
Saat Bilal sedang menunggu Asma, ponsel nya tiba tiba berdering, dan terdengar Khadijah yg muntah dan meminta nya pulang dengan suara yg sudah lemah. Tanpa fikir panjang Bilal segera bergegas karena khawatir jika terjadi sesuatu dengan Khadijah.
Di perjalanan pulang, ia menelpon kakak nya untuk menjemput Asma, sementara ia akan membawa Khadijah ke rumah sakit.
Sesampai nya dirumah, benar saja, Khadijah sudah terlihat seperti orang sekarat, dan Bilal pun segera membawa nya kerumah sakit. Saat sedang menunggu Dokter menangani Khadijah, Dini menelpon dan mengatakan suami nya kecelakaan saat dalam perjalanan menjemput Asma, namun Dini mengatakan Mukhlis tidak terluka parah, Dini meminta Bilal segera menjemput Asma karena hari sudah semakin malam.
Saat hendak menelpon istri nya, Bilal terkejut karena sudah ada banyak sekali panggilan tak terjawab dari Asma dan juga pesan darinya, saking khawatir nya pada Khadijah Bilal lupa sampai tak sadar ada panggilan masuk pada ponsel nya.
Bilal mencoba menghubungi Asma namun ponsel nya tak akitf, ia pun segera menelpon Hubab dan meminta Hubab menjaga Khadijah sementara ia akan menjemput Asma ke restaurant.
Namun sesampai nya di restaurant, ia melihat meja mereka sudah di bersihkan. Bilal segera bertanya pada pelayan tentang keberadaan istri nya, pelayan itu mengatakan Asma memang mencari Bilal tadi, dan beberpa menit yg lalu, dia sudah keluar. Bilal mencari Asma di sekitar restaurant namun ia tidak menemukan nya. Bilal pun segera menelpon rumah nya, dan bertanya pada Bi Mina apakah istri nya sudah pulang. Tapi Bi Mina mengatakan dia belum pulang, kemudian Bilal mengatakan jika Asma pulang, Bi Mina harus segera memberitahu nya.
Bilal terus menyusuri jalan sambil berusaha menghubungi istrinya namun hasil nya nihil. Ke khawatiran mulai menguasi hati nya, ia takut terjadi sesuatu dengan istri nya itu. Hingga langit semakin gelap dan hujan pun turun dengan lebat, Bilal tak memperdulikan nya, ia terus mencari Asma. Bilal bahkan meneriaki namanya, namun gemuruh petir dan suara rintikan hujan menelan suara nya.
"Zahra, dimana kamu sayang"
Saat Bilal melihat sebuah taksi, ia segera menghentikan nya dan melihat siapa penumpang nya,tidak ada Asma di sana. Bilal berfikir, jika Asma ingin pulang, dia pasti naik taksi, tapi yg membuat ketakutan nya semakin besar, karena ponsel Asma yg sama sekali masih belum bisa di hubungi. Bilal mulai mencari taksi yg berjalan ke arah rumah nya, dan setiap kali ia menemukan nya, ia akan segera menghentikan nya.Namun Asma tak ada di sana, cukup lama Bilal mencarinya, hingga akhirnya dia memikirkan cara yg lain.
Bilal segera masuk ke dalam mobil nya dan mendatangi kantor polisi terdekat, ia melaporkan bahwa ia kehilangan istri nya, dengan begitu, Bilal berharap akan lebih mudah menemukan Asma. Namun saat mendengarkan penjelasan Bilal, polisi tidak bisa menerima laporannya, karena Asma baru menghilang beberpa jam, bahkan meskipun Bilal mengatakan ponsel nya tidak aktif dan itu tidak pernah terjadi sebelum nya, polisi tetap tidak bisa membantu nya, polisi mengatakan Bilal bisa melaporkan lagi jika istri nya tidak kembali dalam 24 jam.
Dengan kecewa, Bilal pergi menuju rumahnya dan berharap Asma sudah pulang, sementara hujan masih begitu lebat.
Tapi nyatanya, istri nya belum juga kembali. Bilal bahkan hampir menangis saking takut nya jika terjadi sesuatu dengan Zahra nya. Bilal memutuskan akan mencari Asma ke restauran itu lagi, sekali lagi ia menyusuri setiap jalan di sana. Dan saat hujan mulai reda, Bilal menyusur trotoar yg mengarah pada jalan yg sepi, ia terus berjalan. Dan saat itu, ia mendapatkan telepon dari Bi Mina yg mengatakan Asma sudah pulang.
.
.
.
Asma melakukan nya lagi, ia berendam di bak mandi sembari menangis, ia sudah berusaha menghentikan tangis nya tapi tak bisa. Saat Bilal meninggalkannya dan tak bisa di hubungi, ia begitu kesal. Dan saat tahu alasan semua itu adalah Khadijah, Asma merasa terluka dan sakit.
Sementara Bilal tetap tak beranjak dari tempat nya, ia masih menunggu Zahra nya di depan pintu, bahkan Bilal tak memperdulikan bujukan Bi Mina untuk mandi dan berganti pakaian supaya ia tidak jatuh sakit.
Hingga menjelang subuh, Bilal masih di tempat nya, ia tertidur dengan bersender pada daun pintu.
"Ya Allah, Pak. bangun! Bapak tidur di sini?" Bi Mina mencoba membangunkan Bilal.
"Apa sudah subuh, Bi?" tanya Bilal sembari berdiri dan ia merasakan kram di kaki nya dan pegal di seluruh tubuhnya.
"Iya, Pak. Bapak kenapa tidur di sini? Terus belum juga ganti pakaian, nanti bapak sakit " seru Bi Mina.
"Aku engga apa apa, Bi" jawab Bilal sembari kembali menatap pintu yg masih tertutup rapat.
Di dalam, Asma juga tak bisa tidur nyenyak dan ia sudah bangun sejak tadi. Samar samar ia mendengarkan pembicaraan Bi Mina dan suami nya itu, Asma mengaga tak percaya saat ia mendengar Bilal tidur di depan kamar nya, itu pun masih dengan pakaian basah nya.
"Apa dia sudah gila?" gumam Asma.
.
.
.
Di pagi hari nya, Bilal menghubungi Hubab dan mengatakan ia belum bisa kerumah sakit, Hubab berkata tidak masalah, karena Mila sudah di sana.
Bilal tidak mau meninggalkan Asma sebelum Asma memaafkan nya.
Asma merasa panas dingin di tubuh nya, itu pasti karena ia kehujanan dan berendam semalam, ia juga merasakan kaki nya sakit, dan saat di periksa, pergelangan kaki nya bengkak. Asma meringis kesakitan saat kaki nya di gerakkan, tapi itu tidak menyurutkan niatnya untuk pergi ke sekolah, bukan karena ia murid yg rajin, tapi karena dia seorang istri yg marah pada suami nya, ia ingin menghindari Bilal dan juga Khadijah.
Asma melangkahkan kaki nya dengan sangat perlahan dan saat ia membuka pintu, Bilal sudah menunggu nya. Tatapan keduanya sempat bertemu, dan mata kedua nya sama sama sembab.
"Zahra, dengarkan penjelasan ku dulu, Sayang. ku mohon" pinta Bilal memelas. Jangan kan mendengarkan penjelasan Bilal, menatap nya saja Asma enggan. Asma berjalan melewati Bilal, dan saat Bilal melihat Asma berjalan pincang, ia sangat terkejut.
"Zahra, Sayang. Ada apa dengan kaki mu?" tanya Bilal khawatir sembari mencoba menghentikan Asma yg terus berjalan menuruni tangga dengan sangat perlahan. Asma masih tak mau berbicara, terkadang ia meringis kesakitan saat kaki nya di gerakkan dengan paksa, membuat Bilal yg melihat nya semakin khawatir, tanpa berkata apapun, Bilal langsung menggendong Asma ala bridal style.
"Turun kan aku, aku bisa jalan sendiri" pinta Asma dingin, namun Bilal tak menghiraukan nya. Bilal berjalan pelan pelan menuruni tangga, kemudian dengan sangat perlahan ia mendudukan Asma di sofa. Ia menyibak ujung gamis Asma dan betapa terkejut nya ia mendapati pergelangan kaki istri tercinta nya itu sudah bengkak dan membiru.
"Ya Allah, Zahra. Kenapa kaki mu? Apa kamu jatuh?"
"Bukan urusan mu" jawab Asma dingin dan berusaha berdiri, namun Bilal mencegahnya nya dan memaksa nya duduk kembali.
"Kita ke dokter ya, Sayang" ucap Bilal lembut.
"Aku mau sekolah" balas Asma masih dengan nada yg menusuk.
"Hari ini kamu engga boleh ke sekolah, kamu istirahat aja ya"
"Kenapa kamu selalu mengatur hidup ku?"
"Karena aku peduli, Zahra. Kamu istri ku"
"Oh ya?" Asma berkata sarkastik dengan senyum miring nya.
"Tapi kamu meninggalkan ku"
"Khadijah membutuhkan ku...'
"Dan aku?" tanya Asma sembari menunjuk dirinya sendiri "Aku juga membutuhkan mu, aku juga istri mu, tapi kenapa yg kamu khawatirkan selalu dia, yg kamu urus hanya dia, lalu bagaimana dengan ku?" tanya Asma dengan mata yg kembali berkaca kaca.
"Zahra, cobalah mengerti... "
"Sampai kapan hanya aku yg harus mengerti?" teriak Asma sambil berdiri namun sakit di kaki nya membuat ia meringis dan duduk kembali.
"Agh" erang nya saat merasakan kaki nya seperti patah.
"Zahra..." Bilal membantu Asma duduk namun Asma menepis tangan Bilal.
"Aku engga pernah meminta mu memperhatikan ku seperti kamu memperhatikan dia, aku engga pernah meminta waktu mu sebanyak dia mengambil waktu mu, karena aku tahu adil bukan berarti memberikan yg sama, tapi yg sesuai dengan porsi nya" Asma menatap Bilal, dan entah kenapa dalam tatapan Bilal Asma juga bisa melihat rasa sakit di mata suami nya itu, namun kemarahan dan kecemburuan nya membuat dia tak memperdulikan hal itu "Dan aku, juga kewajiban mu, tanggung jawab mu terhadap istri kedua mu ini sama besarnya dengan tanggung jawab mu terhadap istri pertama mu, fikirkan itu!" Bilal hanya bisa menelan ludahnya dengan susah payah mendengarkan kata yg sangat menusuk dari Asma. Sekarang Asma menganggap nya lebih mementingkan Khadijah, dan memperlihatkan dengan jelas bahwa Bilal telah berbuat tidak adil pada Zahra nya, Bilal merasa berdosa.
Asma berusaha berdiri lagi dan ia hendak pergi, namun Bilal mencegahnya.
"Biar aku obati kaki mu, Zahra. Kalau kamu masih mau sekolah, aku akan mengantar mu" ucap Bilal lirih. Ia sudah tak tahu lagi bagaimana menjelaskan pada Zahra nya dan bagaimana mendapatkan maaf dari nya.
"Engga usah, aku bisa sendiri. Mungkin istri pertama mu juga sedang membutuhkan mu sekarang" Asma berkata sangat dingin dan itu sangat melukai Bilal. Namun Bila kembali menggendong Asma dan memasukan nya ke dalam mobil, kemudian Bilal membawa Asma ke Dokter untuk memeriksakan kaki nya, Asma hanya diam saja. Dia memang merasa sangat membutuhkan pengobatan,.setelah selesai memeriksakan kaki nya, Bilal mengantar Asma ke sekolah nya.
"Ingat kata Dokter, jangan terlalu sering menggerakan kaki mu" seru Bilal kemudian ia memarkirkan mobil nya di halaman sekolah, saat Asma hendak turun, Bilal kembali mencegahnya, ia pun segera turun dan menggendong Asma, tak peduli Asma yg memberontak dan protes, dan juga tak peduli semua orang yg memperhatikan mereka, Bilal terus berjalan membawa nya masuk ke kelas nya dan mendudukan nya dengan perlahan di kursi nya. Nora dan yg lain nya yg melihat itu hanya bisa membuka mulut lebar.
"Nora, tolong jaga istri ku. Kaki nya bengkak, tapi dia ngotot mau sekolah. Jangan biarkan dia bergerak terlalu sering"
"Ha...eh... Iya... iya Ustadz " jawab Nora yg masih terpana dengan pemandangan yg baru saja ia saksikan. Sementara Asma hanya mendelik kesal.
"Aku akan menjemput mu saat pulang sekolah" tutur Bilal sembari membelai pipi Asma namun Asma segera menghindar, membuat Bilal hanya bisa menghela nafas panjang kemudian ia segera pulang.
"Ada apa dengan mu?" tanya Nora setelah Bilal pergi
"Jatuh" Jawab Asma.
"Aku tahu kamu pasti jatuh, tapi bukan itu yg ku tanyakan. Kenapa mata mu sembab? Kamu nangis ya?" Asma menggeleng "Tapi wajah mu memberi tahu sebaliknya, Asma"
"Cuma kurang tidur aja" jawab Asma asal. awalnya Nora tak percaya, namun ia meyakinkan nya.
"Oh ya, bagaimana keadaaan Ustadz Mukhlis?" tanya Nora tiba tiba membuat Asma bingung.
"Ustadz Mukhlis? Aku engga tahu, kenapa?"
"Lah, kakak ipar mu kecelakaan, kamu engga tahu, Neng?" tanya Nora heran, Asma tampak terkejut mendengar hal itu.
"Aku...aku engga tahu, kecelakaan kapan? Bagaimana kondisi nya?" tanya Asma khawatir
"Tadi malam, kalau aku tau kondisi nya aku engga akan nanya ke kamu, Neng Asma. Aku tahu juga dari desas desus santri"
Asma tampak memikirkan hal itu, dan berniat setelah jam istirahat dia akan mengunjungi Dini.
.
.
.
"Bagaimana keadaan Kak Mukhlis?" tanya Asma langsung pada Dini.
"Cuma luka ringan, Asma. Engga usah khawatir" jawab Dini "Maaf ya, gara gara Mas Mukhlis kecelakaan, kamu jadi nunggu lama"
"Maksud nya?" tanya Asma tak mengerti.
"Loh, Bilal engga kasih tahu kamu kalau dia nyuruh Mas Mukhlis menjemput mu semalam karena dia harus membawa Khadijah kerumah sakit kan?" tanya Dini yg membuat Asma semakin bingung, pasalnya dia tidak tahu apakah Khadijah ada dirumah atau di rumah sakit.
"Pantas saja tadi pagi aku engga liat dia" gumam Asma.
"Asma..." panggil Dini yg melihat Asma melamun.
"Eh ya? Kenapa Mbak?"
"Kamu engga apa apa kan?" Asma mengangguk.
"Kamu pasti menunggu Bilal cukup lama ya disana?" Asma hanya tersenyum samar sambil mengangguk, tidak mungkin dia memberi tahu Dini bahwa Bilal tidak menjemput nya.
Tapi Asma setidaknya tahu Bilal tidak melupakan nya, tapi Asma tetap tidak habis fikir kenapa Bilal tidak menunggu nya dan mengajak nya pulang bersama. Jika Bilal lakukan itu, Maka suami Dini tidak akan kecelakaan dan Asma tidak akan kecopetan dan kehujanan sendirian.
Bagi Asma, Bilal memang lebih mementingkan Khadijah dari dirinya. Dan memikirkan hal itu, kembali membuat hati Asma terasa perih.
▪️▪️▪️
Tbc...