
Perlahan Bilal membuka mata nya, ia melihat sekeliling nya dan tempat itu sangatlah gelap. Bilal menyadari dirinya ada dalam sebuah mobil dan tiba tiba sebuah truk menghantam nya begitu saja, membuat mobil Bilal terpental dan terjatuh dalam keadaan terbalik. Sekuat tenaga Bilal mencoba tetap pada kesadarannya, dan ia melihat istri nya yg berlari ke arah nya dan mengulurkan tangan nya.
"Zahra..."Gumam nya. Dengan perlahan Bilal mengangkat tangan nya untuk menggapai uluran tangan istri nya itu...
"Bilal..." Panggil sang istri sembari menarik tangan Bilal.
"Bilal..."
"Bilal...bangun"
"Sayang, bangun..., Bilal aku disini. Bangun, Bilal"
Dan seketika, mata Bilal terbuka lebar, ia terbangun dengan nafas yg tersengal.
"Ada apa?" tanya Asma lembut sembari mengelap keringat dingin di kening Bilal. Bilal seolah masih berada di alam bawah sadarnya, ia melihat sekeliling nya dan bukan hanya menggenggam tapi ia meremas kuat tangan Asma, membuat Asma sedikit meringis.
Saat memasuki kamar untuk mengantarkan makanan pada Bilal, Asma mendengar Bilal yg terus menggumam kan namanya membuat Asma semakin mempercepat langkahnya, dan ia melihat prianya itu bergerak gelisah dalam tidurnya, seolah ia menahan rasa sakit.
"Zahra...." Panggil Bilal seolah ia ingin memastikan Zahra nya memang benar benar ada didepan nya.
"Iya, aku disini" jawab Asma sambil membelai pipi Bilal. " Ada apa?" tanya Asma yg mengkhawatirkan suaminya.
Bilal hanya menggeleng dan menggenggam tangan Asma yg masih membelai pipi nya.
Asma membelai luka Bilal yg ada di rahangnya, ia meringis membayangkan betapa sakit suaminya dengan kondisinya saat ini.
"Ini pasti sangat sakit" Ujar Asma. Bilal pun segera duduk tentu dengan bantuan Asma.
"Kata Shofia, aku udah engga tampan lagi" tutur Bilal yg seketika membuat Asma mengulum senyum "Apa itu benar?. Mungkin bekas luka di wajah ku engga akan hilang".
"Haruskah ku katakan bahwa Shofia benar?" Tanya Asma yg membuat Bilal langsung melotot.
"Shofia juga mengatakan mungkin kamu engga akan mencintai ku lagi karena wajah ku udah engga tampan. Apa itu benar juga?" Bilal merengek dengan ekspresi yg sangat menggemaskan.
"Haruskah aku jawab jujur?" Pertanyaan istri nya itu tentu membuat Bilal langsung memberengut kesal. "Aku hanya bercanda" lanjut Asma kemudian yg tak tega. "Oh ya, Shofia sama Kak Mukhlis sudah pulang, tadi Kak Adil yg mengantar ke Bandara."
"Maaf karena mereka sudah merepotkan" ujar Bilal.
"Engga apa apa. Makan dulu ya"
"Suapi" Ujar Bilal dengan sangat manja. Asma tak pernah melihat Bilal manja seperti ini sebelum nya, namun ia fikir mungkin itu karena Bilal sakit. Ia pun menyuapi suaminya itu dan Bilal pun makan dengan lahap.
Bilal tak bisa melepaskan pandangannya dari Asma, membuat Asma salah tingkah karena di pandangi terus menerus.
"Kenapa?" tanya Asma pada akhirnya dan ia pun memberikan suapan terakhirnya untuk Bilal.
"Engga apa apa" jawab Bilal sambil mengulum senyum.
"Bilal, apa engga sebaiknya kamu di rawat di rumah sakit?. Kata Kak Mukhlis seharusnya kamu masih menjalani perawatan"
"Aku mau disini, Zahra" Ujar Bilal serius "Aku engga mau lagi berpisah dengan mu"
"Lebay amat sih, nanti aku jagain disana" Balas Asma tegas.
"Pokoknya engga mau" Bilal berkata dengan nada yg sangat menggelikan bagi Asma.
"Cuma beberapa hari sampai kondisi mu lebih baik"
"Aku bilang engga mau, Zahra. Aku sudah merasa jauh lebih baik. Di rumah sakit itu engga enak tahu"
Bilal terus merengek seperti anak yg hendak di tinggal Ibu nya. membuat Asma merasa keheranan. Ia jadi curiga jika mungkin ada saraf di otak Bilal yg rusak hingga membuatnya begitu.
"Ya udah, biar nanti Dokter nya aja di panggil kesini" Akhirnya Asma mengalah dan itu membuat Bilal langsung tersenyum lebar.
.
.
.
Seperti kata Asma, Dokter datang untuk memeriksa keadaan Bilal, dan Dokter itu berkata Bilal baik baik saja, namun kakinya jangan terlalu sering di gerakan, luka di kepala nya pun tidak boleh kena air.
Bukannya khawatir mendengar itu, Asma malah mengejek Bilal dan mengatakan jika Bilal tidak keramas maka kepalanya akan jadi sarang kutu.
Tentu itu mengundang tawa semua orang, namun beda halnya dengan Bilal yg tampak kesal dengan perlakuan istri nya itu.
Asma merawat Bilal dengan sangat telaten, terpancar kembali kebahagiaan di wajahnya. Dan hal itu, tidak luput dari pandangan kedua orang tuanya. Dan tentu itu membuat mereka juga bertanya tanya, apakah Bilal tidak menerima surat cerai itu?. Dan mereka juga tak habis fikir dengan putri mereka yg sekarang tampak baik baik saja setelah kedatangan suami nya.
Adil pun memikirkan hal yg sama. Padahal saat itu, keputusan Asma sudah bulat untuk bercerai. Tapi sekarang?.
Sepertinya, pasangan suami istri itu sama sama gila. Fikir Adil.
.
.
.
"Sayang, aku mau mandi" ujar Bilal pada Asma yg saat ini mendorong kursi roda Bilal menuju kamarnya.
"Apa boleh?" tanya Asma.
"Tentu saja boleh, luka di tubuh ku sudah kering"
"Alhamdulillah kalau gitu. Soalnya udah kecut seluruh penjuru kamar ku" ledek Asma yg membuat Bilal langusng mencubit tangan Asma.
Asma pun membantu Bilal masuk ke kamar mandi. Tapi ia bingung bagaimana Bilal bisa mandi jika berdiri saja dia belum bisa.
"Bagaimana kamu bisa mandi, Bilal?. berdiri aja engga bisa" seru Asma.
"Ya mandiin lah"
"Hah" teriak Asma yg langsung membuat Bilal tertawa.
"Tapi, Bilal... Aku..."
"Kamu kan istri ku, Zahra. Masak aku harus minta mandiin sama Aqilah atau Aisyah....Aduh..." Asma langsung memukul pundak Bilal cukup keras, ia memasang wajah galaknya pada Bilal.
"Jangan bicara gitu lagi" seru Asma tak suka. Bilal tersenyum melihat wajah istri nya yg tampak cemberut itu. Begitu menggemaskan.
Namun ia masih ragu, haruskah dia benar benar mau mandiin Bilal?.
"Zahra..." Seru Bilal yg melihat Asma malah diam saja.
"Iya iya..." Jawab Asma.
Dengan tangan yg gemetar dan pipi yg merah karena malu pada dirinya sendiri, Asma pun mulai membuka kaos Bilal. Bilal menahan senyum melihat istri nya yg tampak malu malu itu.
"Kenapa terlihat malu begitu?. Kamu udah sering kan liat tub...."
"Isshh" seru Asma tak ingin mendengar apapun dari Bilal. Sekali lagi membuat Bilal tertawa.
Setelah mandi, Asma mengeringkan tubuh Bilal dengan handuk dan membantu Bilal mengenakan pakaiannya.
Bilal menatap wajah istri nya yg semakin hari semakin terlihat cantik.
"Kamu bahagia aku disini?" tanya Bilal tiba tiba. Asma tersenyum dan mengangguk "Kalau begitu, jangan pernah lagi berfikir meninggalkan ku" Dan seketika Asma terdiam mematung.
Berfikir meninggalkan nya?
Asma teringat dengan surat cerai itu.
Kebersamaannya bersama Bilal bahkan membuat Asma lupa dia telah memutuskan untuk bercerai. Bagaimana bisa Asma melupakan itu begitu saja?.
Sihir apa yg sudah Bilal berikan pada nya hingga membuat Asma melupakan rasa sakitnya begitu saja.
Dan bagaimana bisa dia begitu bahagia setelah ia menandatangani surat gugatan cerai itu dan bahkan Adil sudah mengirim nya?.
"Ada apa?" tanya Bilal karena Asma tiba tiba diam seribu bahasa. Dan kebahagiaan yang dia lihat di wajah Asma kini tampak sirna. "Zahra, ada apa?. Kenapa diam?"
Asma tak tahu harus menjawab apa. Haruskah dia mengatakan yg sebenarnya pada Bilal?. Atau haruskah dia urungkan niat nya itu?.
Tapi mengingat ia bukanlah satu satunya wanita dalam hidup Bilal, dan mengingat ada wanita lain yg jauh lebih membutuhkan Bilal dan Bilal selalu mengenyampingkan nya demi wanita itu, Asma tak bisa... Ia tak bisa kembali pada lingkaran cinta segitiga nya.
"Engga apa apa, sebaiknya kamu sekarang istirhat ya" Asma membantu Bilal untuk merebahkan dirinya di ranjang.
"Zahra, mata mu mengatakan ada sesuatu yg salah, ada apa sayang?. Kau menyembunyikan sesuatu dari ku?. Atau... Kau masih ingin meninggalkan ku?" tanya Bilal sedih. Asma menggigit bibir nya karena ia tak tahu harus berkata apa.
"Em Bilal, bagaimana keadaan Mbak Khadijah?" Tanya Asma pelan. Bilal kembali melihat luka di mata Asma saat gadis itu menyebutkan nama istri pertama nya.
"Kamu masih marah padanya?"
"Tidak, marah kenapa?" tanya Asma karena sampai saat ini, ia sama sekali belum tahu bahwa Bilal telah mengetahui isi pesan nya di malam ia keguguran. Asma tidak tahu bahwa penyebab kecelakaan Bilal karena ia menyetir dalam keadaan emosi setelah mengetahui semuanya. Yang ia tahu Bilal mengalami kecelakaan saat menerobos lampu merah, itu saja.
Terukir senyum namun senyum itu penuh kesedihan di bibir Bilal.
"Aku sudah tahu semua nya,Zahra" Ucap Bilal penuh penyesalan. "Aku juga sangat kecewa pada Khadijah, tapi aku tahu dia tidak sengaja melakukan nya".
Seketika Asma langsung berdiri dan melangkah mundur. Ia menatap tak percaya pada Bilal.
"Bagaimana kau tahu?" cicit Asma.
"Bi Mina memberi tahu ku malam itu kamu menelpon ku dan bahkan mengirim pesan, tapi tak ada panggilan atau pun pesan dari mu di ponsel ku. Dan saat Adil mengatakan ponsel mu ketinggalan, aku langsung mencari nya dan ternyata apa yg Bi Mina katakan itu benar"
Wajah Asma kembali terlihat sedih mengingat malam itu.
"Kenapa kamu tidak memberi tahu ku, Zahra?"
"Kamu sangat percaya padanya, Bilal. Aku cuma engga mau melihat mu kecewa" Asma berkata dengan sedih
"Lalu bagaimana dengan mu?"
"Aku..." Asma menghela nafas "Aku hanyalah orang ketiga dalam hubungan kalian, wajar jika dia tidak menyukai ku"
"Zahra, sayang... itu engga benar"
"Itu sangat benar, Bilal" Asma berkata dengan mata yg kembali berkaca kaca.
Padahal baru saja ia merasa bahagia bersama Bilal, tapi ia harus kembali bersedih mengingat kenyataan bahwa ada wanita lain dalam hidup Bilal. Dan Asma fikir, wanita itu lebih berharga bagi Bilal di bandingkan dirinya.
"Zahra..."
"Sebaiknya kamu istirhat" seru Asma.
"Tapi Zahra..."
"Aku engga mau membicarakan ini lagi, ku mohon" Pinta Asma dengan wajah memelas. Bilal pun hanya bisa pasrah.
"Temani aku..." Pinta nya dengan suara lirih.
"Tidak, aku... Aku mau menemui Mbak Aqilah"
"Ku mohon..." Bujuk Bilal menatap istri nya penuh harap. Asma tidak tega melihat tatapan Bilal itu, ia pun mengalah dan segera naik ke atas ranjang. "Berbaring lah di sisi ku"
"Tapi Bilal..."
"Ku mohon, Zahra." Bilal kembali menatap Asma dengan tatapan sayu membuat Asma luluh. Ia pun berbaring di sisi Bilal dengan posisi menyamping. Bilal menarik tangan Asma ke bawah kepalanya, kemudian ia menyeruakan wajahnya ke leher Asma membuat Asma seketika mendongak dan memberikan ruang pada Bilal untuk bisa menyembunyikan wajahnya di sana.
"Jangan bergerak, dan jangan tinggalkan aku. Aku ingin tidur. Dan saat aku bangun, aku ingin bangun dalam posisi seperti ini" ujar Bilal dan tentu Asma tak bisa menolak nya.
"Baiklah" Jawab Asma dan memberikan kecupan kecil di kepala suaminya itu.
▪️▪️▪️
Tbc....