My Ustadz My Husband

My Ustadz My Husband
Part 38



Di sepanjang perjalanan pulang, Asma terus mengomel dan menuduh Bilal memandangi wanita di toko tadi. Padahal Bilal sudah menjelaskan bahwa tak sedetik pun dia memandangi wanita itu, bahkan saat berbincang dengannya, Bilal mengalihkan tatapan nya ke arah yg lain, ia tahu batasan nya.


"Bohong" seru Asma tak percaya dengan semua penjelasan Bilal.


"Sumpah, Sayang. Aku sama sekali engga mandangi wanita itu"


"Baju nya warna apa?" tanya Asma tiba tiba yg membuat Bilal mengernyit bingung.


"Apa?" tanya nya tak mengerti.


"Baju wanita tadi, warna apa baju nya?"


"Warna merah" jawab Bilal dan itu membuat Asma memelototinya.


"Tuh kan, katanya engga memandang dia"


"Astaghfirullah, Zahra sayang. Istri ku tercinta, kita engga perlu memandangi orang untuk tahu warna baju nya kan?"


"Terus rambut nya warna apa?" Bilal menghela nafas, seperti nya dia akan mendapatkan ujian yg berat sekarang fikir nya.


"Hitam" jawab Bilal malas.


"Katanya engga mandangi, kok sampai tahu warna rambut nya?"


"Sayang ku, cinta ku, Zahra ku. Dia engga pakai hijab, dan rambut nya panjang, aku tanpa sengaja melihat nya" tutur Bilal mencoba bersabar dengan ujian yg Asma berikan. Ia hanya berharap ia lolos ujian, bahkan 10 tahun bersama Khadijah, tak pernha sekalipun Khadijah menguji kesabarannya seperti Asma.


"Terus warna mata nya apa?" tanya Asma, ia fikir jika sampai jawaban Bilal benar, Asma akan menyuruhnya tidur di lantai. Berani berani nya memandangi wanita lain di depan istri nya, fikirnya.


"Aku engga tahu, Sayang" jawab Bilal jujur, karena memang dia sama sekali tidak menatap wanita itu, tidak sedetik pun.


"Bohong" tuduh Asma.


"Sayang, aku engga tahu, benaran. Aku sama sekali engga memandang mata nya" Jawab Bilal berharap Asma percaya, ia baru tahu ternyata wanita sangat mengerikan saat cemburu.


Asma memandang Bilal lekat lekat untuk mencari kebohongan di mata nya, namun Bilal terlihat sangat jujur.


"Matanya warna cokelat" jawab Asma kemudian. Bilal bernafas lega karena berfikir ia lolos ujian, namun wajah Asma masih sangat cemberut bahkan hingga sampai di rumah.


Khadijah yg menyambut kedatangan mereka menatap heran dengan Asma yg masih terlihat kesal.


"Dia kenapa lagi, Mas?" tanya nya pada Bilal. Bilal hanya mengedikan bahu.


"Asma, kamu Kenapa?" tanya Khadijah saat Asma menghempaskan tubuhnya yg terasa lelah ke sofa.


"Dia tuh.... Di pandangi mahasiswi yg lagi magang, terus pakek bicara sambil senyum senyum lagi ke mahasiwi itu" seru nya dengan kesal.


"Astaghfirullah, ujian ku belum selesai" gumam Bilal pasrah. Ia pun duduk di sofa dan meregangkan tubuhnya yg juga sangat lelah.


"Benar, Mas?" tanya Khadijah yg membuat Bilal menatap nya tak percaya.


"Khadijah, kamu sudah mengenal ku dengan baik, ya kan? Aku engga akan melewati batasan ku, aku engga tahu gadis itu memandang ku atau engga. Tapi yg pasti aku engga memandangi dia sama sekali, oke?"


"Tapi kenapa harus bicara sambil senyum senyum sama dia?" tanya Asma yg masih ingin melampiaskan kekesalan nya.


"Zahra sayang, aku hanya menunjukan adab yg baik, apa kita harus bicara dengan seseorang dengan wajah cemberut, kayak kamu tuh. Itu engga baik tahu"


"Aku engga cemberut"


"Kamu selalu cemberut"


"Engga"


"Iya...."


"Oke oke, cukup ya! Cukup" Khadijah berusaha menengahi perdebatan suami dan madu nya itu.


Namun tiba tiba, Khadijah menatap Bilal dengan serius dan bertanya...


"Tapi benar kan, Mas. Kamu engga mandangi gadis itu?"


"Laa Haula Wa Laa Quwwata Illa Billah...." Seru Bilal sembari mengusap dada nya, tak percaya kini kedua istri nya malah mengeroyoknya.


"Terserah kalian lah ya, aku bahkan engga tahu gadis itu punya mata cokelat" tutur Bilal yg berhasil membuat Khadijah melotot sempurna.


"Jadi Mas Bilal engga tahu gadis itu punya mata cokelat?" tanya Khadijah sarkastik yg tentu membuat Bilal semakin merasa terpojok.


"Astaghfirullah, aku tahu karena Zahra yg memberi tahu ku, kamu engga percaya sama aku? suami mu sendiri?"


"Bukan nya engga percaya..." Seru Khadijah merasa bersalah kemudian ia melirik Asma "Tapi ekspresi Asma juga meyakinkan" lanjut nya yg membuat Bilal menghela nafas berat.


"Dia itu cuma cemburu aja, dia juga posesif. Aku baru tahu itu"


"Aku engga cemburu! 100% engga mungkin aku cemburu, aku juga engga posesif" sanggah Asma.


"1000% kamu sangat cemburu dan kamu tipe istri yg posesif , Zahra sayang. Bahkan kamu mengatakan pada gadis itu dengan nada yg tajam kalau aku suami mu"


"Memang kamu suami ku"


Hati Bilal berbunga bunga dan ingin rasanya dia melompat girang mendengar kata kata Asma. Selama ini, dia yg selalu memperingatkan bahwa dia adalah suami nya, tapi sekarang Asma dengan senang hati mengakui nya.


"Ya karena itulah kamu cemburu"


"Aku engga cemburu" balas Asma ngotot. Kepala Khadijah sudah pening rasanya mendengarkan perbedatan suami dan madu nya itu yg sepertinya tidak akan ada habis nya.


"Apa susah nya ngaku kalau cemburu" balas Bilal lagi.


"Aku engga...."


"Sudah cukup! Kalian ini..." Khadijah menatap suami dan madunya itu bergantian "Lebih baik sekarang kalian pergi mandi deh, sebentar lagi Adzan. Oke? Jangan berdebat lagi, kayak Tom and Jerry aja" gerutu Khadijah.


Asma pun segera naik ke kamarnya sambil membawa laptop baru nya, setelah Asma pergi, Khadijah masih melirik Bilal curiga, menyadari itu Bilal sekali lagi hanya bisa menghela nafas.


"Aku engga mungkin melirik wanita lain, Sayang. aku sudah punya kalian di sini, percaya sama aku"


"Aku percaya, cuma Asma benar benar terlihat kesal" tutur Khadijah ragu ragu.


"Aku tahu, itu arti nya dia mulai mencintai ku" Bilal berkata sambil mengulum senyum kemudian ia menyusul Asma ke kamarnya.


Tanpa Bilal sadari kata kata nya itu menyayat hati Khadijah, dan menghancurkan sisi perempuan nya. Cemburu dan iri, terkadang Khadijah tidak tahan melihat cinta Bilal pada Asma yg begitu besar, atau melihat kemesraan Bilal yg tak pernah ia lakukan terhadap Khadijah selama ini.


Jika Asma juga mulai mencintai nya...


Maka bagaimana Khadijah akan bertahan di antara mereka?


.


.


.


Bilal terus mengingat bagaiamana Asma mengakuinya sebagai suami, bagaimana Asma cemburu dan posesif terhadap nya. Bilal begitu bahagia namun ia juga kesal karena Asma benar benar menguji kesabarannya saat cemburu, apa lagi ia malah mendapatkan dukungan Khadijah yg selama ini tak pernah meragukan Bilal.


"Aku harus memberi mu pelajaran karena sudah menguji kesabaranku, istri kecil ku" gumam Bilal sambil terus berfikir apa yg harus ia lakukan. "Tapi aku juga harus memberi mu hadiah karena sudah mulai mencintai ku"


Bilal merangkak turun dari ranjang nya dan menghampiri Asma, pria itu memutar kursi Asma hingga menghadap nya. Bilal membungkuk dan mengurung Asma dengan meletakan kedua tangan nya di kedua sisi kursi, hingga wajahnya sejajar dengan wajah istri kecil nya itu. Sementara Asma, ia menatap horor pada pria yg berstatus sebagai suami nya itu, karena tatapan nya seperti tatapan pemburu yg sudah mendapatkan targetnya dan siap melepaskan tembakan. Asma merasa gugup, dan wajahnya seperti terbakar dengan posisi yg membuat jantungnya berdebar itu.


"A...apa?" dengan susah payah ia melontarkan satu kata itu. Bilal menarik satu sudut bibirnya, dan membuat ia semakin tampak mengerikan di mata Asma.


"Tutup mata mu!" perintah tegas Bilal.


"Kenapa?" seperti biasa, Asma bukanlah istri yg penurut.


"Zahra istri ku, coba sekali saja kamu langsung lakukan yg suami mu minta. Tanpa bertanya, tanpa berdebat" dan kata kata itu, membuat Asma merasakan firasat yg buruk.


"Engga mau, kamu mau ngapain?" tanya Asma yg masih mempertahankan ego nya.


"Ck..." Bilal berdecak kesal "Ayolah, Sayang. Percaya sama aku, tutup mata mu!" Asma menatap ke dalam mata Bilal yg segelap malam. Mungkin kah dia akan memberikan kejutan seperti kalung, cincin atau yg lain nya seperti di film film, fikir nya "Zahra, ayo tutup mata mu!" pinta Bilal sekali lagi. Dengan sedikut ragu, dan hati yg bertanya tanya, apakah kejutan itu, Asma pun menutup matanya.


Satu detik...


Dua detik...


Tiga detik...


Masih tidak ada apa apa, namun ia masih sangat sabar menunggu.


Dan Bilal, tatapan pria itu berubah menjadi gelap, ia menikmati kecantikan alami istri nya yg baginya tak ada yg lebih indah dari pada istri kecil nya itu. matanya yg tajam dan indah, seperti sebuah sihir yg memikat Bilal, pipi nya yg menggemaskan membuat Bilal selalu ingin mengecup nya, dan bibirnya yg mungil, merah merona tanpa sentuhan lipstik sekalipun, yg selalu ingin Bilal bungkam dengan bibirnya sendiri saat istri kecilnya itu marah marah, mengomel dan mengerucutkan bibirnya saat kesal.


Asma masih setia menunggu kejutan apa yg akan diberikan suami nya itu, hingga tiba tiba ia merasakan sesuatu yang kenyal menyentuh bibirnya.


Seketika Asma langsung membuka mata lebar lebar, tubuhnya menjadi kaku dan ia masih tak bisa mencerna apa yg sedang terjadi, bahkan saat Bilal sudah melepaskan diri, Asma masih kehilangan kesadarannya.


"Manis" ucap Bilal sembari mengusap bibir Asma dengan ibu jarinya, membuat Asma mendapatkan kesadaran nya kembali, matanya melotot sempurna menatap Bilal....


"Kau..apa...apa yg sudah kau lakukan?" tanya nya dengan suara bergetar dan tersendat sendat. Bukannya menjawab, Bilal malah tersenyum miring dan hendak melakukan nya lagi namun sekuat tenaga Asma mendorong nya hingga ia terjerembab ke lantai dan merintih kesakitan...


"Zahra,kenapa mendorong ku?" gumam Bilal sembari berusaha berdiri.dan tiba tiba...


"AAAAAAAAAAAAA..."


Khadijah yg sedang memasak segera mematikan kompor nya saat mendengar teriakan histeris Asma. Tanpa fikir panjang, ia segera berlari naik menuju kamar Asma, ia khawatir jika terjadi sesuatu dengan istri kedua suami nya itu karena dari teriakan nya, sepertinya memang terjadi sesuatu.


Baru ia akan mengetuk kamar Asma, tiba tiba pintu terbuka dan Bilal keluar sambil senyum senyum seperi orang gila.


"Mas, Asma kenapa?" tanya Khadijah antara khawatir pada Asma dan bingung dengan ekspresi Bilal.


"Dia engga apa apa, kenapa?" Bilal balik bertanya dengan polos nya.


"Tapi dia teriak kencang banget, kamu yakin dia engga apa apa?" Bilal hanya mengedikan bahu, kemudian ia membuka pintu lebih lebar agar Khadijah bisa masuk.


"Tanya saja padanya" tuturnya masih dengan senyum nakalnya.


"Asma..." Khadijah berjalan perlahan, ia mendapati Asma yg masih duduk di kursinya dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Khadijah pun menarik tangan Asma, dan gadis itu tampak shock namun juga terlihat marah "Kamu kenapa teriak?"


"Aku... aku..." Asma tidak tahu harus menjawab apa. Apa yg Bilal lakukan benar benar membuat nya shock dan dia bahkan merasa akan segera jantungan "Dia..." ucapnya kemudian dengan menahan amarah sambil melirik Bilal yg sedang bersender di daun pintu dengan memasukan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Khadijah pun mengalihkan tatapan nya pada Bilal.


"Mas, kamu apain Asma lagi sih?"


"Aku?" Bilal menunjuk diri nya sendiri "Tanya aja sama dia aku ngapain, dia selalu ngadu ke kamu kan kalau aku berbuat sesuatu" tutur Bilal sok polos, ia menatap Asma dan tersenyum tanpa dosa, tentu itu membuat Asma semakin naik pitam.


"Emang Mas Bilal ngapain lagi?" Tanya Khadijah pada Asma. Asma menatap tajam pada Bilal seolah ingin mencekik nya.


"Dia..." Asma menjilat bibirnya yg tiba tiba saja terasa keyring "Dia engga ngapa ngapain" jawab Asma dengan satu tarikan nafas.


"Loh, terus kenapa kamu teriak?"


"Emm engga apa apa" jawab Asma. Khadijah yakin pasti ada apa apa, namun ia mencoba mengabaikan hal itu, karena sudah hal biasa sepasang suami istri itu berdebat dan menjadikan semua hal tampak seperti masalah.


"Ya udah, kalau kamu sudah selesai belajar, bantuin Mbak siapkan makan malam" Asma segera menyetujui ajakan kakak madu nya itu.


Asma berjalan keluar kamar bersama Khadijah, dan saat melewati Bilal yg masih bersender di pintu, Asma berjalan lebih cepat sambil melirik penuh antisipasi seolah ia melewati penculik yg akan menculiknya. Bilal sekuat tenaga menahan tawa dengan kelakuan istri kedua nya itu.


"Itu adalah hukuman dan hadiah mu, Sayang" gumam Bilal penuh kemenangan.


Bahkan saat makan malam Bilal masih terlihat senyum senyum sendiri, sementara Asma menatap tajam Bilal sembari menggigit paha ayam goreng dengan kasar, seolah Bilal lah yg ingin ia gigit.


.


.


.


Setelah menggosok gigi nya, Asma keluar dari kamar mandi, ia melihat Bilal yg sudah menunggu nya di ranjang. Asma tahu Bilal akan menarik nya lagi ke dalam pelukannya seperti malam malam yg biasa mereka lewati, tapi apa yg sudah Bilal lakukan tadi, membuat Asma merasa gugup jika harus dekat dekat dengan Bilal.


"Kenapa masih disana?" tanya Bilal yg melihat Asma masih berada di depan kamar mandi. Asma pun berjalan dengan pelan dan menatap waspada pada Bilal "Ada apa, Sayang? Kenapa melihat ku seperti melihat hantu begitu?" tanya Bilal sambil terkekeh mengingat reaksi Asma saat ia mencium bibir nya tadi.


"Dengar...!" Asma menatap Bilal dan wajah nya tampak sangat serius "Jangan lakukan itu lagi, ku mohon" ia berkata dengan suara rendah dan menatap penuh harap pada Bilal.


"Lakukan apa?" tanya Bilal sok polos


"Yg tadi kamu lakukan"


"Memang tadi aku melakukan apa?" Asma membuang nafas kasar dengan tingkah sok polos suami nya itu, ia pun duduk berhadapan dengan Bilal.


"Aku tahu hal seperti itu pasti terjadi antara suami istri, tapi masalah nya...aku...aku belum terbiasa, aku bahkan tidak pernah memeluk pria manapun selain Abi dan Kak Adil, jadi... " ucapan Asma terhenti saat ia melihat Bilal malah tersenyum geli "Aku serius" ucap Asma kemudian sambil memberengut.


"Sayang, kalau sampai kamu terbiasa dengan sentuhan dan pelukan apa lagi ciuman, dan kalau sampai ada pria lain yg memeluk mu, aku yakin Abi Rahman pasti sudah mematahkan kaki dan tangan mu" seru Bilal sambil cekikikan.


"Ya.. bukan itu maksud ku... aku..."


"Zahra..." kini raut wajah Bilal pun juga tampak serius, ia menggenggam tangan Asma dan mengecup punggung tangannya dengan mesra "Aku ingin hubungan kita sempurna, Sayang. Maaf jika terkadang aku membuat mu kesal, tapi percay sama aku, kita harus memberi jalan untuk hubungan kita, ya?" Asma tak bisa menjawab, namun hatinya membenarkan apa yg di katakan Bilal.


"Aku mencintai mu, Zahra. Aku benar benar mencintai mu, aku ingin hubungan kita sempurna sebagai suami istri, Sayang" Bilal berkata sepenuh hati. Bukan hanya bibirnya, mata nya pun memberi tahu hal yg sama.


▪️▪️▪️


Tbc.....