
Assalamualaikum, SkySal bawakan Rekomendasi Novel keren dari Author keren RINI SHA.
Judul: Dikira Satpam Ternyata Sultan
Penulis: Rini Sya
Luka Tak Berdarah
Selepas perbincangan itu, Nadin memfokuskan kembali padangannya pada layar komputer yang ada di depannya. Sangking fokusnya ia tak melihat Rasyid sedang berdiri di sisi pintu ruang kerjanya. Mematapnya dengan penuh kerinduan.
Rasyid terus menatap wanita yang nyatanya masih bertahta manis di hatinya itu. Ingin rasanya ia meminta maaf atas apa yang ia lakukan tadi. Sebuah perbuatan yang menurutnya sangat kasar. Rasyid memang tidak pernah menyakiti Nadin se ekstrim tadi.
"Eeheeemmm... " Rasyid berdehem, sehingga mengagetkan Nadin.
"Eh, Tuan... ada yang bisa saya bantu?" tanya Nadin lembut.
Rasyid masuk, lalu ia pun duduk di depan Nadin. Menatap Nadin dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kamu yakin mau membantuku?" tanya Rasyid.
"Tentu saja, saya kan pegawai anda," jawab Nadin serius.
"Oke! bagus kalo begitu. Aku cuma mau minta, tolong resign dari sini. Aku lelah menghadapimu," ucap Rasyid, to the poin.
Speechless ... namun, Nadin berusaha sekuat tenaga menutupi itu. Hati Nadin serasa ditantam benda tajam. Nyeri sekali rasanya. Beruntung Nadin sudah menyetting hatinya dengan mode masa bodoh. Itu sebabnya ia pun tidak menangis ketik Rasyid kembali mengusirnya.
"Kenapa harus resign Tuan, apa salah saya?" tanya Nadin, masih berusaha tenang.
"Kamu tidak salah, hanya aku yang nggak bisa tenang berada dekat denganmu," jawab Rasyid, jujur.
"Ih kok gitu, gini Tuan, saya kasih tau. Kita kan lagi proses pisah, yang artinya kita sudah nggak ada hubungan apapun perihal hati. Di sini saya pun berusaha bersikap seprofesional mungkin. Supaya saya bisa menyelesaikan kontrak kerja ini dengan baik. Saya lakukan ini juga untuk masa depan saya sendiri, Tuan. Nantinya, setelah ketuk palu pengadilan, otomatis saya kan janda. Janda kan nggak bisa ngendelin siapa-siapa Tuan. Saya harus berjuang sendiri untuk menghidupi diri sendiri. Tuan kan tau, sekarang saya sebatang kara. Nggak ada satu pun pundak yang mau saya sandari. Jadi gimana? Masak Tuan tega sih mecat saya. Nanti di tempat baru, pasti saya ditanyain pengalaman kerja. Terus, kalo mereka tau, saya kerja baru sehari, kena pecat, pasti mereka nggak bakalan nerima. Terus nasibku gimana Tuan. Tolonglah, berbaik hati lah sedikitnpasa saya. Lagian Tuan kenapa sih, keknya elergi banget deket ama saya. Kenapa? Masih ada cinta ya, ayooo ngakku," jawab Nadin, sedikit bercanda. Membuat Rasyid ingin meruntuhkan pertahannya dan memeluk wanita cantik ini.
"Ah,nggak mana ada begitu. Kamu nggak perlu kerja, nikmati aja apa yang aku kasih ke kamu. Nanti setiap bulan aku bakalan kirim uang jajan kok buat kamu," ucap Rasyid mengalah, yang penting Nadin mau menghilang dari hadapannya. Rasyid sangat lemah menahan hasrat yang ada.
"Emang kamu ada ayang?" balas Rasyid, seakan tak tau jika Nadin sebenernya memancingnya.
"Ada sih dulu, tapi nasib Tuan, diputus pas sayang-sayange. Dah lah, kenapa jadi bahas masalah pribadi saya. Yuk, siap-siap, bentar lagi anda harus sampai ke proyek loh!" ucap Nadin seraya merapikan berkas-berkas yang hendak ia bawa.
Sedangkan Rasyid hanya menatap mesra pada wanita yang selalu bersikap tegar di hadapannya ini. Ingin rasanya ia mencium Nadin. Ingin rasanya ia menjamah wanita ini, namun karena keputusannya yang terlalu terburu-buru membuatnya terpenjara rindu. Dan ini sangat berat untuk Rasyid.
"Kamu yakin bisa tahan berdekatan denganku?" pancing Rasyid.
"Insya Allah bisa Tuan, saya kan udah ikhlas. Masak iya, Tuan nggak cinta sama saya kok saya paksa-paksa. Gimana atuh? Percaya sama saya Tuan, hati saya kuat. Sudah saya upgrade, biar saya nggak gila Tuan. Huuuffff, andai saya tau kalo mencintai tanpa balasan sesakit ini. Mungkin saya akan tetap pegang prinsip saya, jangan mau dekat-dekat sama cinta. Cinta itu bulshit, seperti kata Tuan. Dah ah, yuk... " ajak Nadin dengan senyum termanisnya. Seakan tidak ada luka di dalam sana. Padahal luka itu tampak nyata terpancar dari sinar mata itu.
"Apa kamu masih mencintaiku?" tanya Rasyid lagi.
"Ih, Tuan. Masak nanya urusan pribadi di kantor. Nggak boleh atuh. Udah ah, jangan nanya yang aneh aneh. Pokoknya Tuan tenang aja, Tuan nggaj akan terima teror dari saya lagi. Kan kontrak kerja saya cuma tiga bulan, Tuan. Kan nggak lama. Setelah itu saya janji deh, nggak bakalan ngajuin perpanjang kontrak lagi. Jadi anda bisa bebas, nggak lihat saya lagi bersliweran dimari," tambah Nadin lagi. Tentu saja masih dengan senyum termanis yang ia miliki.
Rasyid diam membisu. Rasanya tak tau lagi bagaimana caranya ia bisa mengerti keadaan ini. Nyatanya, apa yang di rasanya Nadin saat ini, sama seperti yang ia rasakan. Hanya saja ia masih gengsi. Gengsi mengakui bahwa dia menyesal telah berniat meninggalkan wanita sebaik Nadin.
"Janji tiga bulan aja, setelah itu kamu harus resign. Awas nggak!" ancam Rasyid, kali ini dengan suara lembut.
"Iya, Yang. Janji... eh... maaf Tuan. Maaf!" ucap Nadin spontan langsung menutup mulutnya. Sungguh kali ini ia tak sengaja. Terlihat jelas tangannya gemetar ketika menutup mulut itu.
"Oke. Aku pegang janji kamu. Setelah itu enyahlah dari hidupku. Aku ingin sendiri. Paham!" Rasyid beranjak dari tempat duduk nya lalu ia pun pergi meninggalkan Nadin.
Nadin hanya menjawab perintah itu dengan anggukan. Sakit ... tapi mau bagaimana lagi. Nadin hanya ingin menguji hatinya, sampai kapan ia sanggup bertahan. Di samping itu, ia juga ingin tau apakah Rasyid serius dengan ini.
Nadin Terluka, Namun Tak Berdarah...
Bersambung...