My Ustadz My Husband

My Ustadz My Husband
Part 90



Yang paling berduka atas kematian Khadijah tentu saja bukan hanya Bilal, tapi juga Hubab. Pria itu bahkan sampai pingsan mendapatkan kabar kematian saudari nya.


Bagaimana pun juga, Khadijah adalah satu satu nya yg dia miliki di dunia ini. Mereka tumbuh bersama, belajar dan main bersama. Dan sekarang, masa masa itu tinggal kenangan belaka.


Hubab sangat menyesal karena malam itu ia pulang, seharusnya dia menjaga saudarinya setidaknya supaya bisa mengucapkan selamat tinggal.


Sama seperti Bilal, Hubab merasa sangat kehilangan. Kedua pria itu tak malu menangisi kepergian Khadijah. Karena memang Khadijah sangat berarti bagi kedua nya.


Begitu juga dengan Asma, memang ia adalah orang baru dalam kehidupan Khadijah, tapi Asma merasakan ada ikatan yg kuat antara dirinya dan Khadijah.


Khadijah memang madu nya, sumber kecemburuan yang bisa saja jadi benci. Tapi sebelum kecemburuan itu berada di antara mereka, Khadijah sudah seperti kakak nya, Khadijah memperhatikan Asma seperti adik nya. Dia selalu berbicara dengan lemah lembut pada Asma.


Asma menutupi tubuh Khadijah dengan kain dan tangannya gemetar, teringat kembali saat Khadijah memeriksa dirinya di malam hari dan menyelimuti nya saat ia pura pura tidur di kamarnya dulu. Teringat kembali saat Khadijah dengan penuh kasih sayang menyiapkan sarapan nya sebelum ke sekolah.


Asma tak mampu menahan air mata nya, hingga sebuah tepukan di pundaknya menyadarkan nya. Ibu mertua nya sudah ada di depan nya. Asma langsung berhambur ke dalam pelukan Ummi Mufar dan ia melepaskan tangis nya. Ummi Mufar merengkuh nya dan menenangkan nya.


"Jangan terus menangisi nya, Nak. Kasian dia" Ucap Ummi Mufar walaupun dirinya sendiri tak bisa menahan tangis nya.


Khadijah adalah putri nya, putri yg sangat dia cintai.


Asma tak bisa berkata kata dan ia terus menangis.


Orang orang membawa jenazah istri Bilal itu untuk di mandikan. Mila dan Dini pun tentu ikut melakuan hal itu.


Mila juga merasa sangat kehilangan, sudah bertahun tahun mereka bersahabat. Dan sungguh Khadijah adalah wanita yg baik, dan mencintai suaminya seperti orang gila, karena rela melakukan apapun untuk kebahagiaan suami nya.


"Boleh Asma ikut memandikan nya?" Tanya Asma pada Ibu mertua nya. Namun Ibu mertua nya menggeleng.


"Engga boleh kalau kamu terus menangis seperti itu"


Asma pun segera menghapus air matanya dan ia berusaha tegar.


"Asma engga akan nangis, Ummi."


"Ikhlaskan dia, Nak. Supaya dia tenang di alam nya"


Ummi Mufar membawa Asma ke tempat Khadijah di mandikan. Saat melihat wajah pucat itu, Asma kembali meneteskan air mata nya namun dengan cepat ia menghapus nya. Tangan nya bahkan gemetar saat Dini memberikan gayung yg berisi air dan menuntun Asma untuk menyiramkan nya ke tubuh Khadijah.


Dan setelah itu, Asma tak sanggup lagi. Ia segera meninggalkan tempat itu dan tanpa sengaja, ia berpapasan dengan suami nya yg juga tampak sangat terpukul. Asma langsung berhambur ke dalam pelukan Bilal dan Bilal pun menyambut nya.


"Seandainya aku datang lebih cepat, Bilal" Asma berkata sambil terisak, Bilal mengusap kepala Asma dengan sayang "Aku sangat buruk karena membiarkan hati ku di penuhi kebencian. Aku membuat nya hidup dalam rasa bersalah dan mungkin karena itulah dia...."


"Ssshttt... Semua sudah jalan nya, Zahra" Bisik Bilal dengan suara yg parau "Semua berjalan sesuai takdir Nya"


"Tapi aku menyesal, aku menyesal karena selalu menolak berbicara dengan nya, aku menyesal karena meninggalkannya dan tidak segera kembali. Aku sangat menyakiti nya, Bilal. Dan sekarang aku bahkan engga bisa lagi minta maaf pada nya"


"Sayang...." Bilal melepaskan pelukan nya, ia membingkai wajah Asma dengan kedua tangan nya. "Dia sudah tenang di alam sana, dia memang sudah siap untuk pergi, saat ini yg dia butuhkan adalah doa dari kita, bukan air mata" Bilal menghapus air mata Asma di pipi nya, padahal jauh dalam hatinya ia sendiri juga sangat terpukul dan berusaha sekuat tenaga menahan air matanya.


"Apa dia akan memaafkan ku?" Tanya Asma setengah berbisik.


"Kalian berdua sudah saling memaafkan, kalian saling menyayangi dan punya ikatan yg istimewa. Dan itu, engga akan terputus sampai kapan pun."


Bilal membawa Asma kembali untuk melihat jenazah istri nya.


Jenazah Khadijah di mandikan dan akan di sholati di pesantren.


Bahkan para santri pun juga bersedih atas kepergian Ustadzah kesayangan mereka. Tak menyangka secepat itu mereka akan berpisah.


Takkan ada lagi Ustadzah Khadijah yg belajar mengajar seperti bermain sehingga membuat semua santri suka belajar dengan nya. Tak ada tekanan ataupun paksaan. Mereka belajar dari hati.


Hubab pun juga ada di sana, satu satu nya keluarga yg dia miliki sudah pergi. Sekarang Hubab sendirian, benar benar sendirian.


Kini, Jenazah Khadijah sedang di kafani, Bilal dan Hubab sama sama tak bisa menahan kesedihan nya.


Bilal menatap wajah istri nya yg tampak pucat namun juga tampak tenang, ia seperti tertidur dengan begitu pulas nya. Seolah ia sedang bermimpi indah.


Untuk terkahir kalinya, Bilal mencium kening Khadijah cukup lama.


Berputar kembali dalam benaknya saat ia di pertemukan dengan gadis sholehah yg memiliki sifat lemah lembut, saat itu ia begitu anggun dengan senyum indah nya.


Bilal teringat saat ia menyakiti Khadijah untuk pertama kalinya, yaitu saat ia jatuh cinta pada Zahra nya. Bilal merasa sangat berdosa. Tapi Khadijah membalas semua itu dengan memberikan Zahra nya pada Bilal.


Khadijah memang tak bisa memberi nya anak, namun Khadijah istri yg luar biasa karena rela berbagi suami demi kebahagiaan sang suami.


Khadijah memang berbuat kesalahan, entah di sengaja atau tidak. Tapi itulah hakikatnya manusia.


Dan Bila meridhoi nya sebagai istri nya yg begitu patuh, penuh kasih dan cinta.


"Selamat jalan, Sayang. Sekarang kau bisa bersama anak anak kita di surga sana. Sekarang kau bebas dari semua rasa sakit mu." Gumam Bilal.


Ia segera menegakkan tubuh nya saat air matanya hampir tumpah lagi.


Setelah di kafani, Jenazah Khadijah di bawa ke Musholla pesantren untuk di sholati.


Hubab kembali akan menangis saat ia ikut membawa Jenazah sepupu nya itu, namun Bilal segera menguatkan nya.


Seluruh santri ikut men shalati Jenazah Khadijah dan mendoakan nya.


Setelah itu, upacara terakhir pun akan segera di laksanakan.


Pemakaman.


Saat ikut membawa keranda yang memuat jenazah Khadijah, Hubab teringat saat kecil Khadijah sering meminta nya di gendong di pundaknya, kemudian ia berlari dan membuat Khadijah tertawa senang. Dan tawa kesenangan itu seolah masih terdengar hingga sekarang.


Baru kemarin rasa nya ia bermain bersama sepupu nya, tapi sekarang sepupu nya sudah meninggalkan nya. Dan keranda itu lah yg sekarang berada di pundak nya.


Semua orang tanpa terkecuali ikut mengantar Khadijah ke peristirahatan terakhir nya, di iringi air mata kesedihan dan dzikir yg tiada di henti mereka lantunkan mengiringi perjalanan terkahir Khadijah istri Bilal.


Sesampai nya di pemakaman, orang orang segera melaksanakan kewajibannya, Hubab pun ikut turun ke liang kubur begitu juga dengan Bilal. Walaupun Hubab melarang nya karena kaki nya mungkin masih sakit, tapi Bilal tak menghiraukannya. Ia ingin mengantar istri tercinta nya ke peristirahatan terakhir nya.


Hubab dan Bilal menidurkan Jenazah wanita yg mereka cintai di tanah, mengambil segumpal tanah untuk di jadikan bantal dan sedikt memiringkan wajah Khadijah tercinta ke kanan, setelah melepaskan tali kafan dan meletakkan kayu, mereka semua segera naik, dan mereka pun mulai menutupi tubuh Khadijah dengan tanah.


Hubab mengedipkan matanya berkali kali supaya air matanya tak lagi tumpah sembari ia ikut menutupi kuburan saudarinya dengan tanah.


Setelah nya, mereka mulai menancapkan batu nisan dan di lanjutkan dengan memanjatkan dzikir dan doa.


"Selamat jalan saudari ku, kedua orang tua kita dan anak anak mu pasti sudah menunggu mu di alam sana. Sekarang kau bersama ayah ibu mu seperti yg selalu kau inginkan selama ini, sekarang, semua rasa sakit telah sirna dari mu, kau terlepas dari dunia ini, dan dunia ini melepaskan mu dengan air mata, sungguh itu pertanda kau sangat berarti di dunia ini"


.


.


.


Seluruh kerabat Bilal datang berbondong bondong setelah mendengar berita kematian Khadijah, bahkan Shofia dan juga suami dan seluruh keluarga suaminya pun datang. Mereka semua ikut berduka dan mereka semua mendoakan Khadijah.


Begitu juga dengan keluarga Asma dan kerabat nya, mereka pun datang.


Sehingga selama lebih dari tujuh hari pesantren di liburkan karena ada begitu banyak tamu yg datang silih berganti setiap hari dan setiap malam.


Hubab duduk sendirian di halaman sekolah, ia masih sangat bersedih dan merasa semua ini hanyalah mimpi belaka.


"Jangan terus bersedih" Hubab menoleh mendengar asal suara itu. Lita menyunggingkan senyum tipis nya dan ia pun duduk dengan jarak dua langkah di samping Hubab. "Mbak itu orang baik, dia punya sifat keibuan, walaupun aku engga kenal dekat, tapi aku bisa merasakan kebaikan yg ada dalam diri nya" Lita berkata diiringi senyum.


"Dia satu satu nya yg aku punya, Neng Lita. Kami engga punya siapapun di dunia ini, kami saling menjaga sejak kecil"


"Lihatlah mereka semua!" Lita menunjuk ke setiap sudut pesantren, dari aula, halaman sekolah bahkan sampai di halaman rumah Ummi Mufar, ada banyak tamu yg datang "Mereka semua datang untuk mendoakan Mbak Khadijah. Mungkin kalian memang engga punya keluarga dengan ikatan darah, tapi semua orang menganggap kalian adalah keluarga nya, apa selama ini kamu sama Mbak benar benar merasa sendirian?"


Hubab tersenyum tipis dan menggeleng. Karena memang ia tak pernah merasa sendirian, Bilal dan keluarga nya selalu ada untuk mereka berdua. Ummi Mufar dan Abi Khalil pun memperlakukan Hubab seperti mereka memperlakukan Bilal. Mereka menyayangi Khadijah seperti mereka menyayangi Shofia.


Bilal dan Asma pun datang menghampiri Hubab. Tampak Bilal dan Asma juga masih bersedih dengan kepergian Khadijah yg masih seperti hanya mimpi buruk.


"Kita harus menghentikan kesedihan ini, Hubab. Istri ku engga akan suka kalau kita larut dalam kesedihan ini. Dia ingin kita meng ikhlaskan nya. Dia berada di tempat yg jauh lebih baik sekarang. Kita memang mencintai Khadijah, tapi Allah jauh lebuh mencintai Khadijah. Dan sekarang Khadijah kita berada di sisi Nya."


▪️▪️▪️


Tbc....