
Khadijah tampak tidak menyukai keputusan Bilal, apa lagi kini dia dan Asma benar benar dekat, Khadijah bahkan memperhatikan Asma seperti dulu lagi. Tapi Khadijah tahu, Asma punya keputusan sendiri untuk hidup nya. Dia bukan lagi Asma yg dulu, gadis remaja yg terpaksa menerima pernikahan dan keputusan kedua orang tuanya. Sekarang dia adalah Zahra nya Bilal, istri nya, dan ibu dari anak anak nya Bilal. Tentu Asma sudah bisa mengambil keputusan sendiri dan memikirkan masa depan dirinya dan anak anak nya.
"Zahra juga engga mau ninggalin kamu, Khadijah. Tapi aku yakin dia butuh privasi nya sendiri dan tidak di bawah bayang bayang siapapun"
"Aku mengerti, Mas" ucap Khadijah sedih. Ini memang salahnya, fikirnya. Seandainya bukan dia yg menginginkan perpisahan itu lebih dulu, maka Asma tidak akan pergi dari rumah nya.
"Aku juga engga bermaksud ninggalin kamu, Sayang" ucap Bilal sambil memeluk istri nya itu "Aku akan pulang setiap hari, dan menemani mu ke Dokter untuk memeriksa keadaan mu. Lagi pula, rumah kalian berdekatan, kalian bisa saling mengunjungi"
"Tapi, siapa yg akan mengurus Asma di sana?"
"Aku akan meminta salah satu pembantu kepercayaan Ummi untuk di tempatkan di rumah"
"Baiklah, aku engga apa apa. Hanya saja kalau engga ada Asma, rumah jadi sepi lagi" Bilal membelai pipi Khadijah dengan sayang.
"Maaf ya kalau kami membuat mu sedih"
"Engga apa apa, lagian Asma sudah dewasa, dia berhak mengambil keputusan dalam hidup nya"
"Terimakasih sudah mengerti"
Khadijah hanya tersenyum samar dan ia mengeratkan pelukannya pada Bilal.
Setelah itu, Bilal bersiap bekerja dan akan meminta orang untuk memindahkan barang barang Asma kerumah baru nya.
"Aku akan ke sekolah hari ini, sudah lama sekali aku engga mengajar" seru Khadijah, ia harus kembali beraktifitas seperti biasa untuk mengurangi rasa sedih nya dan juga supaya ia tak bosan dirumah.
"Ayo, kita bareng aja sekalian sama Zahra juga. Aku akan mengantar kalian" seru Bilal yg langsung di iyakan Khadijah.
Kini, Bilal mengantar kedua istri nya itu ke sekolah.
Asma hanya diam karena sebenarnya dia merasa bersalah pada Khadijah. Ia takut Khadijah merasa bahwa Asma telah mengambil Bilal dari nya.
Akhirnya mereka sampai di sekolah, Bilal menurunkan kedua istri nya itu di halaman sekolah. Tentu itu pemandangan yg menarik bagi para santri yg melihat Bilal mengantar kedua istri nya ke sekolah, Khadijah dan Asma pun berjalan bersama memasuki sekolah nya. Banyak santri yg menyapa Khadijah dengan sangat hormat, namun sebagian dari mereka tak menyapa Asma sama sekali. Mungkin mereka masih berfikir bahwa Asma lah yg telah masuk kedalam rumah tangga Khadijah dan Bilal, tapi Asma sudah tak mau peduli lagi dengan apa yg mereka fikirkan. Apa lagi sekarang ia hamil dan harus memperhatikan kesehatan jiwa raga nya.
"Asma..." teriak Nora dengan kencang dan ia langsung menyambut Asma "Assalamualaikum adek adek bayi, gimana kabar kalian disana?" Asma berbicara di depan perut Asma membuat Asma tersenyum geli.
"Mereka baik, Nora. Alhamdulillah" jawab Asma mewakili anak anak nya, tak hanya itu kini Imel yg berlari menghampiri nya dan juga menyapa Asma dan anak anak yg ada dalam kandungan Asma.
"Bagaimana kabar si kembar?"
"Sangat baik" ucap Asma.
"Asma" panggil Khadijah "Aku akan menemui Ummi, kamu mau ikut?"
"Nanti aja, Mbak. Pas jam istirhat" jawab Asma.
"Oh ya sudah. Aku pergi dulu, jaga diri ya" ucap Khadijah memegang pundakAsma.
"Iya" jawab Asma.
Saat Khadijah menemui Ummi nya, ia menceritakan keputusan Bilal dan Asma untuk menempati rumah baru mereka, awalnya Ummi Mufar terlihat tidak setuju, mengingat Khadijah masih sakit dan masih sangat membutuhkan Bilal setiap saat, begitu juga Asma. Menurut Ummi Mufar, akan lebih baik jika mereka tinggal bersama sama, supaya Bilal bisa mengurus keduanya tanpa harus ke kanan ke kiri dimana itu pasti akan semakin merepotkan Bilal.
"Tapi itu sudah keputusan Asma, Ummi. Aku fikri engga masalah, aku sudah membaik dan bisa menjaga diri. Selain itu Mas Bilal akan menyewa perawat khusus untuk ku, dia juga berjanji akan pulang setiap hari"
"Kenapa Asma tidak menunggu sampai dia melahirkan saja?" tanya Ummi nya.
"Aku engga tahu" jawab Kahdijah "Ummi, aku kesini sebenarnya untuk mengajar, jadi aku akan pergi ke sekolah"
"Hm begitu, ya sudah. Tapi jangan sampai kelelahan, supaya kamu cepat pulih" Kahdijah mengangguk dan ia pun segera pergi ke sekolah.
.
.
.
Ummi Mufar memanggil Bilal untuk berbicara, dan karena tidak tahu apa yg sebenarnya ingin di bicarakan ibu nya itu, Bilal membawa Asma ikut dengannya.
Dan tanpa basa basi, Ummi Mufar menanyakan kebenaran keputusan Bilal dan Asma untuk menempati rumah barunya, Bilal tak mengelak akan hal itu, ia mengakui bawah dia sendiri juga tak sabar ingin menempati rumah baru mereka bersama Zahra nya.
"Ummi tidak bermaksud ikut campur urusan kalian, hanya saja bukankah lebih baik kalian tetap bersama setidaknya sampai Asma melahirkan, supaya kamu engga repot sendiri, Bilal"
"Aku bisa mengurus nya, Ummi" jawab Bilal. Sementara Asma, karena seolah mendapatkan teguran dari ibu mertua nya, ia merasa tidak enak dan berfikir mungkin keputusan nya memang salah.
"Iya, Ummi percaya, Nak. Kamu pasti bisa memberikan yg terbaik untuk kedua istri mu, Ummi hanya memberikan saran, karena kedua istri mu sama sama dalam keadaan dimana mereka tidak bisa tinggal"
Bilal memandang Asma, ia menyesal karena mengajak Asma bersama nya, seandainya ia tahu apa yg akan di bicarakan ibu nya, Bilal tidak mungkin mengajak Asma.
"Ummi hanya memberikan saran, tapi keputusan tetap ditangan mu, Ummi hanya sangat mengkhawatirkan kedua menantu Ummi, terutama Asma, kamu akan melahirkan anak yg kami tunggu selama bertahun tahun. Jadi Ummi sangat mengkhawatirkan mu"
"Ummi benar, Bilal" jawab Asma yg membuat Bilal terkejut.
"Tapi Zahra..."
"Mungkin tinggal bersama itu lebih baik" sela Asma yg tak membiarkan Bilal bicara. Bilal memandang istri nya itu, sama seperti Bilal yg sangat ingin menempati rumah baru nya, Asma juga pasti sangat menginginkan hal yg sama.
"Sayang, Bukankah kamu sudah sangat ingin menempati rumah itu? Kita bahkan sudah belanja semua nya" Seru Bilal.
"Bilal, mumpung aku di sini, apa boleh aku mampir ke kamar Nora sebentar?" tanya Asma dan Bilal pun mengizinkan nya.
"Tapi jangan lama lama ya, kita harus segera pulang dan kamu harus istirahat"
"Iya" jawab Asma dan ia pun segera meninggalkan suami dan ibu mertua nya itu.
"Bilal, apa boleh Ummi bicara satu hal lagi?" tanya Ummi Mufar namun ia terlihat ragu mengatakan nya.
"Apa masih tentang kedua istri ku?" Ummi Mufar mengangguk " Apa?"
"Bilal, Ummi sangat senang karena Asma mau membesarkan anak nya bersama dengan Khadijah. Tapi bagaimana pun juga setelah Asma melahirkan, mereka akan tinggal terpisah dan anak anak Asma pasti akan tinggal bersama Asma. Jadi...jadi maksud Ummi em bagaimana kalau satu anak kalian di tinggalkan bersama Khadijah"
"Maksud Ummi?" tanya Bilal ingin memperjelas apa yg sebenarnya di bicarakan ibu nya itu.
"Maksud Ummi, berikan satu anak mu nanti pada Khadijah untuk ia asuh sendiri. Kan Kasihan Khadijah kalau kedua anak Asma ikut bersama Asma"
Bilal menatap Ummi nya dengan pandangan tak percaya, bahkan satu detik pun tak pernah terbersit hal seperi itu dalam benak nya.
"Astaghfirullah, Ummi. Anak kami bahkan belum lahir, bagaiamana Ummi sudah berfikir untuk membagi anak kami" seru Bilal tak habis fikir "Dan satu hal lagi, itu bukan hanya anak ku, itu anak anak nya Zahra. Dia ibu nya, dia yg mengandung dan akan melahirkan nya. Aku tidak akan mengambil keputusan ku sendiri"
"Kalau begitu coba bicaralah dengan Asma" Bujuk sang ibu berharap anak nya mau mengerti, karena meskipun Asma sudah mengatakan bahwa anaknya akan menjadi anak Khadijah juga, tapi jika mereka tinggal terpisah maka anak anak Asma tentu akan ikut dengan ibu kandung nya. Dan Khadijah akan sendirian.
"Maaf, Ummi. Untuk yg satu ini aku engga bisa" Ummi Mufar terlihat kecewa dengan jawaban putra nya itu, Bilal mendekati ibu nya dan menggenggam tangan nya, ia sadar ia telah mengecewakan ibu nya "Ummi juga seorang ibu dan Ummi juga seorang menantu, Apa Ummi bisa bayangkan apa yg di rasakan istri ku Zahra jika mendengar apa yg Ummi katakan tadi? Bagaiamana jika mertua Ummi meminta Ummi untuk membagi anak yg masih dalam kandungan dengan madu Ummi?" tanya Bilal dengan suara rendah. Ia tak ingin mengecewakan Ummi nya tapi ia juga harus memikirkan istri nya "Zahra adalah wanita yg memilik hati sangat lembut, dia berpesan pada ku, jika Khadijah tidak ingin di tinggal, maka aku tidak boleh memaksanya dan Zahra bersedia tinggal bersama sama sampai dia melahirkan, itu karena dia masih memikirkan perasaan Khadijah. Dan soal anak, Zahra sendiri yg meminta Khadijah untuk jadi ibu anaknya nanti,dan biarkan dia melakukan dengan caranya sendiri bagaimana ia memberikan hak seorang ibu pada Khadijah, entah dengan merawat nya bersama, ataupun menyerahkan hak anak sepenuh nya pada Khadijah. Semua keputusan aku serahkan pada Zahra, karena dia ibu nya" tutur Bilal yg langusng membuat Ibu nya terdiam "Mungkin usia Zahra memang masih belasan tahun, tapi dia seorang istri dan ibu . Dan Zahra menjalankan perannya dengan sangat baik. Dia tahu apa yg harus dia lakukan"
"Kamu benar, Nak" Ummi Mufar berkata dengan setengah berbisik. Bagaiamana ia melupakan hal itu, bagaimana ia hanya memikirkan Khadijah tanpa memikirkan Asma?
"Baiklah, Ummi. Aku akan mengajak Zahra pulang, kata Dokter dia harus banyak istirhat"
"Iya, hati hati. Dan tolong jangan beri tahu Asma apa yg Ummi bicarakan tadi, Ummi engga mau dia merasa Ummi pilih kasih di antara kedua menantu Ummi"
"Iya" Jawab Bilal singkat dan ia pun segera menjemput Asma ke kamar Nora.
Setelah itu, Bilal membawa Asma kerumah baru mereka karena Bilal ingin menginap disana malam ini.
Asma pun dengan senang hati menyetujui nya.
Sesampainya disana, Bilal menggendong Asma seperti pengantin baru dan membawanya ke kamar mereka, Asma tersipu malu dengan apa yg dilakukan Bilal dan itu membuat Bilal merasa gemas dan ingin segera menghujani istri nya itu dengan kecupan.
Bilal menurunkan Asma di ranjang dengan sangat hati hati, keduanya saling menatap dengan begitu dalam seolah ingin memberitahu perasaan yg tak mampu mereka ucapkan.
Bilal menunduk dan ia mencium kening istri nya itu. Terbayang kembali apa yg di katakan Ummi nya, entah kenapa Bilal merasa bersalah pada Zahra nya, ia merasa keeadaan Khadijah seolah membuat semua orang termasuk dirinya berpihak pada Khadijah dan mengenyampingkan Zahra nya.
"Ada apa, Bilal?" Asma bertanya dengan sangat lembut dan ia membelai pipi suami nya itu, Asma bisa melihat dari mata suaminya itu yg seolah menyimpan sesuatu yg mungkin menekan hati nya "Kamu terlihat sedih, apa karena kita engga jadi tinggal disini?" tanya nya lagi masih dengan nada yg sangat lembut.
Bilal menggeleng sambil berusaha menyunggingkan senyum, kemudian ia duduk di ranjang dan meletakkan kepala Asma di pangkuan nya, ia membelai kepala Asma yg masih terbungkus jilbab.
"Aku engga peduli dimana pun aku tinggal, selama aku bersama mu, Zahra. Aku hanya ingin selalu bersama mu"
"Begitu pun aku" balas Asma. Ia menarik tangan Bilal yg terus membelai kepalanya, kemudian Asma mencium telapak tangan suaminya itu.
"Bilal, ayo kita pergi ke taman nya" pinta Asma dengan antusias.
"Jangan, ini sudah malam,nanti kamu masuk angin"
"Tapi aku ingin pergi kesana, aku ingin melihat bunga bunga ku"
"Besok aja ya" bujuk Bilal namun Asma terus memohon dengan wajah memelasnya, membuat Bilal tak bisa lagi menolak.
"Baiklah, ayo" seru Bilal. Asma pun terlihat senang karena suaminya itu selalu menuruti kemauannya. "Pakai ini, biar kamu engga dingin" Bilal hendak melepaskan jaket nya namun Asma mencegahnya.
"Peluk saja aku, itu jauh lebih hangat" seru Asma yg membuat Bilal mengulum senyum. Ia pun mendekap Zahra nya itu dan membawa nya keluar menuju taman.
Disana mereka duduk di ayunan dan Bilal masih mendekap erat Zahra nya.
"Saat acara 7 bulanan nanti, aku mau semua keluarga ku datang" seru Asma sembari memegang perut nya yg semakin hari semakin membesar "Aku juga ingin Lita datang, Kak Adil Bilang akan menjemput Lita dari pesantren dan membawa nya kesini, aku sangat merindukan nya"
"Itu ide yg bagus, kalian sangat dekat seperti saudara kandung" jawab Bilal yg mengingat Lita dan Asma selalu nempel seperti saudara kembar saja.
"Lita sangat baik, meskipun usianya satu tahun di bawah ku, tapi sikap nya seperti sepuluh tahun di atas ku, dia selalu menjaga ku sejak kecil, dia sering melindungi ku saat aku nakal dan akan di marahi Kakak"
"Betapa beruntung nya istri ku punya saudari seperti Lita" puji Bilal yg membuat Asma tersenyum, karena ia memikirkan hal yg sama.
"Sayang, sebaiknya kita masuk" ucap Bilal apa lagi ia merasakan hawa semakin dingin, Asma pun mengikuti perintah suami nya itu.
Sesampainya di kamar, Asma mengambil guling bayi yg sudah Bilal belikan dan Asma memeluknya. Bilal tersenyum melihat Asma yg tampak nya sangat tidak sabar menunggu kelahiran anak anaknya, dan Bilal pun merasakan hal yg sama.
"Ayo, kemarilah" seru Bilal yg sudah berbaring, ia mengulurkan tangannya pada Asma dan Asma segera menyambut nya, Asma tidur dalam pelukan Bilal yg selalu terasa nyaman dan aman.
"Semoga mimpi indah, Sayang. Aku mencintai mu" ucap Bilal sembari mengecup pucuk kepala Asma.
"Aku juga mencintai mu, Sayang" Ucap Asma yg membuat Bilal tersenyum, karena baru kali ini ia mendengar Asma memanggilnya 'Sayang' dengan begitu lembut dan tulus.
▪️▪️▪️
Tbc...