
Lu gak tahu aja kali gua suka jahilin orang plus gua orang licik!
"Woi Kenangan cepet film nya mau di mulai anjirr! bawa makanan nya cepet!" teriak Aditya dari ruang tamu, mereka berdua pun terkejut dan lantas minum dengan terburu-buru dan seolah-oleh mereka tidak memakan makanan itu.
"Hem.... ko kaya makanan nya kelihatan sedikit ya?" tanya Desi yang langsung melihat makanan itu tidak sesuai dengan makanan yang ia bawah.
"Kamu apan sih!? oren makanan nya pas ko dan gak ada yang kurang lagi" ucap Kenan yang langsung membuat Desi curiga, Liuzzi yang disana pun memasang wajah datarnya dengan kesal kearah Desi.
"Yaelah... makanan doang ko sampe segitunya, kan ujung-ujungnya juga habis, udah lah gak usah banyak ba*otnya!" ucap Liuzzi dengan nada tegas sembari memakan pop mie yang sempat ia seduh itu.
"Kita akan menonton film berjudul Cinta Bertepuk Sebelah Tangan" ucap Aditya yang membuat Liuzzi terkejut dengan judul film itu, yang membuat nya mengingat Zen dan juga Nay.
Bagaimana dengan Nay, Nay kan suka sama Zen, tapi Zen gak suka sama Nay dia lebih suka sama gua ketimbang dia, ko gua jadi sedih ya... kalo gua ada diposisi Nay, tapi keadaan mereka berdua gimana ya kira-kira!?
Disisi Zen yang tengah kesal di sepanjang perjalanan menuju rumah nya, membuat nya pun harus mengingat perkataan ibunya itu yang selalu mengganggu pikiran nya.
Gegara ibu... jika ibu tidak maksa ku mungkin aku tidak akan seperti ini!
Flasback On
"Zen ibu mau bicara sebentar boleh ga sama kamu?" ucap ibu Zen yang langsung duduk disamping Zen yang tengah mengerjakan beberapa skripsi tugas kuliahnya, Zen pun mengangukan kepalanya.
"Ya ibu mau bicara apa sama aku? kenapa kaya serius gitu? emang ada hal apa yang pengen ibu bahasa sama Zen?" tanya Zen sembari menutup laptopnya dna merapihkan beberapa bukunya dengat rapih.
"Ibu pengen bilang kalo kamu kan mau lulus kuliah kan?" tanya ibu Zen, Zen pun menanggukan kepalanya lagi, sembari melihat beberapa tugas lagi untuk bisa dikerjakan.
"Gimana kalo kamu ibu jodoh ini sama anak nya temen ibu, cewek itu juga cantik, baik sama sopan lagi... gimana kamu mau gak?" ucap ibu Zen yang membuat Zen pin menghentikan tangan nya, dengan matanya yang merasa bahwa ibu nya sedang bercanda.
"Hahah ini bercanda bisa aja ya... aku lagi sibuk ngerjain skripsi, ko ibu malah bahas tentang perjodohan gimana sih!?" ucap Zen yang langsung melanjutkan untuk membereskan beberapa berkas-berkas.
"Ibu gak bercanda Zen, kamu mau yah... biar ibu juga seneng lihat kamu sama cewek itu, apa lagi kejadian kamu di selingkuh ini sama pacar kamu, kamu pasti trauma berat, makanya ibu berinisiatif buat bantu kamu" ucap ibu Zen dengan panjang lebar yang membuat Zen pun, langsung terdiam memikirkan perkataan ibunya.
"Iya sih bu... aku juga agak trauma, tapi gak sampe di jodoh in juga kali" ucap Zen yang membuat ibunya pun berfikir keras untuk membuat Zen mengiyakan jawaban ibunya itu.
"Bagaimana kalian berpacaran dulu? mana tau satu frekuensi kan?" tanya ibu Zen yang membuat Zen pun menggeleng kan kepalanya, sembari tersenyum mendengar jawaban sang ibu.
Setiap hari sebelum tidur, sesudah makan, ibu Zen selalu menanyakan hal yang sama kepada Zen, padahal Zen telah menolak nya berkali-kali kepada ibunya, hingga suatu saat ibu Zen pun sakit jantung yang membuat Zen pun harus menuruti kata ibunya itu.
Di rumah sakit tempat dimana ibu Zen dirawat, disana Zen pun menunggu ibunya sadar, tetapi setelah sadar ibu Zen lun langsung menanyakan pertanyaan itu.
"Jadi kamu setuju gak kalo kamu bakal di jodoh in sama anaknya teman ibu?" ucap ibu Zen yang tengah berbaring di ranjang kasur tempat rumah sakit, Zen pun kali ini tidak menolak nya dan menanggukan kepalanya pertanda setuju.
"Akhirnya kamu setuju juga, ibu jadi tenang dan senang, ibu akan segera sembuh dan akan membuat kalian berdua bertemu" ucap ibu Zen yang langsung tersenyum kepada Zen, Zen pun membalas senyum ibunya itu sembari menahan diri untuk bisa iklas dengan keadaan.
Sebenarnya aku tidak mau dijodohkan kan, meskipun aku mempunyai trauma di selingkuhan oleh pacar ku, tetapi aku tidak ingin membuat ibu menanyakan pertanyaan itu setiap hari dan membuatnya semakin sakit karena aku selalu menolak nya, semoga dengan ini ibu keadaan nya cepat sembuh.
Setelah beberapa bulan kemudian ibu Zen pun kembali pulih seperti biasa, Zen yang selalu menjadi dan merawat ibunya pun membuat ibunya langsung menelepon anak dari teman nya itu untuk datang ke rumah Zen.
"Halo permisi ada orang dirumah?" teriak seseorang dari luar yang selalu mengetuk pintu berkali-kali, Zen yang mendengar ketukan pintu itu pun membuka pintu itu.
"Ya, sebenta-" ucap Zen yang langsung melihat seorang gadis cantik sembari membawa beberapa buah, Zen yang merasa kebingungan pun memanggil ibunya.
"Ibu! apa ibu mengajak seseorang kerumah, soalnya ada tamu nih" teriak Zen yang membuat ibunya pun keluar dari kamar nya, seketika ibu Zen pun dengan cepat memeluk gadis itu, Zen yang merasa kebingungan pun hanya terdiam saja disana.
"Ayo nak sihlakan masuk" ucap ibu Zen yang langsung menuntut gadis itu dan duduk di di sofa, Zen yang merasa bahwa ia adalah teman ibunya pun membawakan beberapa cemilan dan juga minuman dari dapur.
"Zen kamu mau kemana sih!?" tanya ibu Zen, Zen pun menghentikan langkah nya untuk kedapur "Aku mau ambil beberapa cemilan sama minuman ibu"
"Biar ibu aja yang ambil, kalian ngobrol berdua aja" ucap ibu Zen yang langsung berdiri dan melangkah ke arah dapur, Zen yang merasa masih bingung dengan perkataan ibunya pun lantas ia pergi kedapur dan langsung menanyakan tentang gadis itu.
"Ibu emang gadis itu siapa sih!? itu temanya ibu apa gimana?" tanya Zen dengan penasaran, ibu Zen pun tersenyum, sembari tertawa kecil, membuat Zen kebingungan.
"Zen, masa kamu gak tahu siapa gadis itu?" tanya ibu Zen ssmbari membuat teh, Zen pun terdiam dan langsung berfikir.
"Memang gadis itu siapa ibu?"
"Dia gadis yang akan dijodohkan dengan mu Zen, dia anak dari teman nya ibu, nama gadis itu adalah Nay" ucap ibu Zen membuat Zen pun lantas terkejut dan langsung membulatkan matanya, seketika ia tidak berbicara sedikit pun.
Apa!?