My Ustadz My Husband

My Ustadz My Husband
Part 88



Asma merasa ada seseorang menyelimutinya, namun ia malas membuka mata. Dia pun melanjutkan tidur nya, namun ia mengerjapkan matanya saat meraskan sebuah tangan yg mengelus kepalanya dengan lembut, di tambah dengan matahari yg menyeruak dari sela sela tirai dan menyilaukan mata nya.


"Astaghfirullah... Mbak?" Asma langsung duduk karena saat membuka mata ia melihat Khadijah sudah duduk di samping kepala nya. Asma melihat sekeliling nya dan ini bukan kamar nya.


"Maaf ya, jadi ganggu tidur kamu" Khadijah berkata dengan begitu lembut, Asma menatap Khadijah dengan tatapan tak percaya.


Dia menepuk pipi nya untuk memastikan apakah dia mimpi atau tidak, melihat itu Khadijah hanya mengulum senyum.


"Bagaimana Mbak bisa...." Ucapan Asma terhenti saat tiba tiba ia mendengar suara tawa anak anak, dan perlahan tawa itu semakin mendekat, di susul dengan pintu yg seperti di dorong dan muncullah sepasang anak kembar yg berlari memasuki kamarnya, Asma hanya bisa menatap anak anak itu dengan tercengang.


"Sayang, kenapa masuk begitu saja?. Kalian mengagetkan Ummi kalian" Ucap Khadijah pada anak anak itu.


Asma mengerjapkan matanya berkali kali dan meminta dirinya sendiri untuk sadar dan bangun dari mimpi nya jika itu memang mimpi.


"Maaf, Ummi. Kami mencari Ummi Khadijah tadi" Ucap si anak laki laki, kemdian di susul anak perempuan yg menarik tangan Khadijah "Ummi, ayo kita main..." Ajak anak perempuan itu.


"Tunggu dulu, izin dulu sama Ummi Zahra ya" Ucap Khadijah lembut pada anak itu. Sementara Asma masih dalam kebingungan nya dan menatap heran ketiga orang itu bergantian.


"Ummi Zahra, boleh ya kami mengajak Ummi Khadijah main. " Anak perempuan itu menarik narik tangan Asma dan terus merengek meminta Asma mengizinkan nya, begitu juga dengan si anak laki laki, kedua nya terus memohon pada Asma.


"Boleh ya, Ummi... Please. Please, Ummi..." Anak anak itu memohon dengan sangat menggemaskan. Am


Asma menatap Khadijah dengan penuh tanda tanya, namun Khadijah membalas tatapan Asma dengan tatapan memohon.


Kedua anak anak itu terus menarik narik tangan Asma dan terus merengek supaya di izinkan pergi main bersama Khadijah.


"Asma...."


"Ah..." Asma terbangun dengan nafas tersengal saat meraskan seseorang mengguncang tubuhnya.


Ia mengusap wajahnya dengan kasar, menepuk nepuk pipinya sendiri.


Asma menatap sekeliling nya dan ia berada di kamar nya, berada di atas sejadah nya bahkan masih mengenakan mukena nya.


"Asma..."


"Hah..." Asma kembali berteriak kaget saat Asiyah memanggil nya.


"Kamu kenapa sih?" Tanya Aisyah sambil membuka horden jendela kamar Asma. "Liat jam tuh, engga boleh tidur di waktu Dhuha seperti ini, Dek. Engga baik" Asma melirik jam dinding yg menunjukan pukul 10.25.


Asma teringat jam 10 tadi dia melaksanakan Sholat Dhuha dan setelah itu ia merasa sangat mengantuk dan tertidur.


"Mimpi itu lagi" Gumam Asma. Karena semalam ia memimpikan hal yg sama, dan anak anak itu...adalah anak anak yg dia lihat dulu dalam mimpi nya.


"Mimpi apa?" Tanya Aisyah.


"Mbak, kalau kita mimpi hal yg sama beberapa kali, apa arti nya?" Tanya Asma penasaran.


"Bisa jadi sebuah penunjuk. Kamu memang mimpi apa?. Soalnya tadi Mbak liat tangan mu terangkat kayak mau menggapai sesuatu"


"Hah?" Asma mengangkat kening nya.


"Bangun gih. Nanti Ummi marah lho kalau tahu kamu tidur di jam seperti ini."


Asma segera berdiri dan melepaskan mukennaya.


"Mbak, mau nemenin Asma ke jakarta engga?" Tanya Asma yg membuat Aisyha langsung melotot.


"Maksud nya?"


"Asma mau ke Jakarta"


"Mau nyusul Bilal?" Asma menggeleng karena memang bukan itu yg ada dalam benak nya saat ini. "Nanti Mbak tanyain Mas Farhan dulu ya"


"Engga jadi, Mbak. Asma mau ngajak Lita aja"


"Ya jangan, liburan Lita sudah berakhir. Dia sudah harus kembali ke pesantren nya"


"Asma pergi tanya dulu dia deh" Dan Asma langsung bergegas setelah ia mengambil Pashmina nya. Tak peduli Aisyah yg meneriakinya meminta Asma merapikan kamarnya lebih dulu. Bahkan mukena nya pun masih tergeletak di lantai.


Sesampainya di rumah Lita, Asma langsung masuk ke kamar Lita, dan terlihat Lita yg sedang menyiapkan barang barang nya karena besok sudah harus kembali ke pesantren. Apa lagi ia kembali sangat terlambat dari waktu yg di tentukan.


"Ada apa?" Tanya Lita sambil melipat baju nya dan memasukan nya kedalam tas.


"Ikut aku ke Jakarta ya"


"Hah" Teriak Lita. "Maksud nya?"


"Aku rasa aku harus pulang deh"


"Huff" Lita langsung menjatuhkan dirinya lemas di tepi ranjang. "Ya pulang aja, ngapain ngajak ngajak aku?. Besok aku harus kembali dan aku pasti dapat hukuman. Aku pulang paling awal dan kembali paling akhir, dan itu semua cuma untuk kamu, biar bisa nemenin kamu di sini"


"Hehe" Asma cengengesan saja dengan itu, karena memang Asma lah yg meminta Lita agar ia jangan kembali dulu.


"Malah ketawa. Kenapa waktu itu engga ikut suami mu aja sih. Udah punya suami, masih juga aku yg kerepotan" Gerutu Lita.


"Ayolah, Ta. Ya, temenin aku, kalau ngajak Mbak Aisyah, kasian dia, dia harus bantuin Ummi di sini. Kalau Kak Adil, masak dia harus bolak balik Jakarta lagi"


"Ya kamu pergi aja sendiri, Neng. Dulu aja kamu bisa ke jawa tengah sendirian"


"Tapi sekarang aku butuh teman. Ayolah,Ta. ya, ku mohon..." Asma meminta dengan wajah memelas, dan seperti biasa Lita sulit menolak permintaan saudari nya itu.


"Lama lama aku bisa di keluarin dari pesantren gara gara kamu" Gerutu Lita. Namun Asma membalas gerutuan Lita dengan senyuman dan memeluk nya. "Aku fikir kamu beneran engga mau lagi kembali kerumah suami mu"


"Aku memang engga berniat pulang ke rumah, Bilal. Aku mau ke Jakarta karena...Karena aku mengkhawatirkan Mbak Khadijah"


Lita cukup tercengang mendengar penuturan Asma, karena selama ini dia terlihat masih benci pada Khadijah.


"Oh ya?. Jadi setan benci di hati mu sudah berganti menajadi malaikat pemaaf?" Sindir Lita. Apa lagi Lita tahu, Bilal sering menelpon Asma dan membujuk Asma untuk bicara dengan Khadijah, tapi Asma selalu menolak nya.


"Aku engga tahu, tapi aku terus memikirkan dia, dan aku... aku bermimpi tentang nya, sudah tiga kali, kali pertama saat aku menginap di sini, kamu ingat engga?. Saat aku pergi dari rumah karena aku masih tidak bisa menerima pernikahan ku dengan Bilal"


"Oh ya?" Tanya Lita penasaran.


"Ya, dan mimpi itu datang lagi, dan aku melihat anak anak yg sama" Asma pun menceritakan mimpi yg dia lihat pada Lita. Membuat Lita juga penasaran dengan arti mimpi Asma, dan ia pun dengan suka rela mengantar Asma ke Jakarta.


.


.


.


Awalnya kedua orang tua Asma melarang Asma pergi sama Lita, begitu juga keluarga Lita, apa lagi Lita jadi harus ketinggalan banyak pelajaran di pesantren nya. Aisyah bahakn sudah siap mengantar Asma, tapi Lita pun bersikeras ingin pergi bersama Asma.


"Kita kemana sekarang?" Tanya Lita.


"Kerumah sakit"


"Apa kamu memberi tahu Bilal kalau kamu datang?" Asma menggeleng. "Padahal kalau di kasih tahu kan enak, bisa di jemput"


"Dia pasti lagi jagain Mbak, lagi pula kakinya pasti masih sakit dan mungkin belum bisa menyetir"


"Oh, ya juga sih. Tapi kan mertua mu itu pasti punya sopir"


"Malu aku, Ta. Sama ibu mertua ku, sudah paku pulang engga bilang bilang waktu itu"


"Salah sendiri" Cetus Lita yg membuat Asma mencebikan bibir nya.


Dari bandara, mereka naik taksi dan langsung menuju rumah sakit di mana Khadijah biasa si rawat.


.


.


.


Sesampainya di rumah sakit, Asma segera mencari Kamar Khadijah.


"Aku telpon orang rumah dulu, mau ngasih tahu kalau kita sampai dengan selamat" Seru Lita. Ia pun menelpon orang tua Asma dan mengatakan kini mereka sudah berada di rumah sakit.


"Ta, aku mau ke toilet dulu. ke belet nih" Ujar Asma yg langsung di iyakan Lita. "Jangan kemana mana. Nanti kamu ke sasar lho"


"Iya iya" Jawab Lita.


Sambil menunggu Asma, Lita memainkan game di ponsel nya, ia duduk di sebuah kursi dan sedikit meregangkan kaki nya dan bersamaan dengan itu seorang lewat dan tanpa sengaja tersandung kaki Lita hingga membuat nya langsung terjerembab ke lantai dan sontak itu menarik perhatian orang. pria itu segera bangun dengan wajah yg marah.


"Kamu senga....." Lita menatap orang itu yg menatap nya seolah mengenal nya.


"Kamu..." tiba tiba ekspresi marah nya hilang seketika "Sepupu nya Asma?" Tanya pria itu. Lita mengernyit bingung bagaimana dia bisa mengenalinya.


"Kamu siapa?" Tanya Lita heran


"Kak Hubab...?" Panggil Asma yg langsung membuat Lita dan Hubab menoleh.


"Asma? Kamu di sini?" Tanya Hubab seolah tak percaya Asma di sana.


"Hubab?" Gumam Lita, dan seketika ia mengingat pria di depan nya ini "Oh... Kamu sepupu nya Mbak Khadijah?" Lita bersuara. Hubab mengangguk.


"Masak kamu lupa, Ta?" Tanya Asma heran.


"Ya karena engga perlu mengingat orang asing kan?"Tutur m Lita yg membuat Hubab melotot dengan kesombongan Lita. Keduanya memang pernah bertemu di hari pernikahan Asma dan Bilal. Hanya sekadar tahu tapi tak saling mengenal.


"Oh ya, Asma. bagaimana kamu bisa ada di sini? Dan sejak kapan kamu ada di jakarta?"


"Baru saja, dari bandara kami langsung kesini, buat jenguk sepupu mu" Jawab Lita mendahului Asma. Hubab sedikit kesal karena Lita terlihat lancang tapi ia senang jika memang Asma ingin menemui Khadijah.


"Khadijah pasti senang melihat mu, ayo. Dia ada di kamarnya" Seru Hubab.


"Apa kamarnya jauh?" Tanya Lita lagi "Jujur saja rasanya aku sedikit lelah jika harus berjalan jauh"


Hubab melirik Lita dan ia tampak sangat tidak menyukai Lita.


"Mau aku bawa menggunakan ini, Neng Lita?" Sindir Hubab sambil menarik brankar yg kebetulan ada didepan kamar seseorang.


Lita dan Asma tertawa "Kamu fikir aku pasien?"


"Oh bukan, jenazah pun di bawa pakek ini" Hubab berkata dengan santai namun Lita yg mendengar nya langsung melotot sempurna. Ia menatap Tajam Hubab sementara Asma tertawa mendengar candaan Hubab.


Hingga mereka sampai di kamar Khadijah. Masih ada sedikit keraguan di hati Asma untuk menemui istri lain dari suami nya itu. Tapi entah kenapa ia seperti di dorong untuk menemui nya. Itulah yg membuat dia nekat datang ke Jakarta.


Saat pintu terbuka, hati Asma terenyuh melihat Khadijah yg tampak sangat lemah sedang berbaring di ranjang rumah sakit.


Menyadari ada yg masuk kamarnya, Khadijah pun terbangun.


"Hubab, kam...." Khadijah langsung terdiam saat melihat yg datang bukan hanya Hubab, tapi juga Asma. Khadijah sangat tidak percaya melihat Asma di sana. Asma dan Lita pun berjalan pelan mendekati Khadijah.


"Asma?" Panggil Khadijah pelan. Ia pun berusaha duduk namun Asma segera mencegahnya.


"Apa kabar, Mbak?" Tanya Asma sedikit gugup.


"Aku sangat baik" Jawab Khadijah yg membuat Asma mengernyit karena jelas Khadijah sangat tidak baik. "Dan kamu?" Tanya Khadijah yg juga terlihat masih canggung.


"Aku baik" Asma menjawab singkat.


"Bagaimana kamu bisa ada di sini?. Apa Mas Bilal yg menyuruh mu datang?" Asma menggeleng.


"Bilal engga tahu aku ada di sini. Aku baru sampai, dari bandara langsung kesini"


"Oh ya?. siapa yg menjemput mu?"


"Aku dan Lita naik taksi"


"Kamu datang berdua saja dengan Lita?" Asma mengangguk. "Em kalau kamu cari Mas Bilal, dia engga ada si sini. Dia pergi ke kantor karena ada urusan. Tapi dia bilang engga akan lama kok. Sebentar lagi juga pasti datang"


"Dia datang memang mau menjenguk mu, Mbak" Sambung Lita. Khadijah menatap Asma penuh tanda tanya dan juga ia berharap apa yg di katakan Lita itu benar.


"Benarkah?" Dan Asma hanya bisa mengangguk. Seketika Khadijah langsung meneteakan air mata haru nya, ia berusaha duduk karena ia begitu senang dengan kedatangan Asms"Boleh aku memeluk mu?"Pinta Khadijah sambil menyunggingkan senyum nya namun air mata terus membasahi pipi nya.


Asma tak langsung menjawab, dia masih sempat canggung dan menatap Khadijah, namun kemdian ia semakin mendekat dan memeluk Khadijah.


Tanpa sadar, Asma pun ikut menangis karena Khadijah menangis dalam pelukannya, Asma bisa meraskan tubuh Khadijah yg seolah tinggal tulang saja dan tubuhnya bergetar karena tangis nya. Membuat Asma pun juga semakin tak bisa menahan tangis nya.


"Maaf dan terimakasih banyak, Asma. Maaf karena aku menyakiti mu, dan terimakasih banyak karena sudah datang" Khadijah melepaskan tangisan nya. Selama ini, inilah yg sangat ia harapkan. "Aku mengakui kesalahan ku, dan dengan segenap hati ku, aku memohon maaf dari mu"


▪️▪️▪️


Tbc....