
Asma kembali menjalani hari hari nya sebagai istri dan santri, ia bahagia dengan peran nya itu, apa lagi semakin hari Bilal semakin menunjukan cinta nya yg begitu besar pada nya, tentu bukan hanya pada nya, tapi juga pada istri pertama nya.
Sama seperti Khadijah, Asma juga merasa cemburu saat Bilal harus menghabiskan waktu bersama Khadijah, apa lagi dia memang tipe gadis yg cemburuan dan ia sudah sangat mencintai suaminya itu.
Ia bahagia saat Bilal bersama nya, namun ia juga sedih karena Bilal tak bisa seutuhnya menjadi miliknya. Dan saat kecemburuan dan sakit hinggap di hati nya, Asma akan segera mengingat nasehat kakaknya. Ikhlas dan bersyukur adalah kunci ia mendapatkan kebahagiaan nya.
Mau bagaimana lagi, itulah jalan hidup yg ia ambil fikir nya
Dan semakin hari, jarak semakin lebar antara dirinya dan Khadijah.
Asma tidak tahu bagaimana itu terjadi, tapi memang itulah kenyataan nya.
Bahkan Khadijah pun tak mengerti bagaimana dia dan Asma kini memiliki jarak, hal itu terjadi begitu saja.
Tak ada perdebatan, pertengkaran atau apapun. Keduanya sama sama hanya diam, dan memendam perasaannya sendiri, dan mungkin diam itu lah yg menciptakan jarak antara kedua nya.
"Sayang... Zahra..." Asma mengerjapkan matanya saat ia merasakan sentuhan di pundaknya "Sudah siang, nanti kamu terlambat ke sekolah" terdengar suara lembut suaminya.
Asma pun menggeliat dan berusaha membuka mata nya yg terasa berat, ia tertidur setelah sholat subuh karena semalaman ia begadang untuk belajar dan menghafal setoran kitab nya.
"Ayo bangun dan pergi mandi"
"Em apa aku boleh bolos sekolah hari ini?" tanya Asma kemudian ia menguap, ia benar benar mengantuk.
"Engga boleh, aku sudah membayar sekolah mu dan kamu mau bolos? Uang ku keluar sia sia kalau gitu, ayo cepat bangun!" perintah suami nya itu yg membuat Asma mengerucutkan bibir nya dan tampak kesal.
"Sekali aja, Bilal. Ya, ku mohon, Sayang. Aku benar benar mengantuk" pinta Asma memelas dan memanggil sayang suaminya itu, siapa tahu Bilal luluh, fikirnya. Namun Bilal malah mengangkat tubuhnya dan membawa Asma ke kamar mandi membuat Asma berteriak protes. Tak sampai di situ, Bilal langsung menyalakan shower hingga membuat Asma langsung basah kuyup dan tentu saja rasa kantuk nya hilang seketika.
"Bilal..." teriak Asma kesal, Sementara suaminya itu hanya tertawa kecil.
"Sudah engga ngantuk lagi kan?" tanya suami nya itu dan hendak keluar namun tiba tiba Asma menarik nya hingga keduanya sama sama terguyur air.
"Zahra, aku sudah mandi" protes Bilal
"Biarin" balas Asma dan dengan sengaja ia semakin mendorong Bilal agar berdiri tepat di bawah shower "Mandi juga tuh sekalian" gerutunya dengan kesal, Asma pun hendak keluar kamar mandi supaya suami nya menyelesaikan mandinya lebih dulu, namun kini Bilal yg menarik nya hingga Asma menabrak tubuh Bilal yg sudah basah kuyup.
"Lepasin, Bilal. Kamu cepatan mandi nya, habis itu baru aku mandi" serunya berusaha melepaskan diri tapi Bilal malah semakin mendekap nya.
"Apa kau merindukan ku?" tanya Bilal tiba tiba membuat ekspresi Asma langsung berubah kaku dan ia pun tak lagi berusaha melepaskan diri "Aku bisa melihat di mata mu kau merindukan ku, Zahra" tutur Bilal dengan suara berat nya, karena ia memang juga merindukan Zahra nya setelah ia harus menghabiskan waktu bersama istri pertamanya. Asma memang sangat merindukan nya, meskipun mereka selalu bersama di siang hari, namun saat ia tak bisa tidur dalam pelukan Bilal di malam hari nya, Asma menjadi begitu merindukannya.
Asma hanya bisa menunduk dan tak berani menjawab, meskipun ia dan Bilal sudah menyatu sebagai suami istri sejak lama dan Bilal sudah sering menyentuhnya, namun Asma masih selalu gugup dan malu pada suami nya itu. Bilal mengapit dagu Asma dengan jarinya dan membuat Asma mendongak, di bawah guyuran air seperti ini, Zahra nya sungguh terlihat sangat cantik.
"Apa kau merindukan ku, Zahra?" tanya Bilal sekali lagi dan ia menatap intens tepat di kedua mata Asma, pelan pelan Asma mengangguk.
"Aku merindukan mu, sangat merindukan mu" ucap nya kemudian dengan suara yg sangat lirih, Bilal tersenyum samar dan ia segera memanjakan kekasih hatinya itu dengan sentuhan sentuhan kasih sayang nya.
"Aku juga selalu merindukan mu, Zahra. Jadi lah milikku, dan miliki aku, Sayang"
"Aku memang milik mu dan aku sudah memiliki mu, suami ku"
Dan penyatuan cinta keduanya pun terjadi lagi sebagai pembuka hari kedua nya dan juga penyemangat mereka.
Bilal memang tak mengizinkan Asma bolos sekolah, namun apa yg dia lakukan tentu saja otomatis membuat Asma terlambat ke sekolah.
.
.
.
Bilal yg memang ada jadwal mengajar hari ini berangkat ke sekolah bersama istri nya, dan di sepanjang perjalanan istri nya itu terus menggerutu karena pasti dapat hukuman lagi gara gara terlambat.
"Hanya terlambat beberapa menit, Sayang" ujar Bilal mencoba menghibur istri nya itu.
"Gara gara kamu sih" seru Asma dengan wajahnya yg di tekuk.
"Kok aku? Kan kamu yg ngajak aku mandi bersama"
"Kapan aku ngajak kamu mandi?"
"Memang engga ngajak, tapi kamu menarikku dan membuat ku ikut basah kena air" dan Asma tak bisa lagi membela diri karena itu memang benar.
"Oh ya, rumah kita sudah hampir selesai, tinggal di bersihkan dan aku juga sudah membeli beberapa perabotan rumah, tapi belum semuanya, nanti kita belanja bersama ya" tutur Bilal dengan wajah yg berseri, karena tampak nya Bilal lebih bahagia dan lebih antusias dari pada Asma untuk segera menempati rumah baru mereka.
"Iya, tapi kalau kamu udah engga sibuk aja" jawab Asma, ia juga sudah tidak sabar ingin keluar dari rumah yg sekarang dan membangun rumah tangga nya sendiri dengan Bilal.
"Iya, Sayang"
Bilal mengantar Asma hingga halaman sekolah nya, dan Asma pun segera melompat turun dari mobil nya dan berlari menuju kelas nya. Dia mengetuk pintu dan mengucapkan salam.
Seperti biasa, Asma tetap di izinkan masuk, namun Asma tak ingin membuat teman teman nya iri jika ia mendapatkan perlakuan yang istimewa, sehingga ia memilih mengikuti pelajaran dari luar kelas.
"Em Asma kesiangan, Ustadzah" jawab nya terpaksa berbohong, tidak mungkin juga kan mengatakan alasan yg sebenarnya?
"Pasang alarm lain kali" seru Ustadzah itu " Ya sudah, silahkan berdiri di luar sampai pelajaran ku selesai" dan Asma segera mengikuti perintah guru nya itu.
Bilal yg memang sengaja memperhatikan kelas Asma, akhirnya melihat istri nya itu dapat hukuman, namun ia tak mengejek seperti sebelum nya, dan Asma pun tak menatap nya marah. Namun keduanya saling menatap dan menyunggingkan senyum samar samar dan juga mereka saling memandang. Ingin sekali rasanya Bilal terus memperhatikan istri nya itu, namun ia juga harus pergi mengajar ke kelas santri putra.
Bilal menatap Asma dan memberi isyarat bahwa dia harus pergi, dan Asma pun mengangguk dan membalasnya dengan sebuah senyuman yg selalu Bilal sukai.
.
.
.
"Rasanya kalau kesiangan engga mungkin" Imel berkata sembari menyodorkan satu mangkuk bakso pada Asma begitu juga dengan Nora.
"Aku juga fikir gitu, Mel. Masak orang orang rumah nya engga bangunin Asma, iya kan?" sambung Nora.
"Ya aku memang kesiangan, sudah di bangunin, tapi aku masih ngantuk dan tidur lagi" jawab Asma, ia tak habis fikir hanya karena kesiangan kedua temannya itu malah meng introgasinya begitu.
Namun mengingat bagaimana ia mengawali harinya dengan sangat indah, Asma tanpa sadar tersenyum dan ia tampak merona. Dan tentu itu tertangkap basah oleh Imel, ia yg juga seorang istri dan pernah menjadi pengantin baru, tentu bisa menebak apa yg terjadi dengan melihat ekspresi Asma.
"Dia memang kesiangan, Ra" ucap Imel tiba tiba yg membuat Nora mengangkat sebelah alisnya.
Dan Asma pun mengangguk dengan cepat untuk meyakinkan sahabat nya itu.
Di sore harinya, seperti biasa setiap hari kamis akan selalu ada kajian umum, dan Asma tahu yg mengisi kajian nya hari ini adalah suami nya, karena Bilal sempat mengatakan nya tadi pagi dan dia meminta Asma menunggu nya supaya bisa pulang bersama.
Dan saat kajian berlangsung, Asma sengaja duduk di bagian belakang, karena jika di barisan depan, dia sering mendengar teman teman yg di belakang nya berbisik bisik tentang nya.
Asma dan Bilal curi curi pandang dan saling melempar senyum, kedua nya seperti sepasang kekasih yg baru saja jadian. Bahkan Asma tidak fokus pada penjelasan nya karena ia lebih fokus pada yg menjelaskan nya.
Imel yg menyadari tingkah Ustadz dan teman nya itu pun berdeham.
"Ehem, fokus sama materi nya, Neng. Jangan sama yg memberi materi" goda Imel yg langusung membuat Asma salah tingkah.
.
.
.
Khadijah dan Asma makan malam lebih dulu karena Bilal yg tak kunjung turun.
"Asma..." Panggil Khadijah pelan.
"Hmm?" Jawab Asma tanpa menatap Khadijah sedikitpun.
"Mas Bilal bilang, kamu minta tinggal sama Ummi aja, kenapa?" tanya Khadijah yg masih ingin tahu alasan yg sebenarnya kenapa Asma ingin tinggal terpisah dengannya, apa karena Asma masih ingin menjalani hidup nya sebagai santri atau ada alasan lainnya.
"Oh itu, Sama seperti Mbak yg pasti cemburu tiap hari liat Bilal sama aku, begitu juga aku pasti cemburu liat Bilal bersama Mbak" Khadijah tercengang dan sama sekali tak menyangka Asma menjawab sejujur itu "Lagi pula, Mbak memang mau kita tinggal terpisah kan?" lanjut Asma yg membuat Khadijah semakin tak bisa berkata kata "Kita memang engga bisa tinggal satu atap, demi kebaikan hati kita sendiri"
"Asma, kata siapa aku mau kita tinggal terpisah?" tanya Khadijah penasaran, karena ia tak pernah mengatakan hal itu pada siapapun bahkan pada Bilal sekalipun karena Bilal lebih dulu memberi tahu bahwa Asma ingin tinggal terpisah.
"Aku engga sengaja dengar percakapan sepupu Mbak dan Ustadzah Mila"
"Sebenarnya bukan itu maksud ku" ucap Khadijah takut jika mungkin Asma tersinggung atau berperasangka buruk tentang nya
"Aku mengerti" jawab Asma dengan cepat dan ia tampak santai saja dengan obrolan itu. Sementara Khadijah tampak salah tingkah apa lagi Asma yg bicara terus terang.
"Apa kamu mengatakan itu pada Mas Bilal? Bahwa aku yg ingin kita tinggal terpisah?" tanya Khadijah dengan setengah berbisik, Asma yg mendengar pertanyaan Khadijah itu seketika langsung tersenyum kecut, ia tak menyangka Khadijah bertanya seolah ia istri yg akan mengadu domba suami nya dengan istri nya yg lain.
"Aku engga seburuk itu" jawab Asma dengan santai kemudian ia segera meneguk air minumnya dan tanpa berkata kata lagi, ia segera naik ke kamarnya, dan kebetulan di tangga ia berpapasan dengan Bilal yg hendak turun.
"Loh, sudah makan nya?" tanya Bilal pada istri nya itu.
"Sudah" jawab Asma singkat kemudian ia meninggalkan Bilal.
Bilal pun segera menyusul Khadijah untuk makan malam.
"Ada apa?"tanya Bilal pada Khadijah, apa lagi ia melihat ekspresi Khadijah yg juga tampak sedikit tegang.
"Engga ada apa apa" ucap Khadijah dan melanjutkan makan nya begitu juga dengan Bilal.
▪️▪️▪️
Tbc...