
Hanya sehari setelah nya, Kabar kehamilan Asma kini menjadi tranding topik di lingkungan pesantren dan sekitarnya, dari kalangan santri maupun Ustadz Ustadzah membicarakan hal itu, apa lagi mengingat Bilal yg sudah menikah sejak 10 tahun yg lalu namun belum di karuniai anak. Bahkan, kerabat Bilal yg ada di luar kota maupun luar negeri juga tahu kabar itu, dan mereka semua memberikan ucapan selamat.
Shofia yg mendengar kabar kehamilan istri kakaknya itu pun sangat bahagia dan langsung menghubungi Asma untuk memberikan selamat dan memberikan doa nya, begitu juga dengan keluarga suami Shofia.
Keluarga Bilal mengadakan syukuran besar besaran atas kehamilan Asma, Bahkan ayah dan ibu Bilal memberikan sumbangan atas nama Asma dan anak nya pada beberpa panti asuhan baik berupa uang ataupun fasilitas. Dan Bilal yg sangat ingin anaknya menjadi seorang Hafidz menyumbangkan banyak Al Quran pada beberapa pesantren Tahfidz.
Asma sama sekali tak menyangka, kehamilan nya bisa membawa kebahagiaan yg sangat besar untuk semua orang dan ada begitu banyak orang yg mendoakannya. Bahkan teman teman Bilal juga datang secara khusus untuk memberikan selamat dan doa atas kehamilan istri nya.
Tak hanya keluarga Bilal, keluarga Asma pun sangat bahagia dengan kehamilan Asma, walaupun Ummi Kulsum yg sempat khawatir mengingat putri nya masih sangat muda. Tapi ayah Asma meyakinkan bahwa semuanya akan baik baik saja, Allah telah menganugerahkan putri kecil mereka dengan anugerah terbesar di dunia ini, yaitu seorang anak.
Mereka hanya perlu mendoakan dan mendukung Asma.
Namun, Bilal juga khawatir karena Dokter Bilang kehamilan Asma lemah, ia perlu istirahat total, tidak boleh lelah ataupun stres. Tentu Bilal akan sangat berhati hati dalam menjaga istri nya itu.
Bilal juga tak tega yg setiap kali melihat Asma mual terus menerus dan bahkan muntah. Seperti saat ini, Bilal sedang menyiapkan susu hangat untuk istri nya itu.
"Bagaimana perasaan mu?" tanya Bilal sembari memberikan segelas susu hangat untuk istri nya.
"Kapan mual ini akan hilang, Bilal. Rasanya aku sudah tidak tahan" ucap Asma lemas dengan mata yg memerah.
"Sabar, Sayang. Nanti semuanya akan membaik kok" seru Bilal "Cepatlah tumbuh kuat, Nak. kasian ibu mu" Bilal berbicara dengan perut Asma, membuat Asma tersenyum. Asma merasa sangat bahagia melihat suami nya yg juga selalu tampak bahagia sejak kehamilan nya. Dan kini mereka kembali keruamh Khadijah.
"Aku menyesal tidak bisa memberikan kebahagian ini lebih cepat untuk mu, Bilal" seru Asma sembari membelai pipi suami nya itu.
"Jangan berkata begitu, Zahra. Aku sangat berterima kasih karena kamu telah menyempurnakan hidup ku" Bilal mencium tangan Asma dengan mesra.
Dan tak lama kemudian, Khadijah masuk dengan membawa vitamin dan sarapan untuk Asma.
"Bi Mina buatkan bubur ayam" seru Khadijah sembari memberikan semangkuk bubur ayam itu pada Bilal, dan Bilal pun bersiap menyuapi Asma namun Asma menggeleng.
"Engga mau, nanti aja" ucap Asma.
"Tapi kamu harus makan biar ada tenaga, Sayang"
"Engga mau" seru Asma karena dia memang benar benar kehilangan nafsu makannya.
"Sedikit aja, Sayang, ya? Demi anak kita" bujuk Bilal dan akhirnya Asma pun mau membuka mulut nya.
"Bilal, besok aku mau sekolah ya" pinta Asma, karena memang beberapa hari ini ia sama sekali tidak keluar rumah, Bilal meminta nya istirahat.
"Jangan, lagian kamu masih sering mual gitu, sebaiknya istirahat sampai kondisi mu membaik, ya?"
"Tapi aku bosan seharian di rumah" rengek Asma, dan bahkan ia mulai berkaca kaca dan tampak akan menangis. Bilal hanya bisa memghela nafas, sejak kehamilan nya istrinya berlaku sangat aneh, kadang cengeng, kadang manja, tapi kadang juga terlihat kesal tidak jelas.
"Ya udah iya, nanti aku antar dan sore nya aku jemput, ya?" dan seketika Asma tersenyum lebar membuat Khadijah dan Bilal geleng geleng kepala.
Pada dasarnya, Zahra nya itu memang manja, di tambah sekarang ada bayi yg membuatnya semakin manja terkadang membuat Bilal kewalahan menghadapi istrinya itu.
"Jangan lupa minum vitamin nya" seru Khadijah.
"Makasih, Mbak" ucap Asma
"Sama sama, kalau sudah sarapannya, sebaik nya kamu istirahat" Asma mengangguk dan Bilal kembali menyuapi nya.
Setelah Bilal pergi bekerja, Asma menghabiskan waktunya bersama Khadijah di rumah. Tampak hubungan keduanya kembali dekat, dan meskipun Bilal lebih banyak memperhatikan Asma dan menghabiskan waktu bersama Asma, Khadijah tidak lagi mempermasalahkan nya walaupun memang masih ada cemburu dalam hati nya. Apa lagi setiap kali ia melihat Bilal yg seolah berbicara dengan janin Asma dalam perut nya, Khadijah merasa iri dan ia juga ingin merasakan bagaimana hamil.
Tapi ia bersyukur dengan Asma yg berbaik hati padanya dan memberikannya kesempatan untuk menjadi seorang ibu.
Kondisi Khadijah sendiri berangsur membaik, meskipun ia masih harus melalukan pemeriksaan secara rutin dan benar benar harus menjaga diri, Khadijah hanya berharap ia masih memiliki umur yg panjang untuk bisa merawat anak Asma bersama Asma dan Bilal.
Asma menghubungi ibu nya lewat video call, tampak Ummi nya yg bahagia melihat Asma yg sebentar lagi akan menjadi ibu.
"Ummi, sampai kapan Asma akan mual mulai begini terus? Rasanya benar benar engga enak, Asma bahkan kehilangan nafsu makan" rengek Asma manja pada ibu nya.
"Itu hal biasa saat awal kehamilan, Nak" jawab sang ibu.
"Ummi, maafin Asma ya" Asma berkata dengan mata yg berkaca kaca.
"Ada apa, Asma? Kenapa lminta maaf?"
"Karena Asma engga bisa jadi anak yg baik, padahal Ummi sudah susah payah merawat dan menjaga Asma sejak Asma masih dalam perut Ummi" Ummi Kulsum tersenyum karena anak nya mulai menunjukan aura keibuan nya.
"Itulah kewajiban seorang ibu, Nak. Menjaga anak nya apapun yg tejadi"
"Doakan Asma ya Ummi, supaya Asma menjadi ibu yg baik seperti Ummi"
"Selalu sayang, bahkan dalam tidurnya pun, seorang ibu akan tetap mendoakan anaknya, apa kamu sudah makan?"
"Sudah, Bi Mina membuat kan bubur ayam untuk Asma"
"Perbanyak makan yg sehat dan bergizi ya, supaya bayi mu tumbuh kuat dan sehat, jangan makan makanan yg siap saji, itu engga baik buat kesehatan kalian berdua" Asma tersenyum dan mengangguk mendengar nasehat Ummi nya yg sebenarnya sudah Asma hafal itu, sejak hamil, ibunya akan selalu menasehatinya bagaimana menjaga kandungan nya dengan baik. Dan bahkan Asma sudah menebak nasehat apa selanjutnya yg akan di berikan ibu nya itu.
"Dan yg tak kalah penting dari menjaga asupan makanan, sangat penting juga kamu menjaga sikap mu, pendengaran mu, penglihatan mu dan apa yg kamu ucapkan, karena apa yg wanita lakukan saat hamil, itu berpengaruh pada anak nya kelak" Dan nasehat itu juga selalu di ingatkan pada Asma lagi dan lagi.
Dulu, Asma tak pernah ambil pusing dengan nasehat ibu nya, ia sering mengabaikannya dan malah tak jarang juga dia mengatakan pada ibu nya bahwa nasehat nya itu itu saja. Namun sekarang, meskipun Asma di nasehati dengan nasehat yg sama setiap hari, Asma akan mendengarkan nya dengan seksama dan sangat berterima kasih kepada ibu nya. Setiap kali ibu nya mengingatkan ini dan itu, itu akan mendorong Asma untuk belajar lagi dan menjadi lebih baik lagi. Asma sangat berterima kasih pada sang ibu, yg tak pernah bosan dan tak pernah menyerah untuk membimbing dirinya.
Khadijah yg melihat Asma sedang video call dengan ibu nya pun segera bergabung dengan Asma dan menyapa ibu dari madu nya itu.
"Assalamualaikum, Tante. Apa kabar?" tanya Khadijah.
"Waalaikum salam,Nak. Tante baik, kamu sendiri bagaimana?"
"Tante titip Asma ya, Khadijah. Bantuin dia supaya belajar jadi istri dan ibu yg baik"
"Asma engga perlu di ajari, Tante. Dia istri yg sangat baik, malah aku yg belajar banyak dari dia" Ummi Kulsum tertawa mendengar penuturan Khadijah, ia merasa apa yg di katakan Khadijah itu hanya untuk menyenangkan hati nya.
Kemudian mereka bertiga membicarakan banyak hal, membuat ibu dari Zahra nya Bilal itu bahagia karena ia melihat putri nya dan madunya tampak baik baik saja.
.
.
.
Keesokan harinya, Asma kembali ke sekolah dengan di antar Bilal, dia bahkan di antarkan sampai di depan kelas nya.
Nora yg melihat sahabatnya kembali bersekolah sangat girang, ia segera menghampiri Asma dan memeluk nya dengan sangat erat.
"Ya Allah, Asma, kamu hamil. Beneranhamil kan? Aku engga percaya rasanya" celoteh Nora dan saking bahagianya dia sampai tidak sadar Bilal masih ada di sana.
"Nora, istri ku engga bisa nafas kalau kamu memeluk nya se erat itu" sontak Nora langsung melepaskan pelukannya dan ia menjadi salah tingkah setelah di tegur Bilal.
"Oh Maaf, Ustadz. Habis saking kangen nya, udah berhari hari Asma engga masuk sekolah soalnya" jawab Nora gugup.
"Aku juga kangen" ucap Asma dan kembali memeluk Nora.
"Asma, Apa sekolah akan mengeluarkan kamu nanti kalau perut mu sudah besar?" celetuk Nora lagi membuat Bilal kembali bersuara.
"Ya engga lah, Nora. Wong Zahra hamil ada suami nya, dan jangan lupa siapa bapak dari bayi nya" ucap Bilal yg membuat Nora merutuki dirinya sendiri yg meluncurkan pertanyaan bodoh itu. Sementara Asma hanya mengulum senyum mendengar percakapan teman dan suaminya itu.
"Iya juga sih" ucap nya kemudian. Dan tiba tiba Imel pun juga datang dan langsung berlari menghampiri Asma kemudian ia pun memeluk Asma.
"Asma, selamat ya. Ya ampun kamu hamil, rasanya aku engga percaya kamu benar benar hamil" seru Imel.
"Kenapa semua orang bilang engga percaya kalau Zahra hamil?" Bilal bersuara, Imel pun juga salah tingkah karena apa yg tadi di ucapkan nya meluncur begitu saja dari bibirnya.
"Em...ya.... itu... engga nyangka aja, Ustadz. Asma bisa hamil" jawab Imel gerogi.
"Ya kan ada suami nya, Mel. Pasti bisa hamil lah"
Asma melihat sekeliling nya dan tampak semua orang memperhatikan dirinya dan Bilal.
"Em Bilal, katanya kamu mau langsung bekerja?" sela Asma agar suaminya itu cepat pergi dan mereka tidak jadi pusat perhatian.
"Iya, Sayang. Aku pergi dulu, kamu jaga diri ya. Kalau butuh apa apa, bilang aja sama Ummi" tutur Bilal kemudian mencium kening Asma dengan mesra dan tentu itu semakin menarik perhatian teman teman nya.
"Iya iya, hati hati di jalan" seru Asma mengusir Bilal dengan cara yg halus.
"Imel, Nora. tolong jagain Zahra juga ya"
"Iya, Ustadz" jawab keduanya serempak.
Setelah Bilal pergi, Nora dan Imel segera membawa Asma masuk kelas, keduanya tampak sangat bahagia mengetahui sahabatnya hamil dan akan jadi seorang ibu.
"Asma, bagaiamana rasanya hamil?" cetuk Nora yg membuat Asma tersenyum.
"Rasanya engga enak tapi membahagiakan, aku merasa seperti ada yg menghadiahkan seluruh dunia ini dan seisinya untuk ku" tutur Asma dengan mata yg berbinar penuh kebahagiaan.
"Hmm aku juga pengen hamil" sambung Imel.
"Ya pulang sana, minta buatin dedek bayi sama kang Wildan" sambung Nora.
"Rasanya memang pengen pulang, tapi aku kan bukan Asma yg bisa tetap sekolah jika hamil"
"Tapi pasti di izinin kok, Mel. Kan hamilnya memang karena ada suami" jawab Asma.
"Bukan masalah izin atau engga nya, Neng Asma. Tapi rumaku jauh dari sini, dan engga mungkin juga Mas Wildan ngizinin aku sekolah lagi kalau memang hamil"
"Hmm yg sabar ya, nanti juga hamil. Tunggu aja pada waktu nya nanti semua kebahagian akan datang pada mu" ucap Asma.
Dan seperti biasa, kini ia kembali mual dan ia pun segera berlari ke kamar mandi dengan di temani Nora dan Imel.
"Asma, kamu engga apa apa?" tanya Nora saat Asma keluar dari kamar mandi "Aku ambilin minyak kayu putih ya, jadi kamu engga mual lagi" lanjut nya yg membuat Asma dan Imel terkikik geli.
"Asma mual bukan karena masuk angin kali, Ra. Tapi karena bawaan bayi nya, awal kehamilan memang begitu" Imel berkata sembari membantu Asma berjalan.
"Aku mau kerumah Ummi dulu ya, mau minta air hangat"
"Kita anterin" tutur Nora dan Asma meng iya kannya.
Ibu mertua nya itu menyambut Asma dengan senang hati, dan ia memberondong Asma dengan pertanyaan mengenai keadaanny, ia juga bertanya kenapa Asma sudah masuk sekolah.
"Asma bosan dirumah, Ummi" jawab Asma sembari meminum teh jahe buatan ibu mertua nya yg katanya itu bagus untuk mengurangi mual nya.
"Ya sudah, tapi harus jaga diri ya, jangan sampai kelelahan" Asma tersenyum mendengar hal itu, ia fikir memang nya mau lelah kenapa, wong dia cuma duduk dan mendengarkan gurunya menjelaskan.
"Iya, Ummi" Jawab nya kemudian.
▪️▪️▪️
Tbc...