My Ustadz My Husband

My Ustadz My Husband
Part 81



Ummi Kulsum sangat terkejut dengan kedatangan Bilal. Apa lagi, menantu nya itu datang dengan keadaan yg sangat memprihatinkan kan.


"Assalamualaikum, Ummi" Sapa Bilal


"Waalaikum salam. Nak...Apa yg terjadi?" tanya Ummi Kulsum. Ia memperhatikan Bilal lekat lekat. bersamaan dengan itu, Abi Rahman pun dan ia pun juga sangat terkejut.


"Ya Allah, Bilal. Ada apa dengan mu?" tanya Ayah mertua nya.


"Kakak melompat dari..." Shofia hendak menjawab tapi Mukhlis menghentikan nya.


"Shofia...." tegur Mukhlis.


"Masuk masuk..." ajak Ayah Asma dan Mukhlis pun mendorong kursi roda Bilal masuk kedalam.


"Kalian datang engga bilang bilang, dan ada apa dengan mu, Bilal?. Kami semua bertanya tanya kemana kamu karena tidak menghubungi kami sama sekali"


"Kakak depresi karena ditinggal Zahra nya, Tante. Dia mau bunuh diri"


"Astaghfirullah..."Seru Ibu mertuanya itu yg sepertinya menanggapi Shofia dengan serius. "Nak, bunuh diri itu dosa besar" Ujar Ummi Kulsum dengan polos nya membuat Shofia cekikikan.


"Shofia bercnada, Tente" jawab Mukhlis yg sudah sangat malu dengan kelakuan adik nya itu.


"Iya, Ummi. itu engga benar, sebenarnya aku mengalami kecelakaan dan koma selama beberapa hari"


"Innalillah, Kapan? Kenapa engga ada yg memberi tahu kami?" tanya Ummi Kulsum lagi.


"Maaf" Hanya itu yg bisa Bilal ucapkan. "Sebenarnya tidak ada satupun dari keluarga ku yg berani datang kesini karena...." Bilal menarik nafas, ia sendiri malu karena sudah membuat putri mereka bersedih "Karena dirumah ku, Zahra tidak bahagia, dan mendapatkan ketidak adilan" ia berkata dengan lirih. "Kami telah membuatnya bersedih. Ummi memang berniat menjemput Zahra, tapi aku melarang nya, karena aku ingin datang sendiri dan mempertanggung jawabkan kesalahan ku"


Kedua orang tua Asma hanya bisa menghela nafas berat. Karena mereka pun juga kecewa dengan hal itu, tapi mereka tak bisa berbuat apa apa. Apa lagi mereka pun berfikir Khadijah tak bisa menerima keberadaan Asma, sehingga mereka juga tak berniat mengembalikan Asma kerumah suaminya.


"Kami sedih dengan keadaan Asma kami, Bilal" Ujar Ummi Kulsum jujur, apa lagi sejak ia pulang dari rumah Bilal, sulit sekali ia bisa melihat senyum Asma, Sementara dulu, putri nya itu adalah gadis periang dan selalu tersenyum. Tapi sejak berpisah dari suaminya, ia selalu melamun, sedih, dan menangis.


"Maafin aku, Ummi" ucap Bilal sedih.


Dan tak lama kemudian Adil datang dan ia pun juga sangat terkejut melihat keadaan Bilal. Ia menatap adik ipar nya itu dari ujung kaki sampai ujung kepala.


"Astaghfirullah...Bilal kamu kenapa?" tanya Adil yg kini sudah ada didekat mereka.


"Aku kecelakaan, Dil"


"Kapan?"


"Sehari setelah kamu pulang" Adil terlihat semakin shock mendengar penuturan Bilal.


"Ya Allah, Bilal. pantas saja aku telpon kamu tapi engga aktif terus, aku telpon ke hp Asma juga engga aktif"


"Ponsel ku dan ponsel Zahra rusak karena kecelakaan itu"


"Tapi kenapa engga ada yg mengabari kami?" Adil menanyakan hal yg sama "Asma terus menunggu kabar dari mu, Bilal" Tampak raut kekecewaan di wajah Adil.


"Ini memang salah ku, Dil. Aku datang kesini untuk meminta maaf secara langsung kepada kalian terutama Zahra, dimana Zahra sekarang?"


.


.


.


"Neng Asma....Awas"


"Aduh..."


Asma meringis jsaat ia merasakan sebuah pukulan di bahu nya karena sebuah bola. Asma dan Lita berjalan di sekitar lapangan bola di sana. Dan memang ada anak anak yg sedang bermain bola.


"Maaf, Neng. Engga sengaja" Ujar seorang anak. Asma hanya tersenyum samar dan menendang bola nya ke arah anak itu.


"Woho... Neng Asma bisa menendang bola dengan keras, mau ikut main engga?" tanya anak itu lagi. Seketika mata Asma berbinar dan ia langsung mengangguk.


"Jangan...Jangan...Jangan!" Seru Lita mencegah Asma yg sudah mau turun ke lapangan.


"Kenapa?" Asma bertanya.


"Apa kata orang nanti kalau kamu main bola disini?. Ada banyak laki laki yg lewat juga di sini"


"Aku cuma mau nendang bola kali, Ta. Bukannya menari." Jawab Asma kemudian ia segera bergabung dengan anak anak itu. "Ta, Ayo ikutan main" Teriak nya, awalnya Lita menggeleng namun melihat Asma yg antusias ia pun bergabung. Anak anak itupun terlihat senang dengan keberadaan Asma dan Lita.


Mereka segera membagi kelompok dan memulai permainan.


Walaupun sebenaranya Lita dan Asma sama sekali tak tahu bagaimana bermain bola, mereka ikut saja saat anak anak kecil itu meneriaki mereka untuk menendang bola.


Asma terlihat senang dengan hal itu dan membuatnya tertawa. Hingga saat anak kecil itu meminta Asma supaya menendang bolanya dengan kerasa ke arah gawang karena Asma berada di dekat gawang. Asma pun menendang nya sekuat tenaga, Namun ia malah menendang nya dengan cara yg salah hingga membuat jempol kaki nya terasa sakit.


"Yah, Neng Asma salah. Kalau nendang bola pakek kaki bagian dalam, tendangan nya keras dan aman" seru anak itu.


"Asma, kamu engga apa apa kan?" tanya Lita yg melihat Asma meringis.


"Engga apa apa cuma sakit sedikt aja" jawab Asma.


"Ya udah, kita pulang aja ya. udah sore juga"


"Maaf ya, Neng Asma. Gara gara ikut main, kakinya jadi sakit" seru bocah itu merasa bersalah.


"Engga apa apa. Besok boleh kan ikut main lagi?"


"Boleh, nanti kita ajarin main bola yg benar" jawab anak itu sambil tersenyum.


Lita pun membawa Asma pulang.


Lita sangat senang karena akhirnya saudari nya ini bisa kembali tertawa, walaupun setiap pagi Lita melihat mata Asma yg sembab karena menangis dan mungkin juga Asma kurang tidur.


"Apa belum ada tanggapan dari Ustadz soal surat cerai yg kamu kirim kan?" tanya Lita. Asma hanya menggeleng. "Kak Adil mengirim nya kan?. ini sudah berhari hari. Masak iya belum sampai juga"


"Aku juga engga tahu, katanya sih sudah di kirim"


Di satu sisi, Lita berharap Adil tidak benar benar mengirim surat itu. Ia tak mau Asma menjadi janda muda dan selain itu ada baiknya mereka menunggu kepastian dari Bilal. Tapi di sisi lain, Lita bisa mengerti posisi Asma yg pasti sangat menyakitkan. Sudah ia duga, hal ini pasti terjadi.


"Kalau Ustadz setuju untuk menceraikan mu, bagaimanan?"


"Itu bagus, kamu engga tahu betapa sakit nya aku harus bertahan dalam rumah tangga seperti itu, belum lagi harus mendengar omongan orang"


"Sabar, Allah hanya sedang menguji mu"


Asma dan Lita sudah sampai dirumah, Asma masih meringis karena jempol kaki nya yg masih sakit.


Saat memasuki rumah, Asma terkejut karena melihat Mukhlis dan Shofia ada di ruang tamu beserta kedua orang tuanya dan juga Adil.


Asma juga melihat seorang pria yg memunggungi nya sedang duduk di kursi roda dengan kepala yg di perban. Membayangkan siapa itu membuat tubuh Asma gemetar. Ia berjalan perlahan bahkan tanpa sadar ia menahan nafas.


"Asma...." Seru Shofia yg menyadari kedatangan Asma dan Lita. sontak semua orang menatap Asma. Dan juga...


"Bi....Bilal..?" Asma membisikkan nama suaminya itu yg juga menoleh ke arahnya. Bilal memutar kursi roda nya dan seketika Asma merasa jantung nya berhenti berdetak melihat keadaan suaminya yg sangat memprihatinkan.


Keduanya saling menatap dengan mata yg berkaca kaca. Bahkan bibir Asma bergetar dan ia akan segera menangis. Betapa kedua nya saling merindukan. Bilal mendorong kursi roda nya mendekati Asma yg diam mematung di tempat nya.


Asma merasa ini hanya mimpi. Seketika ia pun meneteskan air matanya namun Bilal langsung menghapus air mata itu dengan tangannya dan sentuhan hangat itu terasa begitu nyata.


"Hey, Sayang. Kenapa menangis?. Bagaimana keadaan mu?. Apa kau merindukan ku?" Bilal bertanya dengan suara yg gemetar, mata nya pun sudah memerah menahan tangis yg juga akan pecah.


Ia sangat merindukan istrinya, ingin sekali ia memeluk Asma namun ia bahkan tidak bisa berdiri saat ini membuat Bilal semakin sedih dan merutuki kondisinya.


"Apa kamu tidak mau memeluk ku? Aku sangat ingin memeluk mu, Zahra. Tapi aku tidak bisa berdiri saat ini" Satu bulir bening itu meluncur pada akhirnya dari sudut mata Bilal. Ia menatap penuh rindu pada istri nya. "Ku mohon peluk aku, Zahra..." bisik Bilal penuh harap.


Asma masih diam mematung, namun kemudian ia pun dengan perlahan menurunkan tubuhnya dan memeluk Bilal dengan sangat hati hati. Dan seketika tangis keduanya pecah, Bilal maupun Asma tak bisa lagi menahan air mata rindu mereka. Keduanya menangis tersedu sedu dan saling mengeratkan pelukannya. Melepaskan rindu yg mereka tahan satu sama lain.


"Maaf, aku membuat mu menunggu sangat lama" bisik Bilal. Tapi Asma masih tak mampu mengeluarkan suara selain suara tangisnya.


Shofia dan Lita yg menyaksikan hal itu pun juga tanpa sadar meneteskan air matanya.


Begitu juga kedua orang tua Asma dan kakaknya. Mereka terharu melihat sepasang kekasih ini yg terlihat saling merindukan. Asma hendak melepaskan pelukannya tapi Bilal menahan nya.


"Biarkan seperti ini dulu" bisiknya. "Aku merindukan mu, sangat merindukan mu" Bilal mengeratkan pelukannya. Bilal menghirup aroma istrinya yg selalu ia rindukan. Kemudian ia pun melepaskan pelukannya dan mencium pipi Asma yg basah karena air matanya dengan ia masih berurai air mata juga.


"Bilal...Kenapa...Kenapa dengan mu?" tanya Asma dengan suara lirih. Ia menghapus air mata suaminya itu dengan tangan kecilnya. Asma meraba bekas jahitan di rahang Bilal dan juga lebam lebam di lengannya. Hati Asma terasa perih melihat keadaan kekasih hatinya dalam kondisi seperti ini.


Bilal menangkap tangan Asma dan ia mencium telapak tangan Zahra nya itu berkali kali.


"Kakak melompat dari gedung kantor nya, Asma" seru Shofia kembali melancarkan aksinya. Membuat Asma menatap Bilal tak percaya. Namun Bilal hanya diam seolah membenarkan apa yg dikatakan Shofia. "Dia depresi karena kamu meninggalkan nya"


"Bilal... Apa itu benar?" tanya Asma dengan suara yg masih gemetar. Ia membelai pipi Bilal dengan lembut. "Katakan padaku, itu engga benar kan, Bilal. kamu engga sebodoh itu kan?" Asma bertanya dengan setengah berbisik.


"Aku sangat bodoh, Zahra. Sangat bodoh karena aku tidak bisa membahagiakan mu, sangat bodoh karena selalu menjadi alasan air mata mu ini" Bilal juga membelai pipi Asma dan menghapus sisa air mata yg masih membasahi pipi wanita nya itu.


Asma hanya bisa menundukan kepalanya. Ia tak menyangka Bilal akan menemui nya dengan keadaan seperti ini.


"Bilal kecelakaan, Asma" sambung Adil "Sehari setelah kita pulang, dan dia koma berhari hari" ia berkata pada Asma seolah memberi klarifikasi kenapa Bilal menghilang selama ini.


Asma semakin terkejut mendengar penjelasan kakaknya. Ia menatap Bilal dan meminta kebenaran dari Bilal.


"Itu benar, Sayang" jawab Bilal. "Maafkan aku" seru Bilal penuh penyesalan.


"Tapi....Tapi Kenapa engga ada yg memberi tahu ku?" tanya Asma dan ia kembali ingin menangis.


"Maaf, ini salah ku. Salah kan aku. Maafkan aku" Bilal menggenggam erat tangan Asma dan mengecup nya.


"Aku... aku fikir kamu..."


"Ssshttt..." Bilal meletakkan jarinya di bibir Asma. "Saat ini aku sangat lelah, Sayang. Aku kabur dari rumah sakit supaya aku bisa segera menemui mu"


"A...Apa?" Asma bertanya sangat terkejut.


"Jadi ku mohon, bawa aku ke kamar kita, aku ingin beristirahat dan tolong temani aku"


Asma melirik Adil, karena sikap Bilal menunjukan seolah dia belum menerima surat cerai yg Adil kirimkan beberapa hari yg lalu.


Namun Adil memberi isyarat pada Asma supaya membawa Bilal ke kamarnya.


Asma pun mengangguk apa lagi melihat kondisi Bilal yg sangat menyedihkan.


Asma mendorkng kursi roda Bilal menuju kamar nya.


Dan saat memasuki kamar itu, Bilal terlihat sangat senang.


"Aku merindukan kamar kita ini" ujar nya.


"Bilal, apa kamu tidak...."


"Zahra " Sela Bilal "Aku merindukan mu, selama aku tidak sadarkan diri karena koma. Aku selalu melihatmu mengulurkan tangan pada ku, aku berusaha menggapainya tapi tidak pernah bisa" Bilal berkata dengan sangat sedih.


"Tapi sekarang, aku disini" Bilal menarik tangan Asma "Bisa menggapai tangan mu, dan bisa memeluk mu."


Asma kembali meneteskan air mata nya, membayangkan apa yg sudah di alami suaminya dan ia tidak tahu sama sekali


"Bagaimana semua ini bisa terjadi, Bilal?"


"Aku engga tahu, itu tejadi begitu saja. Yg aku ingat, aku terjebak di mobil ku yg sudah terbalik, saat itu aku merasa tubuh ku seperti remuk, tapi kemudian aku melihat mu berlari pada ku, mengulurkan tangan mu dan setelah itu... semua nya menjadi sangat gelap"


Asma menghapus air matanya dan ia mencium tangan Bilal.


"Maaf karena aku engga bisa menjaga mu saat kamu membutuhkan ku"


"Aku yg salah. Seharusnya aku tidak membiarkan mu pergi. Dan mulai sekarang aku tidak akan pernah membiarkan mu pergi walau hanya sesaat".


Asma diam seketika, sekarang ia yakin Bilal tidak menerima surat cerai itu.


Tapi Asma bersyukur jika itu benar, melihat kondisi suaminya saat ini, tentu Asma tak tega mengajukan gugatan cerai.


"Berhentilah menangis, sekarang aku di sini" ujar Bilal kembali menghapus air mata Asma yg mengalir tiada henti. Asma langsung memeluk Bilal dan ia menangis dalam pelukan suaminya itu. Ia tumpahkan segala rasa sakit dan juga kerinduan nya dengan air mata itu.


Sekarang, apa yg harus dia lakukan dengan kondisi suaminya yg seperti ini?


▪️▪️▪️


Tbc....