah.


"Engga, mungkin Adil salah menuliskan alamatnya"


"Engga mungkin"


"Sudah lah. Lupakan saja, mungkin ada malaikat yg mencegah surat itu sampai kepada ku" Asma kembali berdecak kesal. Ia berusaha melepaskan diri dari pelukan Bilal, Tapi Bilal malah semakin mendekap nya dan bahkan kini menggoda nya.


"Bilal...." Asma berkata dengan lirih dan berusaha menghentikan aksi suami nya itu. "Bilal lepasin aku" Tapi Bilal malah terus berusaha membuai Zahra nya dengan sentuhan sentuhan nya yg perlahan mulai meruntuhkan pertahanan Asma.


"Ck, Bilal..." Asma masih berusaha menolak dan ia menoleh, kini tatapan nya bertemu dengan tatapan Bilal yg sayu. Tentu Asma sudah tahu arti tatapan itu


"Bilal..."


"Hanya kaki ku yg sakit, Zahra. Jangan menolak, nanti dosa lho"


"Ya bukannya aku nolak, Bilal. Tapi..."


"Aku suami mu, Zahra." Bilal berkata dengan tegas "Dan itu sudah kewajiban mu pada ku".


"Oh Tuan mesum, setidaknya perhatikan kondisi mu sekarang" Seru Asma sedikit kesal. Namun Bilal menanggapi nya dengan tawa lebar. Membuat Asma semakin kebingungan, apa lagi ia baru saja membicarakan perceraian dan sekarang Bilal ingin.....


Yang benar saja, fikir nya. Apa Bilal benar benar sudah tidak waras.


"Tuan mesum ini suami mu"


Bilal kembali melancarkan aksinya menggoda sang istri, hingga lama lama Asma benar benar tergoda dan tak bisa lagi mempertahankan diri.


Ia hanya bisa pasrah, namun ia juga harus akui, dirinya memang merindukan saat saat seperti ini bersama suami nya.


"Apa kau tahu betapa aku merindukan mu di saat saat seperti ini?" Bilal bertanya dengan suara seraknya. Asma tak bisa menjawab ia hanya mampu menatap Bilal dengan rindu yg sama besar nya.


Bilal menggenggam tangan Asma dan mengecup jari nya satu persatu.


"Aku mencintai mu, Zahra"


.


.


.


Asma bergerak terganggu saat merasakan sentuhan di pipi nya. Perlahan ia membuka mata, dan tatapan nya bertemu dengan tatapan Bilal yg sedang tersenyum lebar. Membuat Asma mengerutkan kening nya. Apa lagi Bilal memeluk nya dengan sangat erat.


"Zahra..." Bilal memanggil istri nya itu dengan suara serak. "Fikirkan lagi jika kamu masih ingin meninggalkan ku, karena...." Bilal berusaha menahan senyum nya "Karena aku engga mau calon anak ku nanti lahir tanpa Ayah"


Seketika mata Asma langsung melotot sempurna. Ia mengerti sekarang apa maksud Bilal meminta jatah nya.


"Dasar... kamu... kamu menjebak ku? huh?" Asma berteriak dan hendak menjauh dari Bilal tapi Bilal malah mengurung tubuh nya.


"Dasar jahat, benar benar jahat kamu" Bilal tertawa geli dengan reaksi istrinya yg tampak sangat kesal itu. Asma memberontak dengan sisa tenaga yg ada, ia memukul dada Bilal dengan beringas namun Bilal mencekal pergelangan tangan nya yg kecil, dan tentu kekuatan nya itu tidak ada apa apa nya di bandingkan kekuatan Bilal.


"Engga sopan seperti itu pada suami mu, Zahra. Lagi pula menjebak apa?. Kita suami istri, aku hanya meminta hak ku sebagai suami." Bilal memperingatkan di iringi tawa nya. Membut Asma masih semakin kesal. Ingin rasanya ia mencekik Bilal saat ini.


"Tapi kamu menjebakku, benar benar...... pria macam apa kamu ini"


"Ayolah, Sayang. Kita melakuan nya suka sama suka, kita saling merindukan dan membutuhkan. Kenapa kamu se marah itu sih" Bilal masih berusaha menenangkan istri nya yg terus berontak itu.


"Tapi di saat seperti ini kamu minta...."


"Minta apa?" Bilal menantang nya, membuat Asma hanya bisa menggeram menahan kesal.


"Dasar... menyebalkan...mesum... " Maki Asma yg membuat Bilal semakin tertawa. Asma yg terus memberontak membuat Bilal tiba tiba merintih karena kaki nya yg masih sakit tanpa sengaja di tendang oleh Asma.


"Aduh... Kaki ku, Zahra..." Ringis Bilal.


"Biarin, masih syukur aku engga tendang ke atas dikit, biar tahu rasa" celetuk Asma sekenanya membuat Bilal langsung melotot.


"Hey, Sayang... Itu masa depan kita" Goda Bilal. Asma tak menghiraukannya, dan ia hendak turun dari ranjang namun Bilal kembali menarik nya kedalam pelukannya, membuat Asma kembali memberontak kesal.


"Shhh sssh...tenang ya, tenang. Jangan memberontak terus, nanti ke dengeran orang rumah lho. Ini masih tengah malam" Pinta Bilal masih mencoba menaklukan istri nya itu.


"Biarin, aku akan bilang sama Abi dan Ummi kalau kamu menjebakku" Tawa Bilal kembali pecah mendengar celotehan Asma.


"Apa aku memaksa? atau aku memberi mu obat yg membuat mu tidak sadar melakukan itu?. Hm?" Goda Bilal lagi yg membuat wajah Asma semakin memerah menahan kesal.


Entah bagaimana bisa dia segampang itu terbuai oleh Bilal, semudah itu ia luluh pada suami nya itu. Asma merasa Bilal sungguh telah menguasai dirinya, jiwa dan raga nya.


Bahkan, Asma sendiri seolah kehilangan kuasa pada dirinya sendiri. Karena entah sadar atau tidak, Asma benar benar telah menjatuhkan semua nya pada suaminya itu.


"Hufff" Asma hanya bisa menghela nafas kasar. sementara Bilal masih tak bisa menghentikan senyum geli nya itu.


▪️▪️▪️


Tbc...