My Ustadz My Husband

My Ustadz My Husband
Part 82



Khadijah dan kelurga Bilal sangat terkejut dengan kepergian Bilal yg tidak memberi tahu siapapun. Mereka tak habis fikir bagaimana bisa Bilal se nekat itu. Karena jika terjadi sesuatu dengannya, mungkin itu akan membahayakan nyawa Bilal.


Tapi Bilal menjelaskan pada keluarganya bahwa ia tak bisa menunggu lebih lama lagi, bukan hanya karena merindukan Zahra nya. Tapi juga karena ia harus menjelaskan apa yg terjadi sebenarnya pada keluarga Asma.


Dan bahkan, Bilal meminta maaf pada kedua orang tua Asma atas nama Khadijah.


Bilal menjelaskan bahwa itu adalah kesalahan yg tidak di sengaja. Tentu saja kedua orang tua Asma tak serta merta mempercayainya. Mereka sudah terlanjur kecewa, apa lagi Khadijah sendiri yg memohon mohon pada Ayah Asma untuk bisa menyerahkan putri nya pada suaminya.


Ayah Asma memberikan putri nya dengan harapan bisa membawa kebahagiaan pada Bilal dan juga Khadijah, dan Abi Rahman percaya Bilal bisa membuat Asma bahagia. Tapi ia lupa, tak kan ada kebahagiaan bagi siapapun yg hidup dalam lingkaran cinta segitiga. Abi Rahman harus mengakui bahwa diri nya terlalu naif karena tak memikirkan hal itu. Ia sendiri merasa bersalah pada putri bungsu nya karena telah mendorong nya pada kehidupan yg sulit.


"Saat ini, satu satu nya yg aku mau, hanyalah kebahagiaan dan kedamaian dalam hidup putri ku, Bilal. Dulu dia adalah gadis kecil kami yg selalu ceria, selalu tersenyum dan suka bercanda. Dimana ada Asma, di situ ada tawa kebahagiaan. Tapi sekarang, aku sendiri hampir tidak mengenali putri ku, dia sering murung, melamun dan selalu sedih. Dan melihat dia seperti itu, adalah penderitaan terbesar dalam hidup kami"


Bilal hanya bisa menunduk malu,rasa bersalah dan penyesalan seakan segera membunuhnya.


"Aku mengerti, Bi. Melihat Zahra meneteskan air mata nya juga membuat ku serasa akan mati, rasanya sangat menyakitkan. Tapi ku mohon, berikan aku satu kesempatan lagi untuk membawa nya bersama ku"


"Nak, kami sudah pernah mengambil keputusan untuk hidup putri kami, tapi sekarang tidak lagi. Itu adalah hidup nya, Asma kami akan memutuskan apapun yg dia inginkan dalam hidup nya. Dan apapun keputusan nya, kami akan selalu mendukung nya"


Asma yg menguping pembicaraan kedua orang tuanya dan suaminya itu hanya bisa menangis dalam diam. Ia juga merasa hancur setiap kali memikirkan akan berpisah dari Bilal. Tapi ia juga tak sanggup menjalani hidup dalam lingkaran cinta segitiga itu.


"Asma..." Asma tersentak saat tiba tiba Shofia sudah berada di samping nya.


"Ya, Shofia?" jawab nya sambil dengan cepat mengusap air matanya.


"Boleh bicara sebentar?" tanya Shofia, Asma pun mengangguk dan ia membawa Shofia ke samping halaman rumah nya, mereka duduk di ayunan dan menikmati angin pagi yg begitu sejuk.


Shofia merentangkan kedua tangan nya dan menghirup udara yg begitu segar.


"Aku suka di sini, seandainya bisa, aku akan tinggal di desa seperti ini, sejuk" Asma hanya tersenyum samar.


"Apa yg ingin kau bicarakan?" tanya Asma.


"Kakak ku yg gila itu" jawab Shofia "Asma, aku mohon, berikan dia satu kesempatan lagi. Dia benar benar tergila gila pada mu, dia sangat mencintai mu"


"Shofia itu..." Asma menjilati bibirnya yg tiba tiba saja terasa kering "Shofia, apa Bilal tidak menerima surat?"


"Surat? surat apa?" Asma tak bisa menjawabnua.


"Sebuah kiriman. Apa dia tidak menerima nya?"


"Kak Bilal belum pulang sama sekali dan sepertinya dia tidak menerima kiriman apapun. Dia selama ini berada di rumah sakit. Bahkan seharusnya dia masih di rawat, tapi dia bersikeras ingin menemui mu dan keluarga mu".


Terlintas dalam benak Asma, mungkinkah Khadijah yg menerima surat cerai itu?.


"Asma..." Shofia menepuk pundak Asma yg terlihat melamun " Aku bisa mengerti bagaimana perasaan mu. Tapi sungguh, Kak Bilal sangat mencintai mu, Dokter Bilang tubuh kakak ku memang koma, tapi dia bisa mendengar dan otak nya masih berfungsi dan bisa merespon kami, kami melakuan segala cara untuk membuat nya sadar, tapi tak membuahkan hasil sedikitpun. Tapi, saat saat aku menyebutkan nama mu, seketika dia merespon dan juga detak jantungnya perlahan stabil. Dia baru terbangun saat aku mengatakan mungkin kamu akan meninggalkan nya jika dia tidak segera menjemput mu"


Asma berkaca kaca mendengar penuturan Shofia, apakah sebesar itu cinta Bilal pada nya?. Dan sekarang Asma pun mengerti kenapa sering sekali ia memimpikan Bilal dan terus menerus memikirkan suaminya itu.


"Istri nya yg lain juga sangat mencintai Kakak mu, Shofia." jawab Asma sambil mengedipkan matanya supaya air matanya tak lagi tumpah begitu saja. "Dia bisa merawat Bilal dan menjaga Bilal dengan baik, dia juga sangat membutuhkan Bilal di sisi nya"


"Tapi Kak Bilal juga membutuhkan mu, se besar Mbak Khadijah mencintai Kakak, se besar itu juga kakak mencintai mu"


"Tidak, Shofia." Asma segera berdiri dan berpaling dari Shofia, ia tak ingin Shofia melihat nya meneteskan air mata yg sudah tak sanggup lagi ia tahan "Ada yg lebih besar dari cinta, yaitu kewajiban dan tanggung jawab. Bilal memilik kewajiban dan tanggung jawab pada istri pertama nya, apa lagi dia jauh lebih membutuhkan Bilal dari pada aku"


"Apa kamu tidak mencintai Kakak ku, Asma?"


"Aku...." Asma mengusap air mata nya " Aku mencintai nya. Tapi rasanya menyakitkan hidup dalam lingkaran cinta segitiga"


"Kalau begitu, minta saja Kak Bilal menceraikan Mbak Khadijah"


"Apa kau gila?" teriak Asma yg tak menyangka Shofia bisa mengatakan hal itu begitu saja. Ia sendiri tak pernah memikirkan hal itu, pernah.... dalam mimpi. Tapi tidak di dunia nyata.


"Kenapa?. Kalian saling mencintai. Mungkin kamu bisa hidup tanpa Kak Bilal. Tapi aku engga yakin Kak Bilal bisa hidup tanpa mu"


"Kenapa engga?. Ada istri pertamanya di sisi nya, mereka sudah bersama selama bertahun tahun"


"Bahkan, jika ada sepuluh Mbak Khadijah dalam hidup Kak Bilal. itu tidak akan bisa menggantikan satu Zahra nya."


"Itu terlalu berlebihan, Shofia. Istri pertama Bilal jauh lebih pantas mendapatkan Bilal."


"Dan Kak Bilal juga pantas mendapatkan cinta nya. fikirkan itu!"


Setelah mengucapkan hal itu, Shofia berjalan meninggalkan Asma sendirian.


Dan Shofia tersenyum pada Kakaknya, yg sebenaranya sejak tadi mendengarkan obrolan mereka. Shofia tak benar benar ingin Bilal menceraikan Khadijah. Yang benar saja, Shofia tak sejahat itu, Shofia sengaja mengatakan hal itu karena ingin tahu jawaban Asma. Dan Asma memberikan jawaban yg sangat mengagumkan, baik bagi Shofia maupun Bilal.


"Wanita yang masih memikirkan wanita lain, sekalipun wanita itu yg telah merenggut kebahagiaan nya, adalah wanita yg pantas di perjuangkan, Kak. Shofia tahu, Kak Bilal tidak bisa memilih antara Mbak Khadijah yg sudah menemani Kakak selama ini, atau Zahra yg sangat kakak cintai. Tapi kedua wanita itu pantas mendapatkan kebahagiaan nya masing masing. Jangan memaksakan kehendak mu, apa lagi pada Asma. Karena dia sama sekali tidak pernah memasuki hidup kalian, tapi kalian lah yg memasuki hidup nya"


"Kakak tahu, Shofia. " Jawab Bilal sambil melihat Asma yg duduk di ayunan. "Tapi Kakak tidak akan melepaskannya apapun yg terjadi. Katakan lah kakak egois, tapi kakak tidak mungkin meninggalkan Khadijah apa lagi kehilangan Zahra. Mereka seperti jantung dan hatiku. Aku terikat pada keduanya"


"Keputusan ada di tangan Kakak. Tapi cinta tak harus memiliki, Kak"


.


.


.


Khadijah memegang kepala nya yg terasa sangat pusing dan tubuhnya lemah, ia bahkan beberapa kali muntah darah.


"Kita harus panggil Bilal, Khadijah"


Hubab berkata sambil membantu Khadijah berbaring.


"Tapi setidak nya biar dia tahu keadaan mu"


"Aku engga apa apa" jawab Khadijah. " Aku engga mau ganggu mereka saat ini, Asma pergi karena kesalahan ku, dia dan keluarga nya pasti berfikir aku tidak bisa menerima keberadaan nya. Padahal itu sama sekali tidak benar"


"Bilal pasti sudah menjelaskan semua nya"


"Dan itu membuat ku semakin merasa berdosa, suami ku yg harus menanggung kesalahan ku, aku istri yg sangat buruk, kan?"


"Kamu istri yg sangat baik"


"Aku sudah mengecewakan Mas Bilal, aku bukan istri yg baik"


"Kamu itu bukan malaikat, tentu bisa berbuat kesalahan" Khadijah mengulum senyum mendengar kata kata saudara sepupunya itu yg entah sejak kapan menjadi bijak.


"Aku harus kembali ke kantor, tanpa Bilal aku kewalahan."


"Iya, Engga apa apa. Sebentar lagi Mila juga datang. Dia akan menginap disini malam ini"


"Syukurlah, aku pergi dulu" Khadijah mengangguk saja dan ia hanya bisa memandangi Hubab yg berjalan keluar dari kamar nya.


Dan sekarang, Khadijah merasa sendirian. Sejak pingsan dirumah sakit waktu itu, kondisi nya terus memburuk apa lagi ia selalu merasa tertekan karena keadaan Bilal dan kepergian Asma, tapi Khadijah menahannya sendirian.


Sebelumya, ia selalu bergantung pada Bilal, merasa pusing saja, dia akan segera memberi tahu Bilal dan Bilal akan menjaga nya dan merawatnya dengan penuh kasih sayang. Tapi sekarang, ia harus bisa merawat dirinya sendiri. Ia tak ingin lagi terus menerus bergantung pada Bilal hingga membuat Bilal hanya fokus padanya.


Khadijah teringat apa yg di katakan Bilal itu benar, selama ini Asma hanya diam ketika Bilal sibuk menghabiskan waktunya untuk mengurus Khadijah. Tapi sekarang, Khadijah sadar kewajiban Bilal bukan hanya pada nya sekalipun ia sakit, Asma juga membutuhkan nya.


Sementara itu, Hubab yg baru saja di sampai di kantornya segera bergegas menuju ruangan nya.


Ia duduk di kursinya dan mengambil sebuah map dari laci nya.


Hubab mengeluarkan kertas itu, ia membaca isi nya sambil geleng geleng kepala.


Hingga sebuah ketukan mengagetkan nya, dan muncullah sekretaris nya yg cantik dengan balutan busana Muslim berwarna hijau.


"Pak, saya sudah nunggu dari tadi, ada berkas penting yg harus di tanda tangani"


Wanita itu menyerahkan berkas nya dan Hubab menandatangani nya. Setelah itu, Hubab menatap sekretaris nya itu dan bertanya.


"Apa kamu pernah jatuh cinta, Sil?"


Sekretaris nya yg bernama Sisil itu mengangguk dan menunjukan jari manis nya di mana cincin pernikahan melingkar indah di sana.


"Tentu saja, Pak. Pada pria yg menyematkan cincin ini di jari saya"


"Kamu sangat mencintai nya?" Sisil menatap curiga pada atasannya itu, ia khawatir jangan jangan Hubab naksir pada nya.


"Sangat, Pak. Melebihi nyawa saya sendiri" Jawab Sisil yakin, dalam hati ia berdoa semoga Hubab tidak memecatnya karena sudah membuat Hubab patah hati.


"Lalu, apa kamu akan melepaskan suami mu seandainya dia jatuh cinta pada wanita lain?"


"Hah?" Respon Sisil. Karena sepertinya dugaan nya meleset "Kenapa Pak Hubab tanya begitu?" Tanya Sisil penasaran.


"Jawab aja, jika suami mu mencintai wanita lain, apa yg akan kamu lakukan?. Mengizinkan dia menikahinya atau malah melepaskannya?"


"Pak..." Seru Sisil dan ia segera memasang wajah serius "Saya Sholat lima kali sehari, dan di setiap sholat saya, saya selalu berdoa dan curhat sama Allah, sebelum suami saya di ambil wanita lain, saya lebih ikhlas dan ridho kalau Allah mengambil nya lebih dulu."


"Astaghfirullah..." gumam Hubab. Ia menatap Sisil, tak menyangka sekretaris cantiknya itu ternyata sadis. "Sadis sekali" gumam nya.


"Kenapa, Pak?" tanya Sisil yg samar samar mendengar gumaman Hubab.


"Engga...engga apa apa" jawab Hubab. Ia kemudian memberikan berkas yg sudah ia tanda tangani kepada Sisil.


"Itu surat apa, Pak?" tanya Sisil yg melihat surat yg cukup asing.


"Surat cerai"


"Hah?" seru Sisil terkejut "Saya engga tahu Pak Hubab sudah menikah, kok malah sudah mau cerai aja"


"Ck, bukan punya ku" jawab Hubab "Punya teman, ya udah. kamu keluar gih. Saya mau kerja"


Sisil masih menatap penasaran pada Hubab, namun Hubab memelototinya, membuat Sisil segera berlari keluar dari ruangan bos tampannya yg tetap jomblo itu.


Hubab menghela nafas berat, andai Khadijah dan Asma memilik pemikiran yg sama seperti Sisil. fikirnya. Atau setidaknya, tidak perlu ada drama saling berkorban yg malah menyulitkan mereka sendiri.


Sekali lagi Hubab membaca surat gugatan cerai Asma yg sudah di tanda tangani oleh Asma, seandainya Asma bukanlah istri Bilal, tentu Hubab akan melompat kegirangan melihat surat cerai itu. Namun Asma adalah istri dan cinta dari saudara nya.


Saat itu, Hubab berada di rumah Khadijah dan dialah yg menerima surat itu.


Melihat itu adalah sebuah map dan membaca siapa pengirimnya, Hubab sudah curiga dengan apa isi nya. Dan ia sangat terkejut dan tak percaya karena Asma mengirimkan surat cerai itu pada Bilal.


Hubab sengaja tak memeberi tahu surat itu pada siapapun termasuk Bilal apa lagi Khadijah. Bilal pasti akan hancur melihat surat itu, tapi bukan itu alasan Hubab menyembunyikan surat cerai itu. Alasannya adalah Khadijah, jika Khadijah tahu Asma ingin bercerai dari Bilal, maka saudari sepupunya itu bisa mati karena merasa bersalah.


Meskipun semua orang meragukan ketulusan Khadijah, tapi Hubab tidak meragukan nya sedikitpun. Mereka tumbuh bersama dan Hubab sangat mengenal saudarinya itu.


Dan apa yg akan terjadi selanjutnya, Hubab tidak tahu. Dan apakah yg di lakukan nya itu benar atau salah, Hubab juga tidak tahu.


Hubab memasukan surat cerai itu ke Paper Shredder dan membiarkan kertas itu hancur.


▪️▪️▪️


Tbc....