
Mukhlis mengantar Asma pulang kerumah Bilal, karena Asma merasa tidak tega jika harus langsung meninggal kan Bi Mina sendirian.
Sesampainya dirumah, ia mendapati Bi Mina yg sedang bersih bersih rumah.
"Bi Mina istirhat aja kalau capek, engga ada orang juga dirumah" Ucap Asma sembari merebahkan diri nya di sofa. Dan ia merasa seperti ada sesuatu yg hilang dalam hidupnya, Bi Mina yg melihat Asma tampak murung pun segera menghentikan aktifitasnya dan menghampiri Nyonya muda nya itu.
"Neng Asma kenapa?"tanya nya
"Entahlah, Bi. Seperti...rumah jadi sepi ya" ucap Asma, Bi Mina hanya menanggapi nya dengan senyuman.
"Iya, kalau Neng Asma mau ke pesantren engga apa apa. Di sana kan banyak orang, jadi Neng Asma engga kesepian"
"Terus Bi Mina gimana?" tanya Asma
"Bibi mah sudah biasa Neng di tinggal sendiri dirumah"
"Ya udah deh, aku mau ambil barang ku dulu" ucap Asma sembari menghembuskan nafas kasar.
Di kamarnya, Asma menatap ranjang nya yg belum di rapikan, ia duduk di sisi dimana Bilal tidur tadi malam.
"Belum sehari, masak udah kangen" gumam Asma heran dengan dirinya sendiri. Kemudian Asma mengambil tas nya dan memasukan beberapa barang miliknya, tak lupa juga laptop dan ponsel nya. Dan terakhir, ia mengambil jaket Bilal yg malam itu di kenakan saat menunggu Asma di luar asrama.
"Bi..." teriak Asma sambil berjalan menuruni tangga, dan secepat kilat Bi Mina datang menghampiri nya.
"Iya, Neng"
"Asma ke rumah Ummi dulu ya, nanti Asma pasti sering pulang kesini kok. Oh ya, jagain ikan ikan Asma, ya Bi" tutur Asma.
"Iya, Neng. Mau Bibi antar?"
"Engga usah, Bibi istirahat aja. Jangan lupa makan, engga usah kerja terus kali, Bi. Toh di rumah engga ada siapa siapa" ucap Asma yg membuat Bi Mina terkikik.
"Ya kalau engga kerja bosan toh, Neng Asma"
"Ya udah, terserah Bibi aja. Nanti kalau duit belanja nya habis, bilang sama Asma ya"
"Iya, Neng"
"Ya udah, Asma pergi dulu"
Bi Mina mengantar Asma hingga pintu depan, kemudian ia kembali ke dalam untuk melanjutkan pekerjaan nya.
.
.
.
Sesampai nya dirumah mertua nya, Asma langsung di sambut Dini dan juga dua keponakan Bilal. Mereka sempat bermain sebentar, kemudian Asma memutuskan untuk pergi ke kamar Bilal. Ia mengeluarkan beberpa lembar baju yg dia bawa kemudian menggantung nya di lemari Bilal, ia juga meletakan buku buku pelajaran nya di meja Bilal.
Kemudian Asma membuka ponselnya dan ada banyak pesan masuk dari saudara saudara nya dan juga dua sepupu nya, Arini dan Marwah. mereka mengatakan Lita menelpon dan menanyakan Asma.
Asma tersenyum mengingat kembali masa masa di desa nya yg sangat menyenangkan. Di sana tak pernah sekalipun Asma merasa kesepian, dan Asma merindukan masa masa itu.
.
.
.
"Gimana rasanya berpisah dengan suami, Bu?" goda Nora saat Asma memasuki kelasnya.
"Hmm lega" jawab Asma dengan senyum lebarnya dan itu membuat Nora juga tertawa.
"Hmm bohong, pasti berat kan?" hati Asma membenarkan itu, namun ia tetap tak mengakui nya seperti biasa.
Asma mencoba menjalani hari sebagai santri yg dia impikan selama ini, namun entah kenapa itu tak seindah yg dia bayangkan, karena dia sudah terbiasa menjadi seorang istri dari Bilal.
Saat jam istirahat, seperti biasa Asma dan kedua temannya itu berkumpul.
Dan Nora menjuluki kedua temannya itu istri yg terpisah dari suami. Membuat Asma dan Imel tertawa geli.
Setelah jam pelajaran usai, Asma segera kembali ke kamar Bilal yg sekarang sudah menjadi tempat tinggalnya, Asma langsung merebahkan dirinya ke ranjang dan mendesah. Sehari tanpa Bilal, entah kenapa ia merasa sangat kehilangan.
"Oh ayolah Asma, nanti juga terbiasa tanpa dia, lagi pula memang ini kan yg kamu mau?" Asma berkata pada dirinya sendiri sembari menepuk nepuk pipi nya.
Karena merasa lelah dengan aktifitas nya, Asma pun merasa ngantuk dan hampir saja tertidur seandainya ponselnya tidak berdering dan mengagetkan nya, Asma yg berharap itu adalah Bilal dengan antusias mencari ponsel dalam tas nya. Namun ia mendesah lesu karena yg menelpon bukan Bilal.
"Ya, Mbak..." ucapnya setelah menjawab panggilan itu.
"Gimana keadaan mu, Dek?" terdengar suara merdu Aisyah dari seberang telpon.
"Asma baik baik aja, ini lagi di kamar"
"Kamar rumah mu atau rumah mertua mu?"
"Rumah mertua"
"Hmm baguslah, memang sebaiknya kamu tinggal di sana sampai Bilal pulang, Ummi mengkhawatirkan mu kalau engga ada Bilal di sana"
"Bilangin Ummi, Asma baik baik aja. Semua orang disini baik sama Asma, Asma juga punya banyak teman di sini, Ummi Mufar juga perhatian sama Asma, sering buatin puding kesukaan Asma" Asma berkata dengan senyum lebar.
"Syukurlah, tapi kamu juga harus jadi menantu yg baik, mungkin kamu bisa membantu ibu mertuamu melakukan sesuatu atau melakukan pekerjaan dapur"
"Engga ada waktu, siang sekolah, malam sudah capek dan istirhat " jawab Asma yg pasti membuat Aisyah geleng geleng kepala disana.
"Ya Allah , Asma. Engga juga berubah ya, sekarang kamu itu istri dan juga menantu, jangan manja manjaan"
"Iya... iya.. nanti Asma belajar" seru Asma malas "Ya udah, nanti Asma telpon lagi ya, Asma ngantuk"
"Ya udah, jaga diri ya"
"Iya, Kak. Salam buat Ummi dan Abi, bilangin Asma baik baik aja"
"Iya"
Asma pun memutuskan sambungan telepon nya dan ia ingin kembali tidur, namun tiba tiba ada pesan masuk di ponselnya, Asma pun memeriksa nya. Wajah Asma langsung berseri seri membaca pesan itu yg tak lain dari suami nya.
^^^My Ustadz My Husband^^^
^^^'Sayang, Gimana kabar kamu? Maaf ya belum bisa telpon karena aku masih sangat sibuk di sini, tapi aku sangat merindukan mu. Apa kamu juga merindukan ku?'^^^
Asma pun dengan antusias menulis pesan balasan untuk suami nya itu..
"Ah jangan, nanti dia besar kepala" gumam Asma kemudian ia menghapus pesan itu dan menulis dengan kata kata yg lain
'Tapi aku engga kangen'
Asma sudah hampir mengirim pesan itu namun ia mengurungkan niat nya dan menghapus nya.
"Nanti dia tersinggung" gumam nya lagi pada dirinya, kemudia ia pun menulis lagi.
Me
'Aku belum kangen'
Dan ia menekan tombol send. Pesan sudah masuk, tapi Bilal belum membaca nya, Asma dengan tidak sabar menanti balasan Bilal, namun setelah beberapa menit, Bilal tak kunjung membalas pesan nya. Membuat Asma merasa kesal, ia pun tak jadi tidur dan langsung bergegas mandi.
.
.
.
Setelah sholat isya, Asma kembali ke kamarnya dan ia enggan mengikuti aktifitas santri yg lain, karena Bilal tak kunjung membalas pesannya sampai sekarang, entah kenapa itu seperti mematahkan semangat Asma.
Ia pun memilih tidur supaya tidak terus terusan memikirkan Bilal. Namun sekali lagi, notifikasi ponselnya menganggu nya, Asma tak mau berharap itu adalah Bilal yg membalas pesannya, karena jika ternyata memang bukan Bilal, itu membuat Asma semakin galau.
Saat ia membuka ponselnya, senyum lebar mengembang di bibir nya, itu memang kekasih hati nya. Asma pun segera membaca pesan Bilal
^^^My Ustadz My Husband^^^
^^^'BELUM artinya AKAN, Sayang. Aku pastikan kamu akan segera merindukan ku sehingga kau akan menangis menahan rindu itu'^^^
Asma mencebikan bibir nya membaca pesan Bilal yg besar kepala itu.
Me
'Aku sibuk dengan teman teman ku dan juga belajar, aku juga sering bermain bersama Rayhan dan Laila. Jadi engga ada waktu merindukan mu".
^^^My Ustadz My Husband ^^^
^^^'Selain pintar menggoda, pintar berbohong juga ya. Aku tahu kamu pasti sibuk dengan mereka, tapi aku yakin hanya raga mu aja yg sibuk, hati dan fikiran mu pasti hanya di penuhi suami mu yg tampan ini.^^^
"Suka benar neh orang kalau ngomong" Gumam Asma sembari menulis pesan balasan.
Me
'Kata siapa kamu tampan?'
^^^My Ustadz My Husband ^^^
^^^'Kata Abi dan Ummi, dan kamu mengakui nya kalau aku memang tampan'^^^
Me
'Kapan aku mengakui kamu tampan?'
^^^My Ustadz My Husband^^^
^^^'Sejak pertama kali kita bertemu, Kamu memanggil ku Ustadz tampan'^^^
Asma teringat kembali moment pertemuan mereka dan saat itu Asma bingung karena Bilal memanggil nya Zahra, sementara Bilal bingung karena Asma terus memanggil nya Ustadz tampan. Asma tersenyum mengingat masa masa kebersamaan nya dengan Bilal sebagai guru dan murid. Pantas saja Bilal bertindak seolah punya hak penuh pada Asma saat itu, ternyata suaminya, fikir Asma. Kemudian Asma kembali menulis pesan balasan untuk Bilal.
Me
'Waktu itu pasti mata ku kelilipan, jadinya engga melihat wajah mu dengan jelas'
Asma menunggu Bilal membalas pesannya dengan tak sabar.
Satu menit
Dua menit
Tiga menit
Belum juga ada balasan, Asma yg tadi sudah bahagia dan berbunga bunga, kini kembali mendesah lesu lagi.
"Pasti sibuk ngurus istri pertama nya, uggghhh" gumam Asma dan ia tak jadi tidur di kamar Bilal, ia pun memutuskan untuk tidur bersamaNora.
Asma pergi ke kamar ibu mertua nya untuk mengatakan kalau dia akan tidur di kamar Nora.
ibu mertua nya itu mengizinkan dan membawakan selimut tebal juga bantal.
"Oh ya, ini juga ada kue, berikan pada teman teman mu ya" ucap Ummi nya sembari memberikan beberapa kotak kue kering, Asma pun tampak senang dan langsung menerima nya.
"Makasih, Ummi. Mereka pasti senang" ucap Asma.
Asma pun pergi ke kamar Nora dan teman teman nya itu menyambut Asma dengan girang.
"Ah, katanya engga mau tidur di sini" goda Nora karena saat Nora mengajaknya tidur di kamar nya, Asma menolaknya.
"Bosan sendirian di kamar"
"Ya iya lah bosan, Neng Asma. Wong biasanya tidur bersama kekasih hatinya" goda Imel yg membuat Asma mengulum senyum.
"Engga usah banyak bicara, nih cepetan ambil kue nya, di kasih Ummi buat kalian semua" ucap Asma. Mereka pun dengan antusias mengambil kue itu, kemudian Asma meletakkan bantal dan selimut nya di sisi tempat tidur Nora.
"Asma..." Imel menghampiri Asma dan duduk di samping nya "Aku yakin kamu engga pernah tidur di lantai kan?" tanya Imel. Asma hanya tersenyum dan tak menjawab nya, karena dia memang tidak pernah tidur di lantai.
"Santri harus terbiasa tidur di lantai, kalau tidur di kasur yg empuk ya nanti engga bangun bangun buat sholat tahajud" sambung Nora yg membuat Asma tertawa.
"Tapi kenapa kamu nanya gitu sama Asma, Mel?" lanjut Nora.
"Aku kasian aja liat Asma tidur di lantai kayak kita. Di rumah Ustadz Bilal dia pasti tidur di ranjang yg empuk"
"Engga apa apa kok" jawab Asma "Justru aku senang di sini, benar benar merasa seperti santri normal" Imel dan yg lainnya tertawa.
Kemudian mereka semua mengobrol hingga larut malam dan akhirnya tertidur dengan posisi yg sudah amburadul
▪️▪️▪️
Tbc...