My Ustadz My Husband

My Ustadz My Husband
Part 84



Ummi Mufar mendatangi rumah Khadijah untuk melihat keadaan menantu nya apa lagi karena Bilal tak ada di sana. Ia khawatir dengan kondisi Khadijah. Namun ia bersyukur melihat menantu nya yg terlihat baik baik saja.


"Maafin Ummi ya, Nak. Waktu itu Ummi lepas kendali" seru sang Ibu mertua membuat Khadijah merasa tak enak hati.


"Jangan meminta maaf, Ummi. Aku lah yg seharusnya meminta maaf, aku sudah membuat ke kecauan dalam hidup Mas Bilal"


"Kehidupan rumah tangga memang penuh liku, Khadijah. Apa lagi jika ada poligami di dalam nya. Jalan menuju surga itu tidak mudah, tapi tetaplah pada keyakinan mu. Insya Allah, Allah akan menolong mu. Jika kau bisa ikhlas dan bersyukur di dalamnya, maka Allah akan memudahkan semua nya untuk mu"


"Insya Allah, Ummi. Saat ini aku cuma berharap Asma mau kembali pada Mas Bilal"


"Aku juga berharap hal itu, Nak. Ummi mencintai mu dan Asma seperti putri Ummi sendiri" Khadijah menanggapi ucapan Ibu mertua nya dengan senyum. Karena memang benar apa yg dikatakan nya, Khadijah bisa meraskan kasih sayang seorang Ibu dari Ummi nya untuk nya.


"Oh ya, apa Bilal tidak menghubungi mu?"


"Setiap hari, Ummi. Dia selalu menanyakan keadaan ku" Jawab Khadijah. Karena memang benar, setiap hari Bilal akan menelpon nya dari telpon rumah Asma dan menanyakan keadaan Khadijah. Tentu saja Khadijah akan mengatakan ia baik baik saja walaupun sebenar nya ia tak merasa baik baik saja.


Ibu mertuanya itu menemani Khadijah seharian, membuat Khadijah merasa senang dan ia tak kesepian lagi.


Di tengah mereka mengobrol, terdengar suara telpon rumah yg berdering, Khadijah hendak mengangkat nya tapi Bi Mina segera datang dan menjawab nya, Khadijah pun kembali melanjutkan obrolan nya dengan Ibu mertua nya.


"Halo..."Sapa Bi Mina pada sang penelpon.


"Assalamualaikum, Bi" Terdengar suara yg sangat Bi Mina hafal dari seberang telepon.


"Ning Asma?" Tanya Bi Mina untuk memastikan. Khadijah yg mendengar Bi Mina menyebutkan nama madunya sedikit terkejut, karena sejak Asma pergi, ia sama sekali tidak menghubungi siapapun yg ada disana. Ummi Mufar pun juga terkejut. Mereka berdua segara menghampiri Bi Mina.


"Iya, Bi"


"Ning Asma mau bicara sama Ibu?" Tanya Bi Mina


"Engga, Asma mau bicara sama Bi Mina. Asma cuma mau tanya, apa engga ada paket yg datang kerumah Bilal beberapa hari yg lalu?"


"Paket? Rasanya engga ada, Ning" Jawab Bi Mina yakin.


"Paket apa, Bi?" Sambung Khadijah.


"Ini Bu, Ning Asma nanya apa ada kiriman paket beberapa hari yg lalu" Khadijah hanya menggeleng setelah mendengar pertanyaan Bi Mina Mina.


"Engga ada, Ning. Kata Ibu juga engga ada" Terdengar Asma yang menghela nafas berat di sana.


"Ya sudah, Terima kasih ya, Bi" Seru Asma tapi sebelum telepon nya terputus Khadijah segera mengambil gagang telpon itu dan memanggil Asma.


"Asma... Ini aku" Ucap Khadijah, tak ada jawaban dari sana, tapi Khadijah tahu telponnya masih tersambung. "Asma, aku mengerti kalau kamu marah, dan sebanyak apapun aku minta maaf, itu engga akan bisa menebus kesalahan ku" Khadijah berkata dengan penuh penyesalan. "Tapi ku mohon, jangan hukum suami mu karena kesalahan ku. Suami mu sangat mencintai mu" Khadijah berkata dengan mata yg sudah mulai terasa panas. Masih tak ada jawaban tapi Khadijah yakin Asma masih mendengarkannya.


Ummi Mufar memandang Khadijah dengan penuh tanda tanya tapi Khadijah hanya bisa menggeleng.


"Boleh Ummi yg bicara?" bisik Ummi Mufar, Khadijah pun memberikan gagang telpon pada Ibu mertua nya.


"Assalamualaikum, Nak. Ini Ummi. Apa kabar kamu, Asma? Dan bagaimana keadaan keluarga mu?"


"Waalaikum salam, kami baik. Bagaimana keadaan Ummi dan yg lain nya?" Jawab Asma dengan suara yg gemetar, membuat Ummi Mufar berfikir bahwa Asma sepertinya menangis.


"Alhamdulilah, kami sangat baik. Sayang, kamu menangis, Nak?" Ummi Mufar bertanya dengan lembut


"Engga kok" Jawab Asma dari seberang telpon tapi Ibu mertuanya itu tahu bahwa menantu kecil nya itu berbohong.


"Maafkan kami, Sayang. Kami tidak bisa menjaga kebahagiaan mu" Ucap Ummi Mufar.


"Jangan membuat Asma malu dengan meminta maaf pada putri mu ini, Ummi"


"Kau benar, kau memang putri Ummi, Nak" Ucap Ummi Mufar "Karena itulah, Ummi sangat berharap putri Ummi segera pulang"


"Ummi, maaf Asma...Asma haru pergi. Ummi Kulsum memanggil" Ummi Mufar terlihat kecewa karena Asma menghindari nya.


"Baiklah, salam untuk Abi dan Ummi kamu ya"


"Iya,Ummi. Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


Ummi Mufar meletakkan kembali gagang telepon, dia mengusap pundak Khadijah yg terlihat sedih.


"Jangan sedih, cepat atau lambat dia akan memaafkan mu"


"Aku tidak berani mengharapkan itu, Ummi. Apa yg ku lakukan terlalu fatal, Asma pasti mengira aku sengaja mengabaikan nya"


"Engga, Ummi yakin dia akan mengerti bahwa engga mungkin kamu melakuan nya dengan sengaja"


"Itu yg selalu ku panjatkan dalam doa ku"


...


Asma kembali memancarkan kebencian di matanya saat ia mendengar suara Khadijah tadi. Entah itu sengaja atau tidak. Tapi yg Asma tahu Khadijah mengabaikan nya malam itu.


Dan Asma juga heran, dimana surat cerai nya itu mendarat. Atau mungkinkah Khadijah yg menerima nya?


Tapi untuk apa dia tidak memberi tahu Bilal, Fikir Asma. Seharusnya Khadijah senang dengan perceraian itu. Dengan begitu, dia bisa memiliki Bilal seutuh nya.


Asma juga merasa bersalah pada Ibu mertuanya dan ia merasa malu karena pergi begitu saja.


"Zahra..." Asma di kejutkan panggilan Bilal bersamaan dengan pria itu yg menggapai tangan nya. Asma melihat Bilal tak lagi menggunakan kursi roda nya namun ia menggunakan tongkat untuk menahan kaki kirinya.


"Ada apa?. Kenapa engga pakai kursi roda nya aja sih?. Memang kaki mu engga sakit?"


"Masih sakit, tapi bisa kok berjalan asal pelan pelan" Asma hanya ber oh ria mendengar jawaban Bilal. "Kamu telpon siapa, Sayang?".


"Bukan siapa siapa" Jawab Asma sambil tersenyum tipis. Bilal menatap penuh selidik pada istri nya itu apa lagi melihat ekspresi istri yg tampak sedih. "Sebaik nya kamu istirhat, ingat kata Dokter, kaki mu engga boleh terlalu sering di gerakkan. Ayo, aku akan mengantar mu ke kamar"


"Engga usah, aku bisa sendiri. Oh ya, Tadi Aqilah cariin kamu, katanya suruh jagain Baby Rafa sebentar. Dia mau pergi ke toko sama Aisyah"


"Bisa" Bilal berkata dengan yakin. Asma pun meninggalkan Bilal dan bergegas ke kamar Aqilah.


Setelah memastikan Asma tak terlihat lagi, Bilal menekan panggilan terkahir di telpon itu, ia sangat penasaran siapa yg Asma telpon, karena setelah menutup telponnya, Asma terlihat marah, namun ia juga tampak habis menangis dan wajahnya pun terlihat. Bilal menunggu telepon nya di jawab dan ia mengernyit saat mendengar suara Bi Mina di seberang telpon.


"Bi Mina?"


"Pak Bilal?. Iya, Pak. Ada apa?. Apa mau bicara sama Ibu?"


"Engga, Bi. Apa tadi Zahra menelpon?"


"Iya, Pak. Tadi Neng Asma menelpon"


"Untuk apa?. Apa dia bicara dengan Khadijah?"


"Neng Asma tanya apa ada paket ke rumah beberapa hari yg lalu, terus tadi Ibu dan Ummi Mufar memang bicara sama Neng Asma"


"Paket apa? Dan apa Ummi disana?"


"Saya juga engga tahu paket apa. Dan Ummi Mufar memang di sini untuk menemani Ibu"


"Apa yg mereka bicarakan pada Zahra?"


"Saya tidak mendengar nya, Pak"


"Hm begitu, ya udah. Nanti aku telpon lagi, tolong jagain Khadijah ya, Bi"


"Iya, Pak".


Bilal kembali meletakkan gagang telpon pada tempat nya. Ia penasaran paket apa yg di maksud Asma dan apa yg sudah Khadijah dan Ummi nya katakan pada Asma. Sehingga Asma tampak marah namun juga sedih.


.


.


.


Sementara itu, Asma menggendong Baby Rafa yg kini sudah berdiri dan mulai belajar berjalan. Asma mencari Adil ke kamar nya untuk menanyakan surat itu di kirim apa tidak sebenaranya.


"Kak..." Panggil Asma dan terlihat Adil yg sedang bersiap untuk pergi mengajar.


"Ada apa?" Tanya Adil dan dia mencium Baby Rafa yg tertidur lelap di gendongan Asma.


"Kak, surat itu engga sampai kerumah Bilal. Bi Mina bilang engga ada paket sama sekali, Kakak mengirim nya kan?" tanya Asma.


"Tentu saja, Dek. Tapi, Kakak juga engga tahu kenapa suratnya belum juga sampai" Ujar Adil "Asma, Kakak liat, beberapa hari ini kamu sangat bahagia bersama Bilal" Tutur Adil. Asma terdiam karena memang benar yg di katakan Adil. Dia sangat bahagia bersama Bilal. "Jadi, maksud Kakak. Apa kamu masih pada keputusan mu?".


"Asma engga tahu..." Asma berkata pelan.


"Bukankah Kakak sudah bilang, jangan mengambil keputusan besar seperti itu terlalu cepat. Kakak tahu kamu sedih dengan posisi mu, Tapi bagaimana pun juga, mengambil keputusan dengan terburu buru itu juga engga baik. Dan lihat, Bilal sama sekali tidak meninggalkan mu, dia mengalami musibah besar, dan bahkan dalam ketidak sadaran nya, dia masih menyebutkan nama mu"


Asma semakin sedih dan ragu dengan apa yg sebenarnya dia inginkan setelah mendengar kata kata Adil.


"Coba tanyakan pada hatimu lagi, Dek. Sampai sekarang Bilal sepertinya tidak tahu bahwa kamu ingin bercerai, jadi saat dia tahu nanti, berikan alasan yg kuat kenapa kamu ingin bercerai"


"Cerai?"


Asma dan Adil menoleh bersamaan pada asal suara itu, Bilal terlihat sangat terkejut dengan apa yg baru saja di dengar nya.


"Zahra, apa aku engga salah dengar?" Tanya Bilal dengan suara yg gemetar.


Asma menatap Bilal dengan mata yg sudah terasa panas dan berkaca kaca. Asma tak menjawab, dia hanya bisa memalingkan wajahnya karena tak sanggup menatap mata Bilal yg juga terlihat sangat terluka.


"Zahra..." Dengan bantuan tongkat nya, Bilal berjalan pelan menghampiri Asma. "Sayang, katakan pada ku, aku salah dengar."


"Maaf, Bilal..." Hanya itu yg bisa Asma ucapkan. Dan untuk yg ketiga kalinya, Asma membuat detak jantung Bilal seolah berhenti. Bilal menatap tak percaya pada Asma, dan air mata nya pun seketika mengalir bebas membasahi pipi nya. Begitu mudah nya Bilal meneteskan air mata untuk Zahra nya.


Melihat itu, hati Adil pun terasa perih. Entah bagaimana takdir mempermainkan adik nya dan adik iparnya.


"Zahra...." Untuk pertama kalinya, Asma mendengar Bilal mengucapkan namanya dengan penuh luka, seperti alunan melodi kesedihan yg menyayat hati dan memporak porandakan perasaanya dengan begitu mudah nya.


Merasa tak sanggup lagi berada di hadapan suami nya, Asma segera bergegas pergi meninggalkan Adil yg sekali lagi menjadi saksi tangis pasangan kekasih itu, dan Bilal yg sekali lagi terasa hancur.


Saking hancur nya hati Bilal, membuat Bilal seolah tak bisa merasakan tubuh nya sendiri. Ia seperti mati rasa


"Bilal..." Adil menepuk pundak nya.


"Apa yg terjadi?. Bagaimana bisa Asma benar benar memutuskan meninggalkan ku?" Bilal bertanya dengan suara rendah, ia bahkan hampir tak bisa mendengar suaranya sendiri.


"Bilal, semua ini... karena kamu menghilang begitu saja. Asma fikir kamu sudah meninggalkan nya dan melupakannya karena....." Adil tentu sangat ragu mengatakan hal itu, tapi dia harus memberi tahu Bilal bukan? "Karena dia fikir, kamu mungkin fokus pada Khadijah, dia fikir tanggung jawab mu pada Khadijah jauh lebih penting dari pada Asma, dan jauh lebih besar dari pada cinta mu pada Asma"


Dan seketika bibir Bilal tersenyum kecut, namun matanya begitu terluka.


"Aku tidak terkejut mendengar itu, Dil. Karena itulah yg terjadi selama ini, aku... aku memang selalu sibuk mengurus Khadijah." Bilal menghapus air mata nya dengan tangannya yg masih gemetar. "Aku menyesal karena aku tidak memperhatikan Zahra sebanyak aku memperhatikan Khadijah"


Dan sialnya, meskipun air mata itu sudah di hapus tapi air mata itu lagi dan lagi mengalir. Betapa terluka nya hati Bilal dengan kenyataan ini.


"Tapi aku sangat mencintai Zahra ku, Dil. Memikirkan dia meninggalkan ku membuat ku merasa detak jantung ku berhenti, dan jika dia sungguh sungguh meninggalkan ku, maka datang jantung ku benar benar akan berhenti"


Adil sudah tak tahu lagi bagaimana menanggapi pria yg sedang patah hati di depannya ini.


"Sejak kedatangan mu kesini, Adik ku terlihat bahagia. Sungguh aku tidak tahu apa artinya itu.


Bicaralah dengannya, Bilal. Tapi ku mohon, jangan paksakan apapun pada nya, aku engga mau adikku sedih lagi dan lagi. Tapi sebagai remaja, fikiran nya mungkin masih labil, jadi berilah dia waktu"


▪️▪️▪️


Tbc.....