
"Bagaimana perasaan mu sekarang?" tanya Bilal sambil merangkul Khadijah dan berjalan di taman rumah sakit.
"Merasa lebih baik, Mas"
"Syukurlah, kamu harus tetap semangat, okey? Aku yakin semua nya akan lebih baik"
Khadijah tersenyum menanggapi suaminya yg terus mengobarkan api semangat dalam dirinya selama menjalani kemo.
"Mas..." panggil Khadijah, ia berhenti melangkah dan menatap Bilal "Maaf" ucap Khadijah tiba tiba.
"Maaf kenapa, Sayang?" tanya Bilal bingung.
"Karena aku sudah sangat merepotkan"
Bilal tersenyum kemudian ia menggenggam tangan Khadijah dan kembali berjalan.
"Jika aku yg sakit, aku juga pasti akan merepotkan mu" Khadijah kembali menghentikan langkahnya dan ia langsung memeluk Bilal. membuat Bilal bingung "Ada apa, Khadijah?" tanya nya.
"Aku takut, Mas. Aku takut engga bisa bertahan lagi" Khadijah berkata dengan mata yg berkaca kaca, Bilal pun mengeratkan pelukannya dan menenangkan istri nya itu, ia terus memberikan semangat kepada Khadijah dan meminta Khadijah untuk yakin bahwa dia akan sembuh.
Kemudian Bilal mengantar Khadijah kembali ke dalam karena sudah waktunya ia menjalani kemo lagi, pasti Dokter Elyara sudah menunggu nya di dalam.
.
.
.
Khadijah sedang istirahat di kamarnya karena ia merasa lelah, Dokter memang mengatakan mudah lelah adalah salah satu efek samping kemo. Saat hendak memejamkan mata, ponsel Bilal berdering, Khadijah pun menggapai nya dan ia lihat Asma yg menelpon. Khadijah pun menjawab panggilan nya.
"Asma, ini Mbak. Mas Bilal lagi di kamar mandi" Khadijah berkata dengan suara lemah.
"Assalamualaikum, Mbak. Mbak gimana kabarnya? Oh ya, aku memang mau bicara sama Mbak, video call ya" pinta Asma dari seberang telpon. Khadijah pun mengalihkan panggilannya ke panggilan video. Dan seketika ia tersenyum lebar dengan apa yg di lihat nya.
"Mereka semua kangen sama Mbak" ucap Asma dan terlihat semua teman teman Asma berkumpul di sana.
"Assalamualaikum, Ustadzah. Ustadzah apa kabar?"
"Ustadzah sehat aja?"
"Ustadzah kok makin kurus?"
"Ustadzah pucat sekali"
"Ustadzah kami doakan supaya cepat sembuh dan bisa kembali mengajar"
Khadijah hanya bisa mengulum senyum mendengar komentar anak didik nya itu. Dan ia merasa lelahnya sirna seketika.
"Nanya nya satu satu dong, biar Mbak bisa jawab" terdengar suara Asma yg menyela.
"Waalaikum salam, ya Ustadzah baik, kalian bagaimana?" tanya Khadijah
"Kami semua baik" anak didiknya itu menjawab serempak.
"Alhamdulillah. Terima kasih doa nya, kalau kalian semua doain Ustadzah, Ustadzah pasti akan segera sembuh"
"Aamiin, kami sudah kangen belajar bersama Ustadzah Khadijah "
"Iya, apa lagi sebentar lagi ujian"
"Oh ya?" Khadija bertanya. Ia mengingat kembali setiap kali ujian, dia akan membimbing anak didiknya itu untuk belajar agar mudah menghadapi ujian. Tidak bisa menjadi seorang ibu, membuat Khadijah begitu mudah mencintai para santri itu.
"Kalian harus tetap semangat belajar, kalau yg nilai nya di bawah rata rata, nanti Ustadzah hukum ya" seru Khadijah. Dan Khadijah melihat Nora langsung melirik Asma saat Khadijah mengucapkan ancaman itu. kemudian Nora bertanya.
"Kalau nilai Asma yg di bawah rata rata, apakah Ustadzah akan menghukum nya?" Khadijah langsung tertawa geli mendengar itu, ia menduga pasti Nora tahu batas kemampuan Asma yg memang tak begitu pintar di pelajaran, dan Khadijah melihat Asma memberengut mendengar pertanyaan Nora, jauh dalam hatinya, Khadijah merindukan madu kecil nya itu yg sebenarnya sangat manis dan lucu, walaupun terkadang ia menjadi sebab air mata kecemburuan Khadijah.
"Hmm kalau itu... Ustadzah fikirkan lagi nanti ya" Dan semua murid tampak memberengut sekarang, namun Asma malah tersenyum senang.
"Itu tidak adil"
"Iya, sangat tidak adil"
"Mbak cuma bercanda " terdengar suara Asma yg menyela.
"Asma benar, Ustadzah cuma bercanda" ucap Khadijah "Kalau nilai dia rendah, Mbak dan Mas Bilal akan menghukum nya"
"Hukumannya apa?"
"Nora, rasanya Ustadzah lebih baik tidak makan dari pada harus makan masakan Asma" Khadijah berkata jujur sambil meringis mengingat kembali rasa masakan Asma.
"Mbak kok gitu sih?" Asma bertanya dengan pipi nya yg menggembung dan itu membuat Khadijah tertawa.
"Masakan mu memang hancur, bahkan Mas Bilal menyuruh kamu jauh jauh dari dapur"
"Jangan buka kartu AS ku didepan orang dong, Mbak" gerutu Asma.
"Kamu bicara sama siapa, Khadijah? Rame banget sampai kedengaran ke dalam" tanya Bilal yg sudah keluar kamar mandi.
"Asma sama teman teman nya, Mas" jawab Kahdijah dan memperlihatkan layar ponsel nya.
"Apa engga di marahi guru nya?" tanya Bilal dan Khadijah baru terpikir kesana.
"Asma, kalau ketahuan guru, nanti kalian semua di marahi karena sudah menggunakan telpon dalam kelas" Khadija melihat Asma hanya cengengesan kemudian Asma membalik kamera nya, dan layar ponsel Khadijah memperlihatkan Mila yg juga berada di sana.
"Sudah minta izin, Mbak. Katanya asal jangan kasih tahu kelas yg lain" jawab Asma.
Dan mereka pun masih lanjut mengobrol, walupun terkadang Khadijah kelimpungan menjawab pertanyaan murid nya yg tak ada habis nya itu, namun sungguh itu menghibur hati nya.
Dan Bilal yg melihat Khadijah tampak sangat bahagia ikut bahagia, Khadijah tersenyum lebar dan tertawa. Padahal sejak pagi Bilal melihat Khadijah sangat lemah.
Khadijah terus meladeni anak didiknya itu hingga terdengar suara bel, dan mereka pun segera mengucapkan salam pada Khadijah dan mengatakan akan menelpon Khadijah lagi supaya Ustadzah itu terhibur dan senang. Awalnya Khadijah melarang mereka, namun segala alasan dari Asma, Nora dan yg lain nya yg ingin menghibur Khadijah membuat Khadijah pun tak bisa menolaknya lagi.
Khadijah meletakan ponsel nya kembali ke atas meja setelah memutuskan sambungan telepon nya.
"Kamu terlihat bahagia sekali berbicara dengan mereka, engga heran kamu jadi guru favorit mereka" ucap Bilal sembari membantu Khadijah berbaring kemudian menyelimutinya.
"Aku suka dekat dengan mereka, mereka juga anak yg baik"
"Baiklah, biar besok mereka kembali menghubungi mu jika itu membuat mu senang dan terhibur. Tapi itu melanggar aturan, kan? Santri tidak boleh menggunakan ponsel dalam kelas" ucap Bilal sembari mengusap pipi Khadijah.
"Istri mu yg menggunakan ponsel dalam kelas, seharusnya itu tidak masalah"
"Dia juga santri, aturan yang sama berlaku untuk nya"
"Jadi mereka tidak boleh menelpon ku lagi?" Khadijah bertanya dengan nada sedih, karna sungguh dia merasa sangat terhibur saat berbicara dengan murid murid nya itu.
"Boleh" jawab Bilal karena melihat istri nya tampak sedih. Seketika Senyum Khadijah mengembang di bibirnya yg sudah sangat pucat.
Kemudian Khadijah menatap wajah suami nya yg terlihat sangat lelah dan bahkan ada lingkaran hitam di bawah matanya karena ia kurang tidur, membuat Khadijah kembali merasa bersalah dan sedih.
Bilal duduk di sisi Khadijah dan menggenggam tangan istri nya yg sudah sangat kurus.
"Bukankah sudah ku katakan, jangan menatap ku begitu" ucap Bilal yg tahu arti tatapan itu "Aku ini suami mu, aku berkewajiban menjaga dan mengurus mu, hm? Mau berapa ribu kali harus ku katakan itu?"
"Terimakasih"
"Kamu sangat mencintai ku, kan?" tanya Bilal tiba tiba yg membuat Khadijah mengernyit.
"Tentu saja"
"Orang bilang, tidak perlu ada kata terimakasih dalam cinta, dan aku juga mencintai mu, kau tahu itu kan?" Khadijah mengangguk. Walaupun ada ketidak puasan dalam hatinya dengan cinta yg Bilal berikan, tapi Khadijah berusaha mensyukuri itu. Bilal tidak pernah membedakan antara dirinya dan Asma, Khadijah tahu itu, tapi tetap saja Khadijah juga tahu kalau Bilal sangat mencintai Asma, sebagai seorang istri, tentu itu bukan hal yg membahagiakan.
Khadijah memejamkan matanya dan berusaha menekan kecemburuan itu, untuk membahagiakan suaminya sangatlah tidak mudah, bahkan begitu sulit.
Saat seseorang berusaha berjalan di jalan yg baik dan benar, akan ada banyak sekali rintangan dan juga setan yg akan selalu dengan sabar menyusup kedalam hati dan membangkitkan hawa nafsu nya, dan jalan yg mudah di tempuh setan adalah dengan membangkitkan kebencian dan amarah.
Dan Kahdijah tahu, kecemburuan nya terkadang menjelma menjadi amarah dan menghasilkan kebencian yg ia pendam.
Tapi ia juga terus berusaha mengingat nasehat sahabatnya, dia hanya menjalani apa yg sudah dia putuskan.
Sejatinya, takdir memang di tangan yg maha kuasa, tapi manusia sendiri yg memilih jalan hidup nya.
Khadijah memilih di poligami.
Bilal memilih berpoligami.
Dan Asma, memilih jalan yg sama.
▪️▪️▪️
Tbc...