
Setelah Bi Mina turun, Asma yg merasa sangat lemah mencoba untuk tidur, selang beberapa menit kemudian, ia terbangun karena perut nya terasa sangat sakit dan perih bahkan hingga ke punggung nya. Asma teringat kata Dokter jika ia merasakan sakit yg luar biasa, maka sebaiknya segera di bawa periksa. Asma segera mengirim pesan pada Bilal. Dan saat mendapatkan jawabannya, Asma sangat berharap mereka benar benar segera pulang. Asma juga memanggil Bi Mina untuk menemani nya.
Bi Mina dengan cepat datang ke kamar Asma untuk menemani nya.
"Apa Neng Asma mau kerumah sakit?"
"Iya, sebentar lagi Bilal akan segera pulang" ucap Asma lemah.
Ia pun kembali beristirahat sambil menunggu suami nya, namun rasa sakit di perutnya tak membiarkan nya beristirahat.
Asma kembali mengirim pesan pada Bilal.
Me
'Aku engga baik baik saja, perut ku benar benar sakit, aku merasa tidak sanggup lagi menahannya'
Me
'Kata Dokter jika aku merasa sangat kesakitan, harus segera di tangani. ini sangat sakit"
"Aku sudah tidak sanggup lagi Aku takut terjadi sesuatu dengan anak anak ku"
Asma menangis karena melihat pesan itu sudah masuk dan terlihat sudah di baca tapi setelah menunggu lama tetap tak ada balasan.
Asma juga sudah menelpon nya berkali kali, tapi juga tetap tak ada jawaban.
Karna tak ingin ambil resiko, Asma menelepon Dini untuk meminta nya mengantar ke rumah sakit. Namun juga tak ada jawaban, Kini Asma benar benar merasa takut apa lagi perut nya semakin sakit seolah ada benda yg menusuknya dengan keras. Bi Mina mencoba menenangkan Asma yg semakin terisak.
"Telpon Pak Mukhlis saja, Neng" Saran Bi Mina
Dengan berderai air mata dan tangan yg bergetar karena ketakutan dan kesakitan, Asma menelepon kakak iparnya itu, dan ia bernafas lega karena Mukhlis menjawab nya.
"Asma? ada apa?'
"Kak...aku... Aku..."Asma merintih kesakitan dan ia juga tak bisa menghentikan tangis nya, Bi Mina segera mengambil ponsel Asma dan berbicara dengan Mukhlis.
"Pak, Neng Asma kesakitan sejak tadi. Tolong bawa kami kerumah sakit" ucap Bi Mina yg juga sangat mengkhawatirkan Nyonya muda nya itu.
"Ya Allah.... dimana Bilal Bi.? saat ini aku dan Dini ada dirumah mertua ku" Bi Mina mendesah lesu karena ia tahu rumah mertua Mukhlis cukup jauh dari sana.
"Bapak sama Ibu menghadiri pernikahan teman nya. Tolong, Pak. kasihan Neng Asma." jawab Bi Mina.
" Astaghfirullah, Bilal...." Terdengar suara Mukhlis yg juga khawatir "Tunggu di sana, Bi m aku akan menyuruh Arip menjemput kalian dan mem**bawa Asma kerumah sakit, aku akan kesana sekarang juga, jika masih menunggu ku itu masih lama, Bi."
"Iya, Pak" jawab Bi Mina.
Kini Asma semakin merintih kesakitan dan betapa terkejutnya ia, saat merasakan pahanya yg basah dan darah segar mengalir begitu saja. Asma menangis karena takut dan sakit.
"Ummi... Ummi... Ummi..." Asma memegang perut nya dan ia terus menggumamkan Ibu nya di sela tangisan nya. Bi Mina yg melihat itu pun sangat terkejut dan apa lagi kini darahnya semakin banyak.
"Astaghfirullah... Neng Asma" Bi Mina histeris melihat keadaan Asma. Tanpa fikir panjang, Bi Mina berusaha sekuat tenaga mengangkat tubuh Asma dan menggendong nya, dengan sangat hati hati Bi Mina membawa Asma turun dari kamarnya sambil terus berusaha menenangkan Asma yg semakin lemah dan ia bahkan sudah setengah sadar.
"Neng Asma, tetaplah sadar. buka mata mu" Pinta Bi Mina, Asma berusaha bertahan, ia mengeratkan pengangannya di leher Bi Mina. Namun ia merasa sudah tak sanggup lagi.
"Asma... Bertahan lah sebentar, demi anak anak mu" perintah Bi Mina tegas. Sesaat Asma membuka mata, namun kemudian ia benar benar kehilangan kesadarannya.
.
.
.
Ummi Kulsum yg tertidur di atas sejadahnya setelah sholat isya, tiba tiba terbangun karena seolah ia mendengar suara putri nya.
Abi Rahman yg melihat istri nya yg tampak khawatir pun menghampiri nya
"Ada apa?" tanya suami nya itu. Tanpa menjawab pertanyaan suaminya, Ummi Kulsum segera mengambil ponsel nya dan menghubungi Asma.
"Ini sudah malam, Asma pasti sudah tidur. Kenapa mau menelpon Asma malam malam begini?"
"Engga, aku mendengar suara nya memanggil ku tadi, aku khawatir terjadi sesuatu dengan nya"
"Mungki hanya mimpi, Bilal pasti menjaga nya, tidak akan terjadi sesuatu padanya. Besok saja telpon nya ya".
Namun sebagai Ibu, ia bisa merasakan bahwa putrinya tidak baik baik saja, ia semakin khawatir karena Asma tidak menjawab telpon nya. Ia pun menelpon ke telpon rumah Bilal, tapi juga tak ada jawaban, membuat dia semakin khawatir.
"Ini sudah malam, mereka semua pasti sudah tidur di sana"
"Tapi aku punya firasat buruk, aku engga akan tenang sampai aku tahu keadaan putri ku"
Dan Ummi Kulsum pun memutuskan untuk menelpon Bilal langsung.
.
.
.
Sesampainya dirumah sakit,Bilal dan Khadijah segera berlari. wajah Bilal sangat pucat, segala fikiran buruk menguasi benaknya dan ketakutan menguasi hatinya.
Dan betapa terkejutnya ia, saat melihat Bi Mina dengan baju yg ternoda darah. seluruh tubuh Bilal langsung gemetar membayangkan apa yg sudah terjadi pada istri nya.
Disana juga sudah ada Mukhlis, Dini dan juga Rayhan dan Laila. Melihat kedatangan adiknya, Mukhlis tampak sangat marah dan ia segera menghampiri Bilal.
"Dari mana saja, kamu Bilal?. Bagaimana bisa kamu pergi ke pesta sementara istri mu sendirian dirumah?" teriak kakaknya itu, Namun Dini segera menenangkannya.
"Mas, ini rumah sakit, jangan berteriak" Bisik Dini.
"Abi, Abi jangan marah marah. adek bayi nya pasti baik baik saja" seru Rayhan yg memeluk pinggang Abi nya.
"Kak Rayhan benar,Bi. sebaiknya kita berdoa saja" sambung Laila.
Sementara Bilal hanya bisa mematung dan tak tahu harus berbuat apa. Untuk bernafas saja rasanya terasa sulit.
"Lihat, mereka saja bisa khawatir dengan calon adik mereka, lalu bagaimana ayahnya sendiri tidak khawatir?" desis Mukhlis. Mukhlis tahu sebenarnya Bilal juga pasti khawatir saat ini, tapi saat tahu Bilal pergi ke pesta, tentu itu membuat Mukhlis sangat marah dan tak habis fikir dengan adiknya itu.
"Mas..." Sekali lagi Dini menenangkan suami nya. "Bilal juga pasti khawatir"
Kemudian Dini membawa Bilal yg masih mematung untuk duduk.
"Istri ku..." tanya Bilal pelan. Dokter itu tampak menyesal dan menatap sedih pada Bilal, sambil menggelengkan kepala "Ku mohon jangan katakan itu" bisik Bilal seolah bisa menebak Dokter itu membawa kabar buruk.
"Kami menyesal tidak bisa menyelamatkan anak anak pasien" Seketika Bilal langsung jatuh terkulai lemas. Ia merasa jantung nya berhenti berdetak, darahnya berhenti mengalir dan ia merasa sangat sulit untuk bernafas. Khadijah yg mendengar kabar itu juga sangat terpukul begitu juga yg lainnya.
"Maafkan kami. Tapi harus kami katakan, seandainya pasien bisa di bawa sepuluh menit saja lebih cepat, mungkin kami bisa menyelamatkan bayi nya. Karena Ibu nya sangat lemah dan tidak bisa lagi bertahan sendirian tanpa penangangan yg tepat, Sehingga bayi dalam kandungan nya pun juga tak bisa bertahan " Air mata Bilal mengalir bebas tanpa bisa di bendung.
Ini salah nya, salah nya yg tak bisa menjaga istri dan anak nya, salah nya karena telah meninggalkan mereka sendirian. Bilal merutuki kebodohannya dan kelalaian nya.
Bilal histeris karena ia telah kehilangan apa yg sangat ia harapkan. Mimpi nya bersama Zahra nya sudah musnah, anak anak mereka yg bahkan belum lahir sudah meninggalkan mereka. Dan itu hanya karena kelalaian Bilal.
Khadijah seketika mengingat pesan Asma, Ia menangis menyesal karena tidak menanggapi hal itu dengan serius dan kerana sibuk dengan teman teman nya, ia pun lupa untuk segera memberi tahu Bilal. Seandainya ia segera memberi tahu Bilal dan pulang, pasti anak anak mereka bisa di selamatkan.
Bi Mina juga menangis, mengingat bagaimana Nyonya muda nya mencoba bertahan namun pada akhirnya tak mampu.
Bayi Asma selama ini baik baik saja, mereka berkembang dengan sangat baik, pendarahan itu pun tidak akan menyebabkan keguguran jika seandainya cepat di tangani, namun Asma tak mampu lagi bertahan dengan rasa sakit nya hingga membuat anak anak nya meninggal dalam kandungannya.
"Istri ku?" tanya Bilal lagi
"Dia belum sadarkan diri. jika kau ingin melihatnya, tidak masalah. tapi hanya satu orang yg boleh masuk" Seru sang Dokter kemudian pergi.
Dengan langkah gontai, Bilal memasuki ruangan itu dan melihat istrinya yg berbaring tak berdaya. Betapa besar dosa yg sudah ia lakukan karena tak bisa menjaga istri dan anak nya.
Apa yg harus ia katakan pada istri nya saat ia sadar?. Bagaimana Bila bisa menatap mata istri nya itu nanti?
Zahra nya pasti membenci nya karena Bilal tidak bisa menjadi ayah dan suami yg baik. Bilal tak bisa menahan tangisnya dan ia menangis tersedu sedu meratapi kemalangan nya.
.
.
.
Saat mendapatkan kabar kondisi putri nya, Ummi Kulsum tak mau membuang waktu lagi untuk bisa menemui putri nya. Begitu juga dengan ayah Asma dan kakak sulung nya. Mereka bertiga langsung melakukan penerbangan untuk menemui gadis kecil mereka.
Ummi Kulsum sangat bersedih dengan apa yg sudah di alami putri nya itu, ia sendiri hampir kehilangan Asma, tapi Allah masih memberinya kesempatan kedua, karena itulah keluarga Asma begitu memanjakan Asma.
"Semuanya akan baik baik saja" seru Suaminya karena sejak mendapatkan kabar putri mereka keguguran, Ummi Kulsum tak bisa tenang dan terus menerus memikirkan Asma.
"Asma sangat senang dengan kehamilannya, dia mengatakan tidak sabar menunggu anak anak nya lahir. Saat ini dia pasti sangat terpukul"
"Kita tidak bisa berbuat apa apa selain mendoakan nya dan mendukung putri kita"
Adil juga sangat bersedih, adik kesayangannya pasti sangat terpukul dengan apa yg di alami nya. Adil hanya berharap adik bungsu nya itu bisa melewati cobaan ini.
.
.
.
Asma belum juga sadar kan diri. Bilal pun selalu berada di samping nya, ia tak memperdulikan semua orang yg meminta nya pulang sekadar untuk berganti pakaian, Bilal tidak mau jika nanti istri nya sadar dan ia tak berada di samping nya. Bilal terus menggenggam tangan Asma, dan terus menyesali kelalaiannya. Bilal bahkan tidak tidur sedikitpun, ia begitu terpukul dengan kenyataan yg harus ia hadapi.
Hingga Bilal merasakan pergerakan di genggamannya, Bilal sangat senang saat melihat perlahan Asma membuka mata.
"Sayang, Zahra..." panggil Bilal pelan dan suara Bilal tampak nya menjadi kekuatan bagi Asma untuk sadar sepenuh nya.
"Bilal...." Asma memanggil suami nya itu dengan lemah.
"Iya, Sayang. aku disini" Bilal mengecup tangan Asma dan sekali lagi Bilal tak kuasa menahan air matanya hingga membasahi tangan Asma. Asma mencoba duduk namun Bilal melarang nya.
Seketika Asma terdiam saat ia menyadari anak anak nya tak ada lagi di perut nya. Asma memegang perut nya yg kini sudah rata. Asma memandang Bilal dengan mata yg berkaca kaca dan tatapan yg penuh luka. Asma berharap semua ini hanya mimpi.
Bilal hanya bisa menggeleng dengan air mata yg mengalir bebas di pipi nya.
"Engga... itu...itu Engga mungkin..." ucap Asma, ia mencoba menahan air matanya dan meyakinkan dirinya bahwa semua itu tidak mungkin terjadi padanya.
"Sayang, maaf. Aku engga bisa jaga kalian"
"Engga, Aku engga mau kehilangan anak anakku, Bilal. Apa yg sudah kamu lakukan pada anak anak ku?" ucap Asma dan kini air mata itu pun mengalir bebas di pipi nya.
"Zahra...." Bilal mencoba memeluknya untuk menenangkan nya namun Asma memukul mukul dada Bilal dan terus mengatakan ia tak mau kehilangan anak anak nya. "Zahra, tenang lah sayang"
"Aku engga mau kehilangan anak anak ku, Bilal. kembalikan anak anak ku" ucap Asma lirih dan ia mencoba mendorong Bilal namun Bilal mendekap nya dengan erat, Bilal tak tahu lagi harus berbuat apa, dirinya dan Asma sama sama tak kuasa membendung air mata mereka, mereka sangat terpukul apa lagi Asma yg tak mau menerima kenyataan itu.
"Kembalikan anak anak ku... Bilal. ku mohon... Bilal. Mereka... Mereka baik baik saja selama ini, ku mohon Bilal, lakukan sesuatu, aku mau anak anak ku. Ku mohon... aku mohon... Bilal....aku mohon..."
Asma berkata dengan tersendat sendat di sela tangis nya. Ia meremas lengan Bilal dengan sangat kuat dan terus memohon agar suaminya itu mengembalikan anak anak nya. Melihat istrinya yg histeris dan sangat terpukul, membuat Bilal semakin terpukul. Ia hanya bisa menangis hingga tiba tiba Asma terkulai lemas dan ia tak sadarkan diri.
Bilal segera berteriak memanggil Dokter, ia sangat takut terjadi sesuatu dengan Zahra nya.
Dokter segera datang dan meminta Bilal untuk keluar agar mereka bisa memeriksa keadaan Asma. Dengan berat hati Bilal keluar dan membiarkan Dokter memeriksa istri nya.
"Mas..." panggil Khadijah dan Khadijah langsung memeluk Bilal yg terlihat tak berdaya. Khadijah menangis, ia menyesal dan merasa bersalah, semua ini terjadi karena nya.
"Aku... Aku engga bisa menjaga anak dan istri ku, dan jika terjadi pada Zahra ku, aku engga akan pernah memaafkan diriku sendiri" gumam Bilal. Khadijah hanya bisa menggigit bibir nya menahan isak tangis nya sendiri.
Mukhlis yg melihat adiknya sangat terpukul pun tidak tega, ia tak pernah melihat Bilal se terpukul ini, Mukhlis bisa mengerti itu. Ia membawa adiknya itu untuk duduk.
"Bilal, tenangkan dirimu." seru sang Kakak namun Bilal seolah tak mendengar apapun. Mukhlis menepuk bahu adiknya itu "Kamu harus tetap kuat untuk istri mu, dia sangat membutuhkan mu"
Bilal masih diam dengan tatapan kosong dan ia terus terbayang Zahra nya yg begitu terpukul dengan kenyataan yg harus mereka terima. Hingga Dokter keluar dari kamar Asma, Bilal segera menanyakan keadaan Istri nya.
"Pasien mengalami shock berat, dia sangat terpukul dan tertekan, kalian harus selalu mendukung dan menghibur nya. Saat ini, Nyonya Asma sangat membutuhkan dukungan kalian, terutama suami nya" Ucap Dokter itu yg juga tampak sedih, ia juga seorang wanita dan seorang Ibu, ia bisa mengerti sakit nya kehilangan buat hati. "Terutama dukungan dari suami nya. Kau harus lebih kuat dari istri mu, karena dia sangat membutuhkan mu saat ini." lanjut Dokter itu yg melihat Bilal sangat terpukul, ia berharap Bilal bisa menjadi kekuatan bagi Asma.
"Terimakasih, Dok" ucap Mukhlis
"Untuk saat ini, biarkan Nyonya Asma beristirahat"
Bilal hanya bisa menunduk dengan hati yg hancur, ia mengerti betapa terpukul nya Asma dengan kenyataan yg tak pernah mereka bayangkan.
Apa lagi selama ini semuanya baik baik saja, entah Ibu maupun bayi nya. Bilal selalu menjaga Asma dengan sangat baik, dan Asma selalu menjaga kandungan nya dengan sangat baik pula. Bahkan Dokter juga mengatakan bayi nya baik baik saja dan berkembang dengan sangat baik, lalu bagaimana bisa tiba tiba mereka harus kehilangan anak anak mereka?
▪️▪️▪️
Tbc....