
Asma kembali menjalani harinya dengan bahagia, walaupun terkadang ia masih mendengar seputar gosip tentang nya, Asma berusaha mengabaikan hal itu, apa lagi sekarang ia punya sahabat baru yg lebih dewasa darinya, Imel. Ternyata Asma salah menilai Imel, wanita itu bukanlah wanita dingin dan cuek, dia hangat dan menyenangkan. Bahkan Imel selalu memotivasi Asma untuk mengabaikan omongan orang selama itu tidak merugikannya. Selain itu, sekarang Imel juga memberi tahu Nora kalau sebenarnya ia juga menikah, bukannya terkejut mendengar kabar itu, Nora malah tampak sedih dan berkata.
"Yah, tinggal aku yg jomblo"
"Enak jomblo kali, Ra" kata Asma.
"Ck, engga enak, engga ada yg perhatiin, engga ada yg sayangin, aku kan juga pengen mesra mesraan ma suami ku, semoga aku juga bisa cepat menyusul kalian "
"JANGAN...."
"AAMIIN..."
Asma dan Imel berkata bersamaan walaupun dengan tanggapan yg berbeda. Nora memperhatikan kedua sahabat nya itu bergantian.
"Ya ini lah bedanya pernikahan berdasarkan cinta dan berdasarkan perjodohan semata"
"Eits, jangan salah" seru Imel "Pernikahan nya terjadi memang karena perjodohan, tapi akan di jalankan dengan cinta. Bukan begitu, Neng Asma?" goda Imel yg bisa merasakan bahwa Asma itu sebenarnya sedang kasmaran. Namun Asma hanya mengedikan bahu dan enggan mengakui nya, walaupun jauh dalam hatinya ia memang merasakan sesuatu pada Bilal, ia selalu merindukan Bilal saat Bilal tak ada di samping nya, padahal setiap hari mereka bertemu, ia cemburu saat Bilal menghabiskan waktu bersama Khadijah padahal dulu nya ia tak peduli. Asma merasa cemburu saat membayangkan Bilal memeluk Khadijah seperti memeluk dirinya, dan yg tak bisa ia mengerti, jantung nya selalu berdetak lebih cepat setiap kali berdekatan dengan Bilal.
"Lagi mikirin suami, Bu?" goda Nora yg melihat Asma senyum senyum tanpa sadar.
"Eng....enggak" jawab Asma salah tingkah, ia seperti maling yg ke pergok sedang mencuri.
.
.
.
Hari jumat adalah hari yg Asma sukai, libur. Saat ini ia sedang memberikan makan pada ikannya yg mulai tumbuh besar dan semakin cantik.
Bilal yg baru pulang dari Masjid itu segera menghampiri Zahra nya dan mengecup pipi nya membuat Asma tersentak kaget. Tak lagi kesal, apa lagi marah, kini Asma tersenyum dengan pipi merona setiap kali mendapatkan kecupan tiba tiba seperti itu dari Bilal. Terkadang Asma bertanya tanya kenapa Bilal itu tidak minta izin dulu atau ngomong dulu setidak nya kalau mau mencium nya, kenapa selalu melakukan nya tiba tiba?
"Ikan mu sudah makin besar ya" Seru Bilal sambil memperhatikan ikan Asma.
"He'em..." Jawab Asma menahan senyum nya karena masih merasakan efek ciuman Bilal.
Kemudian Bilal mendapatkan telpon dari Abi nya yg meminta nya datang ke pesantren saat itu juga.
"Sayang, Abi meminta ku ke pesantren sekarang, mungkin ada hal penting" seru Bilal.
"Ya udah, pergi aja" jawab Asma.
"Nanti kalau Khadijah nanyain, bilang aja Abi memanggil ku" pinta Bilal yg di jawab anggukan oleh Asma.
.
.
.
Setelah menyelesaikan urusan bersama Abi nya, Bilal segera pulang. Namun sebelum itu, Ummi Mufar menitipkan puding kesukaan Asma, Bilal senang karena Ummi nya sangat menyayangi Asma dan memperhatikan nya seperti memperhatikan Shofia.
Sesampai nya dirumah, Bilal melihat TV yg menyala namun tidak ada orang di ruangan itu.
"Zahra..." panggil nya. Namun Asma tak menjawab nya, Bilal pun memanggil nya sekali lagi dan kali ini Khadijah yg turun dari kamarnya.
"Ada apa, Mas?" tanya nya.
"Zahra dimana?" tanya Bilal "Ummi buatkan puding buat dia"
"Mungkin di kamarnya" jawab Khadijah dan ia pun duduk di sofa sembari menonton TV. Bilal yg memeriksa Asma ke kamarnya heran karena tak mendapati istri tercinta nya itu disana, bahkan ia sudah memeriksa ke kamar mandi tapi juga tidak ada, Bilal pun segera turun.
"Zahra engga ada di kamarnya" ia tampak mulai khawatir. Kemudian Bilal memanggil Bi Mina dan menanyakan keberadaan Asma.
"Tadi nonton TV di sini, Pak" jawab Bi Mina.
"Mungkin dia pergi keluar, Mas" tutur Khadijah yg melihat suaminya itu tampak sangat khawatir.
"Tapi mau keluar kemana? Dia engga pernah keluar rumah sendirian kecuali ke sekolah" ucap Bilal, ia pun mencoba menghubungi ponsel Asma, tapi ponselnya malah berdering di sana dan ternyata ponsel nya ada di sela sela sofa. Tentu itu membuat Bilal semakin khawatir, karena Zahra nya tak pernah pergi kemanapun tanpa Bilal kecuali ke sekolah. Bahkan Khadijah dan Bi Mina juga mulai terlihat khawatir, namun tiba tiba terdengar suara mobil di luar, mereka pun segera berlari dan Asma muncul dari balik pintu dengan beberapa plastik belanjaan di tangannya dan permen di mulut nya, ia membuka pintu dengan kaki nya.
"Zahra...." seru Bilal berlari ke arah istri nya itu. "Sayang, kamu dari mana? Kenapa keluar engga bilang bilang sih?"
"Aku cuma pergi belanja sebentar" jawab Asma sembari berjalan masuk "Oh ya, sopir taksi di luar nungguin, aku belum bayar ongkos nya, uangnya sudah habis, ada bakso juga di sana, aku beli buat kita semua" tutur Asma panjang lebar yg membuat semua orang menghela nafas berat karena sempat berfikir Asma sudah hilang.
"Sini Bibi bantuin bawa, Neng" ucap Bi Mina sembari mengambil kantong belanjaan Asma.
"Lain kali pamit kalau mau keluar, Zahra. Kami semua panik" Ucap Bilal
"Iya deh, maaf. Ya udah, bayarin dulu itu sopirnya, kasian nunggu" Ucap Asma, Bilal pun kembali ke ruang tengah karena ia ingat meletakkan dompet nya disana.
"Siapa yg pindahin dompet ku?" tanya Bilal karena tak melihat dompet nya disana, dan Asma pun menyodorkan dompet nya pada Bilal. Dengan cepat Bilal melangkah keluar untuk mengambil bakso Asma dan membayar sopirnya.
Namun saat membuka dompetnya...
"Ada apa, pak?" tanya sopir itu karena Bilal malah terdiam tiba tiba.
"Hmm...bisa tunggu sebentar, Pak? Sebentar aja " seru Bilal dan sopir itu mengangguk. Bilal segera berlari ke rumah nya sambil membawa bakso nya.
"Sudah, Mas?" tanya Khadijah sembari mengambil plastik bakso dari tangan Bilal.
"Uang di dompet ku cuma dua ribu" ucap Bilal yg membuat Khadijah bingung karena setahu dia, Bilal tak pernah membiarkan dompet nya kosong.
"Lah, sudah ku bilang duit nya habis" seru Asma yg muncul tiba tiba sambil meminum susu kotak,
Khadijah dan Bilal mengernyit bingung.
"Jadi maksud mu duitnya habis itu duit di dompet ku?" tanya Bilal dan Asma mengangguk dengan polos nya, Khadijah tertawa geli melihat sekali lagi kelakuan konyol Asma, selama menikah dengan Bilal, tak pernah sekalipun Khadijah mengambil duit dari dompet Bilal tanpa izin terlebih dahulu.
"Astaghfirullah, Zahra..." seru Bilal antara kesal dan merasa lucu dengan kelakuan Asma.
"Yaa engga apa apa, Sayang" Seru Bilal lembut.
"Ya seharusnya memang engga apa apa, karena duit suami itu duit istri, duit istri ya tetap duit istri" seru Asma yg membuat Khadijah kembali tertawa.
"Kamu ini...." seru Bilal yg melihat istri nya itu sangat menggemaskan, ia pun segera berlari ke kamarnya untuk mengambil uang dan setelah nya langsung memberikan uang empat ratus ribu pada sang sopir.
"Pak, ini kebanyakan" seru sopir itu karena jarak mini market nya tidak jauh dari rumah Bilal dan dia hanya menunggu Asma belanja sebentar kemudian mengantar nya langsung pulang.
"Engga apa apa, anggap aja tanda terima kasih karena sudah mengantar istri ku pulang" Sopir itu tampak sangat senang dan mengucapkan banyak terima kasih pada Bilal.
Setelah sopir itu pergi, Bilal kembali masuk dan kini melihat dua istri nya itu sedang menikmati bakso sambil nonton TV.
"Mas, ini bakso mu" seru Khadijah memberikan satu mangkuk bakso, Bilal pun menerima nya dan bergabung bersama mereka, Asma juga tak lupa membelikan untuk Bi Mina.
"Kamu tadi belanja apa aja, Sayang? Kenapa kamu engga minta Bi Mina aja yg belanja" seru Bilal yg masih sedikt kesal karena Asma sudah membuat nya khawatir.
"Barang barang pribadi ku, terus aku belanja cemilan, soalnya di kulkas udah engga ada cemilan sama sekali" jawab Asma. Bilal ber oh ria. pantas uangnya habis, fikirnya. Karena seingat Bilal, uangnya itu ada sekitar lima atau enam ratus ribu. dan sisa dua ribu rupiah, yg benar saja. Namun Bilal sama sekali tak mempermaslah kan itu, baginya itu malah terlihat lucu, Zahra nya yg selalu menggemaskan.
"Maaf ya uang nya aku habisin" ucap Asma seolah tahu apa yg Bilal fikirkan.
"Engga apa apa, tapi alangkah baiknya lain kali Bilang, takut nya aku engga tahu dompet ku kosong, terus tiba tiba aku punya kebutuhan mendesak, kan repot"
"Iya juga ya" ucap Asma dengan polos nya.
"Mas Bilal engga pernah biarin dompet nya sampai kosong, Asma" sela Khadijah yg membuat Asma merasa bersalah karena ia sudah lancang. Ia menatap Bilal dengan tatapan bersalahnya namun Bilal membalasnya dengan senyum manis dan tatapan penuh cinta nya, dan itu membuat Asma tersenyum senang.
Saat Bilal sudah menyelesaikan makannya, ia berdiri hendak membawa mangkuk kotor nya ke dapur namun ia tersandung meja dan hampir jatuh, beruntunglah dia dengan cepat menyeimbangkan diri.
"Mas..." seru khadijah yg melihat Bilal hampir jatuh "Hati hati, nanti mangkuk nya jatuh, itu mahal lho" Bilal menganga tak percaya dengan apa diucapkan Khadijah yg bukannya mengkhawatirkan suami nya malah mengkhawatirkan mangkuk nya.
"Memang bagus sih mangkuk nya, ukirannya cantik" sambung Asma yg juga sudah selesai makan .
"Iya, Khadijah. Lain kali pasti akan lebih hati hati, kok. Karena mencari uang supaya kamu bisa beli mangkuk mahal ini juga susah" Ucap Bilal yg membuat Asma dan Khadijah saling pandang kemudian terkiki geli. Semenatara Bilal segera pergi ke dapur, berfikir entah apa yg salah dengan kedua istri nya saat ini.
.
.
.
Asma yg sudah mandi, keluar dari kamar mandi dengan rambut yg masih basah kuyup bahkan hingga membasahi lantai.
"Bilal..." panggil Asma pada suami nya yg sedang mengerjakan sesuatu di laptop nya itu.
"Ada apa, Sayang?" tanya Bilal tanpa mendongak.
"Katanya mau bantuin merawat rambut ku" ucap Asma yg membuat Bilal mengernyit bingung dan segera mendongak. "Ini... bantuin..." Asma menyodorkan handuk pada Bilal yg masih berada di tengah ranjang, Bilal pun dengan senang hati melakukan apa yg di minta istri nya itu. Bilal membawa Asma masuk kembali ke kamar mandi dan mendudukan nya di pinggir bathub, kemudian dengan pelan pelan dan penuh kasih sayang ia mulai memeringakan rambut Asma, sebenarnya Asma sangat bisa melakukan nya sendiri, namun terlintas dalam benaknya untuk menguji Bilal sedikit, dan ingin merasakan cinta Bilal seperti yg di katakan semua orang.
"Kok tumben mau aku yg mengeringkan rambut mu? Dulu aja harus aku paksa" tanya Bilal sembari terus melakukan aktifitasnya itu.
"Engga apa apa, lagi malas aja" jawab Asma sambil tersenyum samar.
"Romantis kan kalau kayak gini" lanjut Bilal
"Hem" jawab Asma karena ia memang merasa itu romantis.
Setelah tugas Bilal selesai, kedua nya segera turun karena sudah masuk waktu sholat maghrib, dan aktifitas berjalan seperti biasa hingga tiba waktunya istirhat di kamar masing masing. Dan malam ini, Bilal akan menghabiskan malam nya bersama Zahra nya dan Bilal ingin memberi tahu Asma bahwa dia dan Khadijah akan berangkat ke singapura minggu depan.
Setelah menggosok gigi nya, Asma segera merangkak naik ke atas ranjang dimana Bilal sudah menunggu nya disana.
Saat Asma hendak tidur, Bilal malah meminta nya membuka mata dan menatapnya, Asma pun pun mengikuti apa yg di minta suami nya itu, alhasil keduanya tidur dengan posisi miring dan berhadap hadapan.
"Ada apa?" tanya Asma dan berusaha menghindari tatapan Bilal yg membuat jantung nya seperti detik detik bom akan meledak
"Ck, tatap aku,Sayang" pinta Bilal, dan seperti istri sholehah saja, Asma langsung mengikuti apa yg Bilal katakan, kini Asma kembali menatap nya.
"Minggu depan kami akan ke singapura" mendengar itu, hat Asma seperti terkesiap, ini aneh, fikir nya. Karena sebelum nya Asma merasa senang jika mereka pergi dan Asma bisa tinggal di asrama, tapi sekarang perasaan itu terasa berbeda.
"Hm engga apa apa, aku akan jaga diri kok" jawab Asma dengan suara lirih.
"Harus, kamu harus bisa jaga diri. Dan kalau butuh apapun, jangan sungkan untuk mengatakan nya pada Ummi, Abi atau yg lain nya, mereka semua sangat menyayangi mu" tutur Bilal sembari memainkan anak rambut di pelipis Asma. Asma hanya mengangguk dan tersenyum samar, menahan perasaannya yg tiba tiba berubah tak bisa ia mengerti.
"Zahra..." panggil Bilal dengan suara rendah, kini ia menatap mata istri nya itu begitu intens "Sayang, kamu tahu kan aku di sana pasti selama beberapa bulan, dan aku pasti akan sangat merindukan mu" ucap Bilal masih dengan aktifitas nya memainkan rambut Asma.
"Jadi, sebelum aku berangkat, aku ingin kita melakukan..."
"Tidak..." seru Asma tiba tiba tanpa menunggu Bilal menyelesaikan kata kata nya, Asma langsung duduk, kemudian ia melompat turun dari ranjang, tentu aksi nya itu membuat Bilal terkejut dan menatap heran pada Asma.
"Tidak? Tidak apanya?" tanya Bilal yg juga sudah duduk tepat ditengah ranjang.
"Aku...." Asma terlihat salah tingkah dan bingung, tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya nya pada Bilal bahwa ia belum siap. Asma tahu kewajibannya sebagai seorang istri, tapi Asma benar benar masih merasa tidak siap "Aku... Bilal, mengertilah, bukannya aku engga mau apa lagi menolak, itu pasti dosa kan?. Tapi masalahnya aku engga siap" tutur Asma yg membuat Bilal semakin mengerutkan kening nya dalam dan merasa heran.
"Kamu ini bicara apa?" tanya Bilal yg masih dengan ekspresi bingung nya. Kemudian Asma berfikir mungkin yg di maksud Bilal bukan melakukan itu...
"Em... apa...yg harus kita lakukan sebelum kamu pergi ke singapura?" tanya Asma dan dengan ragu ragu ia kembali merangkak naik ke atas ranjang. Bilal yg segera sadar apa yg di di fikirkan Asma itu membuat nya mengulum senyum nakal.
"Melakukan segala hal berdua, aku ingin kita menghabiskan lebih banyak waktu bersama,aku juga akan mengantarmu dan menjemput mu. Memang nya apa lagi yg kau fikirkan?" tanya Bilal dengan tatapan menggoda Asma, Asma hanya mencebikan bibir nya dan ia terlihat malu malu,Bilal segera menarik Asma kedalam pelukannya dan membawanya berbaring. "Katakan padaku, Sayang. Apa yg kau fikirkan, hm?" goda Bilal lagi.
Bukannya menjawab atau terlihat kesal, Asma malah menyembunyikan wajah nya di dada Bilal dan ia menahan malu dengan pemikirannya sendiri. Bilal pun semakin mengeratkan dekapannya pada istri nya, sebenarnya Bilal sangat ingin melakukan nya namun ia akan bersabar sampai Zahra nya siap.
Bilal pun mengusap ngusap kepala Asma dengan sayang, merasakan perhatian Bilal yg sangat manis, kini menambah rasa dalam hati Asma semakin kuat dan tampak jelas ia mulai mencintai suami nya itu.
▪️▪️▪️
Tbc...