My Ustadz My Husband

My Ustadz My Husband
Part 62



Khadijah mengusap wajahnya dengan kasar, ia bahkan merasa sesak nafas, dan sekuat tenaga ia berusaha menahan api cemburu dalam hatinya yg memang sudah berkobar dan membuat nya seperti hilang arah. Di satu sisi, Khadijah sadar ia tak boleh iri seandainya Asma memang hamil, karena itu tujuan ia ingin Bilal menikahi Asma, untuk membuat Bilal bahagia.


Tapi disisi lain, kecemburuan membuat nya hilang arah, dan menodai niat suci nya untuk membahagiakan suami tercinta nya.


Khadijah terus berusaha mengingatkan dirinya dan berusaha mengikhlaskan bahwa memang hanya Asma lah yg bisa membahagiakan Bilal, karena ia sadar dirinya tidak akan pernah bisa hamil dan memberikan Bilal keturunan.


Bilal sangat mencintai Asma tanpa syarat dan tanpa sebuah alasan, jika Asma memberikan nya seorang anak, maka cinta Bilal akan semakin besar kepadanya, dan saat anak Asma lahir, maka Khadijah yakin, tak kan ada tempat lagi di hati Bilal untuknya.


Khadijah menangis menahan rasa cemburu dan iri dalam hatinya, ia meringkuk di tengah ranjang dan membiarkan air matanya mengalir bebas membawa keluar rasa sakit yg ada di hati nya.


Khadijah terus menangis hingga ia lelah dan tertidur.


Dan ia kembali terbangun, saat merasakan sentuhan di kening nya. Saat Khadijah membuka mata, ia melihat suami nya ada di samping nya. Bilal meletakkan punggung tangannya di kening Khadijah


"Khadijah, kamu sakit?" tanya Bilal tampak khawatir, Khadijah menggeleng dan ia berusaha duduk.


"Mas Bilal tumben sudah pulang" Khadijah berkata sembari memasang kembali jilbab nya yg sempat ia lepas sebelum tidur.


"Itu sudah jam 5 lewat, Khadijah" ucap Bilal heran. Dan Khadijah baru sadar ia tertidur cukup lama "Kamu engga apa apa kan, Sayang?" tanya Bilal yg tampak sangat mengkhawatirkan istri nya itu.


"Aku...aku baik baik aja"


"Kamu habis nangis ya" seru Bilal lagi sembari mengusap sisa air mata Khadijah "Ada apa?"


"Engga ada apa apa" jawab Khadijah berusaha meyakinkan suami nya itu.


"Jangan bohong, kamu nangis kenapa? Apa ada yg sakit? Perlu kita ke dokter, hm?" Dan Khadijah tetap menggeleng. Bilal pun menyerah dan tak lagi bertanya pada istri nya itu.


"Ya sudah, istirahat aja. Nanti kalau ada apa apa, panggil aja aku, aku mau ke bawah" ucap Bilal kemudian.


Khadijah bergegas mengikuti Bilal turun, dan ia melihat suami nya itu sedang berbicara di telpon. Khadijah duduk di sofa dan dengan sabar menunggu Bilal selesai.


Saat Bilal sudah selesai menelpon, Khadijah langsung memanggil suami nya itu.


"Ada apa?" tanya Bilal


"Mas, aku boleh pulang engga ke rumah lama aku?" tanya Khadijah yg sangat mengejutkan Bilal.


"Buat apa? Kamu lagi sakit, sebaik nya jangan kemana mana, lagi pula engga ada siapapun disana" ucap Bilal


"Kalau begitu biar aku aja yg tinggal di rumah Ummi dan Asma yg tinggal di sini sampai rumah nya bisa di tempati" Dan Bilal tentu lebih terkejut lagi mendengar penuturan istri pertama nya.


"Pertama Zahra, sekarang kamu yg mau keluar dari rumah ini. Sebenarnya ada apa Khadijah? Apa kalian punya masalah dan bertengkar tanpa sepengetahuan ku?" tanya Bilal yg sudah tak habis fikir denga kedua istri nya itu.


"Engga, lagi pula apa yg akan kami pertengkarkan" jawab Khadijah.


"Lalu kenapa kalian berdua ingin tinggal sama mertua kalian bukannya sama suami kalian?"


Khadijah tak bisa menjawab itu, bagaimana ia menjelaskan pada Bilal bahwa satu satunya masalah antara kedua istri nya adalah cemburu yg terpendam.


"Aku mengerti perasaan kalian" ucap Bilal yg membuat Khadijah bertanya tanya benarkah dia mengerti perasaan nya dan perasaan Asma.


" Aku bisa mengerti jika kalian tidak ingin hidup bersama, dan aku mengerti kenapa Zahra ingin keluar dari rumah ini, karena dia pasti berfikir dia adalah pendatang dan tentu kamu lebih berhak disini. Tapi kamu, Khadijah? Kenapa kamu mau keluar dari rumah mu sendiri? Apa Zahra menyakiti mu?" tanya Bilal dan Khadijah menggeleng.


"Aku tahu Zahra tidak akan menyakiti mu dengan sengaja" lanjut Bilal yg membuat Khadijah salah mengartikan maksud Bilal.


"Jadi, apa menurut Mas Bilal aku yg menyakiti Asma?"


"Apa?" tanya Bilal berharap ia salah dengar "Tentu saja bukan itu maksud ku, aku percaya kamu engga akan melakukan hal seperti itu"


"Jika Asma hamil, apa Mas Bilal masih akan peduli sama aku?" tanya Khadijah yg lagi lagi membuat Bilal tercengang.


"Apa menurut mu aku se jahat itu?" Bilal balik bertanya namun Khadijah tak menjawab nya


"Aku mencintai mu, Khadijah. Kamu istri ku dan tentu saja aku akan selalu peduli sama kamu sampai kapan pun"


"Tapi kamu sangat mencintai Asma, Mas. Dia sangat sempurna"


"Engga ada manusia yg sempurna" Bilal berkata dengan lembut berusaha menghindari perdebatan yg mungkin akan terjadi.


"Tapi dia memang sempurna, kamu mencintai nya, dan dia akan memberikan mu seorang anak"


"Berhenti mengungkit hal itu, Khadijah" pinta Bilal karena mengungkit masalah itu justru akan menyakiti Khadijah sendiri. Bilal memang tidak bisa mengelak bahwa dia mencintai Asma dan kemungkinan nya sangat besar bahwa Asma akan memberikannya seorang anak. Tapi hal itu tidak membuat cinta nya dan kepedulian nya pada Khadijah berkurang sedikitpun.


"Kenapa? Itu memang kenyataan nya kan?" lanjut Khadijah dengan emosi.


"Dan itu alasan mu mengajak Abi ku untuk melamar Zahra pada Abi nya, bukan begitu Khadijah?" tanya Bilal lagi yg mulai tak mengerti dengan sikap istri nya itu. Dan sekali lagi, Khadijah tak bisa menjawabnya.


"Aku tidak pernah meminta mu menerima cinta ku pada Zahra, tapi kamu yg bersikeras menyatukan kami. Lalu ada apa sekarang?" tanya Bilal lagi dengan nada yg tinggi.


"Baiklah" ucap Bilal kemudian karena ia melihat Khadijah yg hanya menangis dan tak menjawab nya sama sekali "Aku akan membawa Zahra keluar dari rumah ini, sehingga keberadaan nya tidak akan menyakiti mu lagi" ucap Bilal yg membuat Khadijah semakin tak tahu harus berkata apa.


Sementara itu, Bi Mina yg hendak pergi ke depan untuk membuang sampah keluar lewat pintu belakang, dan tanpa sengaja ia melihat Asma yg sedang berdiri di depan pintu masuk.


Tentu Bi Mina sangat terkejut dan ia merasa kasihan apa lagi saat ia melihat Asma menghapus air matanya nya dan menggigit bibir nya untuk menahan isak tangis nya.


Bi Mina yakin Asma juga pasti mendengar perdebatan Bilal dan Khadijah di dalam karena Bi Mina juga mendengar perdebatan mereka.


"Neng Asma sudah pulang?" sapa Bi Mina yg sengaja menyaringkan suara nya agar Bilal dan Khadijah mendengar dan menghentikan perdebatan mereka yg bertemakan Asma.


Mendengar suara Bi Mina, Asma langsung menghapus air mata nya, ia menarik nafas dan menghembuskannya perlahan, ia memaksakan bibirnya tersenyum


"Iya, Bi" jawab nya.


"Kok engga masuk?" tanya Bi Mina lagi masih dengan suara yg nyaring.


"Ini sudah mau masuk" jawab Asma.


Bilal yg mendengar Bi Mina berbicara dengan Asma di luar sangat terkejut dan juga khawatir, ia khawatir Asma mendengar apa yg dia bicarakan bersama Khadijah. Dan saat melirik jam dinding, Bilal sadar mungkin Asma sudah pulang sejak tadi. Bilal pun segera berjalan hendak menyambut istri nya itu, sementara Khadijah yg masih menangis segera pergi ke kamarnya dan mengunci pintu.


"Zahra..." panggil Bilal dengan raut wajah yg tampak khawatir "Apa kamu baru sampai?" tanya Bilal dan Asma mengangguk tanpa menatap Bilal.


"Maaf ya terlmabat pulang, tadi ada pelajaran tambahan" Asma terpaksa berbohong. Asma sudah pulang sejak tadi, ia mendengar semua yg di bicarakan Bilal dan Khadijah.


Dengan menahan air mata yg hampir tumpah, Asma segera berlari ke kamarnya.


Dengan susah payah, Asma berusaha bernafas karena ia tiba tiba merasa sesak di dadanya. Bahkan air mata nya pun tak bisa ia bandung lagi, namun suara langkah kaki yg mendekati kamarnya membuat Asma segera berlari ke kamar mandi dan ia menyalakan shower untuk meredam suara tangis nya.


"Zahra..." suara Bilal cukup mengejutkan nya dan ia pun segera menghentikan tangis nya.


"Ya..." jawab nya dari dalam.


"Kamu lagi mandi?" tanya Bilal lagi


"Iya, ada apa Bilal?" tanya nya berusaha menghentikan isak nya


"Engga apa apa" jawab Bilal. Kemudian ia pun menunggu Asma hingga selesai mandi.


Tak lama kemudian, istri nya itu keluar dan tampak lebih segar, tampak ke khawatiran dimata Bilal saat menatap nya.


"Em Bilal, malam ini aku boleh ke pesantren lagi engga dan nginap dirumah Ummi? Aku mau ikut belajar bersama dengan teman teman kelas ku" tutur Asma tanpa berani menatap Bilal.


Bilal mendekati istri nya itu dan ia sangat mengerti, Asma bukan nya ingin pergi belajar tapi ingin menghindar.


"Kenapa?" tanya Bilal dengan suara pelan dan ia membelai pipi istri muda nya itu, kemudian mengangkat wajah nya hingga tatapan keduanya bertemu.


"Engga apa apa, aku cuma mau ikut belajar" jawab Asma dengan suara yg tak kalah pelan nya, ia hendak berjalan ke lemari untuk mengambil pakaian nya namun tiba tiba saja rasa pusing menyerangnya membuat nya limbung dan hampir saja jatuh namun Bilal dengan sigap menangkap tubuh nya.


"Zahra, ada apa, Sayang?" tanya Bilal panik yg melihat istri nya itu tampak lemas.


"Engga apa apa, mungkin capek aja" jawab Asma sembari memegang kepalanya, dan lagi lagi ia merasa mual, ia pun segera berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya, namun tak bisa. Bilal yg mengikuti nya pun hanya bisa memijit tengkuk Asma berharap wanitanya itu lebih baik.


"Zahra, kita ke Dokter ya? Aku khawatir dengan keadaan mu" Ucap Bilal namun Asma menggeleng, ia kumur kumur dan mencoba berdiri tegak, Bilal pun membawa Asma ke ranjang nya.


"Tunggu di sini, aku akan ambil pakaian mu" seru Bilal namun Asma mencekal pergelangan tangan nya.


"Engga usah, aku bisa sendiri. Aku baik baik aja kok" ucap Asma sembari berusaha berdiri lagi.


"Duduk di sini, Zahra" perintah Bilal tegas membuat Asma tak berani lagi menolak nya.


Dan bukannya mengambilkan pakaian rumahnya, Bilal malah mengambil gamis dan juga jilbab Asma.


"Malam ini kita menginap dirumah Ummi" seru nya yg membuat mata Asma melotot.


"Kita?" tanya Asma terkejut.


"Iya, aku engga mau ninggalin kamu dalam kondisi seperti ini, seperti nya kamu sakit"


"Jangan, kasian Mbak kalau di tinggal sendirian" seru Asma dan mulai mengenakan pakaiannya.


Bilal sengaja ingin membawa Asma pergi sekarang juga, ia ingin Khadijah menenangkan diri dan berfikir dengan tenang. Ia juga takut Khadijah sampai lepas kendali atas kecemburuannya dan malah menyakiti Asma.


"Aku akan kesana sendirian" lanjut Asma dan ia pun mulai mempersiapkan barang barang nya.


"Kita akan menginap disana, lagi pula aku juga sudah lama engga tidur di rumah Ummi, aku kangen sama kamar ku" ucap Bilal yg juga berbohong.


"Lalu bagaimana dengan Mbak?"


"Dia akan baik baik saja" jawab Bilal dalam hati ia berkata justru Khadijah harus di beri waktu sendirian untuk menenangkan hati dan fikirannya.


Ini lah salah satu alasan Bilal tak mengatakan pada Khadijah bahwa ia telah jatuh cinta saat itu, dan ia tak ingin memiliki gadis yg ia cintai, karena Bilal mengenal istri nya.


Bilal tahu Khadijah begitu mencintai nya, dan cinta itu membuat Khadijah rela melakukan apapun untuk membahagiakan Bilal, tapi Khadijah hanya berfikir apa yg harus dia lakukan dan dia lupa memikirkan bagaimana dia harus melalukan nya.


Dan cinta yg sama pula, yg akan membuat Khadijah tidak rela melihat suaminya bersama wanita lain.


Khadijah selalu kehilangan sejak kecil, orang tuanya, paman nya, dan ia bahkan kehilangan harapan untuk menjadi seorang ibu. Bilal tidak ingin Khadijah kehilangan diri nya juga, tapi Khadijah begitu yakin dengan keputusannya saat itu.


Wanita bisa berbagi apapun dengan wanita lain, bisa berbagi rumah, keluarga, bahkan anak. Tapi tidak dengan pasangan, di butuhkan hati yg kuat dan lapang untuk bisa mengikhlaskan suaminya untuk wanita lain, bukan hanya kesiapan secara logika.


Karena jalan yg akan ia tempuh, sangatlah sulit dan berduri, itu adalah masalah hati, dan segala yg berasal dari hati sangatlah sensitif dan akan selalu di uji.


.


.


.


Pada Ummi nya, Bilal beralasan Asma sedang sakit tapi gadis itu ngotot mau belajar bersama teman teman nya di asrama, sehingga Bilal akan menginap disana untuk menjaga istri nya. Tentu saja ibu mertua Zahra nya itu percaya mengingat menantu nya yg memang kadang bersikap ke kanak kanakan.


Dan saat Ummi nya menanyakan Khadijah, Bilal mengatakan Khadijah baik baik saja.


Bilal menemani istri nya belajar bersama teman teman nya, bahkan Bilal menjadi pendamping mereka, tentu saja itu membuat teman teman Asma sangat senang dan semakin semangat belajar.


Setelah selesai belajar, Asma dan Bilal segera kembali ke kamarnya. Asma yg sudah tampak sangat mengantuk itu segera merebahkan dirinya di ranjang, di sususl Bilal yg juga merasa sangat lelah.


"Zahra, besok kita ke Dokter ya, Sayang. Kamu benar benar pucat" seru Bilal sembari mengusap wajah Asma yg memang tampak semakin pucat, apa lagi seharian Asma tidak makan karena setiap kali melihat makanan ia merasa mual. Namun bukan nya menjawab, Asma malah mengajukan pertanyaan yg langsung membuat hati Bilal teras perih


"Apa kamu menyesal menikahi ku?"


Seketika Bilal melepaskan tangan nya dari pipi Asma sesaat, namun ia kembali membelainya dengan lembut dan penuh cinta, ia menatap tepat di kedua mata Asma


"Justru aku akan sangat menyesal jika aku tidak menikahi mu, karena mungkin mahsiswa di toko bunga itu yg akan menikahi mu. Aku engga akan rela jika dia yg menjadi jodoh mu" tutur Bilal yg membuat Asma terkejut karena Bilal mengetahui tentang pria itu.


"Bilal, maaf aku bicara dengan nya tanpa se izin mu"


"Engga apa apa, Sayang. Kamu pintar dalam menjaga diri mu dan menjaga hati orang lain" Bilal menarik Asma kedalam pelukannya dan kemudian ia menyelimuti tubuh keduanya.


"Sekarang tidurlah, jika sampai besok kamu masih mual dan pusing, kita harus ke Dokter. Dan itu bukan permintaan tapi perintah!" Asma mengulum senyum kemudian mengangguk, Bilal memberikan ciuman selamat malam nya dan keduanya pun tertidur.


▪️▪️▪️


Tbc...