My Ustadz My Husband

My Ustadz My Husband
Part 71



Asma masih bersikap seolah memusuhi Bilal, bahkan setiap kali ia membutuhkan sesuatu, Asma hanya akan memanggil orang tua nya atau pun kakaknya sekalipun Bilal ada di samping nya.


Tentu hal itu semakin meremukan hati Bilal. Bilal sudah tidak tahu lagi dengan cara apa dia harus meminta maaf, walaupun begitu, Bilal tetap berada di samping istri nya, dan dengan setia menemani nya.


Asma berusaha turun dari bangsal nya karena ia ingin ke toilet, dengan sigap Bilal berusaha membantu nya namun Asma menolak nya.


"Kakak" teriak Asma memanggil Kakaknya, namun Adil tidak kunjung datang.


"Kak Adil..." panggil Asma lagi dan terlihat Adil yg datang dengan beberapa bungkus makanan.


"Ada apa, Dek?" tanya Adil sembari meletakkan makanan itu di meja


"Asma mau ke toilet" jawab Asma. Adil melirik Bilal sekilas, sungguh Adil merasa kasihan pada Bilal, terlihat sekali Bilal sangat sedih dengan perlakuan Asma.


Bilal merasa seperti ada ribuan anak panah yg menembus jantung nya, rasanya kematian mungkin lebih baik dari pada harus di musuhi kekasih hatinya.


"Bilal, aku lupa engga beli air, bisa minta tolong beli air?" tanya Adil dan Bilal pun mengangguk kemudian segera pergi.


Setelah Asma keluar dari toilet, Asma melihat Bilal sudah tidak ada disana, dan Adil juga bisa melihat dari mata Asma, adiknya itu tidak sungguh sungguh memusuhi Bilal, terlihat jelas di matanya ia juga terluka setiap kali mengabaikan Bilal.


Adil membantu Asma untuk kembali ke bangsal nya.


"Ada apa dengan mu, Asma? kenapa kamu harus memusuhi suami mu seperti itu? apa kamu tahu, dia sama terpukul nya seperti kamu, bahkan mungkin lebih. Bilal sudah menantikan anak selama bertahun tahun. Kenapa kamu membuat suami mu semakin sedih?"


"Asma engga memusuhi nya, Kak. Asma hanya engga bisa berbicara dengan nya"


"Kenapa? kamu marah? Apa kamu menyalahkan Bilal atas keguguran mu? itu semua sudah menjadi takdir mu, kita engga bisa menyalahkan orang lain atas takdir yg terjadi pada kita. Kasihan suami mu, Dek. Dia sudah sangat sedih karena kehilangan anak anak nya, dan sekarang dia semakin sedih karena kamu selalu mengabaikannya"


"Asma juga sedih karena mengabaikan nya, Kak. tapi...Tapi setiap kali Asma ingin berbicara dengannya, yg Asma ingin katakan hanyalah kenapa Asma kehilangan anak kami, dan jika itu terjadi, itu hanya akan membuatnya semakin hancur. Asma hanya berusaha mengendalikan kemarahan Asma dan tidak melampiaskan nya pada Bilal" Jawab Asma dengan berderai air mata namun Adil sungguh tidak mengerti apa yg Asma maksud kan sebenar nya


"Apa maksud mu?" tanya Adil.


"Asma mau istirhat" Jawab Asma sembari menarik selimut dan menutupi setengah tubuh nya.


Adil hanya bisa menghela nafas dan ia pun membiarkan adiknya istirhat.


Tak lama kemudian Abi Rahman datang bersama Ummi nya.


"Asma.." panggil Abi nya itu dan Asma pun kembali membuka matanya "Abi harus pulang, Nak. Harus mengurus sekolah dan yg lain nya"


"Boleh Ummi dan Kakak tetap di sini?" tanya Asma.


"Iya, mereka berdua akan menemani mu di sini" jawab Sang Ayah. ia mencium kening Asma dan mengusap kepalanya. Ia juga tak tega melihat putri nya dalam keadaan seperti itu, dan Abi Rahman juga melihat bagaimana putri nya yg seolah memusuhi suami nya sendiri.


"Nak, marah dan bersedih itu manusiawi. Tapi memendam amarah hanya akan melahirkan kebencian, dan kebencian hanya akan menggelapkan hati mu. Dan jika kamu tenggelam dalam kesedihan, maka itu hanya akan menghancurkan hidup mu.


Hidup tidak akan berhenti hanya karena satu cobaan yang mungkin kamu fikir telah menghancurkan mu. Sementara hidup yg sebenarnya masih terus berjalan dan kamu harus bangkit, ada banyak kebahagian yg menanti mu di depan sana, dan mungkin cobaan yg lebih besar juga menanti mu, tapi bukankah itu arti kehidupan yang sebenarnya?. Yaitu hanya sekedar perjalanan, dan di setiap perjalan akan selalu ada rintangan. Tapi ingatlah, Putri ku. Rintangan itu bukan untuk menjatuhkan mu apa lagi menghancurkan mu, tapi sarana untuk menaikan kualitas hidup mu. Sama seperti kamu yg menjalani ujian di sekolah untuk naik kelas, begitu juga ujian kehidupan untuk menaikan derajat hidup mu."


"Lalu bagaimana jika sebuah penderitaan yg datang hanya karena kesalahan orang lain, apakah itu juga takdir?. Haruskah itu bisa di terima?"


"Sehelai daun yg jatuh karena tertiup angin, itu pun adalah takdir, sementara angin itu hanyalah perantara nya, kita tidak bisa menyalahkan angin" Asma tertunduk dan memikirkan perkataan Abi nya. "Sayang... " Abi Rahman membingkai wajah mungil putri nya "Jangan terus menyalahkan suami mu, saat ini kalian saling membutuhkan. Abi percaya Putri Abi sudah dewasa, bukankah begitu Asma?."


Asma mengangguk mengerti, ia memeluk Abi nya dan mengucapkan terima kasih.


"Terimakasih sudah selalu membimbing Asma, Bi".


"Semuanya nya akan baik baik saja, Nak. tetaplah bertawakal" Asma kembali mengangguk.


.


.


.


Nora dan Imel yg mendengar kabar keguguran Asma terus memohon pada Mila agar mereka di izinkan kerumah sakit untuk menjenguk sahabat mereka, tapi Mila tak mempunyai kuasa untuk memberi izin pada mereka.


Karena tak tega dengan kedua anak didik nya itu, Mila pun membawa mereka pada Dini dan berharap Dini mau membawa mereka menjenguk Asma. Dini yg sudah tahu kedetakan Asma dengan dua santri nya itu pun bersedia membawa mereka kerumah sakit.


"Kita akan ke rumah sakit bersama sama,tapi kalian harus minta izin dulu pada guru kalian" Ucap Dini.


"Kami sudah meminta izin, dan kami di izinkan" Jawab Imel. tentu saja mereka di izinkan, karena yg akan mereka jenguk adalah menantu Kh Khalil.


"Sebenarnya Khadijah juga mengajak ku menjenguk Asma, jadi kenapa kita tidak pergi sekarang bersama sama?"


"Ide yg bagus" jawab Dini, kemudian Dini menatap Imel dan Nora "Semoga kehadiran kalian bisa menghibur Asma, dia sangat terpukul dengan apa yg di alami nya"


"Semoga saja, kami selalu mendoakan yg terbaik untuk Neng Asma" jawab Imel.


.


.


.


Imel dan Nora sangat sedih melihat Asma yg tampak sangat sedih, bahkan mata gadis itu benar benar sembab dan ada lingkaran di bawah mata nya.


"Yg sabar ya" ucap Imel sambil memegang tangan Asma.


"Bagaimana kalian bisa kesini, apa kalian bolos?" tanya Asma.


"Engga, kami sudah minta izin. kami terus memikirkan keadaan mu" jawab Nora.


"Aku baik baik saja" jawab Asma yg tentu saja apa yg di katakan nya sangat berlawanan dengan apa yg di rasakannya.


Dan sesaat kemudian Adil masuk ke kamar Asma, Asma langsung memperkenalkan kedua sahabat nya pada kakak nya itu.


Sementara Ummi Kulsum ada di luar bersama Dini dan yg lain nya. Namun Ummi Kulsum melihat Khadijah terus melamun sejak tadi, Ummi Kulsum mengira ia juga pasti sedih atas apa yg menimpa Asma


"Khadijah..." Khadijah tersentak saat meraskan tepukan di pundaknya


"Kamu sejak tadi melamun" jawab Ummi Kulsum "Tente bisa mengerti kamu juga pasti sedih, tapi jangan sampai itu membuat mu stress juga. Kamu kan masih harus selalu menjaga kesehatan mu. Tante harap kamu dan Bilal bisa memberikan dukungan untuk Asma"


"I..iya" jawab Khadijah gugup.


.


.


.


Setelah beberapa hari di rawat, Dokter mengizinkan Asma pulang,namun Asma masih harus beristirahat total. Bilal dan yg lainnya sangat senang karena Asma kini sudah membaik.


"Aku mau pulang kerumah ku" Asma berkata pada Bilal namun ia masih enggan menatap Bilal.


"Iya, Sayang" jawab Bilal dengan senyuman, walaupun Asma masih terlihat membenci nya, namun Bilal sudah cukup senang karena kini Asma mau berbicara dengannya.


"Itu ide yg bagus, aku juga sangat penasaran dengan rumah adikku" sela Adil.


Karena masih sedikit lemah, Bilal membawa Asma keluar menggunakan kursi roda. Dan kali ini, Asma membiarkan Bilal membantu nya.


Di sepanjang perjalanan, Asma terus memeluk Ibu nya, sementara Bilal yg menyetir membicarakan banyak hal dengan Adil.


Hingga mereka sampai di rumah Asma. Ibu nya terlihat mengagumi rumah itu.


"Ini rumah kalian?" tanya sang Ibu.


"Iya, Ummi. masih belum sempurna, tapi sudah bisa di tempati" jawab Bilal, ia pun menggendong Asma dan meminta Adil yg membukakan pintu.


"Apa engga terlalu besar kalau cuma untuk kalian berdua?" tanya Ummi nya lagi, Bilal tersenyum karena Asma juga pernah mengatakan hal yg sama.


"Engga, nanti kan kami punya anak anak, jadi...."


anak anak?


Bilal dan Asma menunjukan ekspresi yg sama saat tanpa sengaja Bilal kembali menyebutkan anak anak.


Ummi Kulsum yg mengerti perasaan Asma dan Bilal segera menghibur nya.


"Tentu kalian akan punya anak anak lagi, putri ku masih sangat muda, segar, dan yg pasti masih sangat kuat. dan dia bahkan bisa melahirkan 10 anak lagi. Asal kamu kuat aja membuatnya, Bilal. Tapi engga tahu deh kalau kamu sudah engga kuat lagi" cetus sang Ibu pada Bilal, yg membuat Bilal tersenyum malu malu karena mendapatkan godaan seperti itu dari Ibu mertuanya.


Bahkan kata kata itu berhasil membuat Adil menganga tak percaya, pasalnya sang Ibu tidak pernah mengatakan hal seperti itu sebelum nya.


Tanpa sadar, Asma juga tersenyum geli mendengar Ummi nya yg entah sejak kapan jadi mesum begitu.


Bilal yg melihat istri kembali tersenyum tak bisa menyembunyikan senyum senang nya.


Bilal membawa Asma ke kamar mereka, dan Asma kembali bersedih saat melihat ranjang bayi yg sudah Bilal siapkan, begitu juga dengan Bilal.


"Aku akan memindahkan nya" Seru Bilal sambil menidurkan Asma ke ranjang, ia tak mau Asma sedih jika melihat ranjang bayi itu yg akan mengingatkan pada kehilangan mereka.


"Engga usah" jawab Asma.


"Baiklah, Sayang. kamu istirhat ya. aku akan mengantar Adil dan Ummi ke kamar mereka" Bilal berkata sambil menyalakan AC kamar nya.


"Matikan saja" pinta Asma "Buka saja jendela nya" lanjut nya. Bilal pun kembali mematikan AC nya dan membuka semua jendela kamar nya.


"Aku tinggal sebentar, kalau butuh apa apa, panggil aku ya" Dan Asma hanya diam membuat hati Bilal kembali terasa perih.


Bilal pun meninggalkan Asma dengan wajah sedih. Namun Asma jauh terlihat lebih sedih, ia bukan hanya sedih, tapi juga marah. Asma sudah hampir tak sanggup lagi menahan amarah dalam hati nya, tapi Asma sangat mencintai suaminya, dan itu yg membuat nya terus mendiamkan suami nya, karena jika dia bicara, maka yg akan dia bicarakan hanyalah kemarahannya.


Kemarahan nya pada istri pertama nya.


Saat pesan Asma di baca tapi tidak di balas, Asma memang menangis, karena dia tahu Khadijah lah yg membaca pesan nya. Sejak pesan pertama, Asma sudah tahu itu, karena Bilal tidak pernah menyebutkan nama 'Asma', Bilal hanya akan memanggilnya 'sayang' atau 'Zahra'.


Asma tidak tahu apa yg membuat Khadijah mengabaikan nya, yg Asma tahu Khadijah tidak mempedulikannya, ia menelpon ponsel Bilal berkali kali setelah Khadijah menerima pesan tentang kondisi nya,tapi Khadijah tak menjawab nya.


Asma juga tahu, Khadijah tidak menyampaikan pesan nya pada Bilal, karena seandainya pesan itu sampai pada Bilal, maka Bilal akan segera pulang.


Jika Bilal rela meninggalkan pekerjaan nya hanya karena Asma ingin makan masakan Bilal.


Lalu bagaimana mungkin Bilal tidak bisa meninggalkan sebuah pesta untuk Asma dan bayi nya yg sedang membutuhkan pertolongan?


Semua itu membuat Asma berfikir bahwa sebenarnya Khadijah tak pernah benar benar menerima dirinya, Asma merasa sangat kecewa pada Khadijah.


Asma ingin marah dan melampiaskan kemarahan nya, apa lagi setiap ia menatap Bilal, sebagai istri tentu ia ingin memberi tahu suaminya apa yg sebenarnya terjadi, tapi Asma berusaha diam, karena jika Bilal tahu itu, Bilal akan sangat kecewa, dan bersedih. Dan Asma tak bisa membayangkan apa yg akan Bilal lakukan pada Khadijah.


Asma tak mau membuat hubungan mereka yg sudah di bangun bertahun tahun hancur.


Asma kembali meneteskan air matanya, mengingat bahwa Khadijah lah yg memberikan kehidupan nya yg sekarang, tapi Khadijah juga yg mengambil nya.


Sementara itu, Bilal mengantar Adil dan Ummi nya ke kamar mereka masing masing, agar mereka semua bisa istirhat. Mereka juga pasti sangat lelah, apa lagi dirumah sakit, tidak ada yg bisa tidur dengan nyenyak.


.


.


.


Khadijah sendiri masih di selimuti rasa bersalah, dan juga sedih. Apa lagi melihat Asma yg seolah memusuhi Bilal, Khadijah berfikir Asma menyalahkan Bilal karena ia tak bisa menyelamatkan bayinya. Tentu itu juga membuat Khadijah sedih dan merasa bersalah pada Bilal, karena ia tahu Bilal tidak tahu apapun tentang kondisi Asma saat itu.


Terlintas dalam benak Khadijah untuk mengakui saja kesalahan nya, karena ia memang tidak sengaja melakukannya . Tapi rasa takut dengan apa yg akan dilakukan Bilal padanya nanti kembali menghantui nya.


Khadijah tidak akan sanggup menerima kemarahan Bilal, apa lagi bagaimanan jika sampai Bilal meninggalkan nya?


▪️▪️▪️


Tbc.....