My Two Annoying Brothers

My Two Annoying Brothers
Bab 77 : Belum Terlambat



Mau gak mau, gua harus berita Hu soal ini ke abang Kenan dan Aditya agar mereka bisa mencegah Yuri dan Mirya ke hotel itu, entah kenapa perasaan gua aneh terhadap apa yang akan terjadi di hotel itu, jika gua gak memberi tahu....


Sesampainya Liuzzi di rumah, ia pun langsung mendobrak pintu rumah nya dengan keras, sehingga membuat semua keluarga nya terkejut mendengar suara dobrakan itu. Dengan cepat nya juga Liuzzi pun langsung melepaskan sepatunya sembari berteriak memanggil nama kedua abang nya itu.


"Abang Kenan! abang Aditya! dimana kalian berdua cepet kesini woi! gua mau bicara sesuatu tentang lu berdua!" teriak Liuzzi di ruang tamu, Kenan dan Aditya pun keluar dari kamar nya sembari memakai brownis di tangan mereka.


"Kenapa sih lu manggil-manggil kita berdua!?"


"Iya padahal kita lagi asik makan brownies ini!?" ucap balik Aditya sambil mengunyah brownis itu.


"Lu berdua bisa gak sih gak usah makan dulu! gua punya berita penting buat lu berdua g*bl*k! lu berdua malah mikirin makan!" teriak Liuzzi dengan kesal, mereka pun langsung berhenti mengunyah makanan itu, dan mulai duduk di kursi.


"Terus!? lu mau bicara apa!?"


"Argh! tentang si Yuri dan Mirya lah! masa tentang ke bodohan lu yang gua mau cerita ini! lama-lama gua ambil panci lu buat getok pala lu berdua! ini tuh genting banget woi!" teriak Liuzzi dengan kesal.


"Memang apa yang genting nya weh!? dari tadi lu kebanyakan basa basi" ucap Aditya dengan nada santai nya.


"Gimana gua gak mau bicara basa basi Sa lu berdua, lu berdua aja kaya orang santai gini! lu tahu gak kalo si Mirya dan Yuri membuat kesepakatan atau perjanjian sama orang yang pernah lu kasih tuh jabatan!" teriak Liuzzi dengan tatapan matanya yang tajam.


Seketika Kenan dan Aditya pun terkejut mendengar perkataan Liuzzi "Maksudnya lu apa sih!? perjanjian apa emang nya!?"


"Dasar lu berdua g*bl*k! si Yuri sama Mirya besok bakal pergi ke hotel *** pas jam 7 malam!" ucap Liuzzi lagi.


"Emang ngapain di disana, dan mengapa dia bisa di suruh ke hotel itu!?" tanya Kenan yang semakin kebingungan, Liuzzi pun langsung memukul kepalanya dengan kencang.


"Gua gak tahu dia mau ngapain kesana, tapi intinya kenapa dia bisa ke sana, itu karena agar lu berdua bisa berada di posisi yang seharusnya, istilah ya... kaya pindah jabatan lagi gitu, tahu lah gimana istilah nya itu, gua juga gak peduli"


"Yang terpenting sekarang kalian berdua harus melakukan sesuatu buat Yuri dan Mirya, gua takut kenapa-kenapa sama mereka berdua!" teriak Liuzzi lagi.


"Tapi gimana caranya kita nolong in Liuzzi!?"


"Lu berdua punya otak gak sih! ya lu diam-diam telepon polisi lah, ato gak seenggaknya lu ikutan mereka berdua lah! argh gimana sih gua punya abang ko bodoh gini!" teriak Liuzzi yang semakin emosi, kedua abang nya itu pun mengangguk kan kepalanya.


"Ah tahu ah kenapa kalian berdua santai banget sih!" teriak Liuzzi, ia pun langsung pergi ke kamar nya dengan cepat dan langsung menutup nya.


Ibu pun datang dari dapur yang membawa beberapa kue brownis di piring, aroma yang lezat ditambah dengan lelehan coklat putih almon di atasnya yang membuat dimulut semakin gurih.


"Aditya, Kenan kenapa Liuzzi tadi marah-marah emang!?" tanya ibu Liuzzi yang langsung duduk dan meletakkan brownis itu di atas meja.


"Liuzzi memberitahu tentang Yuri dan Mirya"


Keesokan harinya seperti biasanya Kenan dan Aditya berangkat kerja lebih awal, agar mereka bisa mengikuti Yuri dan Mirya nantinya, selepas Liuzzi mengatakan tentang hal itu.


Di setiap pekerjaan Kenan dan Aditya mengintip sesekali bagaimana keadaan Yuri dan Mirya yang bekerja terpisah, tetapi mereka tetap mengawasi pergerakan mereka dari kejauhan.


Setelah jam bekerja selesai, semua para karyawan pulang, seperti yang dikatakan Liuzzi, Kenan pun mengikuti Mirya dari belakang, begitu pun Aditya yang juga membuntuti Yuri, tiba-tiba Kenan dan Aditya terkejut melihat bahwa mereka berjanjian di tempat cafe agar bisa pergi bersama-sama.


"Woi Kenan lu juga buntutin!?" bisik Aditya tepat di samping telinga Kenan "Ya iya lah, masa gua jadi domba!" bisik Kenan dengan nada tegas nya.


"Ya iya sih, gak mungkin lu kan jadi biri-biri, karena muka lu gak lucu dan imut gitu" bisik Aditya sembari tertawa kecil.


Setelah menunggu beberapa menit, mereka pun mulai bergerak ke arah hotel itu, di sepanjang perjalanan banyak sekali rintangan yang harus dihadapi Kenan dan Aditya.


Sesampainya di hotel itu, Kenan dan Aditya pun membuka jaket nya itu, dan berpura-pura masuk seperti pelanggan lainnya, mereka pun berpura-pura membeli 1 kamar yang tepat berada di samping kamar Yuri dan Mirya akan melakukan sesuatu.


Untung aja Liuzzi telah memberikan no kamar tempat Yuri dan Mirya berada!


Flashback On


"Liuzzi lu tahu gak no kamar hotel yang akan mereka temui!?"


"Em... entar dulu gua chat dulu si Yuri sama si Mirya nya mereka janjian nya di kamar no berapa" ucap Liuzzi dengan santai nya sembari mengetik jarinya dengan cepat.


"Cepetan Liuzzi, kita mau berangkat kerja!" teriak Aditya dengan nada yang tidak sabaran nya.


"Sabar dulu woi! lu pikir ini atm apa!?"


"Nah udah dijawab neh, nomor kamar Yuri 11 dan no kamar Mirya 12, inget lu, kalo gak gua gak bakal ingetin lagi!" teriak Liuzzi


Flashback Off


Berlahan-lahan Yuri dan Mirya pun sudah berada di depan pintu kamar, ia pun langsung mengetuk kan pintu itu, Kenan yang sudah menelepon polisi sebelum ia berangkat kerja pun hanya bisa berharap bahwa polisi segera datang.


Pintu kamar pun terbuka dengan cepat, Mirya dan Yuri pun masuk, Kenan dan Aditya pun langsung mendekati pintu kamar itu dan mulai mendekati telinganya di depan pintu itu.


Didalam kamar Yuri merasa ketakutan ia melihat sekeliling kamar hotel itu dipenuhi banyak lilin dan juga bunga yang bertaburan di atas ranjang.


"Jadi sebenarnya, apa yang kau ingin!" teriak Yuri yang membuat Aditya dan Kenan pun terkejut bersamaan.


"Aku hanya ingin..."


Tiba-tiba suara teriakan pun terdengar dari kamar Mirya dan Yuri pun serentak berteriak, Kenan dan juga Aditya pun langsung segera mendobrak pintu itu dengan sekuat tenaga.


"Yuri!" teriak Aditya yang berhasil membuka pintu itu, seketika ia pun langsung membuat kan matanya, disisi Kenan ia pun berhasil mendobrak pintu itu.


"Kenan!" teriak Mirya yang menangis