
Bilal berusaha keras berjuang untuk kesembuhan nya, ia terus berlatih menggerakan satu persatu anggota tubuh nya. Ia memang ingin segera bertemu Zahra nya dan ingin rasanya meminta orang tua nya menjemput Asma. Tapi Bilal merasa itu tidak benar, apa lagi Asma pergi karena istri Bilal yg lain, apa kata orang tua Asma nanti kalau mertua Asma yg datang dan bukan suami nya.
Tak lupa Bilal juga selalu berdoa agar ia segera sembuh supaya bisa segera menjemput istrinya.
Bilal juga rindu dengan suara istri nya, tapi jika di telpon, Bilal takut Asma masih tak ingin berbicara dengan nya.
"Dokter, kapan aku bisa pulang?" tanya Bilal yg membuat Dokter itu menghela nafas berat. Karena setiap kali ada Dokter atau suster yg datang untuk memeriksa keadaan Bilal, hanya itu pertanyaan Bilal.
"Nanti, saat pak Bilal sudah bisa menggerakkan kaki nya, oke. setelah itu bisa rawat jalan dirumah, tapi masalahnya, kami masih harus menjalani beberapa pemeriksaan lagi, cidera di kepala Bapak juga masih mengkhawtirkan"
Bilal mengusap wajahnya dengan kasar,ia sudah bisa menggerakan sebagian tubuh nya walaupun masih terasa sangat sakit. Ia sudah merasa frustasi dengan keadaan nya.
.
.
.
"Sudah?" tanya Asma pada Adil yg memasuki kamarnya. Adil mengangguk ragu, ia berjalan pelan dan menyerahkan sebuah map kepada adiknya.
"Asma, coba fikirkan sekali lagi"
"Seharusnya aku tidak menerima pernikahan itu, sehingga perceraian ini tidak perlu" Asma membuka map itu dan membaca surat cerai yg sudah Adil siapkan. Asma menangis dan meneteskan air matanya hingga mengenai kertas itu, namun ia berusaha tegar dan meyakinkan dirinya sendiri inilah jalan nya.
"Tapi Dek, mungkin ada sesuatu yg membuat Bilal sama sekali tidak menghubungi mu"
"Sesuatu apa yg membuat dia hilang seperti di telan bumi?"
"Bagaimana jika terjadi sesuatu dengan nya?" Adil berkata karena ia merasa tidak mungkin Bilal menghilang begitu saja
"Lalu dimana keluarga yg lain?" tanya Asma sambil menangis " Mereka membawa ku sebagai menantu, dan meskipun aku pergi dari rumah suami ku, aku masih menantu mereka, jika memang terjadi sesuatu pada Bilal, aku punya hak untuk tahu tapi tidak ada yg memberikan hak ku. Bahkan tak satupun dari mereka yg menanyakan keadaan menantu mereka." Asma berkata dengan emosi. Ia memang meminta Bilal tidak menunggu nya, tapi apa iya Bilal benar benar tidak akan menunggu nya dan melepaskan nya begitu saja?. Atau setidak nya kabari Asma dan kirim ponsel yg Asma minta.
"Asma, mereka pasti punya alasan kenapa tidak menghubungi kita. atau mungkin justru mereka yg menunggu kita menghubungi meraka. Jangan ambil keputusan besar seperti ini terlalu cepat"
Asma menjatuhkan dirinya di tepi ranjang dan tangis nya pun pecah hingga membuat tubuhnya bergetar. Ia sungguh tak tahu apa yg harus dia lakukan.
Adil mendekati Asma dan memeluk nya.
"Bilal mencintai mu, dia tidak mungkin meninggalkan mu begitu saja"
"Dia bisa meninggalkan ku begitu saja, Kak. Untuk istri pertama nya. Cinta nya pada ku kalah besar dibandingkan dengan tanggung jawab nya pada istri pertama nya. Bilal tidak akan ragu meninggalkan ku demi dia" Asma berkata dengan sangat sedih.
"Jangan berkata begitu, aku yakin Bilal tidak seperti itu"
"Tapi itulah yg aku rasakan selama menjadi istri nya" Asma berkata sambil sesegukan. " Dia selalu meminta ku mengerti keadaan Istri pertama nya, apa gunanya cinta kalau hanya membuat ku menderita"
Asma bukanlah seorang pejuang seperti Khadijah. Sejak kecil, Khadijah sudah terbiasa berjuang dengan semua rasa sakit dan derita dalam hidup nya. Ia bisa menanggung semua itu dan selalu bersabar.
Sementara Asma, hidupnya sangat sempurna sejak kecil, hingga ia tak bisa bersabar dengan sebuah penderitaan dan tak bisa menanggungnya terlalu lama.
Ia tak terbiasa hidup dengan memendam rasa sakit.
.
.
.
"Gimana kondisi mu, Mas?"
"Jauh lebih baik"
Khadijah membawa Bilal keluar dari kamarnya dengan menggunakan kursi roda, saat ini keduanya berada di taman rumah sakit.
"Mas, apa engga sebaiknya kita telpon aja Asma dan beri tahu keadaan mu?".
Bilal terdiam, sebenarnya ia memikirkan hal yg sama. Ia yakin Zahra nya pasti menunggu nya.
"Dimana ponsel ku dan ponsel Asma?"
"Ponsel kalian sudah hancur saat kecelakaan itu, aku sudah coba membawa nya untuk di perbaiki, tapi engga bisa. Mobil mu saja belum bisa di perbaiki. "
"Kakak...." teriak Shofia dari ujung sana, ia melambaikan tangannya pada Bilal dan Khadijah. Dan seketika senyum lebar tercetak di bibir Bilal saat melihat adik kecil nya itu, ia memikirkan sesuatu dan hanya Shofia yg bisa melakukannya.
"Khadijah, aku akan menjemput Zahra. Bagaiamana menurut mu?"
"Maksud, Mas Bilal?" tanya Khadijah tak mengerti, namun Bilal tak menjawab nya hingga Shofia datang.
"Shofia, siapa yg mengantar mu kesini?"
"Shofia datang sama Kak Mukhlis" jawab Shofia. "Katanya Ummi mau masak dulu, baru nanti nyusul"
"Hem begitu. em Khadijah. Kamu pulang aja, sudah ada Shofia di sini"
"Tapi Mas..."
"Udah, pulang aja. kamu engga boleh kecapean"
"Ya udah" jawab Khadijah "Apa Mas Bilal mau aku anterin ke kamar dulu?"
"Engga usah. Shofia, temenin Khadijah cari taksi ya"
"Kenapa engga suruh anterin ke Kak Mukhlis aja"
"Jangan, Kak Mukhlis pasti capek kalau nyetir lagi" Shofia mengernyit mendengar jawaban Bilal, tapi ia abaikan hal itu. Dan ia pun mengantar Khadijah mencari taksi.
Setelah itu, Shofia kembali pada Bilal.
"Dek..." Panggil Bilal dengan sangat lembut seperti sedang merayu. Membuat Shofia menatap curiga pada Bilal.
"Apa?" tanya Shofia penasaran.
"Mau bantuin kakak engga?"
"Kayaknya engga deh, aromanya engga enak" Jawab Shofia yg menatap Bilal penuh curiga, membuat Bilal berdecak kesal.
"Ayolah, Shofia. Nanti kakak akan kasih kamu apa pun yg kamu mau"
Shofia semakin curiga pada kakaknya itu, tapi tiba tiba ia teringat dengan apa yg sangat ia ingin kan.
"Apa pun yg Shofia mau?" ia mencoba memperjelas itu, dan Bilal mengangguk yakin "Samsung galaxy Fold? " Shofia bertanya dengan ragu ragu.
"Ok" jawab Bilal tanpa berfikir sedikt pun yg langsung membuat Shofia menganga dan matanya seketika melotot lebar
"Yakin?" tanya Shofia histeris antara senang dan tak percaya.
"Sangat" Jawab Bilal.
"Seriu?" ia masih tak percaya.
"Banget" Bilal menjawab dengan tegas.
"Waduh, jadi deg degan Shofia neh. Emang nya bantuan apa yg kakak butuhkan sampai rela beliin Shofia ponsel semahal itu?"
.
.
.
"Memang nya kita mau kemana sih?. kamu engga boleh keluar dari rumah sakit, Bilal" Tanya Mukhlis sembari menyetir mobil nya dengan pelan.
"Cepetan dikit dong, Kak. udah kayak kura kura patah kaki aja nyetir nya" seru Shofia yg sibuk dengan ponselnya. Mendengar kata kata adiknya yg sangat kurang ajar itu, Mukhlis hanya bisa beristighfar.
"Nanti juga tahu" jawab Bilal.
"Belok kanan belok kanan..." teriak Shofia, Mukhlis pun langsung belok kanan.
"Kita mau kemana sebenarnya?. Ini sudah jauh lho dari rumah sakit"
"Bandara"
Dan seketika Mukhlis langsung menginjak rem nya membuat Bilal dan Shofia terkejut.
"Bandara?" teriak Mukhlis, dan Shofia pun mengangguk dengan polosnya.
"Ngapain? Kamu mau pulang? suami mu menyuruh mu pulang? koper mu mana?"
"Ck, bukan Shofia. Tapi Kak Bilal "
"Hah?" Mukhlis kembali sangat terkejut "Tapi rumah Bilal di Jakarta, ngapain pulang ke Bandara?"
"Pulang pada istri kedua nya lah" jawab Shofia dengan enteng nya. Sementara Bilal diam saja dan membiarkan Shofia yg menjawab Mukhlis.
"Engga engga... Dokter belum mengizinkan dia keluar dari rumah sakit, apa lagi melakukan penerbangan. Pihak bandara juga pasti melarang dia. Bilal... kamu sudah gila?" tanya Mukhlis setenga berteriak tak habis fikir dengan adiknya itu. Dia pun hendak memutar balik mobil nya namun Shofia mencegah nya.
"Jangan putar balik, Kak." teriak Shofia "Shofia sudah pesan tiket untuk kita bertiga, sayang kan kalau hangus tiket nya"
"Apa?" teriak Mukhlis lagi, sepertinya sebentar lagi dia akan terkena serangan jantung, dan entah kejutan apa lagi yg di siapkan Shofia untuknya. "Apa maksud mu kita bertiga?"
"Ya kita harus nganterin Kak Bilal sampai kerumah mertuanya, kan?. Engga mungkin dia berangkat sendirian"
"Astaghfirullah...Ya Allah...." Mukhlis mengusap dada nya sementara Bilal hanya tertawa kecil melihat reaksi Kakak sulung mereka itu.
"Bilal, kamu sudah gila apa. Kita harus balik kerumah sakit sekarang"
"Kak..." Ucap Bilal kali ini ia memasang wajah serius "Patah tulang ku ini engga mungkin membunuh ku, tapi kalau aku engga segera bertemu Zahra, aku merasa akan mati, Kak"
"Bener" sambung Shofia dan ia pun memasang wajah sedih "Coba Kak Mukhlis bayangkan berada di posisi Kak Bilal, dan Mbak Dini berada di posisi Asma."
"Ya engga mungkin lah" jawab mukhlis cepat "Wong aku cuma punya satu istri. Engga akan ada kasus kayak gituan"
"Ya bayangkan aja, kalau kakak harus berpisah dari Mbak Dini karena ke salah fahaman. Sementara kalian saling mencintai" ujar Shofia berharap kakaknya itu mengerti.
Mukhlis terdiam sesaat, ia teringat kata Dokter saat Bilal kecelakaan dan di tangani Dokter. Bilal terus menggumamkan nama Zahra. apa segitu cinta nya Bilal pada Asma, fikir Mukhlis.
"Em ya udah. oke"
"Yeyyy" teriak Shofia girang yg membuat Mukhlis heran, siapa yg akan ketemu pasangan nya tapi siapa yg girang, fikir nya. "Samsung galaxy Fold" Lanjut Shofia sambil terkikik senang yg seketika membuat Mukhlis mengerti.
"Itu sogokan nya?" Bilal hanya tertawa kecil dan mengangguk. Dan Mukhlis hanya bisa geleng geleng kepala. "Ponsel semahal itu, buat apa?. Dia bukan pebisnis juga"
"Entahlah. " jawab Bilal acuh, ia tak peduli untuk apa ponsel semahal itu bagi Shofia, yg dia inginkan sekarang hanyalah bertemu dengan Zahra nya.
Bilal tahu dengan pasti, sangat sulit mendebat Shofia, gadis itu keras kepala dan akan melakukan apapun yg dia inginkan. Sementara jika Bilal yg memaksa, maka semua orang akan menghentikan nya.
Sesampainya di bandara, mereka segera check in.
Dan Shofia menunjukan tiket mereka.
"Tiga orang? Dimana satu nya?" tanya petugas karena hanya melihat Shofia dan Mukhlis. Kemudian Mukhlis melangkah ke samping dan Bilal langsung tersenyum lebar.
"Saya satunya" jawab Bilal. Namun petugas itu terkejut melihat keadaan Bilal yg duduk di kursi roda dengan kaki yg di perban, kepalanya pun begitu, dan memang ada bekas jahitan di rahangnya. Juga beberapa bekas luka di lengan Bilal karena saat ini Bilal hanya menggunakan kaos pendek.
"Tunggu, apa kau baik baik saja tuan?. Karena sepertinya aku butuh surat rekomendasi dari dokter mu yg mengatakan kau baik baik saja untuk melakukan penerbangan. Saya tidak bisa mengambil resiko jika terjadi sesuatu dengan anda di penerbangan nanti"
"Sudah ku duga" Gumam Mukhlis yg langsung putus asa.
"Shofia, tolong jelaskan padanya" pinta Bilal. Shofia pun menarik nafas dan mengembuskan nya perlahan. Shofia memasang wajah yg sangat serius dan juga sedih.
"Pak, kami bertiga ini saudara. Dan beberpa hari yg lalu, kakak saya bertengkar dengan istri nya, kemudian istri nya pulang kerumah tua nya di kampung, dan karena tak bisa berpisah dengan istri tercinta nya, Kakak saya melompat dari lantai 6 di gedung tempat dia bekerja"
"Astaghfirullah " Gumam Bilal dengan mata melotot sempurna dan mulut terbuka lebar. Sementara Mukhkis berusaha sekuat tenaga menahan tawa nya.
"Oh, begitu. Sedih sekali, tapi maaf, Nona. Kami tetap butuh surat dari Dokter nya. Ini demi keselamatan Kakak anda sendiri"
"Pak...." Rengek Shofia dengan wajah memelas nya "Dia itu engga apa apa, cuma kakinya doang patah, kepala nya cidera sedikit, sama tinggal lebam lebam sedikit aja di tubuh nya tuh"
"Itu doang?" tanya petugas itu dengan wajah yg bergidik ngeri. "Nona, itu bukan DOANG, apa lagi ada cidera di kepalanya, itu bisa sangat berbahaya"
"Sudahlah, Bilal. Nunggu kamu baikan aja ya" bujuk Mukhlis apa lagi kini mereka menjadi pusat perhatian
"Tunggu" Pinta Bilal "Nanggung, Kak. Sudah sampai sini juga"
"Tapi Bilal..."
"Ayolah, Kak. " Pinta Bilal dengan memelas, Sementara Shofia masih tak menyerah dengan usahanya.
"Ayolah, Pak. Kasian kakak ku, Istri nya juga pasti menunggu nya di sana"
"Maaf Nona..."
"Pak, Kakak saya itu engga akan mati cuma karena patah tulang, tapi dia pasti mati kalau sampai engga ketemu sama istri nya"
"Kan bisa menunggu sampai dia lebih baik, Nona"
"Engga bisa" Jawab Shofia ngotot. Mukhlis hanya bisa menutup wajah nya dengan tangannya karena ia malu pada orang yg memperhatikan mereka.
"Istri nya mau dijodohkan dengan orang lain. Kalau sampai itu terjadi, Kakak saya pasti akan melompat lagi dan mungkin dari lantai 16. Dia pasti mati, saya dan keluarga saya akan menuntut bapak ya kalau sampai Kakak saya mati" Shofia mengancam dengan wajah yg sangat serius, membuat petugas itu menelan ludah nya dengan susah payah.
Bilal dan Mukhlis bergidik ngeri dengan apa yg di katakan Shofia. Ternyata Shofia jauh lebih gila dari yg mereka bayangkan. Mukhlis bahkan merasa dia akan segera pingsan karena tak tahan lagi menahan malu.
"Tunggu, biar saya bicara dulu dengan atasan saya...."
"Pak, ayolah. Saya jamin, engga akan terjadi apa apa. Ya...ya...ya, Kasihanilah seroang suami yg sedang memperjuangkan istrinya, Pak."
Petugas itu pun menatap Bilal karena sejak tadi Bilal hanya diam saja dan malah Shofia lah yg terus menurus berbicara. Bilal hanya diam namun dia menunjukan ekspresi yg memelas dan memohon. Membuat petugas itu tidak tega. apa lagi dengan wajah yg terluka karena kecelakaan itu. Membuat penampakan Bilal semakin memprihatinkan.
"Baiklah"
.
.
.
"Aku ragu, apakah Shofia ini benar benar adik kandung kita" Ujar Mukhlis sembari membantu Bilal duduk di kursi nya dan sebentar lagi pesawat akan lepas landas, semua penumpang pun termasuk mereka bertiga sudah bersiap siap.
"Shofia 1000% adik kandung kalian, kalian kan liat waktu Ummi mengandung dan melahirkan Shofia" jawab Shofia sambil memasang seat belt nya.
"Tapi tadi itu sangat memalukan" ujar Mukhlis.
"Semua adil dalam perang dan cinta, kebohongan ,siasat atau apapun itu." jawab Shofia yg tak mau kalah.
"Shofia, kamu itu sudah jadi istri. Apa kamu juga bersikap gila seperti itu dirumah suami mu?"
"Engga akan" Sambung Bilal, karena melihat Shofia, mengingatkan dia pada Zahra nya. Di rumah Abi Rahman, dia adalah Asma gadis kecil kesayangan mereka dengan segala sikap manja dan ke kanak kanakan nya. Tapi dirumah Bilal, Dia adalah Zahra istri yg Bilal dan dia adalah menantu yg baik di keluarga Bilal. "Shofia memang bersikap gila, itu hanya didepan kita, karena dia adik kecil kita. Tapi di rumah suami nya, Shofia kita pasti akan jadi istri dan menantu yg baik" Tutur Bilal yg di tanggapi senyuman manis Shofia.
"Terimakasih" ucap Bilal kemudian dan mencium gemas pipi adiknya itu.
"Samsung galaxy Fold" Shofia berkata dengan senyum lebar menampilkan deretan gigi nya yg sama sekali tak tersusun rapi.
▪️▪️▪️
Tbc....