My Ustadz My Husband

My Ustadz My Husband
Part 59



Bilal mengajak Asma turun untuk makan malam, walaupun sebenarnya di bawah masih ada Hubab, tapi Bilal mengatakan tidak apa apa, dia hanya meminta Asma berpakaian yg longgar dan tertutup.


Keduanya pun segera turun untuk makan malam.


Khadijah yg masih merasa kesal pada Bilal tak banyak berbicara, ia makan dalam diam, sementara Asma pun juga makan dalam diam. hanya terdengar suara Hubab dan Bilal yg terus membicarakan pekerjaan nya.


Khadijah yg kehilangan selera makan nya pun segera berhenti meskipun makanan nya masih ada di piring nya.


"Mas, bisa bicara sebentar?" Khadijah berkata sembari beranjak dari kursinya. Bilal yg memang merasakan ada yg salah dengan tingkah istri nya itu segera mengikuti istri nya ke kamar nya.


"Ada apa?" tanya Bilal sesampainya mereka di kamar Khadijah.


"Mas, Kenapa kamu engga bicara sama aku kalau kamu bangun rumah itu untuk Asma?" tanya Khadijah menahan rasa kesal nya.


"Bukan nya kamu sudah tahu itu?" Bilal bertanya dengan heran.


"Tentu saja aku engga tahu" jawab Khadijah yg mulai meninggikan suara nya.


"Kalau bukan untuk Zahra, memang nya buat siapa lagi?" tanya Bilal yg juga tak habis fikir dengan pertanyaan istri nya itu.


"Aku juga istri mu, Mas. Meskipun kamu memang lebih mencintai Asma, tapi kamu bangunkan rumah untuk dia dan kamu engga bicara sama aku"


"Aku fikir kamu sudah mengerti, Khadijah. lagiY pula, kamu sudah memilik rumah ini, jika aku bangun rumah yg lain, tentu saja itu untuk Zahra" jawab Bilal yg juga mulai kesal apa lagi Khadijah yg mengungkit cinta nya pada Asma, karena Bilal sudah berusaha sebaik mungkin untuk tetap menunjukan cinta yg sama pada Khadijah.


"Tapi rumah ini pemberian orang tua mu, Mas" sanggah Khadijah


"Dan sudah menjad milik ku, dan aku memberikan nya untuk mu. Sementara aku belum memberikan apapun untuk Zahra" Bilal menjelaskan dengan emosi yg hampir saja meledak namun ia berusaha menahan nya mengingat kondisi istri nya itu.


"Sebenarnya yg kamu masalah kan apa? Aku hanya berusaha bersikap adil pada Zahra, jika aku memberikan mu rumah, maka aku juga harus memberikan nya rumah. Dimana masalahnya?" tanya Bilal penuh penekanan.


Sementara Khadijah sudah tak bisa lagi menjawab, karena masalah nya hanyalah cemburu, keduanya memang sama sama di berikan sebuah rumah, tapi yg membuat Khadijah cemburu, Asma yg di bangunkan rumah secara khusus.


Melihat istrinya yg diam dan tampak sedih, Bilal berusaha mengontrol emosi nya, ia mendekati Khadijah dan hendak memeluk nya, namun Khadijah malah mundur.


"Kamu engga adil sama aku, Mas. Kamu selalu mengutamakan Asma dalam segala hal" ucap Khadijah dan seketika ia tak bisa lagi membendung air mata nya, dan mendengar itu, tentu saja Bilal tercengang.


"Di bagian mana aku engga adil, Khadijah?" tanya nya sambil menatap lekat lekat mata Khadijah dan tentu saja emosinya kembali terpancing "Aku meninggalkan Zahra berbulan bulan, aku engga mengurus nya sama sekali hanya untuk mengurus mu. Aku pernah meninggalkan nya sendirian di tempat yg asing hingga ia membenci ku selama ber hari hari, dan itu juga hanya untuk mu. Di bagian mana aku lebih mengutamakan Zahra? Apa karena rumah itu? Saat kita menikah aku masih sangat muda, aku belum punya cukup uang untuk membangunkan rumah untuk mu, dan saat Abi memberikan rumah ini, aku langsung memberikan rumah ini padamu. Dan kamu punya rumah atas nama mu sendiri, sementara Zahra engga. Karena itulah aku juga memberikan rumah untuk nya, dimana letak ketidak adilan ku?"


Mendengar penjelasan Bilal yg memang benar adanya, Khadijah diam membisu dan ia hanya bisa menangis. Bilal tidak tega melihat istri nya yg menangis, tapi ia juga tak menyangka Khadijah masih menuduhnya tidak adil dan lebih mengutamakan Asma, sementara kenyataan nya ia selalu mengutaman Khadijah karena ia tahu Khadijah lebih membutuhkan nya meskipun memang benar hatinya lebih mencintai Asma dan itu bukan atas kemauan nya sendiri.


Asma juga pernah menuduh Bilal tidak adil dan itu membuat nya sangat sedih karena itu memang benar adanya, Bilal memang telah tidak adil pada Asma karena lebih mengutamakan Khadijah, dan Bilal masih meminta Asma agar bisa mengerti kenapa ia lebih mengutamakan Khadijah. Itulah ketidak adilan yg sebenarnya.


Dan Bilal marah pada Khadijah karena sudah menuduhnya tidak adil pada nya, karena tuduhan itu sangatlah tidak benar.


Bilal segera keluar dari kamar Khadijah sebelum ia lepas kendali. Saat turun, ia mendapati Asma yg tampak sudah menyelesaikan makan nya. Bilal pun segera menekan emosi nya dan menetralkan ekspresi wajahnya, ia berusaha tersenyum dan menghampiri istri muda nya.


"Sudah selesai?" tanya Bilal lembut.


"Iya, kamu lanjut aja makannya, aku mau ke kamar" ucap Asma.


"Aku sudah kenyang" jawab Bilal yg sudah kehilangan selera makannya.


"Apa kalian ada masalah?" tanya Hubab pada Bilal.


"Engga, Bab. Semua nya baik baik aja" jawab Bilal


"Em baiklah kalau gitu, malam ini aku akan pulang saja"


"Iya, terima kasih banyak sudah menjaga Khadijah"


"Engga masalah, dia saudariku. Aku juga punya kewajiban untuk menjaga nya"


Sementara Bilal mengantar Hubab ke depan, Asma segera naik ke kamar nya. Sebenarnya ia dan Hubab tadi samar samar mendengar suara Khadijah yg tampak nya bertengkar dengan Bila, namun Asma tak tahu apa yg mereka bicarakan.


Setelah mengganti gamisnya dengan baju tidur, Asma segera naik ke atas ranjang nya, dan tiba tiba ia di kejutkan dengan Bilal yg masuk begitu saja ke dalam kamarnya, Asma hendak bertanya kenapa ia tidak pergi ke kamar Khadijah, namun ia urungkan niatnya itu saat menatap mata Bilal, dan dari tatapan nya, Asma bisa melihat Bilal sedang tidak baik baik saja dan ia menahan sesuatu dalam hati nya.


Asma menepuk ranjang di sisi nya sembari menatap Bilal dan melemparkan senyum tipis, memberi isyarat pada suami nya itu untuk datang padanya. Bilal pun segera mendatangi istri nya itu dengan langkah lebar.


Bilal duduk di samping Asma dan langsung menyandarkan kepalanya di bahu sang istri, membuat Asma semakin yakin Bilal sedang dalam masalah.


Asma sangat sangat penasaran sebenarnya apa yg mereka perdebatkan, karena selama ini ia tak pernah melihat mereka berdebat hebat. Namun Asma menahan diri agar tak bertanya hingga suaminya sendiri yg bercerita. Asma menggenggam tangan suami nya itu dan mengaitkan jemari nya dengan jemari jemari suaminya kemudian ia mencium tangan Bilal dengan sangat lembut, seolah Asma ingin memberi tahu bahwa ia ada di sana dan semua nya akan baik baik saja.


Keduanya terdiam, tak satupun yg bersuara, namun genggaman tangan itu sudah cukup memberi tahu semuanya.


Bilal merasa jauh lebih baik medapatkan sentuhan itu dari istri nya dan juga ia merasa nyaman bersandar di bahu sang istri, ia mengeratkan genggaman tangan nya. Kemudian Bilal yg ingin sedikit menenangkan fikirannya pun memejamkan mata saat rasa kantuk perlahan menyerangnya dan ia pun jatuh tertidur di bahu istri nya itu.


Asma memberikan kecupan selamat malam di kening suami nya yg sudah tertidur pulas itu, sebelum akhirnya ia menyusul sang suami ke dalam mimpi indah nya.


.


.


.


Bilal yg sudah mendapatkan telpon dari Hubab untuk pergi ke kantor, segera turun dari kamar Asma. Dan ia melihat Khadijah yg tampak menunggu nya.


"Sarapan?" tanya Khadijah pada suaminya itu.


"Aku akan sarapan di kantor. Hubab sudah menelpon ku sejak tadi" jawab Bilal "Bagaimana keadaan mu? Apa sudah minum obat?" tanya nya pada Khadijah, ia tak ingin mengungkit masalah semalam dan ingin bersikap seperti biasa pada istri nya itu.


"Maaf" ucap Khadijah dengan suara rendah, tampak penyesalan di wajah nya.


"Kemarilah" ucap Bilal mengulurkan tangannya, Khadijah pun menyambut nya dan segera berhambur ke dalam pelukan suami nya itu. Ia sadar ia sudah melakukan kesalahan dengan mengatakan Bilal berlaku tidak adil pada nya, ia mengenal suami nya itu, tapi kecemburuan Khadijah yg semakin hari semakin menjadi seolah menutup mata hati nya.


"Engga apa apa" ucap Bilal menenangkan istri nya itu, ia memberikan kecupan hangat di kening Khadijah. Yg tentu saja membuat Khadijah merasa lebih baik.


Asma yg juga turun melihat Khadijah dan Bilal sedang berpelukan, sedikit rasa cemburu menggelitik hatinya.


"Kamu sudah siap?" tanya Bilal yg melihat Asma menuruni tangga dan sudah rapi dengan seragam sekolah nya. Asma mengangguk dan terus berjalan turun.


"Kamu engga sarapan dulu, Asma?" tanya Khadijah sembari melepaskan pelukannya.


"Engga, Mbak. Aku mau cepat cepat ke sekolah, harus menyalin pelajaran yg tertinggal dari Nora"


"Hmm ya udah, hati hati" ucap Khadijah pada suami dan madu nya itu.


"Mbak juga, jaga diri" seru Asma, ia dan Bilal pun segera pergi. Saat masuk ke dalam mobil, Asma masih menoleh pada Khadijah, dan Asma melihat mata Khadijah sembab.


"Apa itu karena aku?" tanya Asma pada Bilal


"Apanya?" Bilal bertanya tak mengerti maksud Asma.


"Bukan apa apa" jawab Asma yg tak tahu harus mengatakan apa.


"Jangan fikirkan apapun, fokus saja pada pelajaran mu, ya?" seru Bilal dengan lembut, Asma pun meng iyakan perintah suami nya itu.


"Uhh, yg pulang kampung dua minggu" seru Nora dan langsung memeluk erat sahabat nya itu.


"Gimana sekolah?" tanya Asma dan segera duduk di kursi nya setelah Nora melepaskan pelukannya yg hampir membuat nya tak bisa bernafas itu.


"Biasa aja, dan gimana kampung mu?"


"Masih sama, cuma bedanya ada Baby Rafa sekarang, jadi rumah makin rame"


"Hmm iri" seru Nora dengan ekspresi yg menggelikan "Apa yg terjadi di kampung mu?" tanya Nora yg melihat raut wajah Asma tampak berubah.


"Engga ada, memang nya kenapa?"


"Entahlah, aku hanya merasa ada yg berubah" Kemudian Nora melihat wajah Asma dari setiap sudut membuat Asma keheranan.


"Apa sih, Ra?" tanya nya.


"Kamu lagi bahagia banget kayaknya ya?"


"Ya iyalah, wong habis ketemu keluarga"


"Tapi kayak nya bukan bahagia yg itu"


"Terus?"


"Ada yg lebih membahagiakan" tebak Nora yakin


Dan Asma hanya menjawab nya dengan senyuman simpul. Bagaimana ia tak bahagia? Ia dan suami nya sudah bersatu dalam ikatan cinta, fikirnya. Dan tentu dalam ikatan pernikahan yg sudah sempurna sebagai suami istri.


.


.


.


Di kantor nya, Bilal juga di sambut bawahannya, apa lagi karena mereka benar benar lama tidak bertemu, mereka rindu kepemimpinan Bilal yg berjalan sangat baik, walaupun Hubab juga sama baik nya, tapi mereka lebih suka Bilal yg memimpin kantor karena di rasa lebih tegas.


Dan tak lupa juga bawahan nya menanyakan kabar Bilal dan bagaimana bulan madu nya. Tentu Bilal akan menjawab sangat menyenangkan. Dan Hubab yg mendengar kata bulan madu, menatap heran pada Bilal.


"Siapa yg bulan madu?" tanya Hubab heran.


"Aku lah, siapa lagi" jawab Bilal sembari tertawa kecil.


"Kapan? Kemana?" tanya Hubab yg masih tak mengerti.


"Selama dua minggu ini, dan tentu saja di kampung halaman istri ku" jawab Bilal dan ia segera bergegas menuju ruangannya. Meninggalkan Hubab yg hanya bisa menghela nafas panjang.


.


.


.


Khadijah memang menyesali apa yg sudah dia katakan pada Bilal, ia sadar seharusnya ia berterimakasih karena Bilal sudah merawatnya dengan sangat baik.


Dan malam ini, ia ingin menghabiskan waktu nya dengan suaminya itu, dan juga sebagai permintaan maaf nya.


Khadijah mempersiapkan dirinya dan tak sabar menunggu suami nya pulang. Ia melirik jam dinding dan sudah menunjukan jam 8 lewat, ia fikir pasti Bilal memiliki banyak sekali pekerjaan yg tertunda.


Namun, tak lama kemudian terdengar suara mobil Bilal, Khadijah segera keluar untuk menyambut nya.


"Bagaimana pekerjaan hari ini, Mas?" tanya Khadijah setelah ia membukakan pintu.


"Sangat lelah" jawab Bilal


"Sudah makan malam?"


"Sudah, aku makan di luar sama Hubab tadi. Apa kalian juga sudah makan di rumah?" Khadijah mengangguk kemudian ia dan Bilal berjalan menuju kamarnya.


"Aku akan siapkan air hangat" seru Khadijah namun Bilal mencegahnya.


"Istirhat aja, kamu engga boleh kelelahan. Apa kamu masih merasa pusing dan mual?"


"Ya, tapi sudah sedikit berkurang"


"Engga apa apa, sabar aja, Insya Allah nanti semua nya membaik" seru Bilal dan ia pun segera bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah keluar dari kamar mandi, Bilal melihat Khadijah yg sudah menunggu nya.


Khadijah berfikir mungkin ini saat yg tepat untuk membicarakan keringanan nya untuk berpisah rumah denga Asma.


"Khadijah, apa kamu tahu..." seru Bilal sebelum Khadijah berbicara "Zahra tiba tiba meminta ingin tinggal bersama Ummi"


Khadijah sangat terkejut mendengar itu, baru saja ia ingin mengatakan hal yg sama.


"Tapi Kenapa?" tanya Khadijah heran"Apa dia engga suka tinggal bersama kita di sini?"


"Aku rasa kamu sangat tahu alasan dia meminta hal itu" jawab Bilal yg membuat Khadijah terdiam, tentu saja ia tahu, fikir nya. Pasti karena tak tahan harus terang terangan berbagi suami di depan mata.


"Aku bisa mengerti, lalu apa keputusan mu, Mas?" tanya Khadijah penasaran, ia berharap Bilal mengizinkan Asma tinggal bersama ibu mertuanya.


"Dia akan tetap tinggal di sini sampai rumah nya bisa di tempati. Tapi jika dia mulai tidak nyaman karena tinggal bertiga dalam satu atap, aku akan mengizinkan nya"


Khadijah tersenyum senang dengan hal itu. Ia sama sekali tak bermaksud jahat pada Asma, ia hanya ingin mereka hidup lebih nyaman dan tidak memendam benci satu sama lain, atau setidaknya dirinya, tak menyimpan benci dengan keadaan nya. Rasa cemburu pada Asma sudah membuatnya melakukan kesalahan, dan ia tak ingin hal itu terulang.


Khadijah turun dari ranjang, ia duduk di meja rias dan menatap pantulan diri nya, wajahnya masih pucat tapi tak sepucat dulu. Selain mudah lelah, pusing dan mual akibat kemo yg ia jalani, kini ia juga harus kehilangan rambut nya yg ia sayangi. Khadijah melepas jilbab nya, dan ia sedih melihat kepalanya yg sudah bersih tanpa mahkota nya.


Bilal yg melihat istri nya sedih, segera menghampiri nya dan memeluknya dari belakang.


"Yg membuat mu cantik bukan rambut mu, tapi senyum mu" ucap Bilal "Engga masalah kamu kehilangan rambut mu, tapi jangan sampai kehilangan senyum dan semangat mu" lanjut nya yg berhasil membuat Khadijah kembali tersenyum.


Khadijah membawa tangan Bilal ke bibirnya dan mengecup nya. Dan dengan perlahan ia mendorong Bilal hingga Bilal terjatuh di ranjang. Mengerti apa yg di inginkan Khadijah, Bilal berusaha menolaknya dengan halus.


"Kita tidak boleh melakukan ini, kata Dokter sebaik nya jangan sampai kamu benar benar merasa jauh lebih baik"


"Aku merasa jauh lebih baik" jawab Khadijah yg sudah sangat merindukan suaminya itu. Sementara Bilal yg masih mengkhawatirkan kondisi Khadijah tetap menolak nya dengan halus.


"Ini demi kebaikan mu, Khadijah. Demi kesehatan mu" tutur Bilal berusaha membuat istri nya itu mengerti namun Khadijah justru terlihat kesal, ia segera naik ke atas ranjang, menyelimuti seluruh tubuhnya dengan selimut dan tak menanggapi saat Bilal berusaha membuat nya mengerti. Bilal hanya bisa menghela nafas panjang dan ia pun segera berbaring di samping Khadijah. Ia memeluk istri nya dan mengucapkan maaf karena tak bisa memenuhi keinginan nya malam ini.


"Aku hanya ingin menjaga kesehatan mu" tutur nya.


▪️▪️▪️


Tbc...