My Ustadz My Husband

My Ustadz My Husband
Part 51



Jarak sama sekali tak menjadi pemisah bagi hati yg sudah menyatu, terkadang jarak bisa menciptakan sebuah ikatan yg kuat yg berasal dari rindu. Walaupun rindu terkadang terasa menyesakkan namun juga sangat manis, tak ada yg bisa menjelaskan bagaimana itu rindu, namun semua yg punya hati akan punya rindu.


^^^My Ustadz My Husband^^^


^^^'Tanpa mu di sisi ku, seperti perjalanan dengan arah yg tak menentu, hambar, dan juga gersang. Seandainya aku bisa menulis takdir ku sendiri, ku pastikan takkan berpisah dengan mu walau hanya sesaat. '^^^


Asma tak bisa menghentikan senyum yg terus mengembang di bibirnya membaca pesan suaminya itu yg entah sejak kapan dari seorang Ustadz berubah menjadi seorang penyair.


Seiring berjalannya waktu, keduanya semakin dekat walau hanya lewat pesan, telpon dan sesekali video call. Asma bisa mengerti, suami nya itu mengurus Khadijah sendirian, sementara di sini, semua orang mengurus Asma.


Dan terjadi begitu saja, kedekatan keduanya seperti sepasang kekasih yg baru menjalin asmara jarak jauh, begitu manis. Terkadang mengumbar kemesraan dengan pesan romantis dan manis yg pasti bisa membuat semua yg membaca nya terbuai tak terkecuali Asma, bagaimana setiap hari Bilal menuturkan kerinduan nya pada sang kekasih, sungguh membuat kerinduan Asma pun tak bisa ia bendung.


Me


'LEBAY'


^^^My Ustadz My Husband^^^


^^^'Kok lebay sih, Sayang. Serius tahu, itu isi hati ku'^^^


Me


'Kalau emang rindu, kenapa jarang telepon?"


^^^My Ustadz My Husband^^^


^^^'Maaf, aku sedikit sibuk. Apa kau sudah merindukan ku?"^^^


Me


'Belum'


^^^My Ustadz My Husband^^^


^^^'Istri macam apa yg tidak merindukan suami nya?'^^^


Me


'Istri macam istri mu ini'


Me


'Bilal, bagaimana keadaan Mbak? apakah ada kemajuan?"


^^^My Ustadz My Husband^^^


^^^'Dia semakin membaik, doakan ya, Sayang'^^^


^^^My Ustadz My Husband^^^


^^^''Zahra, bisakah kau mengirim pesan suara? Aku rindu suara mu saat memanggil nama ku'^^^


Asma merasa bodoh karena ia merona hanya karena membaca pesan Bilal yg mengatakan rindu suara nya.


Me


'Aku di asrama, dan semua orang sudah tidur. Mereka bisa bangun jika aku bersuara'


^^^My Ustadz My Husband^^^


^^^'Kau bisa keluar sebentar. Ku mohon, Sayang. Aku rindu suara mu yg seksi dan romantis saat mengucapkan nama ku'^^^


Dan Asma kembali tersipu, padahal ia berharap Bilal melupakan kejadian itu, namun Bilal terus mengingat nya dan mengungkit nya. Kemudian Asma pun mendekatkan ponsel nya dan ia mulai merekam suara nya dengan setangah berbisik


Me


'Bilal, kamu suami yg tidak beruntung, karena istri mu belum juga merindukan mu'


Asma menanti balasan Bilal, dan Bilal pun membalasnya dengan pesan suara juga.


^^^My Ustadz My Husband^^^


^^^'Bilal adalah pria paling beruntung di dunia, karena Bilal memiliki Zahra nya'^^^


Hati Asma kembali berbunga bunga mendengarkan pesan suara Bilal yg sangat mesra itu yg langsung melelehkan hati nya. Asma mendengarkan pesan suara Bilal beberapa kali, ia juga sangat merindukan suara suami nya itu, ia rindu bagaimana Bilal mengucapkan nama Zahra dengan begitu indah, atau memanggilnya sayang dengan begitu lembut.


Tapi tetap saja, ego Asma masih di pelihara oleh gadis yg sedang jatuh cinta itu.


Me


'MODUS !'


^^^My Ustadz My Husband^^^


^^^'Hanya yg belum punya ikatan yg modus, Sayang. Sementara kita sudah terikat dengan ikatan yg kuat dan suci. Aku engga perlu modusin kamu'^^^


"Nih orang pintar banget bikin jantung dag dig dug engga jelas" gumam Asma namun bibirnya masih menyunggingkan senyum bahagia.


^^^My Ustadz My Husband^^^


^^^'Zahra, ini sudah malam, pergilah tidur, Sayang. Aku mencintai mu, selamat malam'^^^


Asma menghela nafas membaca pesan terkahir Bilal, karena ia masih ingin berbicara dengan suami nya itu. Tapi seperti itulah setiap malam, Bilal akan menyuruh Asma pergi tidur.


Me


'Baiklah, kamu juga tidur, jaga diri di sana, *y*a!'


^^^My Ustadz My Husband^^^


^^^'Iya, Ciuman selamat malam ku mana?'^^^


Me


😘


^^^My Ustadz My Husband^^^


^^^'😘😘😘😘😘😘 I love you'^^^


Me


'👍'


^^^My Ustadz My Husband^^^


^^^' Kok jempol? Tunggu aja aku pulang, akan ku dapatkan apa yg harus kau berikan'^^^


Me


'Katanya aku di suruh tidur...'


^^^My Ustadz My Husband^^^


^^^'😉. Oke, selamat malam. Mimpi indah, Zahra ku'^^^


Asma masih senyum senyum sendiri setelah membaca pesan itu, kemudian ia meletakkan ponselnya dan hendak tidur, namun saat berbalik, ia di kejutkan dengan Imel yg sudah duduk bersila menatap nya sambil tersenyum lebar.


"Lagi pacaran, Neng?" Tanya Imel menggoda. Asma tak bisa menjawab dan ia hanya tersenyum malu malu. Sebenarnya Imel sudah menyaksikan hal itu hampir setiap malam, dan itu mengingatkan Imel pada masa awal awal dia pacaran dengan suami nya, keduanya bergadang karena chatting an yg hanya mengumbar kata kata manis dan modus, namun membuat keduanya nya terlena dan terbuai dalam sebuah perasaan yg begitu manis. Dan itu juga yg terjadi pada Asma, bahkan Asma sampai membawa ponselnya ke kamar mandi jika ia dan Bilal sedang chatting an.


"Uff, aku juga merindukan nya" seru Imel, kemdian Asma menyodorkan hp nya pada Imel "Apa?" tanya Imel


"Katanya rindu..." seru Asma masih menyodorkan ponselnya


"Asma, itu di larang di sini" tegas Imel.


"Ayolah, Mel. Tidak ada larangan yg berlaku untuk melepaskan kerinduan seorang istri pada suami nya"


"Engga usah. Lagi pula minggu lalu aku sudah berbicara dengan Wildan"


"Minggu lalu?" teriak Asma tanpa sengaja dan itu sepertinya menganggu tidur teman teman nya karena mereka langsung menggeliat dan menggerutu.


Asma tak bisa membayangkan berada di posisi Imel, karena sehari saja dia tak berbicara dengan Bilal itu sudah membuat Asma galau tingkat dewa dan tak semangat beraktifitas.


"Ayo cepat, Mel. Berapa nomor nya?" tanya Asma bersiap mengetik nomor nya. Imel tampak berfikir, di satu sisi ia memang sangat merindukan suami nya, di sisi lain ia merasa takut melanggar aturan asrama "Ya udah kalau engga mau, tunggu aja sampai minggu depan lagi untuk berbicara dengan suami tercinta mu itu" Ucap Asma yg membuat Imel langsung cemberut, ia pun langsung mengambil ponsel Asma dan mengetikan nomor hp suaminya kemudian mengirim pesan memberitahu itu adalah dirinya dan dia ingin menelpon. Asma senang melihatnya, namun setelah lama menunggu, pesan itu tak kunjung di baca oleh suami nya.


"Mungkin dia tidur, sudahlah" ucap Imel sedih dan mengembalikan ponselnya pada Asma.


Namun jiwa nakal Asma bangkit, ia dengan sengaja miskol suami Imel itu beberapa kali Dengan begitu, jika ada banyak panggilan tak terjawab, Suami Imel pasti mengira ada hal yg penting, fikir Asma. Dan benar saja, Asma melihat pesannya sudah di baca dan beberapa detik kemudian ponsel Asma berdering yg membuat Asma dan Imel kaget juga panik, dengan cepat Asma menjawab panggilan itu dan memberikan nya pada Imel.


"Imel, Sayang. Ini kamu? Ada apa? Apa kamu sakit? Apa kamu butuh sesuatu? Kamu dimana?" suami Imel itu mencecar Imel dengan pertanyaan yang diucapkannya dalam satu tarikan nafas, dan terdengar suara suami nya itu sangat khawatir.


"Mas, tenang. Aku engga apa apa, aku cuma...kangen" bisik Imel


"Bohong, kamu pasti sakit kan? Kenapa bisa telpon malam malam begini? Kamu di rumah sakit ya? Aku jemput sekarang ya,Sayang " Imel menyunggingkan senyum dengan kekhawatiran suami nya itu.


"Aku engga bohong, Mas. Maka nya dengerin aku dulu, aku menggunakan hp istri Ustadz Bilal" Imel kembali berbisik.


"Beneran kamu engga apa apa?" tanya suami Imel tapi tiba tiba Asma mengambil ponsel nya dan berbicara pada Suami Imel.


"Aku akan menelpon mu 5 menit lagi, tunggu ya" ucap Asma yg membuat Imel heran. Kemudian Asma memutuskan sambungan telepon nya dan ia mengenakan hijabnya.


"Mel, cepatan pakek kerudung mu" pinta Asma yg membuat Imel mengernyit bingung. Namun belum sempat Imel bertanya, Asma sudah mengambil kerudung wanita itu dan kemudian menarik nya keluar kamar.


"Asma, kita mau kemana?" tanya Imel yg terus di tarik keluar oleh Asma.


"Ke tempat kamu bisa bicara engga usah bisik bisik"


Dan Asma membawa Imel masuk ke rumah kiai Khalil, tentu Imel sangat kaget dan menolak. Tapi Asma memaksanya ikut, di sana mereka berjalan mengendap ngendap. Imel tak tahu apa rencana Asma, dan ia benar benar gugup karena mengendap ngendap di rumah guru nya.


Kemudian Asma masuk ke dalam sebuah kamar dan betapa terkejutnya Imel melihat beberapa foto Bilal terpajang disana.


"Asma, ini kamar Ustadz? Aku engga boleh masuk kesini, itu engga sopan" ucap Imel.


"Ini juga kamar ku kali, Mel" Ucap Asma kemudian ia menutup pintu nya dengan pelan pelan, Asma memberikan ponsel nya lagi pada Imel namun Imel tak mau menerima nya, ia masih merasa gugup berada di sana, tapi Asma malah melakukan panggilan video pada suami Imel itu yg membuat Imel tercengang dengan kegilaan Asma.


Dan panggilan itu pun langsung di jawab oleh suami Imel. Dengan ragu Imel mengambil ponsel nya namun semua rasa gugup dan rasa bersalahnya sirna seketika saat ia melihat wajah sang suami yg sangat ia rindukan.


"Astaghfirullah, Imel. Kamu berada di kamar pria? Bagaimana bisa?Apa yg sudah kamu lakukan, Imel?" terlihat suami nya marah. Imel yg tak tahu harus menjelaskan apa hanya bisa membuka mulut nya namun tak bersuara, dan kini malah Asma yg mengintip ke layar dan berbicara.


"Kalau nanya tuh satu satu, gimana Imel bisa jawab kalau kamu nanya terus" terlihat suami Imel yg heran karena kemunculan Asma.


"Kamu siapa?"


"Aku temannya Imel, dan ini kamar ku"


"Mas Wildan, ini Neng Asma, istri nya Ustadz Bilal" jelas Imel dan suami nya itu tampak terkejut "Dia membawa ku kesini supaya aku bisa leluasa berbicara dengan Mas Wildan" Mendengar penjelasan Imel, Wildan tampak terkejut, tak percaya namun ia juga terlihat senang karena bisa melihat istri nya.


"Bagaimana dia bisa membawa mu masuk ke kamar nya?"tanya suami Imel yg masih bingung.


"Itu engga penting, yg penting sekarang kalian bisa bicara dan melepas rindu" sambung Asma yg semakin membuat Wildan tampak bingung, dia pasti tak percaya kalau Asma itu istri seorang Ustadz. Melihat suaminya terlihat kebingungan, Imel pun menjelaskan siapa Asma dan bagaimana sikap nya, tentu itu membuat Wildan tertawa apa lagi saat Imel mengatakan bahwa istri Ustadz nya itu sedikit gila, Asma hanya tertawa mendengar Imel yg mengatakan hal itu pada suami nya.


"Dia bahkan mengatakan larangan tidak boleh di lakukan hanya jika berpotensi ketahuan" lanjut nya yg membuat Wildan geleng geleng kepala.


"Tapi itu memang benar, kan?" sela Asma


"Ya, kamu benar, Neng Asma"


Asma membiarkan suami istri itu berbicara sepuasnya, karena ia tahu rasanya menahan rindu itu sangat menyesakkan.


Setelah puas berbicara dengan suami nya, Imel memutuskan sambungan telepon nya, dan ia melihat pesan masuk di ponsel Asma.


"Asma, apa My Ustadz My Husband ini Ustadz Bilal?" tanya Imel heran. Asma mengangguk sambil mengulum senyum dan itu membuat Imel tertawa "Kamu ada ada aja ya, biasanya orang simpan kontak suami nya tuh dengan nama suami ku, cinta ku, sayang ku atau yg lain nya. Eh kamu malah nyimpan kontak Ustadz Bilal dengan nama My Ustadz My Husband. Haha haha, Ustadz Bilal tahu itu engga?"


Asma ikut tertawa mendengar komentar Imel, ia sendiri sadar itu hal konyol.


"Dia engga tahu"


"Terus kenapa kamu milih kata kata itu sebagai nama kontak nya?"


"Ya karena dulu dia tuh guru ku yg bimbing aku menyelesaikan ujian kelulusan, aku menghormati nya sebagai guru, eh engga tahu nya... dia suami ku" jawab Asma dengan senyum lebar nya. Kini kemarahan akan pernikahan yg tak pernah ia harapkan telah benar benar sirna, dan berganti dengan cinta.


Imel tertawa mendengar penjelasan Asma, unik menurut nya.


Kemudian Asma memeriksa pesan Bilal.


^^^My Ustadz My Husband^^^


^^^'Kenapa WA mu masih aktif, Zahra?'^^^


^^^My Ustadz My Husband^^^


^^^'Zahra, siapa yg kamu telpon malam malam Begini? Kenapa telpon mu sibuk?'^^^


^^^My Ustadz My Husband^^^


^^^'Zahra,Dengan siapa kamu bicara?'^^^


Asma meringis membaca pesan pesan Bilal yg tampaknya marah itu, dengan cepat Asma pun membalas pesan Bilal namun belum sempat Asma mengirimnya, Bilal sudah video call. Asma dan Imel pun menjadi panik. Asma meminta Imel tidak bersuara sementara Asma akan menjawab telpon Bilal. Setelah menarik nafas dan menghembuskannya perlahan, Asma menjawab panggilan suami nya itu dan menyunggingkan senyum tanpa dosa nya.


"Siapa yg kamu telpon malam malam begini, Zahra?" tanya Bilal dengan raut wajah kesal. 'Bukankah aku sudah meminta mu tidur?"


"Emm iya, Bilal. Tadi aku engga bisa tidur, jadi aku telponan sama Arini dan Marwah"


"Katanya tadi teman mu sudah tidur dan kamu takut menganggu mereka kalau kamu bersuara?"


"Oh itu.... itu...." Asma memutar otak nya mencari alasan


"Tunggu... Bukannya itu di kamar ku? Kamu di kamar ku?" tanya Bilal


Asma memperhatikan sekeliling nya dan mengangguk.


"Jadi tadi kamu bohong? Kamu engga ada di asrama?"


"Kan sudah aku bilang aku engga bisa tidur, terus ya aku pindah ke sini, terus aku telpon sepupu ku" jawab Asma sambil menyunggingkan senyum untuk meyakinkan Bilal.


"Hmm jadi kalau di kamar ku pasti bisa tidur, iya kan? Berasa ada aku, ya? Pasti kangen kan sama aku?" goda Bilal yg membuat Asma mencebikan bibir nya. Sementara Imel tercengang karena baru tahu Ustadz nya itu bisa lebay juga.


"Engga lah, tadi di asrama aku kedingina, makanya pindah"


"Bohong, Ummi bilang kamu di bawakan selimut dan bantal"


"Ya...itu...itu..." dan Asma tak tahu lagi harus menjawab apa.


"Bisa di mengerti kok, Sayang. Kamu pasti kangen hangatnya pelukan aku, iya kan?" dan Imel hanya bisa menganga mendengar kata kata Ustadz nya itu, Ustadz Bilal yg terlihat dewasa dan berwibawa, ternyata sangat alay dan lebay. fikir nya.


"Tau ah, aku mau tidur, takut besok ke siangan" Asma berkata sambil memberangut dan itu membuat Bilal tertawa geli.


"Ya udah, selamat malam sayang, Mimpi indah istri ku, aku mencintai mu"


Asma langsung memutuskan sambungan telepon nya dan ia merasa malu karena di perhatikan oleh Imel kelakuan suami nya itu.


"Ya Allah, Asma. Dia Ustadz Bilal kan? Dia putra nya Kiai Khalil dan Nyai Mufar kan?" tanya Imel seolah tak percaya dengan apa yg di saksikannya. Asma hanya mengedikan bahu dan ia pun mengajak Imel kembali ke asrama sebelum ada yg menyadari keberadaan mereka disana.


.


.


.


Singapura


Bilal begitu fokus akan pengobatan Khadijha, apa lagi tak ada yg membantu nya selain pihak rumah sakit, walaupun begitu, tak sedikitpun Bilal merasa lelah, dia akan melakukan apapun untuk kesembuhan istri nya.


Dan Bilal sangat bersyukur karena perbedaan waktu antara singapura dan jakarta yg hanya satu jam tidak menghambat komunikasi nya dengan Zahra nya. Satu satu nya alasan yg membuat dia tak bisa selalu berkomunikasi dengan pujaan hati nya itu adalah kesibukannya mengurus Khadijah.


Bilal merindukan istri kecil nya itu, rindu matanya saat menatap Bilal, rindu pipi nya yg memberengut saat marah, dan rindu suaranya saat menyebutkan nama nya.


▪️▪️▪️


Tbc...