
Setelah kepulangan Khadijah dari rumah sakit, Bilal sangat senang begitu juga dengan Asma. Mereka akan menghabiskan waktu bersama lagi, namun Asma merasa Khadijah seperti mengambil waktu Bilal lebih banyak, bahkan saat seharusnya Bilal bermalam bersama Asma, Bilal masih harus mengurus Khadijah terlebih dulu. Asma mencoba mengerti keadaan Khadijah dan posisi Bilal, tak sedikitpun ia protes akan hal itu.
Karena hari ini Asma libur, Bilal pun ikut libur juga, ia ingin menghabiskan waktu lebih banyak dengan Zahra nya. Apa lagi Khadijah yg sudah merasa lebih baik dan ia mulai beraktifitas seperti biasa, dan hari ini seperti biasa ia mengikuti pengajian bersama Mila. Tentu itu kesempatan Bilal bisa berduaan dengan Asma.
Saat Bilal sedang sibuk dengan laptop nya, Bel rumah berbunyi, dan Bilal tahu bahwa yg datang adalah santri yg di suruh kakaknya untuk mengambil kitab dari nya.
Bilal segera turun membawa kitab itu, dan Asma pun ikut turun karena ia sudah bosan di kamar. Bi Mina sudah membuka pintu dan santri itu menunggu nya.
"Assalamualaikum, Ustdaz Bilal. Ustadz Mukhlis meminta saya mengambil kitab" seru santri itu.
"Waalaikum salam, ini kitab nya" saat Bilal menyerahkan kitab itu, ia menyadari perhatian santri itu tidak pada nya, Bilal pun mengikuti arah pandang pria itu, dan Bilal menggeram marah, bagaimana tidak? Santri itu memperhatikan Asma yg sedang berjalan sambil serius memainkan ponselnya, Asma hanya mengenakan piyama panjang dan hijab rumahan yg kecil dan bertelanjang kaki.
"Jaga mata mu, wahai anak muda!" desis Bilal menahan kesal "Apa lagi di rumah guru mu" santri itu langsung menundukkan pandangannya dan terlihat gugup.
"M...maaf, Ustadz" ucap nya dengan suara bergetar. Ia pun segera mengambil kitab nya dan setelah mengucapkan salam pada Bilal ia segera pergi.
"Zahra..." Panggil Bilal setelah menutup pintu, sementara Asma berada di ruang tengah sedang asyik memberi makan ikan ikan nya.
"Di sini..." teriak Asma. Bilal pun menghampiri nya dengan wajah yg terlihat marah.
"Kenapa kamu turun tadi?" tanya Bilal tiba tiba yg membuat Asma mengerutkan kening nya dalam.
"Maksud nya?" tanya nya dengan polos.
"Kenapa kamu turun tadi apa lagi dengan pakaian seperti itu?" Asma memperhatikan pakaian nya dan ia semakin bingung maksud Bilal, karena sehari hari dia memang berpakaian seperti itu saat berada di rumah nya.
"Memang nya kenapa? Biasanya aku memang berpakaian seperti ini kalau di rumah"
"Kalau gitu mulai sekarang kamu harus selalu memakai gamis, dan buang saja hijab kecil mu itu. Itu bahkan tidak menutupi seluruh dada mu" mulut Asma terbuka lebar dengan kemarahan Bilal yg tiba tiba dan sangat tidak jelas itu.
"Kenapa? Di rumah kan engga ada orang selain kamu, Mbak, dan Bi Mina"
"Lalu bagaimana jika tiba tiba ada tamu?"
"Apa aku pernah menemui tamu pria di sini? Bahkan saat tiba tiba sepupu Mbak Khadijah datang, aku pasti langsung pergi ke kamar" ucap Asma yg membuat Bilal terdiam, karena memang selama ini dia tidak pernah keluar kamar saat ada tamu pria, dan jika Hubab datang, ia juga segera pergi ke kamar nya dan tidak keluar sampai Hubab pergi. Bilal mengusap wajah nya dengan kasar, sekali lagi rasa cemburu menguasi hati nya.
"Kamu kenapa sih? Apa ada tamu tadi?" tanya Asma sedikit kesal karena Bilal memarahi nya tanpa alasan yg jelas.
"Hemmm" gumam Bilal malas "Santri tadi kesini, dia melihat mu"
"Astaghfirullah..." seru Asma "Dia pasti tidak sengaja melihat ku, dan aku juga engga tahu dia melihat ku. Lalu kamu marah marah engga jelas. Kamu nuduh aku tipe istri yg posesif, engga tahu nya kamu sendiri yg posesif, cemburuan, dasar..." gerutu Asma kemudian ia menghempaskan tubuh nya ke sofa dan menyalakan tv. Bilal menahan senyum dapat makian dari istri tercintanya itu, ini memang salah nya yg terlalu cemburuan, dan Asma sama sekali tidak salah dalam hal itu.
"Ya udah iya, aku yg salah, maaf ya" seru Bilal namun Asma tidak menanggapi nya "Sayang, di maafin kan?" tanya Bilal mesra sembari duduk begitu dekat dengan Asma.
"Jangan duduk di sini, aku mau rebahan" pinta Asma dengan nada ketus sembari berusaha mendorong Bilal menjauh, namun Bilal tak bergerak sedikit pun.
"Maafin dulu" goda nya
"Kamu selalu gitu, marah marah engga jelas, kemudian minta maaf, kamu kenapa sih sering banget bikin aku kesal, lama lama aku darah tinggi nih"
"Ya kamu juga jangan mudah kesal dong"
"Aku itu engga mudah kesal, tapi kamu selalu membuat aku kesal"
"Ya udah iya, aku salah. Aku engga akan buat kamu kesal lagi"
"Ya udah, sekarang geser ke sana, aku mau rebahan" pinta Asma sekali lagi.
"Letakkan kepala mu di sini" ucap Bilal meminta Asma meletakkan kepala nya di pangkuan nya.
"Engga mau" tolak Asma mentah mentah, namun seperti biasa, Bilal bisa memaksa nya dengan mudah.
"Posisi ini pasti lebih nyaman kan?" tanya Bilal setelah Asma meletakkan kepala nya di pangkuan nya .
"Biasa aja" jawab Asma sembari membenarkan posisi nya agar lebih nyaman, mendengar jawaban istri nya yg masih mencoba mempertahankan ego nya membuat Bilal hanya bisa menahan senyum.
Padahal ia bisa merasakan Asma mulai memiliki perasaan terhadapnya. Bahkan, tanpa Bilal harus menarik paksa Asma ke dalam pelukan nya, kini Asma dengan senang hati memeluknya.
.
.
.
"Jadi, kalian akan pergi ke singapore?" tanya Mila. Setelah dari pengajian, Mila dan Khadijah mampir di sebuah cafe dan mengobrol.
"Iya, kami hanya menunggu kabar dari Dokter Elyara"
"Berapa lama kalian disana?"
"Entahlah, Mil. Kenapa?"
"Engga apa apa, bagaimana dengan Asma jika kamu dan Bilal ke singapura"
"Mas Bilal bilang akan menitipkan Asma di rumah Ummi, kasian kalau cuma berdua sama Bi Mina di rumah. Kami bertiga juga sudah membicarakan itu"
"Hmm, lalu bagaiman dengan mu sekarang?" tanya Mila serius.
"Aku baik baik saja"
"Kamu tahu bukan itu yg aku tanyakan, Khadijah" Khadijah menarik nafas kemudian berkata
"Aku tahu aku sudah salah dengan membohongi Mas Bilal dan Asma. Aku juga engga akan mengulangi nya lagi, yapi saat ini aku memang sangat membutuhkan Mas Bilal berada di samping ku"
"Aku bisa mengerti, dan Asma juga butuh suami nya. Hanya itu yg harus kamu ingat"
"Asma baik baik saja, Mil. Dia bisa mengerti saat Mas Bilal sibuk mengurus ku"
"Itu bagus, dengan begitu aku harap kamu juga bisa mengerti saat Asma membutuhkan Bilal dan saat Bilal merindukan Asma. Mereka berdua mengerti keadaan mu, Khadijah. Kamu juga harus mengerti Bilal mencintai Asma dan pasti Bilal juga ingin menghabiskan banyak waktu bersama Asma" Khadijah hanya bisa menghela nafas dengan ceramah panjang lebar Mila yg memang sangat benar. Ia pun berusaha tak membiarkan dirinya bertindak egois lagi.
Khadijah memesan beberapa cake untuk Bilal dan Asma kemudian keduanya pulang naik taksi.
Sesampainya di rumah, Khadijah segera memanggil suami nya itu, namun saat berada di ruang keluarga, Bilal memberi isyarat agar Kahdijah tidak bersuara karena Asma yg tertidur di pangkuan nya.
"Dia baru saja tidur" Ucap Bilal setengah berbisik.
"Hmm maaf" seru Khadijah memelankan suara nya "Aku beli cake buat Mas Bilal sama Asma"
"Taruh aja di kulkas, nanti kami makan"
Khadijah teringat kata kata Mila, bahwa dia telah berbuat terlalu banyak dalam hidup Asma. Mila memang benar, itu semakin membuat Khadijah dilema. Sedikit rasa penyesalan terbersit dalam hati nya, seandainya ia tak meminta ayah Asma untuk menikahkan putri nya dengan suami nya, mungkin sekarang Bilal hanya fokus pada Khadijah seorang.
"Astaghfirullah, Khadijah. Apa yg kamu fikirkan?" gumam Khadijah pada dirinya sendiri. Ia mencoba mengingatkan dirinya kembali alasan ia meminta Bilal menikahi Asma, yaitu untuk kebahagiaan Bilal. Dan saat ini, Bilal benar benar bahagia memilik Asma.
.
.
.
Ke esokan harinya, Asma dengan cepat membereskan keperluan sekolah nya karena ia sudah terlambat. Namun saat hendak memasukan satu kitab nya ke dalam tas nya, tiba tiba Bilal merampas kitab nya.
"Sini in! Aku sudah terlambat" pinta Asma namun Bilal malah mengangkat tangan nya tinggi tinggi dan tidak membiarkan Asma meraih nya.
"Aku akan kasih, tapi dengan satu syarat" ucap Bilal.
"Syarat apa? Aku benar benar sudah terlambat"
"Panggil aku Mas Bilal "
"Huh?" seru Asma tak percaya dengan permintaan Bilal.
"Selama ini kamu selalu memanggil ku dengan kata 'kamu', dimana adab kamu sebagai seorang istri?" tanya Bilal yg membuat Asma menghela nafas berat.
"Aku bener bener sudah terlambat" Asma melompat berusaha meraih tangan Bilal, namun Bilal semakin meninggikan tangan nya, membuat Asma berdecak kesal.
"Panggil Mas Bilal dulu, nanti aku kasih"
"Engga mau" tolak Asma mentah mentah.
"Ya udah, ambil aja kalau bisa" seru Bilal.
"Aku engga mau bertengkar ya, siniin kitab ku" ucap Asma yg sudah mulai kesal.
"Minta nya yg sopan dong, Sayang" seru Bilal "Kamu itu santri, pasti tahu cara menghormati suami kan? Bilang gini 'Mas Bilal suami ku, sini in kitab ku ya' gitu" ucap Bilal yg membuat Asma bergidik ngeri. Apa lagi Bilal mencontohkan nya dengan nada yg sangat alay.
"Ih, engga mau" tolak nya "Lagian Ustadz macam apa kamu yg membuat santri nya datang terlambat ke sekolah" gerutu Asma.
Khadijah yg mendengar pembicaraan mereka pun segera mendatangi kamar Asma.
"Asma, kamu belum berangkat? Ini sudah siang lho"
"Kitab ku..." ucap Asma sambil menunjuk Bilal yg masih mengangkat kitab Asma dengan tangan nya.
"Mas, Asma sudah terlambat, nanti dia di marahin Ustadzah nya"
"Aku juga mau ke sekolah hari ini, kita berangkat pakek mobil biar cepat"
"Engga mau, kamu aja belum mandi" sela Asma karena memang Bilal belum mandi.
"Aku mandi cuma sebentar, Engga sampek 10 menit"
"Huh? Mandi apaan itu, jangan jangan kamu engga pakek sabun, ih jorok"
"Pakai lah, kalau engga percaya, ayo ikut! Biar aku buktiin" goda Bilal yg kembali membuat Asma menatap horor pada suami nya itu.
"Sudah bercanda nya, Mas. Kalau kamu mau ke sekolah ya cepetan sana mandi, kasian Asma nanti di marahin Ustadzah nya"
"Iya iya..." Seru Bilal kemudian memberikan kitab nya pada Asma. Sebelum masuk ke kamar mandi nya, Bilal sempat berbisik pada Asma dengan nakal "Suami mu mau mandi, mau ikut engga?"
"Ufff, mesum" ucap Asma
.
.
.
Benar saja, Asma benar benar sangat terlambat, Ia segera berlari ke kelas nya, mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Ustadzah nya tidak marah apa lagi menghukum nya, ia mempersilahkan Asma masuk dan mengikuti pelajaran. Namun tanpa sengaja Asma mendengar teman nya yg ada di belakangnya berbisik.
"Kalau santri lain yg terlambat pasti langsung di suruh berdiri di luar"
Asma pun segera berdiri.
"Ustadzah..." panggilnya.
"Ada apa, Neng Asma?"
"Karena saya terlambat, saya akan berdiri di luar kelas" ucap Asma yg membuat semua orang memperhatikan nya.
"Asma..." bisik Nora "Ustadzah kan engga menghukum kamu" Namun Asma tak memperdulikan nya.
"Tidak apa apa, Neng Asma. Kamu boleh mengikuti pelajaran di kelas" ucap Ustadzah itu.
"Bukankah santri yg terlambat harus di hukum?" tanya Asma, Ustadzah nya menatap Asma dengan rasa bangga, karena Asma tak mengambil kesempatan dari status nya sebagai istri Bilal.
"Ya, benar. Kalau begitu kamu harus berdiri di luar sampai pelajaran ku selesai" Asma pun segera keluar sambil membawa kitab nya.
Sementara Bilal saat ini sedang berbincang dengan Ummi nya, dan saat melewati halaman sekolah, tanpa sengaja Ummi nya melihat Asma yg berdiri di luar kelas.
"Bilal, kenapa Asma berdiri di luar?" Bilal pun mengikuti arah pandang ibunya itu. Dan bukannya terkejut atau marah karena istri nya yg berdiri di luar, Bilal malah tertawa kecil, Apa lagi saat tanpa sengaja Asma juga menatap nya, Bilal malah membalas tatapan Asma seolah mengejek nya karena kena hukuman. Tentu itu membuat Asma menatap nya tajam dan penuh dendam.
" Dia terlambat Ummi" Jawab Bilal
"Tapi Ummi engga mau dia berdiri di luar, kasian dia. Ummi akan meminta Ustadzah nya untuk tidak menghukum menantu Ummi" ucap ibu Bilal hendak pergi namun Bilal mencegahnya.
"Jangan, Ummi. Di sekolah Asma itu santri, sama seperti yg lainnya jika terlambat ya harus di hukum"
"Tapi kenapa dia menatap mu seolah marah sama kamu, apa kalian bertengkar?"
"Hehe, sebenarnya aku yg membuat nya datang terlambat" ucap Bilal.
▪️▪️▪️
Tbc...