My Two Annoying Brothers

My Two Annoying Brothers
Bab 82 : Buku Bersinar-bersinar



"Ya iyalah!" teriak mereka serentak, Liuzzi pun langsung tertawa melihat ekspresi kedua abang nya itu, semua punya kebingungan melihat tingkah Liuzzi.


"Lah lu kenapa tertawa Liuzzi!?" tanya Aditya dengan wajah kebingungan.


"Heh kalian berdua, aku hanya bercanda, sekarang kalian pergilah mumpung lagi hari minggu dan lagi pula aku juga akan merawat ibu dan ayah juga di sini selagi kalian pergi" ucap Liuzzi yang langsung tersenyum begitu saja.


"Kami pergi untuk mencari rumah dulu ya"


"Ya semoga berhasil menemukan rumah nya abang!" teriak Liuzzi dari dalam rumah, Liuzzi pun seperti biasa pergi ke perpustakaan kl di tengah kota, ia ingin mengembalikan beberapa buku yang pernah ia pinjam kepada pemilik perpustakaan.


"Huft... rasanya kalo jalan kaki sendirian melelahkan juga ya... jadi kaya orang gi*a gua ngomong kaya gini" ucap Liuzzi yang langsung menghembuskan nafasnya.


"Liuzzi mau barengan!?" ucap seseorang dari belakang punggung nya ia pun langsung terkejut mendengar orang yang langsung menepuk pundak nya dari belakang.


Dan semua buku-buku pun berjatuhan di bawah lantai, Liuzzi pun seketika kesal dengan orang itu.


"Kau! mengapa kau mengagetkan dan menjatuhkan buku ku ha!" teruak Liuzzi di depan semua pejalan kaki di sana. Liuzzi sontak terkejut melihat bahwa itu adalah Mikael.


"Ah... maaf kan aku, aku tidak sengaja mengagetkan mu, aku kira kau tidak akan terkejut" ucap Mikael yang tengah memegan adik kecil nya itu, Liuzzi pun langsung terpesona dengan keimutan adiknya itu.


"Raa!? kenapa kamu makin lama makin imut sih!? jadi aku pengen makan pipi kamu ini" ucap Liuzzi yang langsung menggendong Raa, Raa pun menutup pipinya menggunakan tangan nya.


"Aku gak mau kali kak Liuzzi memakan pipiku, pipi ku kan kaya kak sama aja gak ada bedanya" ucap Raa dengan nada sedikit kesalnya kepada Liuzzi.


"Ya udah kak minta maaf deh, ohiya dan lu Mikael, beresin buku-buku gua gak lu jatuh in sekarang! L" gaertak Liuzzi yang membuat Mikael merasa bahwa ia adalah pembantu Liuzzi, Liuzzi pun meninggalkan Mikael sendirian yang tengah mengumpulkan buku-buku nya itu.


Setelah beberapa menit kemudian, Liuzzi, Raa dan Mikael pun sampai di perpustakaan tengah kota, mereka pun masuk kedalam perpustakaan itu.


"Wah... tetap besar seperti biasanya, tetapi mengapa buku-buku nya semakin sedikit ya!?" tanya Liuzzi yang melihat beberapa rak yang sudah tidak lengkap lagi.


"Karena pemerintah telah mengambil nya dan memutuskan untuk bukunitu dibuang dari perpustakaan ini" ucap Mikael yang langsung meletakan buku-buku yang Liuzzi pinjam di atas meja menejer perpustakaan.


"Lah kenapa harus dibuang!? kenapa gak di daur ulang aja itu buku-buku dari pada di buang!?"


"Karena kau pikir deh, karena banyak sekali orang yang sudah menggunakan ponsel untuk belajar, bukan hanya itu memang orang-orang juga sudah mengandalkan teknologi dalam kehidupan mereka, jadi mereka jarang membaca buku di perpustakaan ini" ucap Mikael yang langsung mengambil beberapa buku komik di rak buku komik.


"Ya... apa yang kau katakan benar sekali Mikael" ucap salah satu orang yang membuat Mikael dan Liuzzi pun terkejut dengan kedatangan nya.


"Oh iya... maaf perkenalkan nama ku Lin Dan aku bertugas sebagai menejer yang berada di depan perpustakaan untuk meminjamkan buku-buku ini" ucap Lin yang langsung tersenyum lebar.


"Aku dari tidak melihat mu di depan sana!?" tanya Mikael dengan wajah serius nya, Lin pun menarik nafasnya.


"Bagaimana kalian berdua tidak melihat ku, orang kalian berdua aja dari tadi ngobrol soal tentang buku! tau lah seperti nya saya memang salah memperkenalkan diri kepada kalian berdua" ucap Lin yang langsung pergi begitu saja, Mikael dan Liuzzi pun mengangkat bahu mereka.


"Gua baru ahu dan baru sadar bahwa dia bekerja di sin, gua kira emang menejer nya gak ganti kaya minggu kemarin" ucap Liuzzi, Raa pun menunjukkan jarinya ke arah sebuah buku di bagian rak bagian pojok.


"Raa kamu ngelihat buku apa emang nya!?"


"Ayo kk kita ke sana, buku itu bersinar-bersinar" ucap Raa yang melihat bahwa buku itu bersinar-bersinar, tetapi Liuzzi dan Mikael merasa bahwa buku itu tidak bersinar-bersinar.