My Ustadz My Husband

My Ustadz My Husband
Part 79



"Dimana Khadijah? apa dia baik baik saja?" tanya Bilal, kini ia sudah tak membutuhkan alat bantu pernafasan lagi, kondisi nya pun berangsur membaik, ucapkan lah terimakasih pada Adik kecilnya, Shofia. Yg telah berhasil memacu adrenalin Bilal dengan emosi nya yg terus menerus di pancing oleh Shofia.


"Dia baik, hanya saja kemaren dia sempat drop" jawab Ummi nya.


Bilal menyesal telah menyakiti Khadijah dengan kata kata nya yg mengingatkan Khadijah pada kekurangan yg selalu di takuti oleh setiap wanita. Bilal sungguh tak bisa menahan emosinya saat ini hingga hal itu terucap begitu saja.


Walaupun sampai sekarang, Bilal masih berfikir bahwa istri nya itu telah berubah. Dan itu adalah salah Bilal, Bilal merasa ia gagal menjadi suami yg baik untuk kedua istri nya, ia gagal berbuat adil pada mereka.


Tak lama kemudian, Hubab datang bersama Khadijah.


"Bagaimana keadaan mu?" tanya Hubab.


"Sangat buruk, seperti ada yg meremukan tulang tulang di tubuh ku, aku bahkan hampir tidak bisa meraskan kaki ku"


"Sungguh malang, tapi kau harus bersyukur. Bukankah saat kau sakit, itu bisa jadi penebusan dosa mu atau ujian menaikan derajat hidup mu?. Ya begitulah kalau tidak salah" Hubab berkata dengan setengah mengejek


"Sangat bijak" Sindir Bilal, sementara itu, Khadijah masih tak berani menatap Bilal, tapi ia sangat senang karena akhirnya Bilal sadar.


Bilal pun hanya bisa memandang Khadijah. Jauh dalam hatinya, ia sangat khawatir jika sampai Khadijah drop. Bagaimana pun juga Khadijah adalah istri nya yg sudah menemani nya selama lebih sepuluh tahun.


Semua orang yg ada disana pun keluar, untuk memberikan waktu pada Khadijah dan Bilal.


"Bagaimana keadaan mu? Masih menjaga kesehatan mu kan?" tanya Bilal yg membuat Khadijah langsung meneteskan air mata, karena suaminya masih sangat peduli. Khadijah hanya mengangguk tanpa bisa bersuara.


"Aku memang sangat marah dan kecewa, Khadijah. Tapi aku engga se jahat itu hingga aku ingin meninggalkan mu" Bilal melambaikan tangannya meminta Khadijah mendekat, Bilal bisa mendengar segalanya selama ia koma. Khadijah pun duduk di kursi di samping bangsal Bilal "Aku tidak bisa mengerti wanita, apakah wanita itu berubah bodoh ketika mencintai seseorang?. Kamu rela di madu dan berbagai suami demi kebahagiaan ku. Zahra rela memendam kesedihannya sendirian karena tak ingin menyakiti ku, dan dia bahkan rela mengorbankan pernikahan nya sendiri demi pernikahan kita. Ada apa dengan para istri ku?. Kenapa kalian harus selalu berkorban satu sama lain?. Tidak bisakah kalian diam saja dan jalani hidup kalian se lurus nya?"


Seutas senyum tersungging di bibir Khadijah. Ia menggenggam tangan Bilal dan mengecup nya.


"Definisi cinta sendiri itu gila, Mas. Dan gila artinya memang tidak masuk akal. Kami berdua sangat mencintai mu, hanya saja, selain gila, cinta juga selalu bersanding dengan luka."


"Tapi itu tidak adil, Khadijah. Cinta seharusnya hanya membawa kebahagiaan. Aku telah menyakiti mu dengan mencintai Zahra, tapi aku juga telah menyakiti Zahra karena telah membuatnya menjadi orang ketiga dalam pernikahan kita"


"Bukti dari cinta adalah rasa cemburu, dan cemburu bisa memicu amarah dan benci, Maafin aku mas" sekali lagi Khadijah meneteskan air mata "Sekuat apapun aku bertahan, hanya satu yg tidak bisa aku tahan, rasa cemburu. Tapi aku bersumpah, Mas Bilal. Tidak pernah sedetik pun terbersit niat buruk pada Asma, aku juga tidak pernah membenci nya. Kalian salah faham pada ku" Khadijah berkata dengan suara yg bergetar.


"Kami salah faham karena kamu diam, Khadijah. seandainya sejak awal kamu mengakui nya, mungkin Zahra pun bisa mengerti dan tidak akan se marah itu. Tapi justru diam mu lah yg membuat mu seolah olah sengaja melakukan nya"


"Maafin aku, Mas. aku mohon maafin aku. Sunggyh aku tidak sengaja melakukannya. Sama seperti Asma, aku juga sangat mengharapkan anak anak nya lahir ke dunia ini"


"Semua sudah terjadi, Khadijah. Sekarang itu sudah menjadi masa lalu". Betapa beruntung nya Khadijah mendapatkan Bilal sebagai suaminya. Benar kata Shofia, Bilal mungkin marah tapi tidak akan membenci nya. Membuat Khadijah semakin merasa bersalah.


"Sebaiknya kamu pulang dan beristirahat, ajaklah Hubab untuk memeriksakan keadaan mu. Maaf karena aku tidak bisa menjaga mu untuk saat ini"


"Tapi aku masih ingin menjaga mu disini, Mas".


"Ada banyak yg menjaga ku di sini, pulanglah. Ummi bilang kemaren kamu sempat drop"


Khadijah akhir nya mengangguk, ia mencium kening Bilal dan ia pun pamit untuk Bilal.


Bilal mungkin memang memaafkan Khadijah. Tapi sungguh masih ada kecewa di hatinya, selama ini Bilal begitu membanggakan istri nya sebagai wanita yg dewasa dan bijak, memang setiap orang bisa melakuan kesalahan, tapi orang yg melakukan kesalahan dan kemudian bersembunyi, berlagak seolah tidak tahu apapun, bagi Bilal itu tidak bisa di benarkan. Apa lagi, ia selalu berfikir dan mengkhawatirkan Khadijah karena hidup bersama Asma yg masih remaja labil, Bilal takut Asma menyakiti Khadijah dengan sikap ke kanak kanakanya seperti yg pernah di lakukan Asma saat dirumah dulu, tapi justru yg terjadi sebaliknya. Asma hanya diam dengan semua yg terjadi.


Bilal akui, ia memang lebih mencintai Asma, tapi waktu dan perhatiannya lebih banyak untuk Khadijah karena ia fikir Khadijah jauh lebih membutuhkan nya, Bilal juga selalu mengenyampingkan Asma. Jadi, jangan salahkan Bilal yg sangat marah hanya karena sebuah kesalahan yg tidak di sengaja oleh istri nya, karena kesalahan itu, merenggut dua nyawa yg sangat di nantikan oleh semua orang. Dan kesalahan itu, membuat seorang istri yg lain meninggalkan suaminya.


.


.


.


Asma kembali terbangun karena mimpi nya, seperti biasa ia akan terbangun dengan nafas tersengal, jam menunjukan pukul 3 pagi. Asma mendesah lesu, karena baru beberapa menit yg lalu ia baru bisa tertidur, dan sekarang sudah harus terbangun lagi.


Asma mencoba tidur lagi namun tak bisa.


Ia masih terus memikirkan Bilal dan bertanya tanya kemana sebenarnya suami nya itu.


Benarkan terjadi sesuatu dengan nya?.


Atau mungkin dia kembali fokus pada Khadijah lagi?.


Setelah selesai, Asma mengangkat tangannya untuk berdoa


"Ya Allah, Hamba adalah sahaya kecil mu, yg tidak punya kuasa atas diri Hamba sendiri.


Hamba serahkan semua kepadamu. Hamba mu ini memang telah memilih jalan Hamba sendiri, tapi Hamba tahu, Engkaulah yg menulis takdir Hamba.


Ya Rabb, Sekarang Hamba tak tahu lagi kemana arah jalan yg harus Hamba tempuh, yg Hamba tahu, Hamba tak ingin menyakiti siapapun.


Ya Rabb... Hamba mencintai Bilal, tapi Hamba mu ini tahu, Engkau jauh lebih mencintai nya. Jika Hamba tak bisa lagi berada di samping nya, maka Hamba Ikhlas, Hamba titipkan kekasih Hamba pada Mu, penuhilah hidupnya dengan rahmat Mu, bimbing lah ia dalam setiap langkah dalam hidup nya dan penuhilah rumah tangga nya dengan kebahagiaan dan kedamaian.


Wahai pemilik hati Hamba, sembuhkan lah rasa sakit di hati Hamba karena perpisahan ini. Dan ikhlaskan hati ini untuk bisa melihat Bilal dan istri nya bahagia. Aamiin".


.


.


.


Khadijah menaburkan pakan ikan ke dalam akurian. Ikan Asma rupanya tumbuh sehat dan bahkan memiliki anak anak. Membuat Akuriam itu semakin ramai dan cantik.


Seandainya Asma melihat ini, dia pasti akan melompat kegirangan.


Tapi sekarang, Khadijah tidak tahu bagaimana keadaan Asma. Dan dia tak berani untuk mencari tahu.


"Khadijah dimana, Bi?" terdengar suara Mila dari depan rumahnya.


"Di dalam, silahkan masuk, Bu" jawab Bi Mina. Khadijah menyambut kedatangan Mila.


"Bagaimana keadaan mu?"


"Aku sangat baik, Mil" jawab Khadijah dan membawa Mila ke ruang tengah nya.


"Sebenaranya tadi aku dari rumah sakit, tapi Bilal nyuruh aku kesini, katanya di suruh nemenin kamu" Khadijah tersenyum tipis menanggapi ucapan Mila. "Kamu pucat, kamu sakit?" Tanya Mila.


"Memang nya kapan aku sembuh" Balas Khadijah pesimis.


"Jangan begitu, Bilal sudah berusaha keras untuk kesembuhan mu,jangan menyerah begitu aja"


"Justru karena itulah aku ingin menyerah, Selama ini, Mas Bilal selalu melakuan apapun untuk ku, tapi aku?. satu satu nya yg bisa aku lakukan untuk membuat nya bahagia adalah dengan membawa Asma pada hidup nya, tapi sekrang...justru aku juga yg membuat Asma pergi dari hidup nya"


"Mereka tidak akan berpisah begitu saja, Khadijah. Bilal tidak mungkin melepaskan Asma hanya karena Asma pergi dari sini"


"Tapi Asma sangat marah, Mil"


"Bisa di maklumi, dia seorang Ibu yg kehilangan anaknya."


"Kamu benar, dan aku harus mengerti itu kan. apa lagi itu salah ku"


"Sekarang sudah terlambat untuk menyalahkan diri, sekarang waktunya fokus pada kesembuhan Bilal dan berdoa untuk nya. Aku tadi dengar, Bilal melarang Ummi nya menjemput Asma. Dia bilang dia sendiri yg akan menjemput Asma dan menjelaskan semuanya pada Asma dan keluarga nya"


"Tapi tubuh Mas Bilal mengalami lumpuh sementara, bahkan kaki nya patah. Bagaiamana mungkin dia akan menjemput Asma?"


"Aku juga engga ngerti hal itu, tapi itu yg Bilal mau"


Khadijah kembali tertunduk sedih.


"Aku sangat menyesal, Mil"


"Jangan terpuruk pada penyesalan, Bilal sudah memaafkan mu. Kamu istri yg baik untuk Bilal, dan niat mu juga baik dengan menikahkan dia dengan Asma, tapi kamu tahu kan, setiap jalan kebaikan itu penuh rintangan, dan mungkin kamu akan sedikit tergelincir, tapi kamu harus selalu bisa kembali pada jalan yg benar."


Khadijah tahu dengan pasti, apa yg di katakan Mila memang benar, dan dia hanya berharap ia mendapatkan kesempatan kedua dari Bilal maupun Asma. Dan mereka bisa memulai semuanya dari awal lagi.


▪️▪️▪️


Tbc....