
"Asma..." Asma yg sedang di perjalanan pulang dari sekolah nya terhenti saat mendengar suara panggilan itu, ia melihat Hubab sedang berjalan ke arah nya.
"Ya?" tanya Asma dengan ekspresi datar nya.
"Kamu engga nginap di rumah Ummi Mufar lagi?" tanya Hubab. Asma melirik Hubab sekilas, Asma fikir Hubab pasti sangat berharap Asma tinggal bersama mertua nya supaya sepupu nya bisa tinggal bersama suaminya dengan tenang.
"Kasian Bi Mina terlalu lama sendirian" jawab Asma masih dengan ekspresi datar nya "Maaf, aku buru buru, ini sudah sore" dan tanpa menunggu jawaban Hubab, Asma langsung bergegas pergi.
Sementara Hubab, pria itu hanya bisa menatap nanar Asma yg semakin menjauh, sejak mendengar Dini mengatakan teman teman Asma yg membicarakan nya, Hubab menjadi sangat prihatin. Apa lagi, untuk pertama kali nya ia menaruh hati pada seorang wanita, tentu itu membuatnya ikut merasakan sedih untuk wanita yg ia sukai.
"Ck, mulai lagi kan halu nya, ingat Hubab! Istri saudara mu" Hubab memukul kepalanya sendiri seolah itu bisa membuat Asma menyingkir dari dalam benak nya.
.
.
.
Sesampainya di rumah nya, Asma langsung menghampiri akuarium nya dan melihat ikan nya itu sedang makan, pasti Bi Mina yg memberinya makan, fikirnya.
"Neng Asma sudah pulang?" tanya Bi Mina yg muncul entah dari mana.
"Iya, Bi" jawab Asma "Asma ke kamar dulu ya, mau mandi" ucap Asma kemudian ia berjalan menuju kamar nya.
Setelah mandi, ia mencari cari ponsel nya di tas nya, dan setelah menemukannya ia langsung menghubungi suami nya itu.
"Ada apa, Sayang" tanya Bilal setelah menjawab telpon Asma.
"Besok aku mau pulang, aku sudah izin sama wali kelas ku" ucap Asma dengan nada kesal. Bagaimana ia tak kesal, Bilal bilang dia akan pulang sebentar lagi, tapi sampai sekarang dia belum juga pulang, setiap kali Asma menanyakan kapan dia pulang, seperti biasa jawabannya sebentar lagi dan sebentar lagi.
"Tapi sayang, aku engga mungkin biarin kamu pulang sendirian"
"Pokoknya aku mau pulang, hanya seminggu, Bilal. Ku mohon" ucap Asma berusaha membuat suami nya itu mengerti.
"Ya udah, biar kakak anterin kamu"
"Aku bisa sendiri, Aku engga mau ngerepotin siapapun"
"Di antar atau engga sama sekali, Zahra?"
"Ufff..." Gumam Asma yg membuat Bilal tertawa "Kenapa ketawa?" tanya Asma ketus.
"Sekarang pipi kamu pasti lagi menggembung seperti biasa kalau kamu lagi kesal" Bilal berkata dengan tawa kecil "Hem jadi kangen pengen cium pipi tembem kamu"
"Aku udah engga tembem tahu"
"Kenapa? Kamu kurus? Ummi engga kasih makan kamu ya?" Tanya Bilal di iringi candaan nya yg membuat Asma semakin memberangut.
"Di kasihlah, berat badan ku naik dua kilo" ucap nya bohong, padahal berat badan nya turun.
"Bagus dong, jadi seksi, engga kurus kerempeng"
"Ya engga bagus, aku mau diet"
"Jangan"
"Kenapa? Kalau badan ku bagus kamu juga yg senang sebagai suami" ucap Asma yg kembali membuat Bilal terdengar tertawa kecil.
"Zahra ku akan selalu cantik, mau gendut atau kurus, pokoknya Zahra ku adalah wanita tercantik"
Asma hanya mengulum senyum mendengar pujian Bilal yg sudah basi itu di telinga nya.
"Modus lagi" ucap Asma.
"Engga, Sayang" Bantah Bilal
"Ya udah terserah, tapi beneran kan aku di izinin pulang?" tanya Asma.
"Iya, Sayang. Maaf ya, aku engga bisa nemenin kamu pulang"
"Engga apa apa kok, lagian aku cuma seminggu"
"Zahra..."
"Hmm?"
"Kamu mencintai ku kan?"
"Aku mencintai mu" Sayangnya Asma hanya berani menjawab dalam hati.
"Zahra, apa kau mendengar ku?" tanya Bilal sekali lagi.
"Pulang aja dulu, nanti ku jawab" ucap Asma dengan percaya diri. Dan terdengar Bilal menghela nafas panjang, membuat Asma menyunggingkan senyum lebar.
"Ya udah, besok aku telpon lagi kalau sudah mau berangkat ke bandara"
"Iya, hati hati ya, Sayang."
.
.
.
Asma Dan mukhlis di sambut dengan gembira oleh keluarga Asma, terutama Ummi nya yg langsung memeluk dan mencium putri kesayangan nya itu.
"Hmm yg kedatangan anak emas nya" sindir Aisyah pada Ummi nya itu, namun ia pun juga memeluk Asma dengan sangat erat karena ia juga sangat merindukan adik kecil nya itu.
"Dek, kok kamu makin kurus gitu? Katanya semua orang ngurusin kamu, tapi kayak engga ke urus" tanya Aisyah yg langsung dapat cubitan di pinggang nya dari Ummi nya kemudian memberikan isyarat untuk diam. Aisyah yg menyadari ada kakak Bilal di sana hanya bisa gigit jari, namun Mukhlis menanggapi nya dengan senyuman.
"Kami mengurus nya dengan baik, tapi sepertinya seorang istri tanpa suami nya memang akan terlihat tidak ter urus" jawab nya.
Adil pun mengajak Mukhlis masuk, dan Mukhlis mengatakan dia hanya bisa menginap satu malam, dan minggu depan dia akan kembali untuk menjemput Asma.
Sementara Asma, dengan sangat antusias dia mendatangi kamar Aqilah dan sudah tak sabar melihat bayi nya.
"Ya mirip bapaknya dong " sambung suami Aqilah yg tak habis fikir bagaimana bisa anaknya di bilang tampan mirip paman nya. Aqilah dan Aisyah tertawa mendengar itu, dan kemudian Adil dan Mukhlis pun datang untuk menjenguk putra Aqilah.
"Kenapa kalian ketawa?" tanya Adil heran.
"Anakku, Dil. Di bilang mirip kamu" seru Aziz yg masih tak terima dengan pernyataan Asma.
"Ya Alhamdulillah kalau mirip aku, berarti kan ganteng" tutur Adil yg membuat suami Aqilah itu semakin tercengang.
"Engga adik, engga Kakak, sama aja. Emang nya aku engga ganteng?"
"Kenapa rame banget di sini? Kasian nanti bayi Rafa bangun" seru Ummi nya yg juga menyusul ke kamar Aqilah bersama Fatimah dan Yasmin.
"Adik ipar yg satu ini, Ummi. Belum sehari di sini sudah bikin rusuh" tutur suami Aqilah.
"Memang nya Asma ngapain? Dia gangguin Rafa?"
"Dia bilang Rafa ganteng mirip Adil " sekali lagi suami Aqilah mengadu, berharap kini ia mendapatkan dukungan dari ibu mertua nya itu.
"Ya dia memang tampan mirip Adil, sewaktu bayi Adil juga sangat tampan seperti Rafa" kini semua orang tertawa mendengar jawaban Ummi Kulsum. Tak terkecuali Mukhlis, Sementara suami Aqilah sudah menyerah pada keluarga istri nya itu namun kemudian ia ikut tertawa, dan Asma pun tertawa penuh kemenangan.
"Tuh kan, Baby Rafa memang tampan, mirip Kak Adil" ucap Asma sambil mencium dengan gemas pipi lembut Baby Rafa.
"Jangan mirip Abi nya Yasmin, Tante Asma. Suruh dia mirip Abi nya sendiri dong" Ucap Yasmin tiba tiba dengan wajah cemberut Sambil memeluk erat pinggang Adil. yg sontak membuat mereka kembali tertawa bahkan sampai Baby Rafa terbangun dan menangis.
Mukhlis baru tahu, seperti apa kelurga Asma, sehangat ini, se ceria ini, dan se bahagia ini, meskipun putra putri mereka sudah berumah tangga, tapi tak ada yg terlihat berubah. Bahkan menantu mereka terlihat begitu menyatu dengan keluarga ini.
Sekarang Mukhlis mengerti dari mana sikap manis dan ceria Asma itu berasal, bahkan setelah semua yg terjadi,Asma tetap menjadi remaja yg manis dan ceria.
.
.
.
Singapura
"Apa semua nya baik baik saja disana, kak?" tanya Bilal pada kakak nya itu.
"Sangat baik, Bilal. Asma terlihat sangat bahagia" Bilal mendengar suara Mukhlis yg juga terdengar sangat bahagia. "Kamu sangat beruntung bisa menjadi anggota keluarga meraka, Mereka begitu hangat dan penuh dengan senyuman, mereka begitu menyatu satu sama lain. Asma berasal dari keluarga yg sangat baik dan penuh kehangatan, Bilal. Aku baru tahu itu"
"Bukankah itu sikap yg selalu di tujukan istri ku?dari mana lagi dia bisa mendapatkan sikap itu kalau bukan dari keluarga nya" Tutur Bilal dengan senyum lebar nya.
"Kamu benar, Saat melihat bagaimana orang tua Asma memperlakukan menantu nya, aku sedikit iri"
Bilal tertawa kecil mendengar penuturan Kakaknya. itu.
"Terimakasih sudah mengantar istri ku, Kak"
"Engga apa apa, setelah berbaur dengan mereka, aku benar benar suka di sini. Lain kali aku pasti akan sering berkunjung ke sini jika ada waktu "
.
.
.
Indonesia
Asma sangat senang karena sudah bisa pulang, saat ini ia berada di kamarnya, melompat di ranjang nya, memeriksa isi lemari nya, dan bahkan sampai ke setiap laci yg ada.
Betapa ia merindukan kamar nya ini, walaupun kamar Asma yg di sini jauh lebih kecil dari pada kamar Asma yg di rumah Bilal, tapi Asma tetap merasa lebih nyaman di kamarnya yg sudah ia tempati sejak kecil.
Asma membuka jendela, dan seketika angin berhembus cukup kencang. Asma menikmati hembusan angin yg menerpa wajah nya.
"Uff... akhirnya..... kamar ku" ucap Asma, kemdian ia teringat saat Bilal memasukan baju nya ke dalam lemari saat mereka hendak pulang ke rumah Bilal waktu itu.
Asma melihat baju baju Bilal masih tergantung dengan rapi disana, Asma membelai lengan baju itu dan mengingat kembali saat saat bersama sang suami, di hari pertama mereka bertemu, bagaimana Bilal memerintah nya sebagai seorang guru, hingga saat Asma mengetahui kenyataan tentang hubungannya dengan Bilal. Asma teringat ia mengucapkan satu kata yg membuat Bilal marah, terluka dan sedih.
"Takdir sangat unik, tidak bisa di tebak, berjalan semaunya. Dulu aku hanya menganggap mu guru ku, ternyata kau suami ku, dulu aku marah pada mu, dan sekarang, aku malah mencintai mu"
Asma mengeluarkan baju Bilal kemudian mengenakan nya, membayangkan saat ini Bilal memeluknya, Asma bahkan sering bermimpi tentang Bilal saking rindu nya ia pada suami nya itu.
"Apa yg harus ku lakukan, Bilal? Kenapa aku memilih jalan hidup yg rumit ini? Bagaimana aku harus berjalan ke depan nya? Cinta ini.... Bagaimana jika cinta ini hanya akan membawa luka dalam hati ku?"
Asma memeluk dirinya sendiri dan tak terasa air matanya meluncur begitu saja tanpa bisa di bandung, Selama 18 tahun hidup nya, Asma tak pernah menangis sesering ini, sekarang ia merasa menjadi gadis yg cengeng.
Suara ketukan di pintu nya mengagetkan nya dan dengan cepat Asma menghapus air matanya.
"Asma..."
"Iya Ummi" jawab Asma sambil melepaskan pakaian Bilal dan meletakkan nya di enaknya, kemdian ia berjalan untuk membuka pintu. Kemdian Ummi nya itu membawa Asma ke meja makan karena semua sudah menunggu untuk makan malam.
"Sayang, Ummi sudah buatkan makanan untuk mu, Ummi juga buatkan puding dan bolu dengan selai nanas. Kamu harus makan yg banyak, pokoknya selama di sini berat badan mu setidaknya harus naik 5 kilo"
"Gila, engga mau" teriak Asma tanpa sengaja membuat semua orang menatap Asma.
"Ya Allah, Asma..."seru Adil pada Adik nya itu "Ummi kamu bilang gila"
"Ops, reflek. Maaf, Ummi" ucap Asma kemudian mencium punggung tangannya Ummi nya itu berkali kali, namun Ummi nya malah tertawa kecil dengan kalakuan putri nya yg masih tak berubah.
"Maaf ya, Ummi. Habisnya Ummi bikin Asma kaget, di suruh naik lima kilo, bayangin aja lima kilo? Pasti kayak bayi gajah nanti badan ku" tutur Asma dengan begitu polos nya. Bahlan Mukhlis yg melihat itu juga tak bisa menahan senyum geli nya. Menyadari Asma masih lah gadis kecil mereka rupanya.
"Tapi kamu memang sangat kurus, Asma. Abi bahkan takut nanti kamu di tiup angin" sambung ayah nya yg membuat Asma memberengut.
"Gitu amat, Bi" gerutunya kemudian ia duduk si samping Abi dan Ummi nya.
Dan rindu Asma terbayar sudah dengan kebersamaan bersama keluarga nya, masih sama seperti dulu. Begitu indah, hal terindah yg Asma punya.
▪️▪️▪️
Tbc...