
Bilal mengantar Asma, Adil dan juga Ibu mertua nya ke bandara. Mata Bilal terasa panas karena kini Zahra nya benar benar mau pergi. Tapi Bilal tak bisa berbuat apapun. Walaupun Bilal sungguh merasa ada yg salah, apa lagi Adil yg bersikeras membawa Asma pulang. Bilal yakin, Adil tahu dengan pasti, bahwa ketika seorang gadis menikah, maka suaminya punya hak sepenuh nya pada gadis itu, bukan lagi keluarga nya, kecuali..... kecuali jika suaminya melakukan hal yg tidak adil. Bilal bertanya tanya, ketidak adilan apa yg sudah ia lakukan pada Zahra nya?.
"Bilal, kami pergi dulu. jaga diri ya,Nak" seru sang Ibu mertua. Bilal hanya mengangguk tanpa bisa bersuara.
Asma pun memeluk Bilal namun ia juga tak bisa bersuara, ia sangat sedih karena harus berpisah dengan suami tercinta nya.
"Ku mohon, Zahra. Jangan meninggalkan ku" bisik Bilal saat Asma memeluk nya. Namun Asma tak menjawab dan ia hanya bisa semakin mengeratkan pelukannya. "Sayang, ku mohon. Kamu boleh marah atau menghukum ku jika aku berbuat tidak adil atau menyakiti mu, tapi ku mohon, Zahra. Jangan pergi" Bilal berkata dengan suara bergetar. Ia bahkan sudah hampir menangis.
Masih diam, Asma melepaskan pelukannya dan segera berbalik, tak peduli Bilal yg tak ingin melepaskan tangannya. Asma tetap menarik diri, dengan derai air mata, Asma terus melangkah menjauh dari Bilal.
Kini Bilal benar benar menangis, ia hanya bisa menatap nanar punggung istri nya itu yg bahkan tak ingin menoleh lagi.
Asma menggigit bibir nya kuat kuat untuk menahan isak tangis nya. Namun Asma tiba tiba menghentikan langkahnya, ia berbalik dan langsung berlari pada Bilal, Asma langsung memeluk Bilal dan menangis tersedu sedu dalam pelukan Bilal. Bilal pun memeluk nya dengan sangat erat dan ia juga menangis. Bilal terus memohon agar Zahra nya tak meninggalkan nya. Namun satu satunya jawaban Asma hanyalah isak tangisnya.
"Ku mohon, Zahra." untuk yg kesekian kalinya Bilal memohon.
"Aku mencintaimu, Bilal" hanya itu yg mampu Asma ucapkan itupun dengan suara tersendat.
"Kalau begitu, jangan tinggalkan aku. Aku juga sangat mencintai mu"
"Aku harus pergi" Tapi Bilal menggeleng. Ia semakin mengeratkan pelukannya.
"Ku mohon, jangan"
Adil sungguh tidak tega melihat sepasang kekasih itu, namun perpisahan itu harus demi adiknya, Adil tidak mau adiknya terus menerus menderita dalam rumah tangga nya.
"Asma, sudah waktunya chek in " ucap Adil, Asma pun dengan berat hati melepaskan Bilal. Ia pun memberikan ciuman perpisahan pada Bilal yg di barengi tangis yang tak bisa ia hentikan.
"Jangan menunggu ku" bisik Asma tepat di telinga Bilal, yg seketika membuat detak jantung Bilal berhenti sesaat. Nafasnya tercekat di tenggorokan nya.
Itu arti nya.....memang benar Zahra nya mau meninggalkan nya? Dia tidak pergi untuk menenangkan diri, tapi dia pergi karena sudah tak mau lagi jadi istri Bilal?
Tapi, belum sempat Bilal bersuara, Asma sudah berlari menjauh dari nya.
.
.
.
Bilal pulang dengan hati yg hancur, apa yg salah?. Ia terus bertanya tanya akan hal itu. Ia tidak bisa membenarkan Asma yg ingin berpisah hanya karena keguguran Asma, karena mereka masih bisa memiliki anak lagi.
Bilal pulang kerumah Khadijah. Dan betapa terkejutnya Khadijah melihat suami nya yg pulang dengan derai air mata dan wajah yg pucat.
"Mas, ada apa?" tanya Khadijah khawatir, ia bahkan tidak tahu Asma sudah pulang kerumah orang tua nya
"Zahra....Zahra ku meninggalkan ku" ucap Bilal dengan suara yg bahkan hampir tidak terdengar. Khadijah pun tak kalah terkejut nya mendengar itu "Dia bilang jangan menunggu nya... Kenapa? kenapa semua ini terjadi pada ku? Kenapa Zahra sangat membenci ku?" Gumam Bilal.
"Mas, dia engga mungkin ninggalin Mas Bilal." bujuk Khadijah namun Bilal tak mau mendengar nya. Ia berjalan menuju kamar Asma. kemudian ia mengunci dirinya di sana.
Bilal mengambil boneka kesayangan Asma. Dulu, ketika Asma tak ingin di sentuh oleh Bilal, Asma selalu tidur dengan memeluk boneka itu. Kini Bilal yg memeluk boneka itu, masih ada aroma istri nya disana. Bilal menghirup aroma manis itu. dan ia kembali menangis.
Hatinya sangat sakit saat Asma meminta nya untuk tidak menunggu nya.
Khadijah yg berdiri di depan kamar Bilal, bisa mendengar suara tangis Bilal, sungguh Khadijah tidak tega. Suaminya begitu terpukul. Itu memang salah nya, Asma pergi karena nya.
.
.
.
Sesampainya Asma dirumah nya, sangat mengejutkan semua orang terutama Ayahnya. karena mereka tak tahu Asma akan ikut pulang dan itu pun tanpa suami nya.
Tentu Abi Rahman mempertanyakan Adil bagaimana bisa dia membawa Asma pulang dan berpisah dari suami nya. Apa lagi saat ini Bilal juga pasti sangat membutuhkan nya.
"Asma hanya beberapa hari, Bi" seru Adil yg juga mengira Asma pulang untuk menenangkan diri.
"Engga, Kak" jawab Asma yg membuat Adil dan semua orang menatapAsma heran. "Asma engga pulang beberapa hari, Asma.... Asma engga mau lagi kembali kesana"
Keluarga Adil seperti di sambar petir mendengar pengakuan Asma.
"Asma... apa yg kamu katakan?"
"Maafin Asma, Bi." seru Asma. Ia pun berlari ke kamarnya dan menangis sejadi jadi nya di sana. Asma juga tak sanggup dengan keputusan ini. Tapi ia tak bisa bersama Bilal lagi jika Khadijah tak bisa menerima nya, sampai kapan akan ada perang dingin antara ia dan Khadijah?. Asma bukanlah tipe wanita yg mau hidup dengan menyimpan kebencian.
Asma terus menangis meringkuk di tengah ranjang nya, di tempat dimana ia menyerahkan segala nya pada Bilal. Berputar kembali dalam benak nya kenangan nya bersama Bilal, dari saat ia bertemu Bilal untuk pertama kalinya, hingga ia menyerahkan dirinya kepada suami tercinta tercintanya itu dan pada akhirnya ia hamil. Sungguh itu adalah kebahagiaan yg tak ternilai dalam hidupnya. Tapi ia tak bimempertahankan kebahagiaan itu jika masih ada benci dalam hidup nya.
Asma menggenggam erat tasbih pemberian Bilal, ia mencium nya hingga tasbih itu basah oleh air mata nya. Hatinya terus berteriak bahwa ia sangat mencintai Bilal.
Asma terus menangis hingga ia merasa lelah dan akhirnya tertidur.
Sementara kedua orang tua Asma masih tak percaya anak nya mengambil keputusan itu.
"Dia hanya sedang sedih, dia mengambil keputusan karena emosi. Kulsum, cobalah bicara dengan Asma saat dia tenang nanti. Perceraian?. itu bukan keputusan yg bisa di ambil begitu saja. Asma tidak mengerti apa yg sudah Dia lakukan" seru sang ayah.
"Asma mengerti, Bi" sela Adil. "Asma mengerti lebih banyak dari yg kita bayangkan. Adikku bukan lagi Asma remaja yg masih ke kanak kanakan. Dia sudah dewasa dan berhak mengambil keputusan nya sendiri"
"Adil, perceraian tidak semudah itu, Nak. lagi pula, bukan hanya Asma, Bilal juga pasti bersedih karena kehilangan anak anak nya. Bagaimana dia akan melanjutkan hidup jika dia juga harus kehilangan Asma"
"Abi, sebenarnya.... ada yg Asma sembunyikan dari kita semua. Keputusan Asma bukan karena dia keguguran" Adil berkata pelan. "Ini, ini tentang bagaimana Asma menjalani hidup disana, dan... dan juga Khadijah"
"Ada apa dengan Khadijah? bukankah dia memperlakukan Asma seperti adiknya sendiri?.
"Madu tetaplah madu, Bi. pasti ada cemburu yg mungkin memicu sebuah kebencian"
"Maksud mu?"
Adil terpaksa menceritakan semua nya kepada orang tua nya. Selama ini, Adil adalah sahabat curhat Asma, tapi Asma meminta Adil tidak memberi tahu orang tuanya. Tapi sekarang mereka berhak tahu alasan Asma tak bisa kembali kesana.
Mendengar cerita Adil, kedua orang tua Asma begitu shock. Terutama sang Ibu.
"Dia pernah menangis hingga pingsan saat mendengar teman teman nya membicarakan dia, dan membawa keluarga dan juga tempat asal nya, Ummi. Tapi Asma tidak menceritakan itu pada kalian"
"Ya Allah.... putri ku" gumam sang Ibu.
"Dan soal keguguran itu, Dil. Abi tidak percaya Khadijah tega melakuan itu"
"Adil juga tidak percaya, Bi. tapi Adil membaca pesan nya sendiri. Itu memang bukan Bilal. dan Adil engga ngerti, kenapa sampai sekarang Bilal tidak tahu hal itu"
"Mungkin Khadijah menghapus pesan nya" sambung sang Ibu penuh kecewa "Ibu fikir dia menyayangi Asma."
"Kamu benar, Nak. Jika Asma memang tidak sanggup menjalani rumah tangga nya, maka biarkan dia memutuskan apapun yg dia mau. Abi tidak peduli jika pun dia harus jadi perbincangan orang jika dia bercerai di usianya yg masih sangat muda. Abi fikir, Asma bisa bahagia karena Bilal mencintai nya dan Khadijah menerima nya. Abi fikir Asma akan jadi pelengkap hidup mereka. "
"Bilal juga masih mencintai nya, Bi. Adil tidak pernah melihat cinta yg lebih besar dari pada cinta Bilal pada Asma."
.
.
.
Ke esokan harinya, Asma keluar dari kamar dengan mata yg sembab. Semua yg melihat itu sungguh tidak tega, tapi seperti kata Adil, mereka tidak boleh menanyakan apapun lagi pada Asma, mereka hanya harus menghibur nya.
Asma mengobrak abrik koper dan tasnya.
"Cari apa, Nak?" tanya sang Ibu.
"Ummi, ponsel Asma mana?"
"Di tas mu mungkin"
"Engga ada, Asma sudah cari" Ummi Kulsum pun membantu mencari nya tapi tidak ada.
"Masak hilang sih?" gumam Asma.
"Apa yg hilang?" tanya Adil yg baru saja datang.
"Ponsel Asma, Kak"
"Mungkin keselip, Dek..coba cari pelan pelan"
"Engga ada." rengek Asma. Apa lagi ponsel itu dari Bilal, Asma tidak mau kehilangan ponsel itu.
"Ya udah, nanti kakak belikan yg baru"
"Asma mau ponsel Asma, Kak" rengek Asma dengan mata yg sudah berkaca kaca. "Itu di belikan Bilal" lanjut nya dengan setengah berbisik.
"Sayang .. jangan sedih. Nanti Ummi belikan yg lebih bagus" Asma menggeleng
"Asma engga mau ponsel yg lain"
"Mungkin ketinggalan dirumah, Dek" Sambung Adil. "Nanti kakak telpon Bilal dan suruh carikan ponsel mu, ya? dia bisa mengirim nya nanti" Asma pun mengangguk dan ia segera kembali ke kamar nya
.
.
.
Bilal terbangun saat matahari sudah tinggi, ia mendesah lesu apa lagi ia ketinggalan sholat subuh. Bilal menangis semalaman bahkan air matanya mengenai boneka Asma dan membuat nya basah.
"Jangan menunggu ku" Kata kata terkahir Asma kembali terdengar di telinga nya, membuat hati Bilal kembali terasa perih. Ia harap semua itu tidak benar, ia harap apa yg di katakan Asma hanya karena emosi belaka.
Ponsel Bilal bergetar, saat ia memeriksanya, itu adalah pesan dari Adil yg mengatakan Asma kehilangan ponselnya dan mungkin ketinggalan. Adil juga bilang, Asma tidak mau ponsel yg lain, dia hanya mau ponsel yg dari Bilal, Adil meminta Bilal agar mencarikan ponsel Asma dirumah nya.
Seutas senyum tercetak dari bibir Bilal, hal sekecil ini justru membuktian betapa Zahra nya sangat mencintai nya.
"Pak..." Terdengar suara panggilan Bi Mina dari luar, Bilal pun bergegas turun dari ranjang nya dengan masih membawa boneka Asma.
Saat ia membuka pintu, Bi Mina cukup terkejut melihat keadaan Bilal yg seperti orang baru putus dari cinta pertama nya. Apa lagi Bilal yg masih memeluk boneka Asma. membuat Bi Mina meringis. Bi Mina mengerti Bilal pasti sedih jika Neng Asma nya pergi.
"Ada apa, Bi.? tanya Bilal dengan suara serak nya.
"Bapak mau saya siapkan sarapan apa? dari kamaren Pak Bilal belum makan apapun"
"Aku engga lapar, Bi" jawab Bilal malas
"Tapi nanti sakit lho, Pak"
"Justru itu bagus, biar sekarat sekalian, siapa tahu dengan itu Zahra mau kembali pada ku" Bi Mina semakin meringis dengan kegilaan tuan nya itu.
"Saya ngerti, Bapak pasti sedih. Tapi semua sudah tejadi toh. Lagi pula, apa yg membuat Bapak tidak langsung pulang saat itu?. Dan kenapa tidak mau menjawab panggilan Neng Asma"
"Maksud Bibi?" tanya Bilal lagi.
"Maksud saya, Kan bapak sudah tahu Neng Asma kram, kenapa engga langsung pulang?. Kasian Neng Asma nungguin lama dan terus kesakitan."
"Zahra nungguin?. Bi, kalau aku tahu Zahra kram, tentu aku akan langsung pulang tidak peduli apapun"
"Loh, bukannya Neng Asma sudah kasih tahu Bapak kalau dia kram, dan dia meminta Bapak agar pulang, Neng Asma sendiri yg bilang kalau bapak akan pulang karena itulah Neng Asma menunggu bapak. Tapi pak Bilal engga pulang pulang, bahkan saat Neng Asma menelpon Bapak engga angkat."
"Tunggu...." Bilal mengangkat tangan nya. Ia tak bisa mencerna apa yg di maksud pembantu kesayangannya itu. " Zahra tidak menelpon ku, Bi"
"Pak, saya nemenin Neng Asma di kamar nya. Saya liat sendiri dia nelpon Bapak sambil nangis nangis karena sudah tidak tahan"
Bilal memijit pelipis nya. dan mencoba mencerna maksud Bi Mina. Ia pun mengambil ponsel nya sendiri. Ia memeriksa daftar panggilan nya di malam itu, dan tidak ada panggilan lain selain dari Mukhlis dan Ummi Kulsum. Ia juga memeriksa pesannya tapi tidak ada apapun.
"Bi Mina yakin Asma menghubungi ku malam itu?"
"Ya Allah, Pak. Bukan yakin lagi. Tapi saya liat sendiri Neng Asma sms an sama bapak, terus karena engga di balas lagi. Dia nelpon, tapi engga di jawab. Abis itu nelpon Bu Dini. Tapi engga di jawab juga, baru nelpon Pak Mukhlis, dan Pak Mukhlis segera mengirim orang untuk mengantar kami kerumah sakit"
Bilal merasa seluruh tubuhnya gemetar, dan jantung nya berdebar debar, menerka apa yg sebenarnya terjadi?.Ia rasa ada yg salah, tapi apa?.
Bilal terus memutar otaknya dan berpikir jika Asma menghubungi nya, kenapa tidak ada Apapun di ponsel nya?
ponsel?
Seketika Bilal teringat dengan pesan yg baru saja ia terima dari Adil. Jika Asma memang menghubungi nya, maka pasti masih ada pesan dan panggilan Keluar dari ponsel Asma.
Bilal pun segera bergegas pulang kerumah nya untuk mencari ponsel Asma. Ia sangat berharap ponsel Asma benar benar ketinggalan agar.
"Mas Bilal mau kemana, Bi?" tanya Khadijah yg baru saja keluar dari kamar nya. Mata Khadijah juga sembab, ia juga menangis semalaman karena ia mendengar Bilal menangis, Khadijah merasa sangat berdosa dengan apa yg terjadi.
"Saya engga tahu, Bu." Jawab Bi Mina. "Oh ya, mau saya siapkan sarapan? Tadi saya tanya Bapak mau sarapan apa, dia engga mau. Katanya biarin aja dia sakit dan bahkan sekarat supaya Neng Asma mau kembali pada nya"
Khadijah hanya bisa menghela nafas panjang, segitu besar cinta Bilal untuk Asma. Dan mungkin sebesar itu juga dosa Khadijah karena sudah memisahkan merek.
▪️▪️▪️
Tbc...