
Dan akhir nya, yg Khadijah takutkan benar benar terjadi. Dia hanya bisa menunduk dengan berurai air mata.
"Maaf" Hanya itu yg bisa Khadijah ucapkan, ia tak mengelak semua itu memang salah nya.
"Maaf?" Bilal mengulangi kata itu dengan nada tak percaya. "Buat apa 'Maaf' itu, Khadijah? buat kematian anak anak ku? atau kepergian Zahra dari hidup ku? atau karena sudah membohongi ku dan berlagak tidak tahu apapun?"
"Mas, dengerin penjelasan ku dulu. Aku... aku engga bermaksud berbohong" seru Khadijah menatap Bilal dengan tatapan memelasnya. "Aku... aku benar benar lupa untuk memberi tahu mu sa..."
"Lupa?" desis Bilal "Yg benar saja, Khadijah. Apa tidak ada alasan yg sedikit lebih bagus dari lupa?"
"Mas, percaya sama aku, ku mohon. aku engga bermaksud menyakiti Asma atau pun anak anak nya. Saat itu...."
"Saat itu kamu menikmati pesta teman mu" Sambung Bilal "Hanya sebuah pesta, Khadijah? Apakah itu lebih penting dari suami mu sendiri dan anak anak nya? anak anak yg sudah aku tunggu selama bertahun tahun, Kahdijah. Anak anak yg tidak akan pernah bisa kamu berikan pada ku"
Dan akhirnya, satu kata pembunuh hati itu terucap dari bibir suaminya, yg seketika membuat Khadijah seperti di sembelih, sangat sakit.
Khadijah bahkan tak mampu lagi berkata kata. Bahkan untuk menangis pun ia sudah tak mampu. jiwa nya seperti mati mendengar kata kata itu.
"Aku selalu menganggap mu istri yg sempurna selama ini, aku tidak pernah memandang kekurangan mu, aku memperlakukan mu sebaik mungkin, aku selalu berusaha membuat mu lupa dengan kekurangan mu, tapi kamu sendiri yg terus mengungkit hal itu dan mencarikan ku wanita untuk di jadikan istri. Dan pada akhirnya kamu menikahkan ku dengan Zahra, lalu kenapa sekarang kamu menghancurkan hidup kami yg bahagia?" Bilal berkata dengan berapi api. Ia sangat marah
"Dan kalau kamu lupa, Khadijah. Dengan senang hati aku ingat kan kembali, kamu yg memberikan ku pada Zahra dan menarik paksa Zahra ke dalam hidup kita. Tapi kenapa sekarang kamu menyakiti nya?. Dimana salah nya sehingga kamu menghancurkan hidup nya seperti itu hingga dia kehilangan buah hati nya?"
Bilal sungguh tak bisa lagi membendung amarahnya, sementara Khadijah hanya bisa menangis tersedu sedu.
"Zahra wanita yg sangat baik,Khadijah. Dia tidak memberi tahu ku apapun karena dia tidak mau aku marah pada mu apa lagi meninggalkan mu, tapi apa balasan mu pada nya?. Kamu tidak mau mengakui kesalahan mu sendiri. Dan bahkan dengan sengaja kamu menghapus pesan nya dan panggilan nya dari ponsel ku. Apa mau mu sebenar nya?"
Bilal berkata lirih pada akhirnya, hatinya juga sangat sakit dengan kemarahan nya ini. Tapi kemarahan itu telah membakar jiwa nya sejak ia membaca pesan itu. Khadijah tak tahu harus menjawab apa, yg bisa ia lakukan hanya menagis dan menyesal.
"JAWAB AKU, Khadijah!" Khadijah tersentak dengan bentakan Bilal
"A...aku..." Kahdijah sesenggukan, ia takut dan sedih karena kemarahan Bilal. "Aku... Aku cuma takut Mas Bilal marah, dan...dan mengira aku..."
"Apa?" bentak Bilal lagi yg kembali membuat Khadijah tersentak
"Aku benar benar tidak sengaja, aku... aku engga tahu Asma menelpon, Mas. pesan terkahir nya aku engga membaca nya, Karena saat itu... saat itu aku menyimpan hp Mas Bilal. Aku mohon Mas...." Khadijah bangkit dan ia bersimpuh di depan Bilal "Percaya sama aku, aku engga ada niatan buruk sedikitpun pada Asma"
Bilal berdiri dan ia menjauh dari Khadijah. membuat perasan Khadijah semakin hancur.
"Lalu untuk apa pesan nya di hapus?"
"Aku takut Mas Bilal mengira aku sengaja melakukan nya" Bilal memandang Khadijah tak percaya dan kemudian ia tertawa sinis.
"Apa seburuk itu aku di mata mu, Kahdijah?. Kamu berfikir aku akan menuduh mu begitu saja?. Apa kamu tahu betapa percaya nya aku sama kamu?. Seandainya kamu tidak menghapus pesan Zahra, tentu aku tidak akan berburuk sangka pada mu, tapi... tapi kamu dengan sengaja menghapus nya, bukan cuma pesan, tapi daftar panggilan nya pun kamu hapus"
"Mas, ku mohon... mengerti lah, bukan itu maksud ku..."
"Mengerti kamu?" tanya Bilal dingin "Khadijah, kamu bahkan tidak bisa mengerti aku dan Zahra, dan kamu meminta ku mengerti kamu?. Apa kamu engga malu setidaknya pada diri mu sendiri?"
Tentu apa yg Bilal katakan membuat Kahdijah semakin terluka. Ia tak tahu bagaimana menjelaskan pada Bilal bahwa ia tak sejahat yg Bilal fikirkan.
Bilal kembali terduduk lemas, ia meneteskan air mata nya dan berusaha meredam amarahnya.
"Kenapa kamu tega sekali pada ku, Khadijah?. Aku sama sekali tidak menyangka kamu bisa melakuan semua itu" Bilal berkata dengan nada sangat sedih dan penuh luka. "Selama ini aku selalu percaya pada mu, aku bahkan berfikir seharusnya Zahra banyak belajar dari mu, tapi aku salah.... justru kamu lah yg harus nya belajar dari Zahra."
"Aku tahu, aku salah. dan Zahra mu yg selalu benar" Khadijah berkata juga dengan nada yg sangat sedih. "Dia memang sempurna, Karena itulah kamu sangat mencintai nya"
Tiba tiba Bilal tertawa sinis lagi sambil mengucek matanya dan menghapus air mata nya, yg membuat Khadijah menatap bingung pada Bilal yg sudah seperti orang gila. Satu detik ia marah, satu detik ia sedih, dan detik selanjutnya ia tertawa sinis. Amarah Bilal sungguh membuat Bilal seperti hilang akal.
"Aku tidak pernah membenarkan Zahra, justru yg dia lakukan salah besar, dia ingin menjaga pernikahan mu dengan mengorbankan pernikahan nya sendiri." Bilal menatap istri pertamanya yg telah mengecewakan nya itu. "Dan soal cinta, ya... aku memang sangat mencintai nya, aku mencintai nya lebih dari apapun di dunia ini, dan cinta itu sudah ada jauh sebelum aku mengenal seperti apa Zahra ku, cinta ku tidak berdasarkan alasan apapun, itu hadir begitu saja, Khadijah." Bilal berkata dengan nada rendah.
"Kamu membuat ku sangat kecewa, Khadijah" Bilal berkata dengan setengah berbisik, ia benar benar sedih, sangat kecewa dan tidak menyangka istri nya bisa melakuan hal itu pada nya.
Dengan amarah yg masih memuncak, Bilal mengambil ponsel Asma kembali dan memasukan nya ke dalam saku nya. Kemudian Bilal meninggalkan Khadijah, tak perduli Khadijah yg mencoba mencegahnya dan berusaha membuat Bilal mengerti bahwa ia tak sejahat itu. Ia memang membuat kesalahan, tapi tak pernah sedetik pun terbersit niatan buruk pada madu nya itu.
Bilal masuk ke dalam mobilnya dan ia segera menjalankannya, Khadijah hanya bisa berteriak histeris memanggil suami nya itu.
Bilal menyetir dengan kecepatan tinggi, ia menangis dan merasa sangat terpukul.
Emosi yg Bilal luapkan pada Khadijah, bukan hanya melukai Khadijah saja, tapi juga sangat melukai Bilal.
Bilal terus melajukan mobilnya dengan sangat cepat dan tanpa sadar ia menerobos lampu merah, hingga sebuah truk yg juga melaju kencang ke arah nya langsung menghantam Mobil Bilal dari samping.
Kerasnya hantaman truk itu hingga membuat mobil Bilal terpental dan jatuh terbalik, itu terjadi hanya dalam hitungan detik dan langsung membuat semua orang berteriak histeris.
Kejadian itu begitu cepat, dan semua orang kini mengerumuni mobil Bilal, Bilal yg setengah sadar samar samar mendengar orang orang yg begitu panik dan beberapa orang berusaha mengeluarkan Bilal dari dalam mobil yg terbalik itu. Namun mereka kesulitan karena kaki Bilal yg terjepit.
Bilal berusaha membuka matanya yg tiba tiba terasa berat, ia bisa mencium bau amis dari darah yg mengalir begitu saja dari kepalanya, Bilal bahkan tak bisa meraskan kaki nya. seluruh tubuhnya pun terasa remuk.
Sayup sayup ia mendengar seorang pria yg memintanya tetap sadar dan mengatakan akan mengeluarkan nya. Namun Bilal sudah tak sanggup lagi, hingga samar samar ia melihat bayangan seseorang yg berlari pada nya, bayangan itu semakin dekat.
"Zahra..." Bibir Bilal mengucapkan nama itu tanpa bersuara , ia melihat Zahra nya berlari ke arah nya. Bilal memanggilnya lagi walau hanya dengan gerakan bibir nya. Zahra nya mengulurkan tangan nya pada Bilal, meminta Bilal menggapainya, Dengan menahan rasa sakit, Bilal mengangkat tangan nya ingin menyambut uluran tangan Zahra nya. Namun ia sudah tak sanggup lagi, ia masih menggumamkan nama kekasih nya sebelum akhirnya kegelapan menjemput nya.
"Zahra..."
.
.
.
"BILAL...."
Asma terbangun dari tidurnya dengan tubuh yg gemetar dan keringat dingin bercucuran di kening nya, jantung nya berdebar tak karuan dan ia merasa kesulitan bernafas.
"Asma, ada apa, Nak?" tanya sang Ibu yg langsung muncul dari balik pintu. Ummi Kulsum langsung menghampiri putri nya dan ia melihat putri nya itu memegang dada nya dengan nafas yg tersengal dan keringat dingin membasahi kening nya "Kamu sakit?" tanya sang Ibu mengelap keringat Asma dengan tangannya.
"Bilal, Ummi. Asma mimpi Bilal" ucap Asma masih dengan nafas yg tak beraturan. Ibu nya pun langsung memeluk Asma dan mengusap punggung nya.
"Mungkin kamu merindukan nya" seru sang Ibu berharap anak nya tenang kembali sambil ia terus mengusap punggung putri nya itu.
"Ummi, Asma punya firasat buruk. Asma takut, benar benar takut" bisik Asma dengan suara bergetar, hatinya memang merasa sangat takut saat ini, bahkan fikiran nya pun tak tenang. Dan seketika, Asma merasakan pipi nya yg basah, Asma menyentuh pipinya dengan jari nya. Asma mengernyit heran karena tiba ia meneteskan air mata begitu saja. Asma menghapus air matanya tapi air mata nya terus mengalir seolah hatinya sedang terluka.
"Jangan takut, kami semua disini, kami akan menjaga mu" tutur sang Ibu penuh cinta. "Kembalilah tidur,kamu pasti lelah karena seharian tadi ikut Ummi belanja"
"Tapi, Ummi... jantung Asma berdebar, seperti...seperti ada sesuatu yg buruk" Asma berkata sambil berusaha mengatur nafas nya.
"Shhtt..., Jangan berkata begitu. perbanyak lah bersholawat dan berdzikir, supaya hati mu tenang"
Asma pun melepaskan tasbih nya yg selalu ia lingkarkan di pergelangan tangannya karena ia ingin membawa nya kemana pun ia pergi. Dengan hati yg masih terasa sesak dan deg degan, Asma mulai berdzikir dengan tasbih suami nya. Ummi Kulsum meletakkan kepala Asma di pangkuan nya dan ia membelai rambut Asma, sementara bibir Asma terus berdzikir dan jemarinya bergerak menghitung manik manik tasbih itu.
"Ummi..." bisik Asma
"Iya, Nak. ada apa?"
"Jangan tinggalkan Asma ya. Entah kenapa Asma merasa sangat takut"
Ummi Kulsum tersenyum dan ia mengecup kening Asma.
"Iya, Ummi akan selalu di sini. tidur lah"
▪️▪️▪️
Tbc...