
Asma menimang nimang Baby Rafa yg tiba tiba saja terbangun dan merengek.
Ia tidak tahu bagaimana keadaan hati nya saat ini apa lagi keadaan hati Bilal. Asma juga meragukan keputusannya untuk bercerai, karena memang benar ia merasa bahagia saat bersama Bilal.
"Shhh sssh shhh. Baby Rafa jangan nangis ya, Ummi lagi pergi sebentar" Asma berkata sembari menggendong Baby Rafa yg mulai menangis, ia berjalan mondar mandir di kamarnya namun Rafa tak mau diam juga.
"Ada apa dengan nya?" Tanya Bilal yg menyusul Asma, tampak raut kesedihan di wajah Bilal setelah apa yg ia dengar tadi.
"Engga tahu, mungkin lapar" Jawab Asma sembari terus menimang Rafa. Bilal pun berjalan masuk, ia berusaha naik ke atas ranjang dan menselonjorkan kaki nya.
"Ayo, letakkan dia di sini" Pinta Bilal meminta Asma meletakkan Rafa di pangkuan nya.
"Jangan, kamu lagi sakit"
"Engga apa apa, yg sakit kan kaki ku. Ayolah, Zahra. Kasian dia" Ucap Bilal karena melihat Rafa yg menangis semakin kencang. "Dia engga mungkin lapar. Sebelum pergi, Aqilah sudah memberinya makan"
Asma pun perlahan meletakan Baby Rafa di pangkuan Bilal, Bilal meletakkan kepala Rafa di tangan kirinya, ementara tangan kanannya ia letakkan di dada Rafa.
Sambil tersenyum kemudian mengecup kening Rafa, Bilal menggerakan tubuh Rafa dan sesekali ia mengusap dada Rafa.
Perlahan lahan, Rafa kembali tenang membuat Asma mengernyit bingung.
"Bagaimana dia bisa tenang secepat itu?" Bisik Asma.
"Kalau yg mengasuh tenang, bayi juga akan tenang" Jawab Bilal santai. Dan Asma faham maksud nya, Asma memang tidak tenang, hatinya gelisah. Ada amarah, rasa sedih, dan sebagai nya.
Bilal masih terus menimang Rafa dengan penuh kasih sayang.
"Kita sama sama tahu, Zahra. Sama seperti Poligami yg adalah solusi, begitu juga dengan perceraian. Cerai adalah sebuah solusi jika kita terjebak pada suatu titik dimana tak ada lagi jalan yg lebih baik dari itu, karena itulah cerai adalah perbuatan halal namun di benci Allah" Bilal berkata dengan suara rendah dan tenang agar tak menganggu Rafa yg perlahan menutup matanya kembali. Sedangkan Asma, istri kedua Bilal itu hanya bisa mendengarkan Bilal dalam diam.
"Hanya karena aku mencintai mu, tak membuat ku berfikir untuk memiliki mu, terlebih aku sudah menikah dan kamu masih remaja. Aku selalu berusaha dan berdoa dengan segenap hati ku agar aku bisa melupakan mu, tapi Allah tak kunjung menjawab doa ku, hingga Khadijah mengetahui isi hati ku. Saat itu, aku merasa sangat bersalah karena menyakiti nya. Tapi dia justru bersikeras ingin aku menikah mu, karena dia tahu kamu bisa membuat hidup ku sempurna. Dan aku yakin, aku bisa membuat mu jatuh cinta pada ku. Bukankah aku memang sudah membuat mu jatuh cinta pada ku?" Bilal bertanya sambil melirik Asma dari ekor mata nya, sudut bibir nya tertarik membentuk sebuah senyuman yg tak bisa Asma mengerti senyuman itu.
"Ya" Jawab Asma kemudian setelah ia terdiam beberapa saat
"Kita bisa hidup bahagia, Zahra. Jika kita bisa menerima semuanya dengan ikhlas dan mensyukuri nya"
"Itu sulit" Sanggah Asma.
"Tapi bukan mustahil"
"Hidup itu pilihan, Bilal. Jika ada dua jalan didepan kita, maka kita harus memilih salah satu jalan untuk kita tempuh. Kamu tidak bisa memilih, jadi biarkan aku yg memilih"
"Memilih bercerai?" Bilal bertanya sambil menatap tepat di kedua mata Asma, dan dengan berani Asma membalas tatapan Bilal dan mengangguk.
"Apa kamu yakin itu jalan terkahir dan terbaik yg ingin kamu tempuh?" Dan Asma memalingkan wajahnya. Jauh dalam hatinya ia tak yakin. Bilal masih menimang Rafa dan sekarang, Baby mungil itu sudah terlelap. Asma masih diam dan tak berani menatap Bilal.
"Berikan aku alasan yg kuat, Zahra". Asma hanya bisa menjilati bibirnya yg teras kering. Terlalu banyak alasan yg ia miliki hingga Asma tak tahu yg mana yg harus ia beri tahu pada Bilal.
"Aku ingin mendengar isi hati mu sekarang" Ujar Bilal.
"Aku..." Asma menarik nafas "Aku merasa tak sanggup hidup di antara kamu dan Mbak Khadijah, Bilal."
"Kamu tidak ada di antara kami, kalian memiliki tempat masing masing di hati ku"
"Tapi rasanya tidak seperti itu. Aku engga mau kembali ke sana lagi, aku engga bisa ikut dengan mu, Bilal"
"Kalau begitu, aku yg akan ikut dengan mu"
"Maksud mu?" Asma bertanya dengan suara yg tinggi.
"Sshtt..." Bilal meletakkan jarinya di bibirnya apa lagi Baby Rafa yg tiba tiba bergerak terganggu.
"Aku akan tinggal di sini, bersama mu" Asma menganga mendengar jawaban Bilal. Asma fikir dia pasti salah dengar.
"Apa maksud mu, Bilal?"
"Kamu bilang kamu engga bisa ikut bersama ku, jadi aku yg akan ikut dengan mu, karena aku engga mau pernikahan kita berakhir begitu saja"
"Lalu bagaimana dengan pernikahan mu dengan istri mu yg lain"
"Aku akan tetap menjaga pernikahan kami tetap utuh, Khadijah tidak akan menggugat cerai aku jika aku tinggal dengan mu, tapi kamu akan menggugat cerai aku jika aku tinggal bersama Khadijah"
"Maksud mu?" Tanya Asma yg semakin tak mengerti dengan maksud Bilal.
"Khadijah sangat bisa menerima mu, Zahra. Mungkin ya, dia membuat sebuah kesalahan. Tapi pernahkah dia menyakiti mu dengan sengaja?. Pernah kah dia mengungkit posisi nya atau posisi mu?"
Asma terdiam, dan mengingat kembali masa masa ia tinggal bersama Khadijah. Memang benar, Khadijah tak pernah secara langsung atau pun dengan sengaja menyakiti Asma. Tak pernah mengungkit posisi Asma yg sebagai istri kedua atau dirinya sebagai istri pertama.
"Mungkin tanpa sadar kalian saling menyakiti, dan itu adalah buah dari cemburu satu sama lain" Lanjut Bilal. "Aku bisa mengerti itu, bahkan istri Nabi pun juga bisa cemburu, apa lagi kalian. Dan soal anak anak kita, jika kamu ingin meninggalkan ku karena kamu fikir Khadijah tidak bisa menerima mu, maka itu salah. aku tahu Khadijah tak sengaja melakukannya"
"Sebesar itu kepercayaan mu pada nya" Asma berkata sarkastik dan ia tampak kesal karena seolah Bilal membela Khadijah.
"Aku percaya karena... Jauh sebelum aku bertemu dengan mu, Khadijah sudah menjodohkan ku dengan wanita lain supaya aku bisa memiliki anak, karena Khadijah takkan bisa memberikan ku anak. Jadi, saat kamu mengandung anak anak ku, bagaimana mungkin dia akan mencelakainya dengan sengaja" Dan sekali lagi, Bilal membuat Asma terdiam.
"Jika kamu tetap ingin di sini, dan tak mau tinggal berdekatan dengan Khadijah, maka itu tak masalah, aku juga bisa tinggal di sini. Engga masalah bolak balik setiap minggu ke Jakarta. Tapi konsekuensi nya kalian berdua harus irit, karena biaya hidup habis di ongkos" Bilal berkata dengan nada datar namun terlihat bibir nya mengulum senyum geli. Asma melongo mendengar kata kata Bilal yg masih sempat membicarakan materi di saat saat menegangkan seperti ini.
"Bilal, kamu...."
"Ambilkan bantal yg lembut untuk Rafa" Ujar Bilal karena ia merasa tangan nya pegal. Asma pun segera mengambil bantal dan meletakkan nya di tengah ranjang, dengan perlahan Bilal menidurkan Rafa di susul ia berbaring di samping Rafa, Bilal memeluk tubuh kecil Rafa dengan tangan nya.
"Jadi katakan pada ku, Zahra. Apakah kamu berada pada titik dimana tak ada jalan yg lebih baik dari sebuah perceraian?." Bilal bertanya dengan sangat tenang seolah tak ada emosi apapun di dalamnya, membuat Asma bertanya tanya bagaimana perasaan Bilal saat ini?. Bagaimana perasaan nya saat ia menanyakan perceraian itu?.
Apa lagi tadi Bilal terlihat sangat terluka saat di kamar Adil. Dan sekarang ia terlihat baik baik saja?.
Sekarang Asma semakin yakin pasti ada saraf yg rusak di otak Bilal. Apa lagi ia sempat membicarakan materi.
"Bilal..." Asma memanggil suami nya setelah diam beberapa saat untuk mencari jawaban dari pertanyaan nya, namun sekarang yg terdengar malah dengkuran halus Bilal.
Apa iya pria itu sudah tidur?.
Asma mengernyit bingung, sepertinya Bilal harus di bawa ke dokter untuk memeriksakan isi kepalanya.
.
.
.
Aqilah yg baru pulang dari berbelanja segera mencari putra nya ke kamar nya tapi tidak ada.
"Dimana Asma sama Rafa, Bi?" Ia bertanya pada Bi Ida.
"Di kamarnya Neng Asma, mereka lagi tidur" Jawab Bi Ida.
"Wah, jadi pengasuh sama yg di asuh sama sama tidur" Sambung Aisyah sembari membantu Bi Ida mengeluarkan belanjaan nya nya.
"Baguslah, mumpung Rafa tidur aku mau mandi dulu" Ujar Aqilah dan segera bergegas ke kamarnya sendiri.
"Sudah pulang?" Tanya Adil yg baru datang dari mengajar. "Lama amat pergi nya"
"Nama nya juga belanja, Kak" Jawab Aisyah.
"Ya kan kasian Rafa kalau terlalu lama di tinggal Ibu nya"
"Rafa kayaknya engga terlalu bergantung pada Ibu nya, buktinya sekarang dia tidur sama Asma"
"Oh ya?. Dimana?"
"Ya di kamarnya lah, Kak"
Adil tampak memikirkan sesuatu, dan ia pun bergegas ke kamar Asma.
Dengan sangat pelan Adil membuka pintu kamar Asma, dan ia hanya bisa membuka mata nya lebar lebar dengan mulut yg tertutup rapat melihat pemandangan sejuk itu.
Tiga makhluk hidup didepan nya itu tidur dengan begitu nyenyak dengan Rafa yg berada ditengah sepasang suami istri itu yg sama sama tidur menyamping menghadap Rafa. Tangan kanan Bilal di jadikan bantalan kepala Rafa, sementara tangan kanan Asma berada di atas perut Rafa.
Adil seolah tak percaya dengan apa yg di lihat nya. Ia meninggalkan kamar Asma masih dengan kebingunan, Adil menuju dapur dan disana sudah ada Fatimah yg sedang menyuapi Yasmin dan Asiyah yg sedang membuat nasi goreng.
"Ada apa, Mas?" Tanya Fatimah yg melihat suami nya tampak bingung.
"Aku fikir Asma sudah berubah, ternyata engga. Justru kayaknya dia makin lebih deh"
"Mas Adil bicara apa sih?" Fatimah kembali bertanya karen memang tak mengerti maksud Adil.
"Tau Kakak Adil tuh, engga nyambung amat" Sela Asiyah.
"Asma, maksudku tadi Bilal tahu kalau Asma ingin bercerai"
"Surat nya sudah sampai?" Tanya Aisyah penasaran.
"Belum, Bilal tahu nya pas Asma bicara sama aku tadi"
"Terus gimana reaksi Bilal, Mas?" Tanya Fatimah antusias.
"Nangis, Dia bilang detak jantungnya serasa berhenti saat Asma mengatakan itu"
"So sweet..." Seru Fatimah dengan senyum manis nya
"Lebay amat" Balas Aisyah sarkastik "Semua nya juga gitu, pas lagi bersama, bilangnya aku tak bisa hidup tanpa mu, tapi pas pisah... masih hidup aja tuh. Banyak buktinya" Adil tertawa mendengar kata kata Aisyah, Adiknya yg satu itu memang punya kemiripan dengan Asma, sedikit gamblang kalau bicara.
"Tapi kan romantis, Aisyah..." Ujar Fatimah "Ketika seorang pria meneteskan air mata nya untuk seorang wanita, maka wanita itu pastilah sangat berharga dalam hidup nya" Fatimah berkata sambil melirik sadis pada Adil. "Engga kayak situ tuh, jangan kan nangis buat aku, panggil aku sayang aja bisa di hitung pakek jari"
Asma terkikik geli mendengar penuturan Fatimah, harus ia akui Adil memang tipe pria yg serius dalam hal apapun, sedikit dingin dan terkesan kaku. Adil hanya bisa bersikap lembut pada tiga wanita, Ibu nya, putrinya dan adik bungsu nya.
"Oh ya, Tadi apa maksud Kakak Asma engga berubah?" Tanya Aisyah sambil menyajikan nasi goreng di piring.
"Oh itu... Ya. Tadi aku sempat khawatir Asma dan Bilal bertengkar, saling menyalahkan atau malah nangis nangisan lagi. Eh... sekarang mereka tidur nyenyak sama Rafa, kayak engga terjadi sesuatu"
"Bagus dong" Fatimah bersuara.
"Tapi kan aneh, Mbak" Sela Aisyah.
"Sejak awal mereka memang pasangan yg aneh" Aqilah menimpali, ia muncul dan terlihat lebih segar.
"Bukan aneh, tapi namanya juga cinta, gila, engga masuk akal, apa lagi mereka pas lagi cinta cinta nya sekarang"
"Yasmin,kamu sudah selesai makan nya?" tanya Adil. Yasmin pun mengangguk setelah meneguk air dari gelas yg di sodorkan Fatimah. " Ya udah, sekarang waktunya menyetor hafalan mu" Adil berkata sembari membawa Yasmin keluar dari dapur, karena ia tak mau putri nya itu mendengar omongan orang dewasa.
"Abi, cinta itu apa?" Tanya Yasmin dengan suara cempreng nya.
"Cinta itu seperti Abi yg butuh Yasmin dan Yasmin yg butuh Abi" Jawab Adil sekenanya.
"Tapi kenapa kata Ummi cinta itu gila dan engga masuk akal?"
Adil menghembuskan nafas nya. Terlambat sudah ia menyelamatkan Yasmin.
"Nanti kalau Yasmin sudah jadi wanita dewasa seperti Ummi dan Tante Tante Yasmin, Yasmin pasti mengerti"
"Lama dong, Bi" Ujar Yasmin terlihat kecewa membuat Adil gemas pada putri nya itu.
"Sudah, jangan fikirkan itu. Sekarang fokus saja pada hafalan Yasmin.
▪️▪️▪️
Tbc.....