
Bilal menutup telponnya dan ia terlihat sangat tegang. kekhawatiran nampak jelas di wajah nya.
Ia pun bergegas ke kamar Asma dan mendapati istri nya itu sedang merapikan lemari pakian nya.
Bilal hanya bisa berdiri mematung membuat Asma yg menyadari kehadiran nya pun bingung.
"Ada apa?" Tanya Asma.
"Khadijah...Dia...masuk rumah sakit lagi" Asma pun juga sangat terkejut dengan kabar itu.
"Jadi..." Asma menutup pintu lemari nya dan berjalan ke arah Bilal yg masih berdiri di ambang pintu. "Sebaiknya kau pulang, Bilal. Dia pasti sangat membutuhkan mu saat ini"
Bilal langsung membelai pipi Asma dengan tangan kanannya dan menatap Asma lekat lekat
"Aku memang harus pulang, Zahra. Tapi bukan berarti aku akan meninggalkan mu, aku pasti akan kembali" Asma hanya bisa mengangguk dan berusaha mengerti.
"Maafkan aku, Sayang"
"Engga apa apa" Asma menjawab sambil memeluk Bilal. "Dia juga istri mu, dan dia membutuhkan mu" Asma berbisik. Bilal membalas pelukan Asma kemudian ia mencium kening Asma cukup lama.
"Kamu beneran engga mau ikut?" Tanya Bilal dan Asma langsung menggeleng. "Baiklah, engga apa apa. Aku akan pulang lagi nanti ke sini" Asma menjawabnya dengan anggukan.
Adil memutuskan untuk mengantar Bilal pulang, karena tidak mungkin Bilal pulang sendirian dalam kondisi seperti ini, mereka semua mengkhawatirkan Bilal.
Bilal berpamitan pada mertua nya.
"Semoga Khadijah baik baik saja, Nak" Seru Ibu mertua nya.
"Terimakasih, Ummi. Terimakasih doa nya"
"Sampaikan salam ku pada nya"
"Insya Allah."
.
.
.
Bilal dan Adil langsung menuju rumah sakit. Di sana sudah ada Hubab dan Ibu Bilal yg menunggu. Ummi Mufar sangat bahagia bisa melihat putra nya kembali dan ia dalam kondisi yg jauh lebih baik di banding saat terakhir kali ia melihat nya.
Ummi Mufar langsung memeluk Bilal.
"Bagaimana keadaan Khadijah, Ummi?" Bilal bertanya sambil melerai pelukan nya dari sang Ibu. Ummi Mufar tak mampu berkata kata dan hanya tampak raut kekhawatiran di wajahnya.
"Dia menunggu mu di dalam" Ujar nya.
Bilal pun masuk dan ia mengajak Adil.
Melihat kedatangan suaminya, Khadijah yg terbaring lemah pun langsung tersenyum senang. Ia juga menyapa Adil dan bertanya.
"Dimana Asma?"
"Dia..."
"Dia belum bisa ikut, Khadijah" Bilal segera menyela Adil. Khadijah tampak sedih mendengar hal itu.
"Bagaimana keadaan mu, Khadijah?" Adil bertanya.
"Entahlah" Jawab Khadijah dengan mata yg memerah. "Tadinya aku sangat berharap Asma ikut"
"Dia belum siap, aku harap kamu mengerti" Tutur Adil.
"Aku hanya ingin minta maaf secara langsung padanya, sebelum aku..."
"Engga akan terjadi apa apa" Bilal segera memotong pembicaraan Khadijah. Ia menggenggam tangan istri nya itu "Kamu akan baik baik saja, Khadijah."
Khadijah hanya tersenyum samar karena ia tahu ia tak bisa bertahan lebih lama lagi. Ia sudah tak tahan dengan semua rasa sakit nya. Khadijah menangis dan Bilal langsung menghapus air matanya.
"Jangan menangis" Bilal mencium kening Khadijah dengan sayang "Kuatkan diri mu, selama ini kamu selalu bisa bertahan dan melawan rasa sakit mu, jadi sekarang pun pasti bisa"
"Ini sangat menyiksa ku, Mas" Khadijah berkata dengan derai air mata " Aku ingin di bebaskan dari rasa sakit ini"
"Ssshttt... Jangan berkata begitu, Sayang." Bilal langsung memeluk Khadijah.
"Bilal, aku akan menginap di hotel, besok pagi aku harus kembali"
"Apa maksud mu di hotel?" Tanya Bilal "Menginap saja di rumah Ummi, karena di rumah ku engga ada orang. Atau kalau kamu mau menginap di rumah Zahra juga boleh"
"Menginap di rumah ku saja, Dil" Sambung Ummi Mufar "Disana ada Mukhlis, jadi kamu engga sendirian. " Adil sempat ragu dan sungkan. Namun Bilal kembali membujuk nya, apa lagi Adil adalah kakak iparnya.
Akhirnya Adil pun mau.
"Maaf ya, Bilal sudah merepotkan mu" Seru Ummi Mufar.
"Engga apa apa. Bilal kan keluargaku"
"Bagaimana keadaan adik mu, Nak"
"Asma baik baik saja"
"Ummi merindukan nya" Adil hanya membalas ucapan mertua adik nya itu dengan senyuman.
"Ummi pulang saja bersama Adil, biar aku dan Hubab yg jagain Khadijah"
"Iya" Jawab Ibu nya kemudian ia mengajak Adil bersama nya.
"Terimakasih" Khadijah menyunggingkan senyum lemah nya.
.
.
.
Bilal menemui Dokter Fina dan menanyakan bagaimana mungkin bisa Khadijah drop lagi, karena setelah menjalani kemo dia menunjukan kemajuan yg sangat baik.
"Sejak kamu kecelakaan, dia tidak pernah memperhatikan dirinya sendiri, membuat kondisinya memburuk, dia juga seperti tertekan dan itu semakin memperburuk keadaan nya.
Aku sudah meminta nya menjaga diri, tapi sepertinya dia memang ingin menyerah."
Bilal sangat sedih mendengar penjelasan Dokter Fina. Selama ini ia dan Khadijah sama sama berjuang keras dan melakukan segala hal untuk kesembuhan Khadijah.
"Bagaimana bisa dia ingin menyerah begitu saja setelah semua usaha yg kita lakukan" Bilal berkata dengan sedih
"Dia kesakitan, Bilal. Aku tahu ini berat untuk kalian, tapi aku tidak merasa dia bisa bertahan lebih lama lagi"
"Jika menjalani kemo lagi?"
"Itu percuma, obat obatan itu akan merusak organ dalam nya jika terus di paksakan. Dan dia akan semakin tersiksa" Bilal tertunduk tak berdaya.
Bilal menemui Khadijah di kamar rawatnya. Bilal menatap kecewa pada Khadijah yg tak mau berjuang lagi untuk hidup. Khadijah tahu arti tatapan itu, namun ia masih tersenyum dan mengulurkan tangan nya pada Bilal. Bilal enggan menerima nya dan ia terlihat marah.
"Kita sudah berusaha sangat keras selama ini, kenapa kamu ingin menyerah begitu saja, Khadijah?"
"Maaf" Khadijah masih mengulurkan tangannya dan Bilal pun menyambut nya. "Bukan nya aku menyerah, tapi memang sudah engga mungkin lagi bertahan. Aku harap kamu mau mengkihlaskan aku, Mas" Bilal menggeleng sedih. "Ku mohon, selama ini aku teriksa dengan penyakit ini, rasa nya sangat menyakitkan"
"Apa yg bisa ku lakukan untuk mengurangi rasa sakit mu, Sayang?" Bilal membelai pipi Khadijah. Sungguh ia tak tega melihat istri nya dalam kondisi seperti ini.
"Aku hanya ingin dua hal sebelum aku mati, Mas. Ridho dari suami ku, dan maaf dari madu ku"
"Dia pasti akan memaafkan mu, berhentilah memikirkan masa lalu"
"Aku engga mau membawa mati beban rasa bersalah ini, Mas. Perasaan bersalah ini rasanya lebih sakit dari kanker yg aku derita"
Bilal menatap Khadijah dengan tatapan yg sangat sedih dengan mata yg mulai berkaca kaca, ia mengecup tangan istri nya berkali kali
"Kau ingin bicara dengan nya? aku bisa menelpon Zahra" Khadijah menggeleng
"Dia engga mau bicara sama aku" Khadijah berkata dengan suara rendah.
"Baiklah, sebaiknya sekarang kamu istirahat. Aku yakin semua nya akan baik baik saja"
Khadijah hanya bisa mengulum senyum mendengar kata kata Bilal yg selalu di ucapkan nya setiap kali Khadijah sakit.
Semua akan baik baik saja.
Bilal selalu mendukung nya, memberinya semangat dan selalu ada saat dia membutuhkan nya.
Khadijah mensyukuri apa yg ia miliki selama ini. Dan Bilal adalah yg paling berharga dalam hidup nya. Bilal tidak pernah meninggalkan nya, dan selalu menyayangi nya.
Dan jika pun dia harus mati, dia siap. Tapi masih ada satu hal yg dia inginkan sebelum ia mati. Maaf dari madu nya.
.
.
.
Bilal selalu menemani Khadijah dan memberikan apapun yg istri nya itu minta. Bilal merawatnya dan terus memberinya dorongan supaya mau bertahan dan menyakinkan Khadijah bahwa semua nya akan baik baik saja.
Dan setiap hari, Khadijah akan selalu menanyakan Asma, membuat Bilal tak tega. Bilal mengenal istri nya, dia wanita yg baik, dan dia takkan tenang sampai Asma memaafkan nya.
Bilal pun berusaha membujuk Asma supaya mau berbicara dengan Khadijah, tapi Asma selalu memberikan jawaban yg sama.
Dia belum siap.
Asma bisa melupakan semua rasa sakit nya, tapi tidak kehilangan anak anak nya.
Disetiap sujud nya Bilal selalu berdoa untuk kesembuhan istri pertamanya, dan juga ia berdoa agar Asma bisa membuka hati untuk Khadijah.
Setelah melaksanakan sholat, Bilal duduk di di samping Khadijah dan ia membaca Al Quran dengan tenang.
"Mas..." panggil Khadijah sambil menepuk lengan Bilal.
"Ya, Sayang. Kenapa?" Tanya Bilal sambil menutup mushafnya dan meletakkan nya di meja.
"Bawa aku keluar, aku ingin menghirup udara segar. Rasanya pengap disini" Pinta Khadijah.
"Ya, Tunggu sebentar, aku panggil Hubab dulu"
Bilal yg masih harus menggunakan tongkat tentu tak bisa merawat Khadijah sendirian. Keduanya sama sama lemah saat ini. Dan Hubab selalu ada untuk mereka.
Dan kebetulan sekali, Hubab baru saja datang dengan membawa beberapa makanan untuk Bilal.
Bilal pun meminta Hubab agar membawa Khadijah keluar menggunakan kursi roda karena saat ini Khadijah benar benar sangat lemah.
Dengan senang hati Hubab akan menuruti permintaan saudari nya itu.
▪️▪️▪️
Tbc...