
Asma yg merasa bosan di kamarnya, ia segera turun dan ia melihat Adil yg mondar mandir sambil menelpon seseorang.
"Telpon siapa, Kak?" tanya Asma
"Fatimah, Whatsapp nya engga aktif. Pulsa ku habis lagi"
"Pakek ponsel Asma aja, Asma ambilin sebentar"
"Engga usah, kakak ambil sendiri. kamu engga boleh naik turun tangga terus" seru Adil dan ia pun segera bergegas mencari ponsel Asma. setelah didapatkannya, ia segera turun dan bergabung dengan Asma yg sedang menonton tv.
Tak lama kemudian, Ummi Kulsum datang dengan membawa beberapa kantong plastik belanjaan.
"Asma, gimana keadaan mu,Nak?" tanya Sang Ibu yg melihat putrinya sudah keluar kamar.
"Baik, Ummi. Ummi dari mana?" tanya Asma sembari mengikuti Ummi nya yg berjalan menuju dapur.
"Habis beli buah sama suami mu" Asma hanya ber oh ria dan ia pun mengeluarkan satu buah apel dari kantong plastik itu kemudian mencuci nya dan memakannya.
Sementara itu, Adil masih berusaha menghubungi Fatimah tapi belum juga di jawab. Ia pun memutuskan mengirim pesan saja dan meminta Fatimah menelpon balik.
Dan tanpa sengaja, Adil melihat pesan yg Asma kirim pada kontak Bilal yg mengatakan Asma sudah tidak sanggup lagi, karena merasa ada yg aneh dengan pesan itu, Adil pun membuka nya.
Dan betapa terkejut nya Adil saat membaca chatting an sama dengan Bilal. Adil menggeram marah, ia mengepalkan tangannya kuat. Kemarahannya terpancar jelas di matanya dan sangat mengerikan seolah ia ingin menghancurkan apa yg membuatnya marah, apa lagi saat Adil melihat waktu kapan Asma mengirim pesan dan kapan Bilal membalasnya. Adil semakin marah, karena melihat pesan itu sudah di baca namun tidak ada balasannya sama sekali.
Dari pesan Bilal yg mengatakan akan segera pulang dan pesan Asma yg memberi tahu perut dan punggung nya sakit adalah sekitar tiga puluh menit. itu artinya, Bilal sudah tahu sejak beberapa menit sebelumnya bahwa Asma sakit, tapi mereka tidak pulang. Adil semakin geram dengan adik ipar nya itu. ia fikir sejak pesan pertama Asma yg mengatakan perutnya kram, seharusnya Bilal segera pulang, tapi Asma masih mengirim pesan lagi 30 menit kemudian dan kembali meminta mereka pulang.
Adil pun memeriksa panggilan keluar dari hp Asma, dan ada beberapa panggilan keluar pada Bilal di menit menit yg sama dan.
"Sialan, jadi suaminya sendiri yg tidak peduli pada Asma meskipun sudah tahu Asma membutuhkan nya. Aku pasti akan menghabisi mu, Bilal" geram Adil. ia melemparkan ponsel Asma ke sofa dengan marah. Sebagai kakak tentu ia tak terima adiknya di abaikan apa lagi sampai kehilangan bayi yg di kandung nya. Segala fikiran buruk tentang Bilal muncul begitu saja dalam benaknya.
Adil mencari Bilal keluar dengan amarah yg menggebu. Yg ada di fikirannya saat ini adalah menghabisi Bilal, sekarang Adil mengerti kenapa Asma marah pada Bilal dan menyalahkan Bilal atas apa yg tejadi.
Saat Adil melihat Bilal yg juga hendak masuk kerumah, Adil tiba tiba menghentikan langkah nya dan ia teringat kembali dengan pesan itu. Adil seperti menyadari sesuatu.
Ia pun kembali ke dalam, mengambil ponsel Asma dan membaca pesan nya lagi.
"Asma?" gumam nya, ia tampak seperti memikirkan sesuatu dan sekali lagi ia menggumamkan nama adik nya 'Asma'.
"Ya Allah... ini bukan Bilal" Adil berkata dengan terkejut. Ia tahu, dan bahkan semua orang tahu, Bilal tidak pernah memanggil adiknya dengan nama Asma. Bilal hanya memanggil nya dengan nama Zahra. Bahkan saat pertama kali bertemu dengan Abi Rahman, Bilal sudah menggunakan nama Zahra untuk kekasih hatinya itu, dan Bilal juga menjelaskan pada Abi Rahman kenapa ia memanggilnya Zahra. Mengingat semua itu, Kini Adil berbalik mencari Asma. Adil berfikir pasti Asma telah salah faham dan mengira Bilal yg mengabaikan nya, karena itulah Asma membenci Bilal.
"Dek..." panggil Adil, ia menghampiri Asma yg sedang menikmati buah apel di dapur.
"Kenapa, Kak?" tanya Asma.
"Kakak mau bicara, ayo!"
"Kenapa engga bicara di sini aja?." sela Ummi Kulsum
"Ini maslah kakak Adik, Ummi" Jawab Adil, dan ia pun menarik tangan Asma dan membawa Asma ke kamar nya.
"Ada apa sih, Kak. kayak penting banget"
"Ini memang penting. Dengar, kamu sudah salah faham sama Bilal, Asma."
"Maksud kakak?"
"Kakak tahu kenapa kamu membenci Bilal, karena kamu fikir Bilal mengabaikan mu, iya kan?. karena malam itu kamu sudah meminta Bilal pulang tapi dia tidak pulang. Dek, bukan Bilal yg menjawab pesan mu, tapi orang lain. Kamu tahu kan, Bilal hanya memanggil mu dengan nama belakang mu, Zahra. Engga pernah sekalipun dia memanggilmu Asma" Adil mencoba menjelaskan dan ia sangat berharap Asma mengerti maksud nya.
"Asma tahu, Mbak Khadijah yg membaca dan membalas pesan Asma" jawab Asma yg membuat Adil semakin terkejut
"Maksud mu?" tanya Adil tak mengerti.
"Asma mengenal suami Asma, Kak. Bilal pernah meninggalkan rekan bisnis nya hanya karena Asma lapar dan ingin makan masakan dia, lalu bagaimana mungkin dia engga mau ninggalin yg hanya sebuah pesta demi Asma dan anak kami?. Sejak awal Asma sudah tahu itu bukan Bilal."
"Jadi, kamu sudah tahu itu bukan Bilal?" Asma mengangguk
"Tapi kamu masih memusuhi Bilal?"
"Asma sama sekali engga pernah memusuhi Bilal, Kak. Asma sangat mencintai nya"
"Tapi selama ini kamu mengabaikan nya"
"Karena Asma ingin marah, Kak. setiap kali Asma berhadapan dengan Bilal, Asma ngin mengadu pada suami Asma dan mengatakan bahwa istri pertama nya adalah pembohong, Mbak engga pernah menyampaikan pesan itu bahkan sampai detik ini. Tapi kalau Asma mengatakan semua itu, hati Bilal pasti hancur, sedih dan sangat kecewa, karena selama ini, Bilal sangat percaya Mbak Khadijah adalah istri yg sangat baik dan dia menyayangi ku. "
"Tapi kenapa Khadijah melakukan semua itu?"
"Cemburu mungkin, atau benci sama Asma. Asma engga tahu"
"Lalu kenapa kamu engga bilang sama Bilal?"
"Dan setelah itu apa, Kak?. Bilal akan sedih dan yg pasti sangat marah, seperti kata Kakak dan Semua orang, Bilal sangat mencintai Asma, Asma engga bisa bayangin seperti apa reaksi Bilal jika tahu apa yg sudah Mbak Khadijah lakukan padaku, Asma cuma takut pernikahan mereka yg sudah lebih dari sepuluh tahun hancur begitu saja karena aku. Kasian mereka, Kak. selain itu, memang posisi Asma yg salah, karena sudah berada di tengah tengah mereka."
Adil merasa lemas seketika, ia tidak tahu, haruskah dia sedih dengan apa yg di alami adik kecilnya, atau haruskah dia bangga dengan kebaikan hati adik nya. Yg masih memikirkan orang lain yg sudah menyakiti nya. Apa lagi, bukan kehendak Asma untuk berada di tengah tengah mereka.
"Kenapa kamu engga cerita setidak nya sama Kakak, Dek"
"Asma engga tahu bagaimana menceritakan nya" ucap Asma sedih.
"Adik kesayangan Kakak, begitu banyak yg harus kamu lewati sendirian, bagaimana kamu bisa bertahan Asma?. Kamu pasti merasa tertekan." Ucap Adil sangat sedih. "Kenapa kamu engga cerita sama Kakak, Dek."
"Kan kakak yg bilang, kalau ada masalah dalam rumah tangga Asma, maka masalah nya harus tetap berada dalam rumah. Jika pun Asma harus bicara pada orang lain, maka itu hanya untuk mencari solusi, sementara Asma fikir engga ada solusi dalam masalah ini, Kak."
"Semua masalah pasti ada solusinya, Dek"
"Tapi engga ada solusi yg lebih baik selain diam, iya kan?. Lagi pula, kalaupun Asma ngadu, hanya akan ada pertengkaran. Yg Asma inginkan sekarang hanyalah pulang, Asma ingin menjauh dari Bilal dan istri pertama nya"
"Baiklah, Kakak akan bicara sama Bilal"
.
.
.
"Maafin Asma ya, Ummi. Asma selalu menyusahkan Ummi" ucap Asma lirih. "Asma memang belum jadi Ibu, tapi saat hamil, Asma bisa merasakan bagaimana khawatir nya sama buah hati. Saat Asma merasa kesakitan, Asma sangat takut kehilangan anak anak Asma. Apa itu juga yg membuat Ummi sampai pingsan kalau Asma kabur dari rumah? Ummi takut ya terjadi sesuatu sama Asma?"
"Iya, Nak. Ummi sangat takut. Setiap kali kamu lepas dari pandangan dan pengawasan Ummi, Ummi sangat takut. Bagaimana jika terjadi sesuatu dengan putri Ummi."
"Maafin Asma ya"
"Engga apa apa, Sayang. seorang Ibu akan selalu memaafkan sebesar apapun kesalahan anak anak nya"
Sementara di bawah, Adil memberi tahu Bilal bahwa ia ingin membawa Asma pulang. Tentu Bilal sangat terkejut dan tidak setuju dengan hal itu.
"Hanya beberapa hari, Bilal. Asma butuh waktu untuk menenangkan diri"
"Tapi aku sangat membutuhkan Zahra, Dil. Aku engga mau dia meninggalkan ku"
"Zahra mu engga akan ninggalin kamu, setelah beberapa hari saat Asma kembali tenang, kamu boleh menjemput nya"
"Apa Zahra yg meminta itu?" dengan sangat terpaksa Adil mengangguk " Apa dia sangat membenci ku sampai mau meninggalkan ku?" Bilal berkata dengan nada rendah. Ia tak menyangka Asma begitu membenci nya hingga mau meninggalkan nya.
"Dia sangat mencintai mu, bahkan lebih dari mencintai dirinya sendiri. Dia melakukan semua ini untuk mu"
"Untukku? yg aku butuhkan adalah Zahra ku selalu ada bersama ku"
"Bilal, cobalah mengerti. Asma hanya engga mau semakin menyakiti mu. Jika dia terus berada di sini, dia akan selalu sedih. Biarkan dia pulang dan menghibur diri nya"
"Jika dia pulang bersama kalian, aku juga akan ikut. Dia istri ku, Dil. Aku akan pergi kemana dia pergi".
Adil memijit pangkal hidungnya. sungguh cinta itu rumit, fikir nya. Yg satunya mau pergi yg satunya tak mau berpisah.
"Bilal, Asma sangat sedih dan tertekan dengan posisi nya saat ini, Dia masih kecil, kasian dia kalau harus terus terusan tertekan. Dia bahkan tidak mau bercerita tentang masalahnya pada siapapun. Dia berusaha memendam nya sendiri karena tidak ingin menyakiti mu ataupun Khadijah. "
"Apa kami telah menyakiti nya?" tanya Bilal sedih. Namun Adil tak mau menjawab nya. Membuat Bilal semakin sedih dan merasa bersalah.
"Jika dengan pulang bisa membuat Zahra kembali senang, kamu boleh membawa nya pulang" dan setelah mengatakan hal itu, Bilal segera bergegas ke kamarnya.
Adil tidak tega melihat Bilal sedih seperti itu, tapi ia jauh lebih tidak tega pada Adik kecilnya yg harus menanggung penderitaan sebesar itu sendirian.
Bilal membuka pintu kamarnya dengan sangat pelan, ia melihat istri tercinta nya itu tengah terlelap di pangkuan Ibu nya.
Saat melihat kedatangan Bilal, Ummi Kulsum dengan sangat hati hati meletakkan kepala Asma ke atas bantal, setelah itu ia segera turun dari ranjang.
"Makasih, Ummi" ucap Bilal
"Istirhat lah, Nak. kamu terlihat lelah" seru Ummi Kulsum. kemdian ia pergi dari kamar Bilal.
Bilal merangkak ke atas ranjang kemudian ia mencium kening Asma. Mengingat Zahra nya ingin pergi membuat Bilal sangat sedih. Sebesar itu kah kekecewaan Asma padanya hingga ia ingin meninggalkan Bilal. Tanpa sadar, Bilal meneteskan air mata nya saat mencium kening Asma, hingga membuat Asma terbangun saat merasakan air mata Bilal membasahi kening nya.
"Bilal..." panggilnya lirih.
"Iya, Sayang" jawab Bilal dengan suara rendah. Asma duduk dan seketika hatinya terasa perih saat melihat Bilal yg kembali menagis karenanya. Dengan lembut Asma menghapus air mata Bilal.
"Jangan menangis" seru Asma.
"Zahra, apa kamu sangat membenci ku?" tanya Bilal dengan suara serak. Asma menggeleng dan mengecup tangan Bilal. "Lalu kenapa kamu mau meninggalkan ku?"
"Aku hanya ingin menyendiri, Bilal."
"Lalu bagaimana dengan ku?"
"Ada istri mu yg lain di sini"
"Tapi dia bukan kamu, aku hanya mau kamu, Zahra"
"Aku... Aku engga tahu harus bagaimana, hidup ku terasa sangat rumit dan menyakitkan. Bagaimana aku harus menghadapi hidup ku dengan poligami ini, Bilal?. Aku selalu berusaha menerima nya, aku selalu berusaha menahan rasa cemburu di hati ku, tapi ketika sebuah kebencian yg harus aku hadapi bukan hanya berdampak pada ku, tapi juga berdampak pada mu, aku engga bisa menerima nya. Aku begitu sedih dan kecewa "
Bilal mendengarkan apa yg di katakan Asma dan mencoba mencernanya. Bilal sadar, Asma menceritakan sesuatu secara tersirat.
"Sayang... Apa maksud mu sebenar nya?. Kebencian apa yg kamu bicarakan?. siapa yg membenci mu ?"
"Jangan fikirkan itu, besok aku akan ikut Ummi pulang"
"Tapi Zahra..."
"Jika kamu memang mencintai ku, izinkan aku pulang"
Bilal menghela nafas berat, namun pada akhirnya ia mengangguk walaupun ia tampak sangat keberatan dengan keputusan Asma.
"Bagaimana jika kita pergi bersama sama?. ke suatu tempat, liburan?" Asma tersenyum samar, bagaimana ia mengatakan bahwa justru Bilal lah yg ingin ia hindari saat ini.
"Kasian istri mu yg di sini"
"Dan kamu juga istri ku" sanggah Bilal.
"Bilal, ku mohon..." Pinta Asma, ia ingin menghentikan perdebatan ini.
"Baiklah, tapi hanya beberpa hari, aku akan menjemput mu"
"Tidurlah" seru Asma sambil merebahkan diri nya, Bilal pun menyusul, ia memeluk Asma dari belakang.
▪️▪️▪️
Tbc....