My Ustadz My Husband

My Ustadz My Husband
Part 46



Asma masih mengintip Bilal dari balik jendela, ingin rasanya dia mengabaikan suami nya itu, tapi hatinya tak tega. Akhirnya ia memasukan barang barang nya ke dalam tas dan ia hendak pergi menghampiri suami nya yg sepertinya sudah kehilangan kewarasannya itu.


"Kalau Nora nanyain aku, bilang aja aku sudah pulang ya, Mel" serunya pada Imel.


"Asma boleh aku mengatakan sesuatu?" tanya Imel sembari mengantar Asma ke pintu depan. Asma mempersilahkan nya.


"Aku sudah menuntut ilmu di pesantren ini selama 5 tahun, aku mengenal Ustadz Bilal dan Ustadzah Khadijah, tapi Ustadz Bilal tidak pernah memperlakukan Ustadzah Khadijah seperti dia memperlakukan mu, sangat manis dan mesra, entah kenapa aku melihat dia seperti lebih hidup karena kamu" Asma hanya tersenyum samar mendengar penuturan Imel. Ia bingung kenapa semua orang memberi tahu nya hal itu, bahkan Imel juga, seolah mereka memang melihat besar nya cinta Bilal untuk nya.


"Aku pergi dulu, Mel" seru Asma tak ingin menanggapi Imel.


Bilal yg melihat Asma muncul tak bisa menyembunyikan senyum senang nya, namun ekspresi Asma masih sangat datar, ia terus berjalan lurus dan tanpa berbicara sepatah katapun ia berjalan melewati Bilal. Bilal mengikutinya dari belakang dan juga tak bersuara, dan saat Asma menghentikan langkah nya, Bilal pun juga berhenti.


"Engga bawa mobil?" tanya Asma dingin.


"Bawa" jawab Bilal, Asma pun berjalan ke tempat dimana bisanya Bilal memarkirkan mobil nya, dan ditengah malam begini, keduanya pun pulang dan masih tak ada yg mau bicara hingga sesampai nya di rumah.


Setelah membuka pintu dengan kunci yg Bilal bawa, Asma langsung naik ke kamarnya dan Bilal masih dengan setia mengikuti nya. Asma menyalakan lampu kamarnya, kemudian ia meletakkan ransel nya di sofa, melepas hijab nya dan melemparnya asal, Asma menjatuhkan diri ke ranjang dan tidur dengan posisi tengkurap, tiba tiba rasa kantuk menyerang nya, padahal sebelum nya ia sudah berusaha keras untuk tidur tapi tetap tak bisa.


"Zahra, ganti pakaian mu" seru Bilal sembari menutup pintu, ia melepaskan jaket nya dan hanya mengenakan kaos, Bilal memungut pashmina Asma yg tergeletak di lantai dan meletakkannya di gantungan, Asma tak menggubris suaminya, ia menutup mata dan hendak tidur.


"Zahra, kamu engga ganti baju seharian, sebaik nya ganti pakaian mu" Seru Bilal lagi, namun Asma masih tak menanggapi. Bilal pun mengambil pakaian tidur Asma lengkap dengan pakaian dalam nya, kemudian ia menarik Asma bangun dan menyodorkan pakaian nya "Ganti pakaian mu" pinta nya lagi, melihat Bilal memegang pakaiannya Asma melotot tak percaya antara malu dan kesal, ia segera mengambil nya dari tangan Bilal.


"Kamu sudah mandi kan?" tanya Bilal, Asma masih tak menjawab dan ia segera pergi ke kamar mandi untuk berganti pakaian. Di dalam, ia memegang dadanya yg berdebar.


"Gila betul manusia satu itu" gumam nya.


Bilal merebahkan dirinya di ranjang dan ia meluruskan kaki nya yg terasa pegal, ia baru merasakannya.


Saat Bilal tak melihat laptop Asma, Bilal sudah menduga ini pasti terjadi, apa lagi Asma yg berangkat ke sekolah tanpa pamit pada Bilal. Sepulang nya dari kantor, Bilal langsung ke pesantren dan mengawasi istri nya diam diam, Bilal sempat berfikir untuk mengajak Asma pulang, tapi kemudian ia berfikir mungkin Asma memang butuh waktu sendiri. Bilal memang sengaja menunggu Asma di sana, Bilal tahu Asma memiliki kebiasaan berdiri di dekat jendela saat ia merasa sedih, Bilal melihat Asma melakukan itu beberpa kali. Bilal berdiri di sana berharap Asma melihat nya menunggu dan menghampiri nya, dan perjuangan nya itu tidak sia sia.


Asma keluar dengan wajah yg terlihat sudah lebih segar, ia segera naik ke atas ranjang dan hendak tidur.


"Jangan tidur" pinta Bilal yg membuat Asma menggeram kesal.


"Kenapa lagi?" tanya nya ketus.


"Sebentar lagi subuh, nanggung kan" Asma melirik jam dan memang sebentar lagi sudah masuk waktu subuh.


"Sejak kapan kamu berdiri disana?" tanya Asma tanpa menatap Bilal, sebenar nya ia tak ingin bertanya, tapi Asma benar benar merasa penasaran.


"Sejak kamu masuk kamar itu" jawab Bilal dengan santai nya.


"Apa engga ada hal yg lebih gila lagi yg bisa kamu lakukan?" tanya Asma sarkastik. Ia tak habis fikir dengan tingkah suaminya yg gila itu, ia rela tidur semalaman di depan pintu kamar nya, berdiri dan menatap jendela kamar Nora semalaman.


"Memang nya engga pegal? Dingin? Dan pasti banyak nyamuk kan disana? Bersikap lah sedikt lebih waras" tutur nya kemudian yg membuat Bilal mengulum tersenyum.


"Mau bagaimana lagi, Sayang? Kamu sudah mengambil semua kewarasan ku" ucap Bilal yg membuat Asma memutar bola mata jengah dan ia enggan menanggapi modus suami nya itu, setidak nya bagi Asma itu hanya modus belaka.


Dan saat terdengar suara Adzan, Bilal dan Asma pun bersiap sholat subuh.


Setelah sholat, Bilal berdzikir dan berdoa, dan saat menoleh, ia terkejut melihat istrinya yg sudah terlelap di atas sejadahnya, itu mengingatkan Bilal saat pertama kali sholat bersama istri kecil nya itu. Dengan sangat hati hati, Bilal membawa Asma ke ranjang dan saat ia ingin melepaskan mukena Asma, istrinya itu merasa terganggu dan akhir nya terbangun.


"Lepas dulu mukena nya" ucap Bilal sembari membantu Asma melepasnya. Setelah itu, Asma kembali tertidur dengan pulas, ia merasa sangat mengantuk, semalaman ia tidak tidur sedikitpun, begitu juga dengan Bilal, ia juga merasa sangat ngantuk dan lelah, akhirnya ia pun naik ke atas ranjang, ia tidur miring sembari memeluk Asma.


Ia merasa sangat nyaman, akhirnya setelah beberapa hari, kini ia mendapatkan kehangatan dengan memeluk istri nya itu.


Asma dan Bilal tidur terlelap bahkan hingga matahari sudah tinggi. Tak heran, keduanya sama sama begadang, dan juga beberapa hari terakhir keduanya memang tidak bisa tidur nyenyak karana masalah yg meraka miliki, namun sekarang semuanya akan membaik, Bilal akan membuat Asma tidur dalam pelukannya lagi, dan dalam hati Bilal berjanji, tidak akan pernah mengulangi hal yg sama apapun yg terjadi, Zahra nya adalah yg terpenting, tapi...Khadijah juga sangat penting, kan?.


Bilal membuka mata saat merasakan mata hari menerpa wajahnya, dan ia tersenyum senang, melihat pujaan hatinya yg masih terlelap dalam pelukannya, begitu indah. Bilal mencium kekasih hatinya yg sangat ia rindukan itu, dan hal itu membuat sang kekasih menggeliat merasa terganggu namun didetik selanjutnya kembali terlelap, masuk dalam mimpi indah nya. Ia merasa sangat nyaman dalam pelukan sang suami, hingga saat matahari menerpa wajahnya, itu tak menggangu tidurnya sama sekali. Bilal membiarkan cahaya matahari itu menerpa wajah Asma, karena itu membuat Asma tampak semakin cantik. Bilal melepaskan pelukan nya dengan pelan pelan agar Zahra nya tak terbangun karena pergerakan nya. Setelah itu, ia keluar kamar karena merasa perut nya sudah keroncongan. Tak heran, ini hampir jam setengah 10.


"Bi, buatkan aku teh ya" seru Bilal. Kemudian ia melihat Khadijah yg juga turun dari tangga dan ia tampak rapi. Bilal teringat, kemaren Khadijah meminta izin untuk pergi ziarah ke makam kedua orang tuanya bersama Hubab.


"Kalian jadi pergi kesana?" tanya Bilal.


"Iya, Mas" jawab Khadijah


"Kamu sudah sarapan?"


"Iya" Khadijah kembali menjawab singkat.


Khadijah terbangun saat mendengar suara mobil Bilal tadi, namun saat ia hendak menyambut suami nya itu, ia melihat Asma yg datang bersama Bilal, dan itu mengurungkan niat Khadijah, bahkan biasanya Bilal sholat subuh di musholla rumah mereka supaya semua nya bisa sholat berjemaah, namun sejak Bilal masuk kamar Asma tadi, Bilal tak keluar lagi sampai hari sudah sangat siang, Khadijah bahkan juga menunggu nya untuk sarapan, dan seharusnya Asma juga pergi ke sekolah, namun tak ada tanda tanda mereka akan keluar kamar.


Bi Mina datang dan membawa teh untuk Bilal.


"Neng Asma belum turun juga, Pak? Apa sekolah nya libur?" tanya Bi Mina yg juga tahu semalam Bilal datang bersama Asma.


"Engga, Bi. Tapi biarkan saja dia istirahat, semalaman dia engga tidur, dia pasti masih ngantuk"


"Bapak juga keliatan nya kurang tidur" ucap Bi Mina.


"Ya kami berdua memang engga tidur" jawab Bilal sembari meluruskan kaki nya dan meregangkan tubuhnya Ugghh badan ku pegal semua gara gara semalam" Dan itu membuat Bi Mina mengartikan sesuatu yg lain.


"Oh... Jadi karena itu kalian berdua terlambat bangun?" tanya Bi Mina yg langsung di jawab anggukan oleh Bilal yg tidak tahu apa maksud 'itu' nya Bi Mina. Dan Khadijah yg mendengar tanya jawab Bi Mina dan Bilal pun memiliki pemikiran yg sama dengan Bi Mina. Tentu itu membuat hati Khadijah terbakar cemburu.


"Mas, aku sambil jalan dulu, mungkin sebentar lagi Hubab datang" seru Khadijah dan langsung bergegas keluar dari rumah nya.


Sementara Bi Mina juga terlihat menahan senyum dan segera pergi ke dapur.


"Pasangan yg unik, beberpa hari ini musuhan, eh sekarang sudah..." Bi Mina membekap mulut nya sendiri dan segera menoleh, takut takut Bilal mendengar ucapan nya, kemudian ia pun melanjutkan pekerjaan nya sambil terus senyum senyum membayangkan pasangan Tuan dan Nyonya muda nya itu.


Asma terbangun saat mendengar suara anak anak di bawah, saat ia membuka mata, ia sangat terkejut karena sudah jam 10. Asma mengusap wajahnya dan segera pergi ke kamar mandi untuk cuci muka, sudah tak mungkin pergi ke sekolah fikirnya, karena ini sudah sangat terlambat. Setelah mencuci muka dan gosok gigi, Asma turun dan ia mendapati keponakan suami nya ,Rayhan dan Laila sedang mengerumuni akuarium nya. Saat hendak turun dan menyapa meraka, Asma menghentikan langkah nya karena ternyata di sana juga sudah Ada kakak iparnya beserta istrinya dan juga ibu mertuanya sedang mengobrol bersama Bilal. Asma segera kembali ke kamarnya dan berganti pakaian yg lebih sopan, kemudian ia turun untuk menyapa ibu mertua nya itu.


"Loh, Asma kok engga sekolah, sakit ya?" tanya mertua nya itu apa lagi melihat mata Asma yg sayu, Asma mencium tangan ibu mertuanya itu dengan hormat.


"Engga, Ummi. Asma kesiangan, baru aja bangun" kemudian Asma menatap Bilal "Kok aku engga di bangunin sih?" tanya nya pada suami nya itu.


"Aku engga tega bangun kamu, Sayang. kamu tidur nya nyenyak banget"


"Iya sih, aku emang ngantuk banget" jawab Asma.


"Memang nya kamu tidur jam berapa ?" tanya Dini.


"Asma baru bisa tidur setelah sholat subuh, Mbak" jawab Asma dengan jujur.


"Oh, kalian punya alasan yg sama" seru Mukhlis sambil menatap Bilal dengan tatapan yg aneh.


"Maksud nya?" tanya Asma pada Kakak iparnya itu.


"Bilal bilang dia juga engga ke kantor karena bangun nya ke siangan, dan dia merasa sangat lelah, badannya pegal"


"Ya pasti pegal lah, Kak. Siapa suruh dia kayak gitu semalaman. Kami juga sama sama tidur setelah sholat subuh, makanya dia juga ke siangan" jawab Asma dengan lugas nya, kemudian semua orang yg ada di sana saling pandang satu sama lain sambil menahan senyum geli. Bilal yg menyadari mereka salah mengartikan kondisi Bilal dan ucapan Asma segera bersuara sebelum mereka berfikir terlalu jauh.


"Bukan...bukan itu maksud Zahra" ucap nya serius


"Bukan gimana? Wong kamu memang begitu, ya salah sendiri kalau badan mu pegal pegal" sela Asma yg membuat semua orang memandangi suami istri itu. Bahkan Ummi Mufar pun hanya bisa berdeham berfikir betapa bar bar nya menantu kecil nya itu.


"Asma, tadi Ummi belikan soto buat kamu" seru Ummi Mufar untuk mengalihkan pembicaraan


"Oh ya? Kebetulan sekali aku memang sangat lapar sejak semalam" seru Asma


"Ya, itu memang menguras tenaga, Asma" sambung Dini yg justru masih ingin topik itu.


"Dini...." desis ibu mertuanya tajam mengerti apa yg di maksud Dini. Sementara Dini hanya cengengesan menampilkan sederetan gigi gigi nya yg rapi itu, ia tersenyum geli apa lagi melihat Bilal yg tersipu malu, membuat mereka semua semakin yakin dengan pemikiran nya.


"Sayang, pergi makan sana" pinta Bilal pada Asma sebelum Asma berbicara lebih banyak.


Asma pun segera pergi ke dapur. Asma mengerutkan kening nya karena Bi Mina menyunggingkan senyum aneh saat menatap nya.


"Ada apa, Bi? Kok senyum senyum kayak orang kasmaran gitu?" tanya Asma sembari menarik kursi.


"Engga apa apa, Neng. Neng Asma mau makan ya?"


"'He'em, katanya Ummi belikan soto?"


"Iya, sudah Bibi panasin, tunggu sebentar ya" tutur Bi Mina masih dengan senyum aneh nya.


Kemudian Asma makan dengan lahap, benar kata Adil, membenci itu hanya menyiksa. Dan ketika ia mencoba memaafkan, rasanya melegakan, seperti ada beban berat yg terangkat dari hati nya. Walaupun terkadang Asma masih kesal mengingat Bilal yg selalu mencari masalah dan merasa cemburu setiap kali berfikir Bilal lebih mementingkan istri pertamanya.


Sementara di luar, Mukhlis terus terusan menggoda adik nya itu, ingin sekali Bilal mengatakan ia pegal pegal karena semalaman berdiri menunggu Zahra nya untuk mendapatkan maaf dari nya. Tapi tak mungkin ia mengatakan itu dan mengumbar masalahnya, mereka bahkan tidak tahu kalau Asma berada di asrama semalam.


"Semalaman, Bro" goda mukhlis yg membuat Bilal semakin salah tingkah.


"Mukhlis, sudah lah, jangan goda adik mu begitu" Seru ibunya.


"Liat muka nya, Ummi? Merona begitu" seru Mukhlis semakin memojokkan Bilal.


"Bukan merona, kalian itu salah faham" seru Bilal tegas.


"Ya udah iya, kami salah faham. Kalian kan masih pacaran, engga boleh gituan kan" seru Mukhlis lagi yg membuat Bilal ingin mencekik kakaknya itu. Kemudian Bi Mina datang membawa es krim untuk keponakan Bilal. Ke usilan Mukhlis pun masih berlanjut, ia memanggil Bi Mina dan Bi Mina pun segera berlari menghampiri nya.


"Bi, jam berapa tadi Bilal bangun?"


"Hmm saya tidak tahu, tapi Bapak baru turun sekitar setengah 10"


"Oh benar benar kesiangan ya, istri nya aja sampai bolos sekolah" ucap Mukhlis lagi membuat Bilal tidak tahu lagi harus di apakan kakak nya ini supaya diam.


"Iya, Pak" jawab Bi Mina dengan senyumnya yg penuh arti, melihat senyum Bi Mina, Bilal menyadari bahwa Bi Mina juga pasti salah faham.


"Astaghfirullah, kalian ini" seru Bilal. Ummi Mufar pun mencoba menghentikan keusilan mereka pada putra bungsu nya itu.


"Ya sudah, kami pulang dulu" seru Ummi nya kemudian. Bilal pun memanggil Asma dan kebetulan istri nya itu sudah selesai makan.


"Ummi mau pulang" tutur Bilal.


"Oh ya? Kenapa buru buru Ummi?" tanya Asma.


"Iya, ada teman Ummi mau datang" seru Ummi nya sembari mengusap kepala Asma dengan lembut. Kemudian mereka semua berjalan keluar dari rumah Bilal, terdengar Rayhan dan Laila masih ingin disana karena menyukai ikan ikan Asma. Asma memperbolehkan mereka membawa ikan nya yg mereka mau, tapi Dini melarang nya karena mereka belum punya akuarium, jika di letakkan di toples, anak anaknya itu pasti akan memainkannya dan membuat ikan itu mati.


▪️▪️▪️


Tbc..