My Ustadz My Husband

My Ustadz My Husband
Part 47



"Kamu kenapa melamun terus dari tadi?" tanya Hubab yg melihat saudari sepupunya itu tampak murung sejak tadi. Saat ini, mereka di perjalanan pulang setelah mengunjungi rumah lama mereka dan berziarah ke makam orang tua mereka.


"Engga apa apa" jawab Khadijah memaksakan bibir nya tersenyum, ia terus berfikir tentang hubungan Bilal dan Asma sudah sempurna layaknya suami istri. Dan entah kenapa Khadijah merasa tidak suka akan hal itu, ia terus mengingatkan dirinya sendiri dialah yg menyatukan mereka, dan Khadijah melakukan itu untuk kebahagiaan suaminya, tapi ternyata itu adalah penderitaan bagi nya. Pantas saja orang mengatakan 'bohong saat kau mengatakan aku bahagai asal kau bahagia'


"Hubab..." panggil Khadijah yg di jawab gumaman Hubab "Kapan kamu akan menikah?" tanya Khadijah untuk mengalihkan pemikiran nya sendiri. Hubab tertawa mendengar pertanyaan Khadijah yg itu itu saja.


"Aku bukan Bilal, aku engga perlu menikah sebelum kami mati, kan?" jawab Hubab sambil tertawa geli, khadijah mencebikan bibirnya, padahal dia hanya kasian melihat sepupunya itu yg hanya fokus bekerja dan tidak ada yg mengurus nya.


"Jangan terlalu lama membujang, kamu itu sudah tua, nanti engga ada perempuan yg mau lho sama kamu"


"Jodoh itu di tangan Allah, aku mah santai santai aja"


"Jodoh memang di tangan Allah, tapi kalau kamu engga berusaha ya engga mungkin jodoh mu datang ke rumah mu dan mengatakan 'aku jodoh mu'. Emang nya kamu engga menaruh hati pada siapapun gitu?" tanya Khadijah yg membuat Hubab tiba tiba ia teringat Asma, namun Hubab segera mengusir Asma dari dalam benak nya.


"Ada" jawab Hubab.


"Siapa?"


"Seorang gadis yg sudah jadi milik orang lain" ucap Hubab dengan suara lirih.


"Yah, kok bisa kecolongan gitu sih"


"Bukan kecolongan, tapi pada dasar nya dia memang milik orang"


"Astaghfirullah, kamu suka istri orang?" tanya Khadijah tak percaya dan tampak wajahnya sangat serius, tapi kemudian Hubab tertawa terbahak bahak membuat Khadijah bernafas lega, ia fikir Hubab hanya mengerjainya.


"Gila aja kamu nih, aku hampir mati jantungan tahu" gerutu Khadijah.


Khadijah mendapatkan pesan dari Bilal agar langsung ke rumah Ummi nya, karena di sana ada mertua Shofia dan mereka ingin makan malam bersama kelurga mereka. Khadijah pun meminta Hubab agar langsung menuju kesana tanpa pulang lebih dulu.


.


.


.


Hubab dan Khadijah langsung menuju ruang makan, rupanya di sana semua orang sudah berkumpul, tapi Khadijah tidak melihat suami dan madu nya disana.


"Mas Bilal dimana?" bisik Khadijah pada Dini.


"Belum datang" jawab Dini. Khadijah pun memberi salam pada mertua Shofia, dan mertua Shofia menanyakan keadaan Khadijah, tentu Khadijah mengatakan ia baik baik saja. Tak lama kemudian Bilal datang dengan menggandeng tangan istri muda nya, Bilal dan Asma juga menyapa dan memberi salam pada mertua Shofia.


"Jadi ini Zahra nya Bilal?" tanya ibu mertua Shofia saat melihat Asma, walaupun sudah berusia lanjut, namun ia masih tampak sangat cantik. Asma hanya bisa menyunggingkan senyum manis nya dan mencium tangan ibu mertua nya Shofia "Manis sekali" ucapnya kemudian membuat Asma salah tingkah.


"Kami tidak bisa di hari pernikahan mu, tapi kami selalu mendoakan mu,Nak"


"Terima kasih, Ummi" Jawab Asma sopan.


"Oh ya, Ummi punya hadiah pernikahan untuk kalian, ya walaupun terlambat. Ummi harap kalian suka, terutama kamu, Manis" seru ibu mertua Shofia sembari menyerahkan sebuah kotak segi empat kecil yg di ikat dengan pita ungu, dengan antusias Asma segera menerima dan membuka nya, matanya berbinar kagum melihat apa isinya, sebuah gelang kecil dengan manik manik yg terukir kaligrafi Asmaul Husna. Asma seolah tak percaya melihat nya.


"Masya Allah, ini sangat indah, Ummi. Terima kasih banyak, Asma sangat menyukai nya"


tutur Asma, Bilal yg melihat hadiah itu juga tampak sangat menyukai nya.


"Aku harap kalian memakaikan nya saat bayi pertama kalian lahir" ekspresi wajah Asma berubah seketika menjadi kaku, bayi? Fikir nya. Dia sama sekali tak pernah memikirkan bayi tapi bayi nya sudah mendapatkan hadiah.


"Ya, doakan saja semoga menantu ku ini cepat cepat punya bayi" sambung Ummi Mufar yg membuat Asma semakin salah tingkah. Dan saat ia melirik Bilal, Bilal hanya mengedikan bahu.


Semenatara Khadijah hanya bisa menahan cemburu dalam hatinya, dan rasa iri pada Asma merasuk begitu saja.


Makan malam berjalan sangat menyenangkan bagi Asma, apa lagi ibu mertua Shofia terlihat sangat menyukai Asma dan mereka bisa langsung akrab. Mertua Shofia mengatakan bahwaShofia sering membicarakan Asma, seandainya Shofia tak harus ikut suami nya, pastilah mereka jadi sahabat.


Setelah makan malam selesai, Bilal membawa kedua istri nya itu pulang.


.


.


.


Bilal menatap langit langit kamarnya dengan tatapan kosong, di satu sisi ia semakin mengkhawatirkan Khadijah, dan di sisi lain, terasa berat jika harus berpisah dengan Zahra nya untuk waktu yg lama.


"Belum tidur, Mas?" gumam Khadijah yg melihat suaminya itu masih membuka mata, kemudian Khadijah meletakkan tangannya di atas perut Bilal dan kembali terlelap.


Bilal yg merasa haus mencoba meraih botol minum yg ada di atas nakas, namun ternyata botol itu sudah kosong, Bilal pun menyingkirkan tangan Khadijah dengan pelan pelan dan ia segera turun untuk mengambil air ke dapur.


"Zahra..." panggil Bilal dan itu membuat Asma kaget dan tanpa sengaja berteriak namun Bilal lansung membekap mulut nya. Asma pun menyingkirkan tangan Bilal dan ia mengatur detak jantung nya.


"Ya Allah, bikin kaget aja" seru Asma sambil mengusap dada nya.


"Kamu ngapain tengah malam di depan kulkas begitu?" tanya Bilal.


"Aku lapar" Asma menjawab kemudian membuang kotak es krim yg sudah habis itu ke tempat sampah.


"Zahra, kamu ngabisin satu kotak es krim?" Bilal bertanya tak percaya, karena tadi sore dia melihat es krim itu masih penuh.


"Sudah ku bilang aku lapar, ini aja belum kenyang" jawab Asma kembali mencari sesuatu di dalam kulkas.


"Kalau lapar kan ada makanan lain selain es krim, Sayang. Ada mie instan juga kok" Seru Bilal.


"Mie instan juga perlu di masak dulu, aku mau nya yg langsung bisa di makan" tutur Asma yg membuat Bilal geleng geleng kepala.


"Ya udah, aku masakin mie, mau?" Asma menggeleng "Kenapa?"


"Nanti aku gendut makan mie tengah malam" jawab Asma


"Es krim juga bikin gendut kali, Zahra"


"Kalau cuma sekali ya engga akan langsung gendut kan?"


"Ya mie juga kalau cuma sekali engga akan bikin gendut"


"Pokoknya engga mau mie" ucap Asma.


Bilal melihat ada buah apel dan jeruk di kulkas kemudian ia mengambil nya.


"Ya udah, makan buah aja. Biar tetap langsing" Bilal memberikan satu buah apel dan satu buah jeruk, namun Asma tak menerima nya.


"Sudah ku bilang aku mau yg langsung bisa di makan" ucap Asma manja yg membuat Bilal kembali geleng geleng kepala. Kemudian ia menutup pintu kulkas nya dan menyuruh Asam duduk di kursi, sedangkan Bilal mencuci buah itu, dan istri kecil nya itu bukannya duduk di kursi, ia malah duduk di samping meja wastafel sambil memperhatikan Bilal yg mencuci buah. Bilal hanya bisa menghela nafas dengan kelakuan istri kedua nya itu namun ia tak menegurnya, setelah selesai mencuci buah nya, Bilal mengupas dan memotong nya kemudian meletakkan nya di piring, kemudian ia berdiri di hadapan Asma yg masih duduk di meja wastafel, sehingga wajah keduanya sejajar dan itu membuat Asma bisa melihat mata hitam Bilal dengan jarak yg sangat dekat.


"Ayo, buka mulut mu" seru Bilal sembari menyuapkan satu potong buah apel pada Asma namun Asma menolak nya.


"Aku bisa sendiri" Asma berkata dengan nada lirih. Entah kenapa posisi berdekatan seperti ini selalu membuat jantung nya berdebar.


"Biar aku suapi" ucap Bilal dengan senyum malaikat nya yg berhasil membuat hati Asma meleleh.


"Apa ini yg namanya romantis?" fikir Asma. Ia pun membuka mulut nya dan dengan senang hati Bilal menyuapi nya.


"Kenapa kamu perhatian banget sama aku?" tanya Asma sambil mengunyah, Asma mengayunkan kaki nya seperti anak anak dan bagi Bilal itu sangat menggemaskan.


"Karena kamu istri ku" jawab Bilal kembali menyuapkan satu potong buah ke dalam mulut Asma, Asma menerima nya sambil terus menatap Bilal dengan intens.


"Kamu sangat mencintai ku, ya?" tanpa sengaja Asma menanyakan hal itu saat ia menatap mata Bilal. Dan Bilal yg mendengar pertanyaan Asma itu tersenyum dan berkata.


"Sangat, aku sangat mencintai mu" jawab Bilal sambil menatap Asma dengan tatapan yg akan membuat gunung es batu pun meleleh, dan tatapan itu memporak porandakan hati Asma. Asma berdeham untuk menetralkan perasaan nya, dan ia kembali mengayunkan kaki nya, namun tiba tiba Bilal menghentikannya, dan ia maju satu langkah sehingga menghapus jarak di antara mereka. Bilal mendekatkan wajahnya pada wajah Asma, begitu dekat hingga Asma bisa merasakan hembusan nafas hangat Bilal menyapu wajahnya, fikiran Asma memerintahkan Asma untuk menghindar, namun hatinya menginginkan Asma membiarkan nya saja.


Suami istri itu larut dalam tatapan penuh kerinduan dan keinginan yg terpendam, dan satu langkah lagi Bilal benar benar akan menghapus jarak di antara wajah mereka.


"Mas..."


Asma terkesiap mendengar suara Khadijah begitu juga Bilal, reflek Asma mendorong dada Bilal dan membuat Bilal mundur selangkah. Asma menelan saliva nya dengan susah payah, hatinya berdebar, wajahnya teras panas, dan ia merasa ada ribuan kupu kupu yg menari dalam perut nya. Dan Bilal pun merasakan hal yg sama, Bilal merasakan jantung nya berdegup kencang.


"Kalian ngapain di sini?" tanya Khadijah sembari berjalan mendekati mereka.


"Tadi aku lapar, Mbak. Jadi aku cari makanan ke dapur" jawab Asma menghindari tatapan Khadijah yg terasa mengintimidasi nya.


"Dan kamu, Mas?" tanya Khadijah memperlihatkan kecemburuan nya.


"Aku tadi haus, air di kamar habis" seru Bilal, kemudian ia meletakkan piring yg masih berisi beberapa buah di meja dan segera mengisi botol minum nya. Sementara Asma segera naik ke kamarnya tanpa berbicara apapun lagi.


Sesampainya di kamarnya, Asma langsung mengunci pintu, ia meletakkan tangan nya di dada nya dan merasakan jantung nya masih berdegup kencang seperti habis lari maraton. Asma merasa semakin hari ia semakin kehilangan kendali.


Semenatara di bawah, Khadijah menatap kesal suami nya itu, namun ia tak bisa berkata apa apa.


"Ayo, kembali ke kamar" Seru Khadijah menarik tangan Bilal kembali ke kamarnya.


▪️▪️▪️


Tbc...