My Ustadz My Husband

My Ustadz My Husband
Part 42



"Zahra.... Zahra! Sudah cukup."


"Kamu tuh keterlaluan, sudah bikin aku terlambat, malah di ketawain, capek tahu berdiri di luar kelas sampai pelajaran selesai" Asma berkata dengan kesal dan ia terus saja memukuli Bilal dengan bantal, sementara suami nya itu hanya bisa berusaha menangkis serangan Asma.


Sejak tadi, Asma sudah ingin menghajar Bilal, tapi suami nya itu pulang sangat terlambat dari kantor. Dan saat pulang, dengan seenaknya dia hendak mencium Asma seolah ia tak berdosa, tentu saja Asma langsung menyambut nya dengan pukulan menggunakan bantal nya.


"Aduh, Sayang. Udah dong, aku minta maaf deh, lain kali engga akan bikin kamu terlambat lagi, janji, beneran" Tutur Bilal sembari menghindari pukulan Asma. Namun justru Asma malah semakin membabi buta dan membuat Bilal tidak punya pilihan lain selain membalas nya. Alhasil, terjadilah perang bantal antara suami istri itu, yg membuat ranjang mereka sudah tak berbentuk lagi.


"Mau perang ya? Istri macam apa kamu ini, suami pulang kerja bukan nya di sambut malah di pukuli" ucap Bilal sembari juga berusaha memukul Asma dengan bantal nya.


"Iya, rasain ini! Kamu juga suami macam apa, istri di buat telat ke sekolah, pas kena hukuman di ketawain"


Perang bantal itu terjadi selama beberapa saat, sebelum akhirnya Asma merasa lelah dan ia sudah akan berhenti. Namun tiba tiba Bilal menarik nya hingga keduanya terjatuh ke tengah ranjang.


"Lepasin..." Asma memberontak saat Bilal mendekap tubuh kecil nya. Namun apalah daya, jelas suami nya itu punya kekuatan yg lebih besar hingga sekuat apapun Asma memberontak, tak memberikan efek apapun pada Bilal.


"Kamu sudah berani memukul suami mu, huh" Bilal menggelitik Asma dan langsung membuat Asma menggeliat geli sambil terkikik "Ini hukuman nya" Bilal kembali menggelitik Asma tak peduli Asma yg memohon untuk berhenti.


"Stop...stop.... haha... udah... Iya, maaf. Haha haha..." Asma tak bisa menghentikan tawa nya, ia berusaha melepaskan diri dari Bilal. Dan Bilal pun akhirnya berhenti, nafas keduanya memburu setelah pertarungan itu, Asma yg masih berada di atas tubuh Bilal bisa merasakan detak jantung suami nya itu begitu juga dengan Bilal yg bisa merasakan detak jantung istri nya karena posisi tubuh yg menyatu. Dan tanpa bersuara, Bilal mengangkat tangannya, membelai pipi Asma membuat Asma berhenti tertawa seketika, kini ia merasa gugup dan wajahnya terasa panas. Sementara tangan Bilal yg bebas semakin mengeratkan pelukannya di punggung Asma hingga tubuh Asma semakin melekat sempurna ke tubuh Bilal. Bilal menyingkirkan anak rambut yg menganggu wajah cantik Asma, tatapan keduanya bertemu, saling menatap satu sama lain dengan begitu intens, seolah ingin mengatakan sesuatu yg mengganjal di hati mereka.


"Zahra..." Bilal menyebutkan namanya dengan begitu mesra, itulah yg Asma rasakan. Saat Bilal mendekatkan wajahnya pada wajah Asma, Asma reflek menghindar. Namun dengan lembut Bilal mencengkram pipi Asma dengan tangan nya dan membuat Asma kembali menatap nya.


"Zahra, boleh kah aku..."


Drrttt...Drrttt.....


Bilal menggeram marah dengan dering ponsel Asma yg telah menganggu nya itu.


"Seperti nya Ummi" ucap Asma pelan, dan entah kenapa, ia juga merasa terganggu. Asma pun berusaha melepaskan diri dari Bilal yg masih memeluk nya. Namun Bilal justru mengeratkan pelukannya "Aku yakin itu Ummi, lepasin dulu" Asma berkata dengan suara rendah, bibirnya meminta di lepaskan, tapi jauh dalam hatinya ia tak ingin di lepaskan. Tanpa basa basi, Bilal menarik tengkuk Asma dan dalam hitungan detik, Bilal mendaratkan ciuman singkat di bibir kekasih hati nya itu, membuat Asma kembali terkejut dan tubuhnya terasa kaku. Saat Bilal hendak melalukan nya lagi, ponsel Asma kembali berdering. Dengan sangat terpaksa Bilal melepaskan Asma, dan Asma pun segera merangkak turun dari ranjang dan meraih ponsel nya.


Memang benar, ibunya lah yg menelpon, Asma menjawab nya dan ia mengobrol dengan sang ibu yg ia di rindukan itu.


Sementara Bilal, ia tampak kecewa karena kemssraan nya terganggu, namun ia tak bisa berbuat apa apa. Ia pun segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


.


.


.


Bilal mengajak Khadijah untuk pergi makan malam di luar dan juga bersama Asma, namun Khadijah menolak karena ia tiba tiba merasa pusing dan mual, ia merasa sangat lemah. namuny Khadijah mengatakan sebaiknya Bilal tetap pergi bersama Asma, awalnya Asma menolak karena ia tak mau pergi bertiga, namun saat Bilal menjelaskan Khadijah tak ikut, ia pun bersedia ikut. Ia juga ingin menghirup udara di luar sana, karena setiap hari, hidupnya hanya antara rumah dan pesantren.


Dan saat ini, Bilal bersama Asma sudah sampai di sebuah restaurant, setelah memarkirkan mobil nya, Bilal menggandeng tangan Asma dan membawa nya masuk. Bilal melihat Asma tampak senang karena akhirnya bisa keluar rumah. Bilal mempersilahkan Asma memesan apapun yg dia mau.


"Zahra..."


"Hemmm" jawab Asma sembari memasukan sesendok makanan ke dalam mulut nya. Bilal tak bersuara lagi, bukan nya menikmati makanan nya, ia malah asyik menatap Asma yg saat ini makan dengan lahap. Bilal tahu, untuk menjalani kemo ke singapura itu butuh waktu beberapa bulan, Bilal sebenarnya berat meninggalkan Asma, memikirkan nya saja rasanya sudah membuat dada nya sesak jika harus jauh dari Zahra nya. Ingin rasanya dia mengajak Asma bersama nya, tapi Bilal juga tak ingin Asma ketinggalan pelajaran, selain itu, apa juga yg akan Asma lakukan di Singapore.


"Ada apa? Kenapa engga makan?" tanya Asma karena Bilal terus saja menatap nya.


"Sayang, apa sebaiknya kamu ikut kami aja ke Singapore, ya? Rasanya aku engga bisa ninggalin kamu" seru Bilal. Asma menatap heran pada Bilal. Karena mereka bertiga sudah membicarakan itu dan keputusan sudah di ambil.


"Aku engga mau meninggalkan sekolah. Selain itu, apa yg harus ku lakukan di sana" jawab Asma "Kamu engga usah khawatir, aku kan tinggal sama Ummi, banyak orang di sana"


"Hmm, nanti aku pasti akan hubungi kamu tiap hari. Oh ya, bawa aja hp nya ke sekolah. Pokoknya hp kamu harus selalu ada bersama mu, jadi saat aku telpon kamu bisa langsung jawab" Asma hanya tertawa kecil mendengar ucapan Bilal yg seolah begitu takut berpisah dengannya. Sementara Asma merasa biasa saja, lagi pula Asma berfikir dia akan senang jika harus tinggal bersama Ummi nya, karena dengan begitu ia juga bisa tinggal di asrama dan menjalani hari sebagai santri sepenuh nya.


"Iya..." jawab Asma pada akhir nya "Aku ke toilet dulu" lanjut nya sembari beranjak dari kursi.


"Iya, jangan lama lama" pinta Bilal dan ia pun mulai memakan makanan nya.


Di toilet, setelah selesai Asma segera mencuci tangan nya, dan ia bergegas kembali ke kursi nya, namun ia mengernyit bingung karena Bilal sudah tidak ada disana. Asma berfikir mungkin Bilal juga ke toilet, namun setelah lama menunggu, Bilal tak kunjung datang, ia pun mencoba menghubungi Bilal, tersambung namun tak ada jawaban. Asma mencoba nya beberpa kali, namun hasil nya sama, Asma pun mengirim pesan dan menanyakan keberadaan nya. Namun setelah lama menunggu juga tak ada jawaban. Akhirnya Asma memilih bertanya pada seorang pelayan di sana.


"Saya tidak melihat nya, Bu" jawab pelayan itu. Asma kebingungan kemana Bilal pergi sebenarnya, ia sempat ingin pulang saja naik taksi, tapi Asma berfikir untuk menunggu Bilal beberapa saat lagi. Namun Bilal tak kunjung datang, ia pun berniat akan pulang sendiri.


Di luar, Asma berjalan sembari mencoba memesan taksi online. Namun naas, beberpa pria datang dan langsung mengambil tas serta ponsel nya, kemudian pria itu berlari kabur, Asma pun juga berlari mengejar nya.


"Hey.... tunggu.... hp ku.... berhenti...!"Asma mengejar hingga ia begitu jauh dari restaurant.


"Ku mohon, berhenti! Aku butuh ponsel ku, kalian boleh mengambil yg lain, ku mohon...!" teriak Asma dengan nafas yg tersendat karena ia mulai merasa kelelahan. Namun pria pria itu tetap berlari tak memperdulikan Asma, hingga Asma tanpa sengaja tersandung batu dan membuat nya jatuh terpental ke tanah. Asma meringis kesakitan, dan ia melihat kaki nya yg langsung memar.


"Aggghhh...." ia mengerang kesakitan saat berusaha berdiri. Dan tiba tiba langit berubah menjadi sangat gelap, suara petir bergemuruh dan di susul dengan gerimis, Asma mencari tempat berteduh hingga akhirnya hujan turun begitu deras, saat melihat sekeliling nya, Asma baru sadar, ia berada cukup jauh dari restaurant, dan tempat itu begitu sepi. Bahkan tidak ada tanda tanda taksi akan melewati jalan itu, tubuh Asma bergetar menahan takut dan dingin. Sementara semakin lama hujan semakin deras, Asma yg hanya berteduh di bawah sebuah pohon tetap terkena guyuran hujan hingga membuat nya menggigil. Sekarang ia menangis, ia merasa sendirian dan takut.


Asma bertanya tanya dimana suami nya itu. Kenapa dia meninggalkan Asma sendirian, Asma berusaha berjalan dengan kaki yg terasa sakit, ia berfikir dimana dirinya saat ini dan bagaimana dia bisa pulang. Asma mulai terisak, menahan sakit di kaki nya, takut di hati nya, dan membuat air matanya mengalir tanpa henti hingga bercampur dengan air hujan.


"Hiks...hiks...hikss... Ummi...."


Akhirnya, Asma menyerah, ia menjatuhkan dirinya di pinggir jalan. membiarkan air hujan mengguyur tubuh nya. Ia sudah tak tahu lagi apa yg harus dia lakukan, Asma hanya bisa menangis di bawah guyuran hujan dan berharap ada yg membawa nya pulang karena dia benar benar ketakutan.


Dan tiba tiba, Asma merasakan tepukan di pundak nya, sesaat hati nya berharap itu suami nya. Asma mendongak..


"Nak... ya Allah. Ada apa dengan mu?"


"Kenapa kamu bisa kehujanan di sini?"


"Hmm iya tadi tersesat, Kek. Terus hp sama tas ku di copet"


"Innalillah, kasian sekali kamu, Nak. Darah ini memang tidak aman"


"Dimana aku bisa cari taksi?" tanya Asma.


"Jarang sekali taksi lewat sini, sebaiknya aku antar kamu pulang ya"


"Engga usah, Kek. Ini sudah malam dan hujan, Aku engga mau ngerepotin"


"Nak, kota besar itu tidak aman bagi wanita bahkan di siang hari, apa lagi kalau di malam hari" setelah mendengarkan penjelasan sang kakek, Asma pun akhirnya setuju, dan lagi pula ia memang takut. Kakek itu membawa Asma kerumah nya yg tidak jauh dari sana untuk mengambil sepeda butut nya, Asma juga di sambut oleh istri kakek itu yg buta, wanita itu menawarkan Asma untuk mandi dan berganti pakaian yg kering, tapi Asma mengatakan dia akan langsung pulang. Wanita itu akhirnya memberikan jaket milik putri nya untuk Asma kenakan.


"Terima kasih, Nek" ucap Asma.


"Kami yg berterima kasih, Nak. Kamu telah membantu suami ku waktu itu, sungguh Allah selalu punya rencana yg lebih baik, uang yg kau berikan waktu itu sangat bermanfaat, karena cucuku jatuh sakit setelah hari ulang tahun nya, dan dengan uang mu, dia bisa di bawa ke Dokter dan juga mendapatkan sepatu baru" Asma tersenyum senang mendengar itu.


Kemudian Kakek itu mengantar Asma pulang setelah hujan reda. Di sepanjang perjalanan, Asma terus bersedih karena Bilal meninggalkan nya, ia menangis dalam diam.


Setelah sampai di depan rumah nya, kakek itu tampak terkejut.


"Kamu anggota keluarga Kiai Khalil?"


"Menantu nya, Kek"


"Masya Allah, beruntung sekali kamu, Nak. Jadi kamu istri Ustadz Bilal?"


"Bagaimana kakek tahu suami ku?" tanya Asma sembari turun dari sepeda nya.


"Sewaktu muda, kakek juga menuntut ilmu di pesantren ini. Dan yg Kakek tahu, rumah ini rumah pribadi nya Ustadz Bilal"


"Oh begitu, silahkan masuk dulu sebentar, Kek" pinta Asma


"Tidak, Nak. Aku harus pulang, kasian istri dan cucu ku"


"Baiklah, tunggu sebentar saja ya" pinta Asma sekali lagi, ia ingin mengambil uang untuk di berikan sebagai tanda terima kasih pada kakek itu.


"Tidak, Nak. Melihat mu pulang dengan selamat itu sudah membuat kakek senang dan tenang" ucap kakek itu seolah tahu maksud Asma. Akhirnya kakek itu pun pergi, Asma segera masuk dengan tubuh yg menggigil kedinginan, ia tidak tahu dimana suami nya itu dan ia sudah tidak mau tahu lagi. Seorang suami yg dengan tega nya meninggalkan istri nya di tempat asing sendirian.


Setelah menekan bel, pintu segera terbuka dan Bi Mina tampak terkejut namun juga lega melihat Asma yg sudah pulang.


"Ya Allah, Alhamdulillah. Neng Asma sudah pulang, Neng Asma baik baik saja kan?" namun Asma tak menjawab itu sama sekali. Ia terus berjalan ke kamar nya dengan kaki nya yg sedikit pincang, ia menutup pintu dengan keras kemudian mengunci nya.


Sementara Bi Mina segera menelepon Bilal dan memberi tahu bahwa istri nya sudah pulang.


Tak lama setelah itu, Bilal pun segera pulang dengan pakaian yg sudah basah kuyup pula, wajahnya terlihat panik dan takut.


"Neng Asma masuk ke kamar nya, Pak" ucap Bi Mina. Bilal pun segera berlari ke kamar Asma, namun saat mencoba membuka pintu, pintu nya di kunci.


"Zahra, Sayang. Kamu engga apa apa kan?" tanya Bilal dengan nada yg sangat panik dan khawatir. Ia merasa bersalah karena sudah meninggalkan Asma.


Asma yg mendengar suara Bilal menjadi sangat marah, setelah apa yg di lakukan Bilal, pria itu masih bisa menanyakan keadaan nya? Yang benar saja, fikir Asma.


Asma yg masih dengan pakaian nya yg basah membuka pintu dan ia menatap tajam Bilal.


"Ya Allah, Zahra. Aku mencari mu" seru Bilal hendak memeluk istri nya itu namun dengan cepat Asma mendorong nya menjauh.


"Mencari ku, huh? Untuk apa? Kamu meninggalkan ku disana sendirian, aku menelpon mu berkali kali, tapi kamu engga jawab" Asma berkata dengan emosi yg meluap.


Tampak wajah Bilal menyiratkan rasa bersalah yg sangat dalam, apa lagi saat Asma mulai meneteskan air matanya.


"Sayang.,maaf. Aku... aku sama sekali engga bermaksud meninggalkan mu, tadi Khadijah menelpon ku ja..."


"Kahdijah menelpon mu?" tanya Asma sarkastik "Jadi saat Khadijah menelpon mu kamu akan langsung berlari pada nya, meninggalkan ku dan melupakan ku, begitu?" tuduh Asma dengan emosi yg semakin meluap, ia mengusap air matanya dengan kasar.


"Bukan, bukan seperti itu, Zahra..."


"Tapi seperti itu yg kamu lakukan, BILAL" teriak Asma di depan wajah Bilal. Membuat Bilal terdiam seketika, untuk pertama kalinya Asma mengucapkan nama nya, dan itu dalam sebuah kemarahan yg di iringi air mata. Hati Bilal terasa perih dan sakit melihat ia telah sekali lagi menyakiti cinta nya, kekasih hatinya, jiwa nya.


"Zahra...ak...."


BRAKKKK


Asma menutup pintu dengan kasar, istri nya itu sama sekali tidak ingin mendengarkan nya, dia begitu marah, sedih, dan terluka. Dan itu memang salah Bilal,.Bilal merutuki diri nya sendiri, ia tak pernah ingin menyakiti Zahra nya, tapi ia selalu membuat Zahra yg di cintainya menangis.


▪️▪️▪️


Tbc...