My Ustadz My Husband

My Ustadz My Husband
Part 68



Khadijah sangat bahagia karena Asma dan Bilal tidak jadi pindah rumah. Namun beda hal nya dengan Bilal,ia seperti tidak tenang dan selalu mengkhawatirkan Asma. Namun Asma meyakinkan Bilal bahwa diri nya baik baik saja. Asal Bilal selalu berada di samping nya, menjaga dia dan anak anak nya, itu sudah lebih dari cukup untuk Asma.


"Oh ya, Besok Ummi sama Abi mau mengunjungi Shofia" ucap Bilal pada Khadijah.


Saat ini keduanya sedang sarapan, sementara Asma masih tidur karena hari ini sekolah nya libur.


"Iya,Ummi juga sudah bilang kok sama aku" jawab Khadijah. "Oh ya Mas, besok malam kita datang kan ke pernikahan Tania?"


Tania, wanita yg pernah Khadijah coba jodohkan dengan Bilal, wanita sholehah itu kini sudah bertemu dengan jodohnya dan besok malam pesta pernikahan nya. Tania yg teman dekat Khadijah tentu saja mengundang Khadijah dan Bilal untuk menghadiri pernikahan nya.


"Aku engga mungkin ninggalin Zahra, bagaimana kalau kamu datang sama Hubab aja?"


"Aku kan di undang nya sama suami ku, Mas. masak datang nya sama sepupu ku?. cuma sebentar kok. engga enak kalau engga datang"


"Tapi Khadijah..."


"Ku mohon, Mas, cuma sebentar. aku janji. Disana juga pasti teman teman ku datang semua, aku kangen sama mereka"


"Entahlah, nanti aku fikirkan lagi" jawab Bilal namun itu sudah cukup membuat Khadijah senang.


"Kalau Asma mau, dia boleh ikut"


"Engga, dia engga akan mau" jawab Bilal pasti, jangankan pergi ke pesta bertiga, pergi keluar untuk sekedar makan malam bertiga saja Asma tak pernah mau. Khadijah yg juga tahu hal itu, ia pun tak mempermasalahkan nya.


Setelah selesai sarapan, Bilal mendatangi Asma, istrinya itu tampak sangat nyenyak, Bilal menutup kembali horden kamarnya supaya cahaya matahari tidak mengangguk tidur istri nya, ia pun menarik selimut dan menutupi setengah tubuh istri nya. Setelah itu, seperti biasa, ia memberikan ciuman untuk Zahra yg di cintai nya.


"Maaf, Sayang. Aku belum bisa membuat mu bahagia" gumam Bilal dan sekali lagi mencium pipi istri nya hingga istri nya itu menggeliat karena terganggu, namun di detik selanjutnya ia kembali terlelap.


Bilal mengambil laptop nya dan ia duduk di samping Asma, hari ini ia ingin bekerja dari rumah saja, mumpung Asma juga libur sekolah jadi mereka bisa menghabiskan waktu bersama. Ditengah fokus nya bekerja, Bilal di kejutkan dengan cengkeraman yg sangat kuat di tangan nya, saat ia menoleh, ia mendapati Asma yg sudah merintih dan memegang perut nya.


"Zahra, Sayang. ada apa? apa perut mu sakit?"


Tanya Bilal panik,namun Asam tak menjawab nya dan ia masih memegang perut nya. hingga beberapa saat kemudian ia terlihat tenang kembali.


"Zahra, apa kita mau kerumah sakit?"


"Engga, cuma kram seperti biasa" jawab Asma lemah. Ia kemudian berusaha duduk dan Bilal segera membantu nya


"Hati hati sayang" Seru Bilal, kemudian ia mengantar Asma ke kamar mandi.


"Kamu engga kerja hari ini?" tanya Asma.


"Engga, aku akan bekerja dari rumah. Apa kamu mau kita jalan jalan? atau belanja?"


"Entahlah, Bilal. aku merasa tubuh ku seperti lemas dan lelah"


"Baiklah, kalau begitu istirhat di rumah. Aku akan menemani mu"


"Sekarang keluar,Sayang. Aku mau mandi" pinta Asma sembari menutup pintu tapi Bilal malah menahan nya dengan kaki.


"Mau aku bantu?" goda nya yg membuat Asma memutar bola mata


"Tidak, terimakasih" ucap nya kemudian menutup pintu dengan cepat membuat Bilal tertawa kecil.


Kemudian ia Bilal kembali melanjutkan pekerjaan nya.


Dan terdengar suara ketukan pintu kemudian Khadijah muncul dari balik pintu.


"Ada apa, Khadijah?" tanya Bilal namun fokusnya masih di laptop nya.


"Aku mau kerumah Ummi"


"Untuk apa?"


"Ummi mau buat kue untuk mertua Shofia, jadi aku hanya ingin sedikit membantu, aku bosan dirumah"


"Tapi kamu masih harus istirhat"


"Aku janji engga akan kelelahan, Mas. ya?" Bilal menatap Khadijah sesaat kemudian ia mengizinkan istri nya itu.


"Mau aku antar?" tanya Bilal


"Engga usah, sebenarnya ada Hubab di bawah, biar dia yg nganterin aku"


"Hm ya sudah, hati hati"


.


.


.


Bilal menghabiskan waktu nya seharian bersama Asma. Istrinya itu sangat manja dan menggemaskan.


"Bilal, apa kau sudah menyiapkan nama untuk anak anak kita?" tanya Asma yg saat ini merebahkan kepalanya di perut Bilal yg juga berbaring sambil keduanya menikmati cokelat kesukaan Asma. Dan sepertinya sekarang Bilal juga menyukai cokelat yg memang sangat enak dan menggoda.


"Belum, Sayang. kalau kamu?"


"Aku belum tahu juga. Apa menurut nu anak kita laki laki dan perempuan?"


"Aku berharap begitu"


"Jika anak pertama kita laki laki, aku akan memberi nya nama Sarfaraz"


"Sarfaraz?" Bilal menggumam kan nama indah itu, ia membelai rambut istri nya dengan sayang dan terus menggumam kan nama itu. "Sarfaraz?. yg berarti pemimpin,. Bukankah dalam bahasa arab dan persia artinya tidak mudah putus asa?"


"Hmm, bukankah itu cukup indah?"


"Sangat indah sayang" seru Bilal dengan bahagia. "Dan bagaimana dengan anak perempuan?"


"Itu bagian mu" jawab Asma, ia kemudian berbalik dan kini merebahkan dirinya di samping Bilal, Asma mendekatkan wajahnya pada wajah Bilal dan menatap matanya "Apa nama yg indah untuk anak perempuan kita?. Aku ingin nama yg akan menggambarkan karakter nya nanti"lanjut nya. Bilal menyuapkan sisa cokelat di tangan nya untuk Asma, karena cokelat istri nya itu sudah habis.


"Maryam"


"Maryam?." Asma diam dan berfikir "Kamu memilih yg sempurna, Bilal" Bilal tersenyum dan kemudian ia memeluk istri nya itu. "Semoga dia menjadi wanita yg mulia seperti Sayyidah Maryam"


"Insya Allah. Aamiin."


Dan mereka terus membicarakan hal yg berhubungan dengan anak. Apa lagi Bilal, yg sudah sangat menginginkan anak sejak bertahun tahun yg lalu, tentu dia akan sangat antusias dalam hal apapun mengenai anak.


Asma sangat bahagia, karena ia bisa memberikan kebahagian yg sangat besar pada suaminya itu, Asma berfikir seluruh hidup nya akan ia habiskan untuk mensyukuri hal itu.


.


.


.


Keesokan harinya, Asma dan Khadijah menemui Ibu mertuanya yg hendak pergi untuk mengunjungi Shofia ke Mekkah. Asma menitipkan salam untuk Shofia dan doa semoga Shofia juga segera hamil dan memiliki anak anak yg banyak.


"Tentu, Nak. kami akan sampaikan. kalian jaga diri ya" seru sang Ibu mertua pada kedua menantu nya, dan ia memeluk mereka secara bergantian "Kalian harus saling menjaga"


"Iya, Ummi. insya Allah. " jawab Khadijah. Dini pun juga menitipkan salam untuk adik ipar nya.


Setelah itu, Mukhlis mengantar kedua orang tuanya ke bandara. Sementara Dini mengajak kedua istri adik ipar nya itu untuk mengobrol sebentar, namun Asma ingin pulang karena ia merasa tubuhnya sangat lemah.


"Biar aku panggil seseorang untuk mengantar mu, Asma" seru Dini yg memang melihat Asma sedikt pucat


"Engga usah, Mbak. masih kuat kok kalau cuma jalan sebentar"


"Itu engga baik buat kandungan mu, tunggu sebentar. aku akan panggil seseorang yg bisa mengantar kalian"


"Dini benar, Asma. sebaiknya kamu jangan jalan dulu" sambung Khadijah yg akhirnya membuat Asma menyetujui untuk di antar.


Mereka pun di antar oleh salah satu sopir Abi Khalil.


Sesampai nya dirumah, Asma langsung pergi ke kamarnya untuk beristirahat, dan ia tertidur.


Sementara Khadijah sedang menunggu Bilal pulang, ia benar benar ingin menghadiri acara pernikahan Tania dan sangat berharap Bilal mau menemani nya.


Saat terdengar suara mobil Bilal, seperti biasa Khadijah menyambut suaminya itu.


"Assalamualaikum " Ucap Bilal


"Waalaikum salam, Mas" jawab Khadijah. Khadijah pun membawa tas Bilal dan meletakkan nya di sofa. Begitu juga dengan Bilal yg terlihat letih, ia segera menghempaskan tubuhnya ke sofa.


Khadijah mengambilkan air untuk suaminya itu.


"Mas..." panggil Khadijah yg hanya di jawab gumaman di Bilal. " Mas, sudah fikirkan soal datang ke pernikahan Tania?"


"Kahdijah, Sayang. Bagaiamana kalau kamu datang bersama Hubab saja?"


"Tapi semua teman teman ku pasti datang nya sama suami, masak aku datang sama sepupu?"


"khadijah, Cobalah mengerti. Aku khawatir dengan Zahra jika di tinggal sendirian, akhir akhir ini ia terlihat sangat lemah"


"Kahdijah, aku khawatir...."


"Engga apa apa, Bilal..." Sela Asma yg sedang turun dari tangga dan berjalan menghampiri mereka. "Kalau cuma sebentar, engga apa apa. Kasian juga Mbak, lagian pasti sudah lama Mbak engga bertemu teman teman nya"


"Tapi bagaimana dengan mu, Zahra?"Asma duduk di samping Khadijah


"Insya Allah aku akan baik baik saja, tapi cepatlah pulang, aku juga takut kalau engga ada kamu" ucap Asma pada suami nya itu, ia tak mau sok berani dengan mengatakan ia bisa menjaga diri, karena ia memang juga mengkhawatirkan anak anak mereka, apa lagi Asma akhir akhir merasa sangat lemah. Tapi Asma juga kasihan pada Khadijah jika dia tidak pergi hanya karena Asma.


Bilal terdiam dan berfikir apa yg harus dia lakukan, namun karena Asma mengizinkan ia pun mau pergi. Tentu Khadijah sangat senang dan berterima kasih pada Asma.


.


.


.


Jam 8 malam, Khadijah dan Bilal bersiap pergi. Bilal tampak sangat mengkhawatirkan istri nya itu.


"Kalau ada apa apa, langsung telpon aku ya?" Asma mengangguk sambil tersenyum. "Nak, Abi mau pergi sebentar saja, jangan merepotkan Ummi ya, Kasian Ummi kalian." Bilal berkata di depan perut Asma dan ia mengecup perut buncit Asma.


"Asma, kami pergi dulu" ucap Khadijah kemudian.


"Iya, hati hati" jawab Asma dan ia mengantar Bilal dan Khadijah hingga ke pintu depan.


Setelah mereka pergi, Asma kembali ke kamarnya, namun saat hendak naik ke tangga, ia kembali meraskan kram yg luar biasa di perut nya, beruntung Bi Mina segera datang dan membantu Asma.


Bi Mina membantu Asma naik ke kamarnya. kemdian Bi Mina membantu Asma merebahkan diri di ranjang nya.


"Makasih, Bi. sekarang Bi Mina pergi istirhat juga ya" ucap Asma.


"Iya, Neng Asma kalau butuh apa apa, langsung panggil Bibi ya, atau telpon juga boleh." Seru Bi Mina, mengambil telpon Asma yg ada di atas meja dan menyerahkan nya pada Asma.


.


.


.


Tania menyambut Khadijah dan Bilal dengan sangat bahagia. Apalagi ada teman teman Khadijah yg sangat ia rindukan.


"Aku sudah takut kamu engga datang, Khadijah. Bagaiamana keadaan mu?" seru Tania dan Khadijah memeluknya memberikan ucapan selamat.


"Masih dalam proses penyembuhan tapi aku baik baik saja"


"Bilal menjaga mu dengan sangat baik" ucap Tania dan sekilas melirik Bilal yg saat ini sedang berbincang dengan suami Tania.


"Ya, dia melakuan apapun yang terbaik untukku"


"Oh ya, aku sudah siapkan meja untuk mu disana, ada teman teman sekolah kita juga di sana. nikmati pesta nya" Seru Tania, dan Khadijah pun menuju mejanya. Teman teman nya yg kini sudah berkeluarga semua menyambut Khadijah dengan dengan hati dan menanyakan keadaan nya. kemudian mereka membicarakan banyak hal untuk melepas rindu dan mengenang masa masa sekolah dulu.


Di samping meja Khadijah, di sediakan juga meja untuk Bilal dan suami teman teman nya. Bilal pun bergabung dengan mereka, Namun Bilal tampak tidak menikmati acaranya, ia terus melirik arloji nya.


"Apa kamu punya pekerjaan yg penting Bilal?" Tanya salah satu pria di sana karena melihat Bilal yg terus melihat arloji nya.


"Engga" jawab Bilal "Aku mau ke belakang dulu" pamit Bilal.


Setelah Bilal pergi, ponsel Bilal yg tertinggal bergetar.


"Kahdijah... ponsel suami mu" Salah satu teman Bilal menyerahkan ponsel Bilal pada Khadijah. "Bilal sedang ke toilet, ponselnya tertinggal"


"Terimakasih" ucap Khadijah dan ia memasukan ponsel Bilal ke dalam tas nya, namun ponsel Bilal bergetar, Khadijah pun memeriksanya. Ternyata Asma mengirim pesan, Khadijah segera membuka nya.


^^^Zahra Y Bilal^^^


^^^'Bilal, jangan lama lama pulang nya, perut ku kembali kram'^^^


^^^Zahra Y Bilal^^^


^^^'Bilal, jam berapa kamu akan pulang?'^^^


Setelah membaca pesan itu, Khadijah pun membalas nya.


Me


'Kami engga akan lama, Asma'


^^^Zahra Y Bilal^^^


^^^'Baiklah, aku tunggu. perut dan punggung ku juga sakit'^^^


Me


' Sebaiknya di bawa istirahat, kami akan segera pulang."


"Khadijah, suami mu di sini, siapa yg kamu chatting seserius itu?" tanya salah seorang teman Khadijah.


"Oh itu, istri kedua Mas Bilal" jawab Khadijah dn kembali memasukan ponsel Bilal ke dalam tas nya. Kemdian mereka melanjutkan mengobrol.


Dan kemudian ponsel Bilal kembali bergetar, Khadijah pun memeriksanya lagi.


^^^Zahra Y Bilal^^^


^^^'Apa masih lama?'^^^


Me


'Engga Kok. kau baik baik saja kan?'


"Oh, ya. sebaik nya sekarang kita menikmati hidangan nya, Mertua Tania pemilik sebuah restaurant khas timur tengah, dan itu hidangan yg di siapkan malam ini" ucap teman Khadijah lagi. Pesan kembali masuk dan Khadijah sudah membukanya tapi ia belum sempati ia membaca pesannya, teman Khadijah sudah menarik Khadijah, Khadijah pun kembali memasukan ponsel Bilal ke dalam tasnya.


Kemudian mereka pun pergi untuk menikmati hidangannya.


Tanpa Khadijah sadari, ponsel Bilal tak hanya bergetar karena pesan masuk tapi juga terus berdering lagi dan lagi.


Bilal yg sudah keluar dari toilet segera mencari istri nya itu, namun banyaknya tamu undangan sedikit menghambat nya. Tidak heran, Keluarga Tania dan suami nya adalah seorang pebisnis yg memiliki banyak relasi, sehingga mereka mengundang banyak sekali orang.


Perasaan Bilal sangat tidak nyaman, fikiran nya juga tidak tenang. Ia bertemu dengan temannya dan ia segera menanyakan keberadaan Khadijah.


"Dia sedang menikmati hidangan disana" ucap Teman nya dan Bilal pun segera menghampiri nya.


"Khadijah" panggil Bilal yg seketika membuat Khadijah mendongak.


"Eh Mas, kamu dari mana aja? Sudah makan belum?"


"Engga, apa bisa kita pulang sekarang?" tanya Bilal.


"Kalian kan baru sampai, setidaknya makan lah dulu Bilal" ucap Teman Khadijah.


"Tidak, sebenarnya aku..."


"Mas, ayolah..." bujuk Khadijah " Engga enak kan kalau kita pulang secepat itu. Setidak nya makan sedikit saja"


"Aku masih kenyang" jawab Bilal karena ia sama sekali tidak berselera dan fikiran nya terus tertuju pada istrinya yg dirumah.


"Kalau gitu duduk saja, tunggu aku selesai" Seru Khadijah, dengan sangat terpaksa Bilal mengikuti nya.


Namun tak lama kemudian, Bilal yg merasa sangat gelisah kembali mengajak Khadijah pulang.


"Iya, iya" jawab Khadijah, kemudian ia dan Bilal segera berpamitan pada sang pengantin dan keluarga nya.


Bilal segera keluar dari gedung itu dengan terburu buru. Membuat Khadijah bingung dan ia bahkan terseok seok mengikuti langkah lebar Bilal.


Dan setelah memasuki mobil nya, Bilal baru tersadar ponselnya tak ada bersama nya.


"Kahdijah, ponsel ku tertinggal di dalam, aku akan mencari nya" Ucap Bilal hendak turun dari mobil tapi Khadijah mencegahnya.


"Ponselnya ada bersama ku, tadi tertinggal di meja Mas Bilal" seru Khadijah, Bilal pun bernafas lega karena tak harus membuang waktu untuk mencari ponsel nya. Saat Khadijah merogoh ponselnya, ponsel Bilal sudah berdering.


Khadijah melihat yg menelpon itu adalah kakak iparnya. Khadijah pun dengan cepat menyerahkan ponsel itu pada Bilal.


"Ada apa, Kak?" tanya Bilal setelah ia menjawab panggilan dari kakaknya itu.


"Dimana kamu, Bilal? Bagaiamana bisa kamu meninggalkan Asma sendirian?" Terdengar suara kakaknya yg tampak marah dan juga bergetar seolah ia sedang ketakutan. Membuat Bilal menjadi sangat khawatir dengan keadaan Istri nya.


"A..ada apa?.Zahra baik baik saja kan?" tanya Bilal juga dengan suara bergetar, dia ia pun langsung menjalankan mobil nya. Khadijah yg melihat ekspresi Bilal juga menjadi ikut takut jika terjadi sesuatu dengan Asma.


"*Ke rumah sakit sekarang juga!"


▪️▪️▪️*


Tbc.....