
Hubab masih terlihat salah tingkah saat harus berhadapan dengan Bilal, beda halnya dengan Bilal yg tampak biasa saja, ia tak biasa membenci dan marah pada waktu yg lama. Saat ini, kedua sahabat itu sedang menikmati secangkir kopi sembari membicarakan pekerjaan nya.
Sebenarnya, Hubab masih merasa sangat bersalah karena tanpa sengaja ia melewati batasnya, dan yg membuat nya semakin bersalah, karena sampai sekarang ia masih terbayang wajah istri dari sahabat nya itu, tak heran Bilal langsung jatuh cinta pada Asma, fikirnya. Hubab merasa telah melakukan dosa, tapi ia tak tahu harus bagaimana untuk menghilangkan perasaan nya itu. Yg ia harapkan, ia bisa mengendalikan perasaannya dan tidak menjadi bumerang dalam persahabatan mereka.
.
.
.
Nora memperhatikan Asma sembari memangku dagu nya dengan telapak tangannya.
"Apa setiap wanita yg menikah begitu?" tanya nya setelah sekian lama ia memperhatikan Asma yg terus saja senyum senyum tidak jelas.
"Maksud nya?" Asma bertanya tak mengerti maksud Nora.
"Sehari cemberut, sehari kemudian senyum senyum. Kemaren seperti orang patah hati, hari ini seperti orang jatuh cinta, kamu jatuh cinta ya?"
"Astaghfirullah, ya engga lah" seru Asma.
"Loh, kok Astaghfirullah. Alhamdulillah dong" balas Nora "Asalkan jatuh cinta nya sama suami, ya harus bersyukur "
"Ck, ngomong apa sih kamu ini " Sanggah Asma. ia tidak merasa jatuh cinta pada suami nya. Tapi entah kenapa, saat Bilal mengungkapan cinta nya semalam dan menatap nya dengan intens, Asma seolah merasakan berada di tengah taman bunga dengan kupu kupu yg terbang bebas, begitu indah dan walaupun itu bukan pertama kalinya Bilal mengungkapan cinta nya atau menatap nya seperti itu, tapi ini baru pertama kali nya Asma merasakan sesuatu yg aneh, seperti ada ribuan kupu kupu yg terbang di perut nya. Dan hati nya pun berdebar, kenapa baru sekarang ia merasakan perasaan indah ini, fikir Asma.
"Asma...." Nora mengguncang tubuh Asma yg terlihat melamun...
"Eh.. hah... kenapa?" tanya Asma kalang kabut.
"Tuh kan, bener nih kamu lagi jatuh cinta kayaknya"
"Ck. Engga lah, tadi cuma.... ingat Abi sama Ummi, kangen" jawab Asma berbohong.
"Kalau sama suami kangen engga?"
"Ya engga lah, wong tiap hari ketemu" sekali lagi Asma berbohong, hati nya jelas jelas mengingkari apa yg di ucapkan bibir nya.
.
.
.
Sesampai nya dirumah, Asma menekan bel, tapi tidak ada yg membuka pintu, padahal tadi Khadijah mengatakan dia tidak akan kemana mana seharian ini. Sekali lagi Asma menekan bel, namun masih tak ada jawaban. Ketika ia mencoba membuka pintu, ia terkejut karena pintu nya tidak terkunci, mungkinkah madu nya itu pergi keluar, fikir nya. Ia pun masuk sembari mengucapkan salam entah ada atau tidak ada orang, itu yg selalu di ajarkan kedua orang tuanya, ucapkan salam saat masuk rumah.
"Mbak...." Akhirnya dia memanggil kakak madu nya itu karena melihat tv yg menyala. Tapi tak ada jawaban, Asma melemparkan ransel nya ke sofa dan ia pergi ke dapur.
"Ya Allah.... Mbak...." Asma berteriak kaget melihat Khadijah yg tergeletak di lantai tak sadarkan diri. Berkali kali Asma berusaha membangunkan nya namun tak berhasil, ia menjadi panik dan takut, ia bahkan sampai menangis sendiri.
Asma segera menghubungi Bilal namun tak di jawab, membuat Asma semakin ketakutan. Sekali lagi ia menghubungi Bilal, dan masih tak ada jawaban. Akhirnya Asma lebih memilih memanggil Ambulance dari pada tejadi sesuatu dengan Khadijah.
.
.
.
Bilal berlari di lorong rumah sakit mencari kamar istri nya, ia melihat Asma yg masih dengan seragam sekolah nya mondar mandir dan ia tampak habis menangis.
"Sayang...." panggil Bilal saat berada di depan nya. melihat Bilal yg datang, Asma langsung bernafas lega namun ia juga terlihat kesal.
"Dimana ponsel mu, Huh? Aku menelpon mu berkali kali"
"Iya..maaf...maaf..." Bilal memeluk Asma karena istri nya itu terlihat panik "Kamu menangis?" Bilal bertanya sembari mengusap sudut mata Asma.
"Aku takut" lirih Asma dalam pelukan Bilal. ia benar benar takut saat melihat Khaidjah yg pucat dan tak sadarkan diri seperti mayat.
"Shhhtt, engga apa apa. Khadijah baik baik aja" Bilal berusaha menenangkan istri muda nya itu. Kemudian Dokter Fina keluar dari kamar Khaidjah.
"Dokter, bagaiman Khadijah?" tanya Bilal khawatir. Dokter Fina malah melirik Asma, kemudian ia mengusap kepala Asma dengan lembut seperti anak anak.
"Dia baik baik saja" Dokter Fina mengatakan itu pada Asma, entah kenapa dia tidak tega melihat Asma yg menangis sejak membawa Khadijah tadi "Dia menangis sejak tadi, sangat panik dan ketakutan" Bilal menatap istri kecil nya itu, ia merasa bersalah karena tidak ada saat kedua istri nya membutuhkannya "Oh ya, Khadijah sudah sadar" Bilal dan Asma pun segera masuk untuk melihat keadaan Khadijah, Khadijah masih terlihat sangat lemah.
"Kata Dokter Fina kamu menangis ya?" tanya Khadijah lemah. Asma tak menjawab, ia menarik kursi dan duduk di samping bangsal.
"Mbak gimana keadaaan nya sekarang?" tanya Asma kemudian.
"Dia pasti baik baik saja, ini biasa terjadi untuk seseorang yg mengidap penyakit, Zahra. Jangan khawatir. Khadijah akan baik baik saja" Ucap Bilal
"Mungkin ini pertama kalinya dia melihat orang sekarat, Mas" Sambung Khadijah namun sambil tersenyum.
Kemudian Dokter Fina datang dan memanggil Bilal untuk berbicara.
"Bilal, sebenarnya Khadijah sangat tidak baik baik saja" tutur dokter Fina merasa sedih, membuat Bilal langsung tertunduk lesu.
"Apa yg harus ku lakukan, Dok?"
"Aku Sudah berbicara dengan Elyara. Dia akan mengabariku secepatnya." Bilal menghela nafas berat "Jangan putus asa, Bilal. Kamu harus tetap kuat untuk istri mu" lanjut nya.
"Aku kasian melihat Khadijah seperti itu, seolah setiap detik yg dia lewati hanya untuk menunggu kematian nya"
"Keajaiban itu ada Bilal, dengan doa dan usaha, bukankah begitu? Dan jika pun keajaiban itu belum kalian dapatkan, maka itu pasti karena ada keajaiban lain yg sedang Allah persiapkan untuk kalian"
"Insya Allah, semoga Allah memberi kami kesabaran menjalani ujian ini"
"Khadijah akan di rawat inap dulu di sini, sampai hasil pemeriksaan hari ini keluar, semoga dia akan membaik"
"Terima kasih, Dokter"
.
.
.
Bilal mengantar Asma pulang ke rumah Ummi nya karena malam ini Bilal akan menginap dirumah sakit untuk menjaga Khadijah. Di sana mereka di sambut oleh kakak ipar Bilal, Dini. Karena Ummi nya sedang ikut Abi nya ke luar kota.
Dini mengantar Bilal dan Asma ke kamar Bilal disana.
"Jika butuh sesuatu, katakan saja pada ku, Asma. Jangan sungkan, oke"
"Terimakasih, Mbak" jawab Asma kemudian Dini keluar.
"Sayang..." Bilal mendudukan Asma di tepi ranjang, sementara ia berlutut di depan nya, menggenggam tangan nya "Kamu engga apa apa kan di sini?" Asma hanya mengangguk dengan senyum samar "Besok aku akan menghubungi mu, oke? Dan aku akan jemput kamu setelah pelajaran mu selesai" sekali lagi Asma hanya mengangguk. Ia masih belum terlalu dekat dengan keluarga besar Bilal. Sebenarnya ingin rasanya dia ikut Bilal saja ke rumah sakit, tapi tadi Bilal sudah menjelaskan panjang lebar kalau dia tak ingin Asma berada di rumah sakit, selain tidak akan nyaman dan tidak mungkin bisa tidur nyenyak, Bilal juga tidak mau Asma ketinggalan pelajaran.
"Aku pergi dulu ya" Bilal mengecup kening Asma.
"Hati hati" ucap Asma pelan yg di balas senyuman dan belaian di pipi nya oleh Bilal.
Setelah Bilal pergi, Asma menyusuri kamar itu. Ia melihat beberapa foto Bilal dari yy masih anak anak, remaja, hingga dewasa.
"Dia memang tampan dari sana nya ternyata" gumam Asma. Ia melihat beberapa barang Bilal tapi tak satupun dia melihat barang Khadijah disana, membuat Asma bertanya tanya apakah mereka tidak pernah menempati kamar itu.
.
.
.
"Mas...." panggil Khadijah yg sejak tadi dia mondar mandir sambil mencoba menelepon Asma namun tidak di jawab.
"Kemana dia? Aku sudah bilang akan menghubungi nya" gumam Bilal antara kesal dan khawatir.
"Mas, Asma engga bawa hp ke sekolah"
"Tapi ini sudah jam istirahat, seharusnya dia kembali ke kamar" ucap Bilal sembari mencoba menghubungi istri nya. Namun tiba tiba Khadijah mengambil hp Bilal dan meletakkan nya di atas meja.
"Engga usah mengkhawatirkan Asma, Mas. Disana banyak orang, dan dia pasti sibuk belajar dan juga menghabiskan waktu bersama teman teman nya" ucap Khadijah dengan nada yg sedikit kesal.
"Baiklah, nanti setelah pelajaran nya selesai, aku akan menjemput nya, biar dia bersama mu disini, aku harus ke kantor"
"Engga usah" jawab Khadijah "Maksud ku... kasian dia kalau harus bolak balik ke rumah sakit. jadi engga usah. Biar dia dirumah Ummi aja sampai aku pulang" Bilal mengangguk setuju dengan kata kata Khadijah.
.
.
.
Saat pelajaran nya usia, Asma segera berlari kecil menuju kamarnya, ia yakin pasti Bilal sudah menelpon nya. Asma sengaja tetap tidak membawa ponsel ke sekolah nya, karena ia tak ingin tampak berbeda dengan santri yg lain nya, larangan bagi mereka juga berarti larangan untuk Asma tak peduli siapa Asma.
Benar saja, ada beberapa panggilan tak terjawab dari Bilal dan juga dari Ummi nya. Namun Asma lebih memilih menelpon Bilal terlebih dahulu.
"Assalamualaikum, Sayang " ucap Bilal dari seberang telpon.
"Waalaikumsalam, apa kamu jadi menjemput ku?" tanya Asma langsung
"Em sebenarnya sekarang aku lagi di kantor. Kamu engga usah ke rumah sakit ya"
"Tapi kenapa? Terus yg jaga Mbak Khadijah siapa?"
"Ada Mila tadi disana, kamu dirumah Ummi dulu ya sampai Khadijah di izinkan pulang " mendengar itu, Asma tampak kecewa. "Tapi nanti sepulang dari kantor aku kerumah, ya?"
"Hmm " jawab Asma
"Ada apa, Sayang?" tanya Bilal seolah merasakan kekecewaan istri nya
"Engga apa apa" jawab Asma malas mencoba mengerti posisi Bilal.
"Ya udah, aku harus kembali bekerja"
"Iya"
Setelah mengucapkan salam, Asma segera menutup telpon nya kemudian ia melakukan video call dengan ibunya, ia mengobrol cukup lama bersama kedua kakak perempuan nya dan juga keponakan kesayangan nya Yasmin. Asma benar benar merindukan mereka. Mereka bertanya kenapa Asma tidak dirumah nya, Asma memberi tahu kalau Khadijah jatuh sakit dan di rawat di rumah sakit, sementara asisten rumah tangga Bilal sedang pulang kampung, jadi tidak mungkin Asma di tinggal di rumah sendirian.
.
.
.
Sepulang nya dari kantor, Bilal sudah bersiap menemui istri muda nya, seharian dia tidak bertemu dan tidak mendengar suara nya secara langsung, dan itu membuat Bilal benar benar merindukan nya. Namun tiba tiba Khadijah menelpon nya dan menyuruh Bilal langsung ke rumah sakit. Bilal yg khawatir terjadi sesuatu dengan Khadijah pun langsung berputar arah.
Sementara Asma, ia menunggu Bilal sembari menghabiskan waktu bersama dua keponakan Bilal yg sangat menggemaskan. Rayhan dan Laila, kemudian Dini datang menghampiri mereka.
"Kamu hebat, Asma. Biasanya mereka sulit dekat dengan orang asing, tapi kamu sudah bisa langsung dekat dengan mereka"
"Mungkin karena aku suka anak anak, Mbak. Aku juga dekat dengan Yasmin, anak nya kak Adil"
"Itu bagus, Asma. Aku harap kamu segera punya momongan" ucap Dini dengan enteng nya. Namun membuat Asma merasa salah tingkah. Dia memang suka anak anak, fikirnya. Tapi untuk punya anak sendiri, tak sedetik pun fikiran nya terbersit kesana.
"Kenapa?" tanya Dini yg melihat ekspresi Asma "kamu belum siap ya?" Asma hanya tersenyum tipis namun justru tampak seperti ringisan "Bisa di mengerti sih, kamu kan masih sekolah" ucap Dini kemudian dan ia tampak merasa bersalah karena apa yg di ucapkan nya. Apa lagi Asma masih remaja, tentu dia tidak mungkin memikirkan anak.
.
.
.
Bahkan sampai menjelang malam, Bilal belum juga datang, membuat Asma merasa kecewa. Asma mengirim pesan kenapa dia tidak datang. Dan Bilal langsung menghubungi nya.
"Sayang, maaf ya, malam ini aku engga bisa datang. Khadijah meminta ku menemani nya" tentu jawaban Bilal sangat menohok di hati Asma ia merasa cemburu, kecewa dan sedih. Namun ia tak bisa berbuat apa apa, ia fikir mungkin Khadijah memang membutuhkan nya.
"Ya sudah, malam ini aku tidur di asrama ya sama Nora. Aku juga mau ikut jam belajar malam"
"Iya, Engga apa apa. Besok aku akan kesana, mungkin besok Khadijah sudah boleh pulang"
"Hmm. ya sudah. Aku mau ikut belajar bersama yg lain" ucap Asma.
"Iya, tapi kamu merasa nyaman kan di sana?"
"Hmm. tadi aku bermain bersama Rayhan dan Laila"
"Oh ya? Zahra, jangan buat mereka mendengarkan musik, oke? Saat ini mereka sedang menghafal Al Quran. Musik bisa menganggu hafalan nya" Asma tersenyum mendengar kata kata Bilal, itu mengingatkan dia pada kakaknya yg selalu meminta Asma agar menjauhkan Yasmin dari musik namun terkadang Asma masih nakal dan membuat Yasmin mendengarkan musik.
"Iya iya, lagi pula mana berani aku membuat mereka mendengarkan musik, bisa bisa aku di marahi ibunya" jawab Asma. Terdengar suara tawa kecil Bilal di seberang telepon.
"Zahra..." Tiba tiba Bilal memanggil Asma dengan suara lirih.
"Ya?"
"Aku benar benar merindukan mu, Sayang" ucap Bilal yg membuat hati Asma terkesiap. Jauh dalam hatinya, ia juga merindukan Bilal, tak melihat nya seharian, tak ada perbedatan dan pertengkaran, entah kenapa dia merasa ada yg kurang dalam hidupnya tanpa itu semua.
"Aku..." belum sempat Asma menjawab, tiba tiba ia mendengar suara Khadijah yg memanggil Bilal.
"Sayang, nanti aku telpon lagi ya" ucap Bilal kemudian yg berhasil kembali membuat hati Asma kecewa.
"Iya" jawab Asma dan langsung memutuskan sambungan telepon nya.
▪️▪️▪️
Tbc...