
Mukhlis, Dini dan juga Khadijah hanya bisa berdoa dan berharap Bilal baik baik saja. Sementara Dokter menangani Bilal di ruang UGD.
Khadijah tak henti-hentinya menangis apa lagi saat melihat tubuh Bilal yg berlumuran darah.
Setelah beberapa jam menunggu, akhirnya Dokter keluar dari ruang operasi.
"Dokter... Adikku, bagaimana keadaan adikku?" tanya Mukhlis dengan sangat khawatir.
"Dia mengalami cedera di kepalanya,Tubuh nya pun mengalami lumpuh sementara karena shock. Selain itu, ia mengalami patah tulang di kaki kirinya. Tapi kabar baiknya, otaknya masih berfungsi dan bisa merespons. Saya harap kalian bisa memberikan dorongan padanya supaya dia mau berjuang dan segera sadar "
"Ya Allah...." Seru Mukhlis mencoba menenangkan hatinya.
"Apa Zahra ada di sini?" Tanya Dokter itu. "Pasien terus menggumamkan nama Zahra sebelum operasi" lanjutnya.
"Zahra istrinya, Dokter" jawab Khadijah sembari mengusap air matanya "Tapi saat ini Zahra tidak ada di sini"
"Keberadaan Zahra bisa sangat membantu pemulihan nya. Dia bisa mendengar kalian, ajaklah dia bicara, dan tolong bawa istri nya kesini. Itu bisa jadi dorongan kuat untuk nya "
Mukhlis tertunduk sedih. Ia bahkan tidak tahu Asma pergi dari rumah Bilal.
"Sebenarnya apa yg terjadi? Kenapa Asma meninggalkan suaminya?" Gumam Mukhlis setelah Dokter pergi.
"Itu...itu salah ku" jawab Khadijah.
"Maksud mu?"
Khadijah menceritakan semua nya, ia tak ingin lagi menutupi apapun, ia juga memberi tahu Mukhlis dan Dini, sebelum Bilal kecelakaan mereka bertengkar, atau lebih tepatnya, Bilal meluapkan emosi nya. Bilal pasti menyetir dalam keadaan emosi.
Dini dan Mukhlis terlihat sangat terkejut dan juga kecewa pada Khadijah. Mereka tidak menyangka dengan kenyataan itu.
"Kamu tahu suami mu sangat menginginkan anak, bagiamana bisa kamu....." Mukhlis bahkan tak tahu lagi harus berkata apa. Tampak sangat jelas di matanya betapa ia kecewa pada adik iparnya ini.
"Mas..." Dini memegang pundak suaminya "Ini bukan saat nya untuk membicarakan hal itu, sebaiknya kita fokus pada pemilihan Bilal. Dan kita harus menjemput Asma"
"Engga..." jawab Mukhlis "Aku malu menghadapai keluarga Asma, mereka sudah sangat berbaik hati menyerahkan putri kecil mereka pada Khadijah dan Bilal, berharap Asma bisa membawa kebahagiaan pada Bilal. tapi rupanya... Justru Asma di perlakukan tidak adil. Gadis itu masih remaja, Din. Dia tidak tahu apa apa." Mukhlis berkata sambil melirik Khadijah dari ekor matanya.
"Tapi Bilal membutuhkan Asma saat ini"
"Aku engga tahu apa yg harus lakukan, Din. Abi sendiri yg melamar Asma pada Paman Rahman. Aku merasa malu pada mereka."
"Ummi dan Abi akan segera pulang, semoga mereka bisa membantu" tutur Dini. Ia juga sangat kecewa pada Khadijah. Tapi semua sudah terjadi, menyalahkan Khadijah pun sudah tak ada gunanya.
.
.
.
Sementara itu, Asma mengerang kesal karena Adil menarik selimut nya dan memaksa nya bangun dari tempat tidur nya.
"Cepetan bangun, Dek." Perintah Adil
"Apasih, Kak. Asma masih ngantuk" gerutu Asma.
"Cepat pergi mandi, kita akan pergi menjemput Lita"
"Ke pesantren?"
"Iya"
"Tapi kan belum liburan, Kak. malah Sekarang harusnya Lita ujian kan?"
"Iya, hari ini ujian terakhir nya. Kita akan membawa nya pulang setelah Lita menyelesaikan ujian nya" Adil membuka horden kamar Asma dan seketika cahaya matahari menyeruak dan menyinari kamar Asma.
"Tapi kenapa?" tanya Asma yg kembali bergelut dengan selimutnya.
"Karena..." Adil mengambil pakaian Asma dari lemari dan hal itu mengingatkan Asma pada Bilal yg pernah melakukan hal yg sama, "Saudari Lita sedang sekarat, jadi akan ku katakan pada pengurus pondoknya supaya Lita di izinkan pulang untuk menemani saudari nya. Sekarang cepatlah mandi dan ganti pakaian mu"
"Siapa?" tanya Asma terkejut dan ia pun langsung duduk tegak "Marwah baik baik aja kan? Arini, apa Arini sakit?"
"Kamu" jawab Adil sambil mengetuk pelipis Asma dengan jari nya "Kamu yg sekarat, di siang hari melamun, di malam hari menangis. Ya Allah, Dek..." Adil menepuk nepuk pipi Asma yg semakin hari semakin tirus "Pipi sudah tinggal tulang kayak pipi nya nenek nenek. Mata udah kayak mata panda"
Asma mencebikan bibir nya "Kata kata itu doa lho, Kak. Kak Adil mau Asma sekarat"
"Bukan Kakak yg mau, tapi coba bercermin, Dek. Kamu sudah kayak mayat hidup aja"
Asma berdecak kesal, kemudian ia turun dari ranjang nya dan bergegas ke kamar mandi.
.
.
.
Adil sudah sampai di pesantren Lita, dia pun mengurus kepulangan Lita yg untung saja, salah satu putra kiai disana adalah teman nya, sehingga sangat mudah bagi Adil untuk membawa Lita pulang sebelum waktunya.
Asma yg memasuki area pesantren seketika langsung merindukan sekolah nya sendiri dan juga suami nya. Suasana di pesantren mengingatkan ia pada Nora dan Imel, dan yg pasti Bilal.
Lita langsung berlari dan berpelukan dengan Asma. Di sana, Yasmin dan Fatimah juga ikut menjemput Lita.
"Hem Nona Asma, kok jelek banget sih. kurus kayak tengkorak. Pipinya kemana?. Ketinggalan di jakarta ya?" celetuk Lita yg membuat Asma memberengut.
"Lagi diet aja, soalnya baju ku kekecilan kalau gemuk" jawab Asma asal.
Setelah memeluk Asma, Lita mencium gemas pipi tembem Yasmin. Sudah berbulan bulan ia berpisah dengan keponakannya itu dan ia sangat merindukan nya. Di satu sisi Lita senang karena bisa pulang lebih cepat, tapi di sisi lain, ia sedih dengan keadaan sepupu nya itu, Lita masih tidak tahu apa yg sebenarnya terjadi, karena baik Adil maupun Asma tak memberi tahunya. Adil hanya mengatakan Asma sedang ada masalah dan membutuhkan Lita untuk menemani nya.
Setelah Adil selesai mengurus kepulangan Lita, mereka pun segera meninggalkan pesantren.
Di sepanjang perjalanan, Lita terus mengecoh menceritakan tentang kehidupan nya di pesantren, Fatimah dan Adil pun ikut berbgai cerita mereka saat di pesantren masing masing. Yasmin juga bergabung dengan obrolan mereka, walaupun kadang apa yg di ucapkan Yasmin tidak mereka mengerti dan akhrinya menjadi bahan tertwaan bersama.
Namun Asma yg malang seolah tak mendengar apapun, akhir akhir ini ia terus memikirkan suaminya dan sering memimpikan nya seolah suaminya itu memanggil diri nya.
"Abi, Yasmin lapar" Seru Yasmin dengan suara cempreng nya.
"Oke, di depan sana ada rumah makan, ayam goreng nya enak banget"
"Yasmin suka ayam goreng" Celetuk Yasmin kegirangan.
Adil pun sampai di rumah makan yg ia maksud, Adil langsung memarkirkan mobil nya dan ia mengajak mereka turun. Asma nurut saja dan ia masih dengan wajah murung nya.
Dan tanpa sengaja, Asma melihat sepasang suami istri yg tampak bahagia, dan terlihat wanita itu sedang hamil besar dan ia makan dengan lahap, Asma melihat suami wanita itu yg membersihkan sisa makanan di bibir istri nya. Tentu hal itu kembali mengingatkan ia pada Bilal.
Betapa besar rindu di hatinya pada suaminya.
"Dek..." Asma gelagapan saat Adil tiba tiba Adil menepuk pundak nya. "Kamu mau pesan apa?" tanya Adil.
"Apa saja" jawab Asma dan sekali lagi tanpa sadar ia meneteskan air mata. Ternyata sesakit ini berpisah dengan orang yg di cintai. Seperti terpisah dari anggota tubuhnya, perih dan sakit.
"Tante nangis terus, nanti habis lho air mata nya" Yasmin berkata dengan suara nyaring dan itu menarik perhatian orang di sekitar nya, Yasmin menghapus air mata Asma dengan tangan kecil nya, yg justru membuat Asma semakin sedih namun ia berusaha menyunggingkan senyum apa lagi orang orang menatap nya.
"Iya juga ya, nanti kalau air mata Tante habis gimana dong" seru Asma menahan tangis nya. Lita yg melihat sahabat nya itu bersedih sungguh tak tega. Dulu ia juga melihat kesedihan di mata Asma saat Bilal membawa nya, tapi sekarang ia melihat kesedihan yg jauh lebih besar karena Bilal tak bersama nya.
"Asma... udah dong sedih nya. Kalau masih sedih, aku balik lagi neh ke pesantren" Ucap Lita, namun tiba tiba Asma tertawa kecil.
"Padahal aslinya kamu senang kan karena pulang lebih cepat" Dan Lita hanya cengengesan, karena memang benar ia senang pulang lebih awal dari waktu yg di tentukan.
Lita terus berusaha menggoda saudarinya itu dan seperti dugaan Adil, Lita pasti bisa membawa senyum Asma kembali. Itulah alasan Adil menjemput Lita. Asma butuh sahabatnya saat ini, sahabat yg bisa mengerti perasaan nya sebagai sesama remaja, dan orang itu hanyalah Lita. Yg memang selalu ada buat Asma sejak mereka kecil.
.
.
.
Saat Shofia mendengar kakaknya kecelakaan dan Asma meninggalkannya, Shofia ngotot mau ikut pulang, ia khawatir dengan kakaknya, dan juga khawatir dengan Asma. apa lagi usia mereka yg hanya selisih dua tahun membuat Shofia bisa mengerti emosi Asma dan merasakan ada ikatan juga dengan istri kakaknya itu.
Dan betapa kecewanya Ummi Mufar dan Abi Khalil saat mendengar pengakuan Khadijah yg menyebabkan kepergian Asma, apa lagi pertengkaran nya yg berakhir dengan kecelakaan Bilal.
Ummi Mufar bahkan hampir menampar Khadijah saking kecewa nya dia, tapi untunglah ada Shofia yg mencegah hal itu.
Bagiamana mungkin Ibu mertuanya itu tidak kecewa, dia sangat mencintai Khadijah seperti ia mencintai Shofia. Ia bahkan secara terang terangan meminta anak Asma pada Bilal untuk di berikan pada Khadijah. Tapi apa yg Khadijah lakukan pada Bilal dan Asma?
"Kondisi pasien perlahan mulai stabil, tapi dia harus terus menerus di dorong supaya ia segera sadar" Ucap sang Dokter setelah memeriksa Bilal.
Sudah lima hari Bilal koma, membuat Ibu nya sangat sedih.
"Apa lagi yg harus kami lakukan supaya putra ku sadar, Dok?. Kami semua ada disini, mendoakan nya dan mendukung nya"
"Jangan menyerah, Nyonya. Pak Bilal merespon setiap obat yg kami berikan pada nya, dia juga berjuang untuk hidupnya. Dia pasti akan segera sadar"
Sementara itu, Shofia menghampiri Khadijah yg saat ini ada didepan kamar Bilal.
"Mbak sebaiknya pulang, Mbak juga harus jaga kondisi, biar engga drop juga"
"Aku mau nungguin Mas Bilal sadar, aku cuma mau minta maaf"
"Kak Bilal pasti sudah maafin Mbak. Begitu juga Asma"
"Tapi kesalahan ku sangat fatal, aku bahkan engga bisa memaafkan diri ku sendiri"
"Menyesali suatu kesalahan itu harus, tapi tenggelam dalam penyesalan itu engga boleh. Semua orang berhak mendapatkan kesempatan kedua. Kak Bilal juga sangat mencintai mu, Mbak. Dia mungkin marah tapi engga mungkin benci sama, Mbak" Khadijah tersenyum haru karena masih mendapatkan dukungan dari Shofia.
"Terimakasih, Shofia" Ucap Khadijah sambil memeluk Shofia.
Ummi Mufar memutusakan untuk menjemput Asma, Ia akan meminta maaf pada Asma dan keluarga nya atas nama Bilal dan Khadijah.
Mendengar hal itu, tentu saja Khadijah sangat sedih dan malu.
Tapi Mukhlis dan semua orang menyetujui ide itu.
"Itu demi kesembuhan Bilal, aku yakin jika Asma ada disini, Bilal pasti akan segera sadar dan pulih" Seru Ummi Mufar. "
Sementara Shofia, entah kenapa ia memiliki pemikiran yg berbeda. Ia menatap kakaknya lekat lekat.
"Ummi, apa benar kata Dokter kalau kakak bisa mendengar kita?" tanya Shofia.
"Iya, Shofia"
Shofia duduk di samping kakaknya, ia mendekatkan wajahnya ke wajah Bilal dan ia berbisik untuk mengecek kebenaran itu
"Kak, Kakak bisa mendengar Shofia?. Shofia cuma mau kasih tahu, wajah Kakak sudah jelek, ada bekas jahitan di rahang kakak. Ckckck, kalau Asma liat muka kakak, kira kira dia masih cinta engga ya sama Kakak?"
"Apa yg kamu katakan, Shofia?" tanya Ummi nya penasaran.
"Sebuah dorongan supaya pria tua ini bangun" seru Shofia sambil tersenyum geli dan membuat Ummi nya kesal.
"Kita semua khawatir dengan keadaan Bilal, kamu malah tersenyum. Ini bukan waktunya bercanda" tegur Ummi nya setengah marah.
"Lihat monitor itu, saat Shofia bicara, kakak merespon, detak jantung nya meningkat, Ummi"
Ummi Mufar tentu tidak percaya dengan apa yg di katakan Shofia, hingga seorang suster datang untuk memberikan obat pada Bilal dengan menyuntikan nya pada infus nya.
Dan saat dokter memeriksa monitar itu, ia tersenyum.
"Detak jantungnya semakin meningkat "Seru suster itu. "Jika kemajuan ini terus berlanjut, maka detak jantung pasien akan segera stabil."
Ummi Mufar menganga tak percaya, namun ia juga senang. begitu juga Mukhlis, Khadijah dan yg lain nya.
"Shofia, apa yg sudah kamu katakan pada kakak mu?" Desak sang Ibu.
"Rahasia" jawab Shofia dengan enteng nya. "Sekarang Shofia mau pulang sama Mbak Khadijah."
Ummi Mufar menatap Shofia penuh selidik, putri bungsu nya ini terkadang sedikit jahil, ia takut Shofia mengatakan hal yg tidak tidak pada Bilal, tapi suster mengatakan detak jantung Bilal semakin naik. Tentu itu kabar baik.
"Besok Ummi akan menjemput Asma" Ucap Mufar.
"Tapi apa yg akan Ummi katakan pada Asma dan kedua orang tuanya?" Mukhlis bertanya.
"Entahlah,Nak. Sudah hampir satu Minggu Bilal koma, dan Asma tidak tahu hal ini, dia dan keluarga nya pasti sangat marah dan kecewa, hingga mereka tidak menghubungi Bilal sama sekali"
.
.
.
Asma bergerak gelisah dalam tidurnya, keringat dingin kembali mengucur dari kening nya. Dan bibirnya lagi dan lagi menggumamkan nama Bilal, hingga ia terbangun dengan nafas yg tersengal.
Asma mengusap wajahnya. Lagi lagi ia memimpikan Bilal.
Sampai saat ini, ia masih menunggu telepon Bilal, apa lagi saat Adil mengatakan Bilal telah menemukan ponsel Asma dan akan mengantar nya, Asma tidak mau Bilal mengantar nya karena ia masih tidak ingin bertemu Bilal.
Saat itu, Adil mencoba menelpon Bilal untuk mengatakan bahwa Asma hanya ingin ponselnya di kirim saja. Tapi ponsel Bilal tidak aktif.
Asma pergi ke kamar mandi dan segera mencuci wajahnya.
Setelah itu, ia mencari kakaknya.
"Adil di sekolah, Nak. ada apa?" tanya Ummi Mufar setelah Asma menanyakan keberadaan Adil.
"Engga ada apa apa, Asma ke sekolah sebentar ya"
Asma menyusul Adil ke sekolah nya, dan karena saat ini masih di jam belajar, Adil pun sedang sibuk mengajar di salah satu kelas.
Asma menunggu Adil hingga ia selesai mengajar.
"Ada apa, Asma?" tanya Adil karena melihat Asma berdiri sejak tadi di depan kelas nya.
"Kak, apa Bilal sudah menelpon kakak?. Kapan dia akan mengirim ponsel ku?"
"Belum" jawab Adil, ia pun mengeluarkan ponselnya dari saku nya. "Ini, cobalah telepon dia" Namun Asma menggeleng.
"Kakak saja yg telpon" Adil pun segera mencari kontak Bilal dan memanggil nya, namun ia mengernyit karena lagi dan lagi ponsel Bilal tidak aktif. Adil juga menelpon ke ponsel Asma, tapi juga tidak aktif.
"Ponsel nya engga aktif, ponselmu juga" seru Adil yg membuat Asma mendesah kecewa. "Apa sebaiknya kita telpon orang lain, kakak nya mungkin?" saran Adil.
"Jangan" jawab Asma. Sebenarnya ia penasaran kemana Bilal sebenarnya. Kenapa ia menghilang seperti di telan bumi.
"Dek, bagiamana kalau.... terjadi sesuatu pada Bilal?. karena ponselnya sudah berhari-hari enggak aktif"
Sesaat, Asma memikirkan hal yg sama, namun kemudian ia menggeleng.
"Jika terjadi sesuatu pada nya, seharusnya aku di beri tahu, karena aku masih istrinya" ucap Asma sedih. "Mungkin dia...." Asma menghela nafas berat "Dia mengikuti apa yg aku minta, yaitu tidak menunggu ku."
▪️▪️▪️
TBC....