My Ustadz My Husband

My Ustadz My Husband
Part 66



Dengan kabar Asma mengandung anak kembar, membuat kebahagiaan keluarga sepasang suami istri itu berlipat ganda.


Walaupun semakin hari Asma semakin manja dan membuat Bilal kerepotan, namun Bilal tetap berusaha memenuhi apapun yg di minta istri nya itu. Apa lagi kalau istri nya sudah mengeluarkan jurus andalan nya, yaitu merengek dengan mata berkaca kaca sambil mengatakan 'anak anak mu yg mau' tentu Bilal tak bisa lagi menolak nya.


Bilal yg sedang menemui klien nya dan membicarakan bisnis nya, harus terganggu dengan dering ponsel nya.


"Maaf, bisa permisi sebentar?" tanya Bilal pada klien nya itu karena ia tak mungkin tak menjawab panggilan dari Zahra nya itu.


"Tentu, silahkan"


Bilal pun segera menjawab panggilan itu.


"Ada apa, Sayang?" tanya nya setelah ia menjawab panggilan Asma.


"Bilal, aku lapar" Terdengar suara manja istrinya yg selalu menggemaskan.


"Mau makan apa?"


"Nasi goreng pedas lagi"


"Sudah minta Bi Mina buatkan?"


"Engga mau, maunya nasi goreng pedas buatan kamu" Bilal langsung memijit pelipisnya. Ia benar benar tidak menyangka wanita hamil bisa sekonyol itu.


"Tapi aku lagi kerja, Sayang. Minta Bi Mina aja ya buatkan, nanti malam kalau aku sudah pulang, aku masakin lagi buat kamu"


"Anak anak mu maunya sekarang" Rengek Asma dengan suara tercekat seperti menahan tangis.


"Ya sudah, sebentar lagi aku akan pulang, jangan menangis ya. Kasian anak anak kita nanti sedih kalau ibu nya menangis"


"Aku tunggu" terdengar suara girang istri nya itu.


Bilal pun kembali ke kursinya dan dengan sangat terpaksa dia harus melanjutkan pembahasan pekerjaannya itu lain kali.


"Maaf, sebenar!nya istri saya sedang hamil dan dia membutuhkan saya sekarang. Jadi bisakah kita mengatur pertemuan lagi nanti?" ucap Bilal berharap klien nya itu mau mengerti.


"Oh tentu, Pak Bilal. Istri yg sedang hamil memang terkadang sangat merepotkan, tapi sebenarnya dia yg jauh lebih kerepotan dari pada kita para suami. Jadi suami memang harus selalu ada untuk nya" Bilal tersenyum karena klien nya itu sangat mengerti, sekali lagi Bilal memohon maaf tapi mereka tak mempermasalahkan.


Akhirnya Bilal memutuskan untuk pulang, dan saat di parkiran mobil, ia tak sengaja bertabrakan dengan seorang wanita dan membuat wanita itu terhuyung dan hampir jatuh, secara reflek Bilal memegang tangan wanita itu dan ia segera melepaskan nya saat wanita itu sudah mendapatkan keseimbangan tubuhnya.


"Maaf maaf maaf..." ucap Bilal sambil menundukkan pandangan nya apa lagi wanita yg di tabrak nya itu mengenakan pakaian yg terbuka.


"Tidak, saya yg minta maaf, tadi saya sibuk dengan ponsel sehingga tidak melihat jalan" ucap wanita itu.


"Ya, sepertinya kita saling menabrak. Baiklah, saya permisi" dan dengan tergesa gesa Bilal segera meninggalkan wanita itu.


Bilal melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, dan sebelum pulang ia menyempatkan diri untuk membeli salad sayur yg Khadijah sukai, kemudian ia kembali melanjutkan perjalanan pulang nya.


Sesampainya dirumah, ia di sambut oleh Khadijah


"Ini, aku belikan salad kesukaan mu" seru Bilal menyerahkan saladnya.


"Makasih, Mas. Tapi kok tumben Mas Bilal sudah pulang di jam segini" ujar Khadijah


"Zahra mau aku masakin lagi buat dia" jawab Bilal kemudian ia menuju dapur dan Khadijah mengikutinya.


"Kenapa engga minta Bi Mina aja?"


"Dia maunya masakan ku, engga apa apa, itu pasti bawaan bayinya lagi, iya kan?"


"Iya juga sih. Oh ya, Mas Bilal engga sebaik nya ganti baju dulu?"


"Engga usah, Kasian Zahra sudah lapar katanya"


Khadijah pun hanya menggumam kemudian ia menawarkan diri untuk membantu Bilal, namun kali ini Bilal melarangnya, karena ia tak mau Khadijah kelelahan sedikt pun dan membuat proses penyembuhan nya terganggu.


Bilal meminta Bi Mina saja yg membantu nya, dan dengan senang hati, ART kesayangan Bilal itu membantu tuannya.


"Bi, apa semua orang hamil aneh begitu ya?" tanya Bilal sembari memasukan dada ayam dan sosis yg sudah di potong potong ke dalam wajan yg sudah berisi bawang yg sudah di tumis hingga wangi.


"Iya, Pak. Wanita hamil itu memang kadang meminta hal atau melakuan hal yg engga masuk akal"


"Aku juga bingung, jelas jelas masakan Bi Mina lebih enak, tapi Zahra tetap mau nya masakan ku, katanya anak anak ku yg mau"


"Memang itu bawaan bayi. Neng Asma masih mending ngidam masakan bapak, dari pada tetangga ku di desa, ngidam masakan mantan mertua nya"


"Maksud nya?" tanya Bilal.


"Tetangga ku itu menikah dua kali, pernikahan pertamanya gagal karena dia engga hamil hamil, akhirnya orang tua suaminya meminta anaknya menceraikan istri nya karena di kira istri nya yg bermasalah , nah mantan istri nya menikah lagi, dan ternyata dia bisa hamil, kebetulan mantan mertua nya itu punya warung makanan yg di masak sendiri, lah tiap hari mantan menantu nya itu ngidam makanan warung itu dan makan disana juga setiap hari"


"Haha haha" Bilal tak kuasa menahan tawa mendengar cerita Bi Mina "Itu namanya karma yg di bayar tunai. Jadi gimana mantan mertua nya itu Bi?"


"Ya engga gimana gimana, Pak. Cuma akhirnya dia sadar masalah nya ada di anak nya sendiri"


"Itu cara Allah menunjukan kebenaran pada mantan mertua wanita itu. Dan ternyata perceraian nya justru memberikan wanita itu kehidupan yg lebih baik, dari sini kita belajar kan Bi, terkadang hal yg sangat menyakitkan adalah jalan mendapatkan yg jauh lebih baik, asal tetap tawakal. Dan kita engga boleh menghakimi orang hanya karena pandangan pribadi kita, Allah sudah merencanakan semua nya dengan sangat baik"


"Betul, Pak" jawab Bi Mina.


"Bi, tolong ambilkan piring ya" pinta Bilal yg sudah menyelesaikan masak nya. Bi Mina pun segera mengambil piring nya dan Bilal segera menyajikan nasi goreng pedas untuk Zahra nya.


Bilal membawa sepiring nasi goreng itu ke kamar Asma, dan saat mendekati kamarnya, betapa terkejutnya Bilal saat terdengar suara isakan istri nya itu, Bilal pun mempercepat langkah nya dan saat masuk kamar, ia mendapati Asma duduk ditengah ranjang dengan memeluk lutut nya sambil menangis.


"Zahra, ada apa, Sayang? Apa perut mu sakit? Mau pergi ke Dokter?" tanya Bilal dan Asma pun langsung berhambur kedalam pelukan Bilal.


"Aku mimpi" jawab Asma di sela isak tangis nya.


"Mimpi?" tanya Bilal sembari melepaskan pelukan Asma dan dengan lembut ia menghapus air mata Asma. Asma pun mengangguk dan berusaha menghentikan tangis nya "Mimpi apa?" tanya Bilal.


"Engga tahu, lupa. Tapi pas bangun sudah nangis" Bilal terkikik mendengar jawaban Asma, membuat Asma mendengus kesal karena Bilal tak percaya padanya, Asma memang bermimpi buruk tapi ia lupa ia mimpi apa sebenarnya.


"Siapa wanita itu?" tanya nya tiba tiba membuat Bilal bingung. Apa lagi kini Asma menatap nya sangat tajam.


"Wanita yg mana, Sayang?"tanya Bilal kembali menyuapi Asma namun Asma menolaknya.


"Wanita yg kamu pegang" seru Asma dengan mata berkaca kaca, membuat Bilal semakin keheranan.


"Ya Allah, Zahra. Aku engga mungkin pegang wanita"


"Tapi ada aroma parfum wanita di tangan mu, dan itu bukan parfum ku atau pun parfum nya Mbak" ucap Asma dengan nada yg tajam. Bilal pun mencium tangan nya sendiri namun ia hanya memcium bau bawang.


"Bau bawang begini"ucap nya. Dan kini Asma tak bisa lagi membendung air mata nya membuat Bilal jadi panik "Hey, Zahra, Sayang. Jangan menangis, aku engga pegang wanita mana pun, aku engga punya teman wanita"


Namun Asma tak mempercayai nya, ia masih menangis dan disaat yg bersamaan, Khadijah masuk, ia tampak terkejut melihat Asma yg menangis.


"Ada apa, Asma? Apa kamu sakit?" tanya Khadijah namun Asma tak menjawab.


"Khadijah, coba sini" panggil Bilal, Khadijah pun menghampiri mereka, kemdian Bilal meminta Khadijah mencium tangan nya.


"Apa ada bau wanita ?" tanya Bilal. Khadijah mengerutkan kening nya dan menggeleng.


"Cuma bau bawang" jawab nya.


"Ada, Mbak" sela Asma, ia kembali mencium tangan Bilal, dan kini ia juga mengendus aroma yg sama dari kemeja Bilal " Tuh kan, bukan cuma di tangan nya, di baju nya juga" seru Asma tampak sangat kesal.


"Sebenarnya bau wanita apa maksud nya?" tanya Khadijah penasaran.


"Di tangan Bilal dan di kemeja nya ada bau parfum wanita"


"Hah? Mas?" kali ini Khadijah juga menatap tajam Bilal. Dan saat itu, Bilal teringat saat di parkiran tadi ia tak sengaja bertabrakan dengan seorang wanita dan Bilal memang memegang tangannya tanpa sengaja.


"Oh, itu. Iya, aku ingat"


"Jadi aku benarkan?" tanya Asma masih menangis.


"Sayang, bukan begitu kejadian nya. Tadi karena aku buru buru mau cepat pulang, aku engga sengaja nabrak wanita itu, karena dia hampir jatuh reflek aku memegang tangannya, tapi kemudian aku segera melepasnya, sudah itu aja" jawab Bilal namun Asma dan Khadijah masih menatap curiga pada Bilal.


"Beneran, kalian berdua percaya kan sama aku? Aku engga mungkin melanggar batasan ku" Bilal mencoba meyakinkan kedua istri nya itu.


"Warna baju nya?" tanya Asma, Bilal tersenyum geli karen lagi lagi ia dapat ujian dari istri nya itu.


"Putih"


"Rambut nya?" kali ini Khadijah yg ikut menguji.


"Hitam" jawab Bilal "Dan aku engga tahu warna matanya, aku bahkan sudah engga ingat seperti apa wajah nya karena aku langsung memalingkan wajahku dan engga menatap nya" Bilal berkata dalam satu tarikan nafas dan ia sangat berharap kedua istrinya itu percaya "Aku sudah punya kalian di sini, aku engga butuh siapa siapa lagi" lanjut nya.


Asma masih menatap Bilal penuh selidik, dan kali ini ia sudah menghentikan tangis nya. Kemudian Asma membuka mulut nya tanda ia mau di suapi lagi, dengan senang hati Bilal langsung menyuapi nya.


"Tapi kenapa kamu bisa mencium bau wanita sementara aku engga? Bahkan Mas Bilal juga engga bisa mencium nya" ucap Khadijah yg heran dengan indra penciuman Asma yg sangat peka.


"Aku sudah hafal aroma tubuh Bilal, jadi kalau ada aroma lain di tubuh nya, aku bisa mencium nya"


"Haha. Apa itu juga efek kehamilan?" tanya Khadijah lagi namun Asma hanya mengedikan bahu, ia sendiri tidak tahu kenapa indra penciuman nya bisa sensitif seperti itu.


"Jadi mulai sekarang, kalian berdua engga boleh curiga lagi sama aku ya, sama seperti kalian yg menjaga diri untukku, aku juga akan menjaga diri untuk kalian" seru Bilal.


"Maaf" ucap Asma di tengah ia mengunyah "Aku bukannya bermaksud curiga, tapi aku engga suka ada aroma lain di tubuh mu" Kemudian Asma mengambil piring dari tangan Bilal "Sebaiknya kamu mandi dan ganti pakaian. Aku sudah tidak tahan dengan aroma parfum wanita itu" lanjut nya yg membuat Bilal geleng geleng kepala. Karena ia sama sekali tidak mencium aroma apapun selain aroma bawang dan cabe.


"Iya" jawab Bilal sebelum istrinya itu menangis lagi.


"Ya udah, aku keluar dulu" seru


Khadijah, Asma menjawabnya dengan anggukan.


Di kamar mandi, Bilal kembali mengendus kemeja dan tangannya,ia tak habis fikir dengan indra penciuman Asma yg sangat sensitif dan jika seperti ini, Maka Bilal harus selalu menjauh dari semua wanita kecuali keluarga nya.


Setelah selesai mandi, Bilal segera keluar kamar dan ia mendapati istrinya yg sedang melamun sementara piring nya sudah kosong. Bilal menghampiri Asma dan Asma tampak terkejut dengan kedatangan Bilal.


"Ada apa, Zahra? Kenapa kamu melamun?" tanya Bilal "Ingat kata Dokter, Sayang. Kamu engga boleh setres, kalau kamu ada masalah, kasih tahu aku ya, nanti kita cari solusi nya sama sama"


"Aku... Aku sedang berfikir, apa aku boleh tinggal di rumah baru kita?"


"Tentu saja sangat boleh" jawab Bilal dengan cepat.


"Tapi bagaiamana dengan Mbak?"


"Dia akan tinggal disini, ini adalah rumah nya"


"Dan bagaimana dengan mu?" tanya Asma pelan, karena memang itu yg dia fikirkan. Entah kenapa, Asma ingin Bilal selalu bersama nya, karena itulah dia belum memutuskan untuk pindah, karena ia ingin selalu bersama Bilal. Dan jika mereka pindah, maka Bilal tak akan selalu bersama nya karena dia pasti akan tinggal bersama Khadijah dan hanya akan mengunjungi nya selama beberapa hari.


"Aku akan selalu bersama mu" jawab Bilal yg langsung membuat Asma mendongak dan menatap mata suami nya "Saat ini, kamu jauh lebih membutuhkan ku, bahkan aku harus selalu menemani mu setiap saat. Aku akan bicara dengan Khadijah dan aku yakin dia akan mengerti" Bilal berkata seolah tahu apa yg di ingin kan Asma, ia senang Bilal mengerti, tapi ia juga khawatir dengan Khadijah.


"Jika aku memang menginginkan itu, apakah aku egois? Mbak punya hak yg sama besar terhadap mu, dan dia juga masih sakit. Dia juga pasti ingin kamu selalu ada bersama nya" tutur Asma dengan rasa bersalah karena sudah menginginkan Bilal selalu ada untuk nya.


"Kamu engga egois, Sayang. Setiap orang yg hamil memang sangat membutuhkan suami nya, dan Khadijah, aku bisa kembali menyewa perawat untuk nya, aku juga akan mengunjungi nya setiap hari dan memeriksa keadaan nya"


"Apa kau yakin itu engga apa apa? Bagaimana kalau Mbak sedih?" Bilal tersenyum dan ia membelai pipi Zahra nya yg sudah semakin bulat itu, betapa Zahra nya memiliki hati yg lembut.


"Aku akan bicara dengan nya"


"Jika dial engga mau di tinggal, jangan paksa ya. Aku akan tetap di sini sampai melahirkan" Bilal mencium kening Asma, ia merasa bangga dengan istri nya itu.


"Iya"


▪️▪️▪️


Tbc...