
Dear istri tercinta dari suami ku, aku sangat bahagia bisa mengenal gadis manis seperti mu, dan aku jauh lebih bahagia karena gadis manis seperti mu adalah istri suami ku.
Aku tahu, kedatangan ku dalam hidup mu menyebabkan mu banyak meneteskan air mata, begitu banyak luka yg aku berikan pada mu, dan aku hanya bisa mengucapkan maaf. Tolong maafkan aku, Asma.
Maaf karena aku tak bisa menjaga mu dan anak anak kita.
Maaf karena aku ,kita kehilangan anak anak kita. Sungguh aku menyesal, seandainya aku bisa mengulang waktu, aku akan menukar nyawa ku untuk anak anak kita. Tapi sekarang, aku hanya bisa menyesali semua nya.
Asma, jangan pernah tinggalkan suami kita dalam keadaan apapun karen sebesar aku mencintai nya, sebesar itulah dia mencintaimu. Seperti aku yg tak sanggup kehilangan nya, dan seperti itu juga, dia pun takkan sanggup kehilangan mu.
Tapi, Asma. Aku merasa aku akan segera meninggalkan dunia ini, aku tidak takut akan hal itu, tapi aku takut jika aku pergi sementara kamu belum bisa memaafkan ku. Aku sangat takut, Asma. Jadi ku mohon, maafkan aku, Adikku.
Jauh dalam hati ku, aku sangat menyayangi mu sebagai adikku. Walaupun mungkin aku sering menyakiti mu, sulit bagi ku menahan api cemburu dalam hati ku, tapi aku selalu berusaha menekannya.
Dan ku mohon percaya lah, tak pernah terbersit niat jahat sedikit pun dalam benakku kepada mu. Aku sangat mencintai Mas Bilal, dan aku mencintai apa yg dia cintai. Yaitu kamu dan segala yg ada pada mu.
Asma, rumah yg selama ini kita tempati bertiga,dimana ada canda, tawa dan juga air mata. Rumah ini adalah hadiah pernikahan dari Abi Khalil untuk Mas Bilal, dan Mas Bilal menghadiahkannya untuk ku.
Dan sekarang, aku ingin menghadiahkan rumah ini pada putra ku yg Insya Allah akan kau lahirkan kelak, jadikanlah rumah ini sebagai hadiah pernikahan nya nanti saat dia menemukan makmum nya.
Aku minta maaf atas semua air mata mu yg mengalir karena aku, dan aku mengucapkan banyak terimakasih, karena kamu telah melengkapi hidup Mas Bilal dan memberikan dia apa yg tidak akan pernah bisa aku berikan.
Salam penuh cinta dari istri pertama suami mu, dan juga dari kakak mu yg sangat menyayangi mu. Khadijah.
.
.
.
Lima tahun kemudian....
Anak kecil itu begitu asyik memainkan robot robotan nya, tak hanya itu, ia menjalankan mobil mobilannya menggunakan remote. Tak puas, ia pun mengacak ngacak puzzle yg padahal sudah di susun dengan sempurna, kemudian ia pun menyusunnya lagi seolah dia bosan karena tak ada kerjaan. Semua mainan berserakan dimana mana, bahkan jika ada yg datang maka harus melangkah dengan hati hati agar tak menginjak mainan itu dan yg pasti akan membuat mereka tergelincir dan jatuh.
Hingga suara klakson mobil membuat anak itu melotot kaget.
"Nena....Nena...." Panggil nya dengan suara nyaring nya "Nena....tolong Faz, tolong Faz!" Teriak nya sambil tangan kecil nya memungut mainan itu dengan buru buru dan memasukan nya kedalam box.
"Nena...." Panggil nya lagi dengan nada yg lebih tinggi, dan seorang nenek pun datang tergopoh gopoh menghampiri bocah yg sedang terlihat kalang kabut itu.
"Ya kan nenek sudah bilangin toh, Den. Main nya satu satu aja, jangan berhamburan begini" Ucap nenek itu. Bocah itu tak mengindahkan kata kata sang nenek karena ia sedang serius mencari remote mobil mainan nya yg entah kemana padahal ia fikir tadi masih ada di sana, sementara mobilnya sudah meluncur menuju pintu keluar.
Karena tak kunjung menemukan remote nya, anak itu pun mengejar mobil mobilannya dengan merangkak. Dan saat ia bisa menangkap mobil mobilannya, mobil nya itu berhenti tepat di kaki seseorang, anak itu pun mendongak dan seketika ia tersenyum menampilkan gigi gigi nya sudah tinggal separuh dan bahkan sebagian ada yg habis yg pasti sudah di makan ulat gigi.
"Hehe...Abi...." Seru nya sambil berdiri
"Hamburin mainan nya lagi?" Tanya Abi nya itu. Anak itu tak menjawab, ia malah mengulurkan tangannya meminta gendong. Abi nya pun segera menyelipkan kedua tangannya di kedua ketiak anak itu dan segera mengangkat tubuh mungil nya. Abi nya itu mencium putra nya dengan sangat gemas, dari pipi hingga leher nya yg seketika membuat putra nya cekikikan.
"Faraz kenapa nakal sekali, hm?. Kasian Nenek Mina kalau harus beresin mainan Faraz setiap saat"
"Abi, Kata Ummi bilang, anak kecil suka main, jadi, Faz kecil. ya Faz suka main" Abi Faraz itu hanya bisa geleng geleng kepala. Setiap kali putra nya itu di ingatkan, selalu saja ia menjawab, apa lagi dengan bahasa yg sangat belepotan itu, membuat siapapun yg berbicara dengan Faraz maka harus di dengarkan dengan seksama dan cobalah untuk mengerti sendiri apa yg sebenaranya di ucapkan oleh Faraz itu.
Abi Faraz membawa Faraz masuk dan terlihat Bi Mina yg masih mengumpulkan mainan Faraz satu persatu.
"Lanjutin nanti aja, Bi. Nanti juga di hamburin lagi sama Faraz"
"Engga apa apa, Pak Bilal. Den Faraz suka lari lari, kalau engga di beresin nanti dia ke injak mainannya nya, bisa bahaya kalau dia sampai tergelincir dan jatuh"
"Tuh dengar, kalau mainan nya berhamburan gitu, Faraz juga yg bisa dalam bahaya" Seru Bilal memperingatkan. Bukannya merasa bersalah, Faraz malah bergelanyut manja dan semakin mengeratkan lingkaran tangan nya di leher Bilal.
"Kan Faz liat ada main, Faz enda injak" Jawab putra nya itu lagi
"Huff" Bilal hanya bisa menghela nafas, putra nya ini masih 4 tahun dan sudah pintar menjawab omongan orang. Persis seperti Ibu nya. fikir nya.
"Ya sudah, sekarang Faraz harus mandi ya, ingatkan kan sore ini kita harus mengunjungi Ibu mu?"
Faraz melirik ke atas seolah oleh ia sedang mencoba mengingat sesuatu, wajah nya pun terlihat sangat serius sambil mengetukan jari di dagunya. Dan di saat seperti ini, Bilal tak bisa jika tak mencium gemas putra nya ini. Ia pun lagi dan lagi mencium gemas putra nya itu, dari pipi, leher, dan perut nya membuat Faraz menggelinjang sambil terus terkikik geli.
"Bilal, Sudah pulang?" Bilal dan Faraz menoleh pada asal suara itu.
"Iya, Sayang" Jawab Bilal sembari menurunkan Faraz, ia pun berjalan menghampiri istri nya. Mengecup kening nya, kemudian ia membungkuk dan mengecup perut buncit istri nya, dimana anak kedua mereka sedang tumbuh di sana.
"Bagaiamana keadaan mu hari ini, Zahra?. Apa Faraz merepotkan?"
"Nama nya juga anak anak" Jawab Asma sambil berjalan dengan satu tangan di pinggang nya dan tangan yg lain di perut nya. Faraz pun berlari ke Ibu nya dan ia mengangkat tangan nya meminta gendong.
"Jangan, Nak. Ibu mu kan lagi gendong adik bayi di perut nya" Bilal segera mengangkat tubuh Faraz dan menggendong nya. Namun Faraz terlihat kecewa. Karena sudah lama ia tak di gendong Ibu nya.
"Tapi Faz mau gendong Ummi..." Seru Faraz dengan wajah cemberut. Bilal seketika tertawa mendengar kata kata Faraz.
"Jadi Faraz mau gendong Ummi? Emang Faraz kuat?" Tanya Bilal mengejek sembari membawa putra nya itu ke sofa yg segera di ikuti Asma yg juga terkikik mendengar kata kata Faraz itu.
"Bukan Faraz mau gendong Ummi, tapi mau di gendong sama Ummi" Asma menjelaskan namun Faraz masih cemberut. " Ya sudah, duduk di pangkuan Ummi sini"
Bilal pun mendudukan putra itu di pangkuan istri nya. Asma mencium kening Faraz dengan gemas, turun ke hidung nya, dam pipi nya yg tembem berulang kali.
"Mandi sama Bi Mina ya, Nak. Kita harus siap siap mengunjungi Ibu mu" Ucap Asma namun Faraz segera menggeleng
"Mau Ummi" Jawab Faraz manja. "Enda mau Nena"
"Bukan Nena, Sayang. Tapi Nenek Mina" Bilal mencoba menjelaskan untuk yg kesekian kali nya tapi entah kenapa Faraz selalu menyingkatnya menjadi Nena.
"Benar, Nenek Mina" Asma mengulangi kata kaya suami nya "Nanti kalau orang dengar Faraz manggil Nena, di kira orang Nena itu nama Bi Mina dan Faraz memanggilnya dengan nama nya, kan engga sopan" Asma mencoba menjelaskan.
Namun mendengar penjelasan Asma, Bilal malah mengulum senyum dan ia teringat saat ia menanyakan kenapa Asma memanggil nya dengan nama saja, dan Asma memberikan jawaban yg sangat romantis, walaupun terkadang orang menanyakan kenapa Asma lancang sekali memanggil suami dengan menggunakan nama, tapi Bilal tak mempermasalahkan itu, istri nya menyebutkan namanya penuh dengan cinta. Apa lagi, Asma sangat menghormati dan menghargai Bilal sebagai suaminya dan imam di keluarga kecil nya.
Bilal merengkuh istri nya dan mencium pelipis istri nya itu dengan sayang.
"Biarkan saja, Zahra. Mungkin itu panggilan sayang nya sama Bi Mina, jadi sekarang biar Faraz mandi sama Abi ya, Ummi engga bisa mandiin Faraz karena ada adik bayi di perut Ummi, jadi Ummi sulit bergerak sayang"
Faraz memandangi perut Ummi nya yg memang sudah besar.
"Kenapa adek Faz enda keluar?" Bilal kembali tertawa mendengar celotehan Faraz.
"Belum waktu nya, dulu Faraz juga ada di perut Ummi seperti itu selama 9 bulan"
"Oooo" Faraz berseru dengan membulatkan bibir nya hingga membentuk huruf O.
Bilal pun membawa Faraz untuk di mandikan.
Awalnya, Bilal sungguh kesulitan mengurus anak, namun ia belajar dengan cepat, ia tak mau istri nya mengurus anak anak nya sendirian. Bilal belajar memandikan Faraz sejak Faraz masih bayi, belajar mengganti popok, memakaikan baju hingga menyiapkan makanan Faraz dan menyuapi nya.
Di kamar mandi, terdengar suara gemiricik air dan juga suara tawa Ayah dan putra itu, membuat Asma tersenyum membayangkan apa yg sudah mereka lakukan di sana.
Bilal pasti ikut masuk kedalam bak mandi bersama Faraz, kemudian bermain air dan sabun, meniupkan busa nya hingga memenuhi kamar mandi.
Asma sendiri segera menyiapkan pakaian untuk putra dan suami nya, meskipun ia mudah lelah karena ia sedang hamil besar, namun itu tak membuat Asma mengabaikan anak dan suami nya.
"Hubab datang juga kan?" Tanya Asma sambil mengambil tas nya yg ada di atas ranjang.
"Iya, katanya ketemuan di rumah Ummi" Jawab Bilal.
Kedua nya pun turun dan melihat Bi Mina yg juga akan pergi.
"Bibi malam ini menginap di rumah ya, Pak. mau bersih bersih"
"Iya, Bi." Jawab Bilal.
Asma menggandeng tangan Faraz keluar, semenatara Bilal menutup jendela dan pintu.
Saat mengunci pintu utamanya, Bilal tersenyum dan memandangi kunci itu, ah bukan. gantungan kunci itu.
Sekitar lima tahun lalu, saat sudah menempati rumah baru nya, Bilal keheranan dengan istri nya yg menyembunyikan kunci rumah nya. Dan ada sebuah memo di tempelkan di pintu, yg memberi tahu kunci nya ada di ranjang bayi.
Saat Bilal mengambil nya, ada yg berubah. Dari yg awalnya gantungan kunci itu hanya bergambar sepasang pengantin dan ada nama nya dan nama istri nya, berganti menjadi sepasang suami istri yg menggendong bayi dan di bawah nya tertulis 'Family'.
Saat tahu apa artinya itu, tentu itu adalah kebahagiaan yg sangat besar bagi Bilal dan ia menangis haru. Itu juga mengobati rasa sedih nya karena di tinggal istri pertamanya.
Dan sekitar 7 bulan yg lalu. Kejadian yg sama terulang, Asma menyembunyikan kunci nya di ranjang bayi milik Faraz. Dan saat Bilal mengambil nya, ada lagi yg berubah. Kini gambar nya sepasang suami istri yg sama sama menggandeng anak anak. Dan di bawah nya tertulis 'Heaven'.
Bilal kembali menangis haru, kini ia akan memilik anak lagi, dan benar. Itu Heaven. Karena saat itu, Bilal merasa sangat bahagia dan hidup nya menjadi terasa sempurna.
Kini, keduanya sedang menantikan kelahiran anak kedua mereka yg tak lama lagi.
.
.
.
Faraz berlari lari dengan sangat menggemaskan di halaman rumah Ummi Mufar, kaki kaki kecil nya bergerak lincah dan sesekali melompat girang.
"Ancle Hubab... Aunty Lita..." teriak nya saat mendapati Hubab dan Lita yg juga berada di sana sana. Lita dan Hubab hanya menggeleng melihat tingkah lincah putra Bilal dan Asma itu.
"Mau cium....mau cium...." Ucap nya pada Lita sambil melompat lompat.
Lita pun membungkuk sehingga Faraz bisa mencium bayi perempuan yg sangat imut yg ada di gendongan Lita itu.
Jangan tanya bagaimana Lita punya bayi, tentu saja karena Hubab menikahi nya sekitar dua tahun yg lalu dan mereka di karuniai putri yg sangat cantik seperti Lita, yg di beri nama Afsana.
Dan jangan tanya bagaimana kisah cinta keduanya di mulai, karena Lita sendiri tak punya jawabannya.
Yg ia tahu, Hubab mendatangi orang tua Lita dan melamarnya, dan Lita dengan senang hati menerima nya.
"Cucu Nenek ganteng sekali... mau kemana sayang?" Ujar Ummi Mufar yg melihat Faraz masih memandangi putri Lita, Faraz terus menciumnya dengan gemas.
"Mau mengunjungi Ibu, Nek" Jawab Faraz tanpa menoleh pada Nenek nya itu. Karena ia masih sibuk menganggu Baby Afsana dan mencolek pipi nya hingga Baby Afsana menggeliat merasa terganggu, Lita pun segera berdiri lagi sebelum putri nya terbangun.
Tak lama kemudian Asma dan Bilal pun datang.
"Jadi kalian janjian?" Tanya Ummi Mufar dan Asma pun mengangguk.
"Iya, Ummi."
"Ya udah, hati hati ya" Seru Ummi Mufar kemudian juga mencium gemas Baby Afsana yg ada di gendongan Lita. ia juga mencium gemas Faraz.
.
.
.
Mereka semua sampai di pemakaman Khadijah. Masih tampak Kesedihan di mata Hubab dan Bilal, namun mereka sudah saat ikhlas.
"Assalamualaikum ya ahlil Qubur. Assalamualaikum, Ummi Khadijah"
Faraz mengucapkan salam setiap kali ia mengunjungi pemakaman istri pertama Ayah nya itu.
Meskipun Faraz tidak pernah bertemu Khadijah, namun Asma memperkenalkan siapa Khadijah dan mengatakan pada Faraz bahwa Khadijah juga Ibu nya, namun sayang mereka tak bisa bersama. Walaupun begitu, Asma selalu mengajarkan anak nya untuk selalu mendoakan Ibu nya dan mengajarkan pada Faraz, hubungan bisa terjalin bukan hanya dengan ikatan darah ataupun pertemuan di dunia, tapi juga bisa terjalin lewat doa. Asma juga memberi tahu, Faraz sebelum punya dua kakak, namun sekarang mereka ada di surga bersama Ibu nya.
Dan tentu saja sebenaranya Faraz tak mengerti sama sekali apa maksud Ibu nya itu. Namun dengan polos nya ia percaya saja apapun yg di katakan Ibu nya.
Bilal pun memimpin jalannya dzikir, membaca ayat Al Quran dan di akhiri dengan doa. Bukan hanya untuk istri nya, tapi untuk semua saudara seiman nya yg telah berpulang lebih dulu ke Rahmatullah.
Bahkan, Faraz pun berdoa dengan serius saat di pemakaman. Ia meminta agar Ibu nya juga mendoakan nya dari sana, dan ia meminta agar malaikat menjaga ibu dan kakak kakak nya yg ia sayangi meskipun belum pernah bertemu mereka.
Setelah dari pemakaman, Mereka pun segera pulang.
"Asma..." panggil Lita sambil menimang bayi nya yg sudah bangun, tentu saja karena Faraz terus mencolek pipi nya. "Besok aku sama Mas Hubab mau pulang" Seru Lita.
"Oh ya?. Kok tiba tiba?" Tanya Asma.
"Bukan tiba tiba, Asma" Sela Hubab "Sejak melahirkan, Lita belum pulang, dan dia pasti rindu kampung halaman nya, cuma selama ini aku engga ada waktu."
"Iya, sayang. Hubab sudah memberi tahu ku, tapi aku lupa yg mau ngasih tahu ke kamu" Sambung Bilal.
"Hem ya udah, cuma sayang nya aku engga bisa ikut" Asma berkata sambil mengelus perut nya.
"Ya engga apa apa. Bahaya juga kalau kamu melakukan penerbangan dengan kondisi hamil begitu" Seru Lita.
Kemdian mereka pun masuk ke dalam mobil nya masing masing.
Di dalam mobil, Baby Afsana menangis karena haus, Hubab pun menutup kaca mobil nya dan menyuruh Lita menyusui putri mereka.
"Putri Abi haus ya?. Bangun tidur gara gara di ganggu Kak Faz ya... kasian nya" Gumam Hubab sambil mencium gemas bayi dalam pangkuan Ibu nya itu.
Kemudian dia mencium kening Lita dengan penuh cinta.
Cinta yg perlahan tumbuh setelah pertemuan mereka di hari itu, Lita tampil sebagai sosok yg membuat Hubab tenang di kala ia sedih karena kehilangan saudari nya.
Dan itu membuat Hubab sadar, dia tidak pernah mencintai Asma, dia hanya mengagumi nya, dia tahu itu, saat ia merasakan cinta yg sesungguhnya pada Neng Lita. Yg sekarang menjadi Lita nya Hubab. Istri tercinta Hubab.
"Terimakasih, Sayang. Sudah membuat hidup ku terasa sempurna, apa lagi dengan hadir nya Baby Anna, aku merasa aku memiliki segala nya" gumam Hubab dan sekali ia mencium Lita. Lita membalas mencium pipi Hubab dan ia juga merasa sempurna dengan memiliki Hubab sebagai suami nya.
▪️▪️▪️
...*T**bc*......
*NB. Dari pada di demo pas di tulis 'tamat?'.
🥰
see you in the last part. 👇*