
"Jadi waktu dulu... Liuzzi selalu di bully oleh teman sekelas nya" ucap Ibu dosen itu yang membuat Mikael terkejut dengan perkataan ibu dosen.
"Apa!?"
"Iya, kamu gak percaya!?" ucap Ibu dosen itu, sembari menatap mata Mikael yang masih terkejut.
"Iya jadi cerita nya itu...." Ibu dosen pun mulai menceritakan tentang masa laut Liuzzi.
Setelah beberapa menit kemudian setelah ibu dosen bercerita tentang Liuzzi, Mikael pun langsung berpamitan untuk pulang ke rumah nya, karena hari sudah semakin sore.
Disisi Liuzzi, Liuzzi pun pulang bersama Aditya ke rumah berdua karena waktu jam kerja mereka sudah selesai, Liuzzi dna Aditya hanya berdiam saja di sepanjang berjalan.
Sesampainya di rumah Liuzzi pun mengganti pakaian nya dna mulai membuat pelajaran materi besok untuk ia mengajar, sembari menyalakan lampu belajar nya.
Ia mulai menulis dan membuka beberapa buku tebal milik nya, jam pun sudah menujukan pukul 9 malam tetapi Liuzzi masih tetap saja bekerja.
Tiba-tiba Liuzzi merasa matanya kurang sehat sehingga ia pun mencari kacamata nya itu dan langsung memakai nya, lalu ia pun mulai mengerjakan beberapa materi untuk besok.
Angin yang berhembus kencang di malam gelap yang diterangi oleh bulan, yang masuk kedalam jendela kamar Liuzzi, yang langsung menerbangkan beberapa kertas disana.
"Ah... capek banget rasanya, sekarang udah jam 11 malam waktunya tidur" ucap Liuzzi yang langsung menutup dan membereskan bukunya itu, kecuali buku yang ia gembok yang terletak begitu saja di meja itu.
Setelah menjelang pagi Liuzzi pun bersiap untuk bangun dan mulai berangkat ke kampus nya dengan berjalan kaki melihat sekitar trotoar sepi hanya ada beberapa penjualan yang mulai bersiap_siap untuk membuat toko mereka.
Di depan pintu gerbang kampus Liuzzi pun dikejutkan oleh sekumpulan mahasiswa yang sedang bergerombong sembari membawa spanduk besar dan diteriak nama dosen yang bernama Mikael.
Liuzzi pun hanya bisa berpisah dan mulai berjalan lewat pintu gerbang masuk kampus. Mikael pun menghampiri para siswa perempuan itu, dengan senang nya semua murid-murid itu pun berteriak-teriak.
Liuzzi yang semakin risih dengan teriakan para mahasiswa itu sehingga ia pun langsung menghampiri para mahasiswa itu dengan wajah kesalnya sembari membawa tongkat kayu yang ia dapat kan dari beberapa daha pohon yang berjatuhan.
"Woi!" teriak Liuzzi dengan kesalnya semabri memegang tongkat itu seperti ingin memukul bola base boll.
Seketika semua para murid-murid pun langsung berhenti berteriak-teriak, Mikael yang berada di sana untuk menenangkan semua para mahasiswa disana pun terkejut melihat tingkah Liuzzi membawa tongkat.
"Lu pada ngapain disana!" teriak Liuzzi sembari mendekati para murid-murid itu, semua dosen yang mendengar teriakan Liuzzi pun keluar dari kantor nya, dan mulai melihat tingkah Liuzzi.
"Liuzzi lu ngapain bawa tongkat kaya gitu!? dilihat para senior dosen ege! lagi pula li mau perkerjaan lu di pecat!" bisik Mikael tetapi ucapan Mikael tidak mempan terhadap Liuzzi yang sudah marah besar.
"Lu tahu gak! lu boleh-boleh aja kalo teriak sama idol k-pop tapi ini lu teriak sama orang bodoh dan g*bl*k ini!?" teriak Liuzzi yang sekali lagi membuat Mikael terdiam mendengar ucapan Liuzzi.
"Heh! emang lu itu siapa yang ngatur-ngatur kami semua disini!" teriak salah satu mahasiswa itu, semua mahasiswa itu pun langsung menatap tajam kearah Liuzzi.
"Oh... jadi lu semua gak tahu gua siapa ya!?" ucap Liuzzi yang sudah bersiap-siap memukul para murid-murid itu, semakin lama Liuzzi pun semakin dekat dengan salah satu mahasiswa itu.
"Gua ini dosen g*bl*k!" teriak Liuzzi seketika semua mahasiswa itu pun terdiam, Mikael pun langsung mengambil tongkat itu dari genggaman Liuzzi.
"Liuzzi lu harus nya jangan kaya gini bawa tongkat-tongkat segala, padahal kan bisa di bicarakan baik-baik" ucap Mikael sembari menepuk-nepuk bahu Liuzzi.
Semua dosen itu pun terdiam, kepala sekolah sekaligus kepalan pengawasan dosen pundak datang menghampiri Liuzzi dna ajuga Mikael untuk menenangkan situasi.
"Semuanyaa mahasiswa pergi menjelaskan sekarang!" teriak kepala sekolah, semua mahasiswa pun bertebaran pergi ke ruangan mereka masing-masing, Liuzzi pun terdiam disana tanpa ada satu kata pun ia berbicara.
Kepala pengawasan dosen pun datang datang dan langsung menarik tangan Liuzzi dengan cepat, Liuzzi punya terkejut melihat wajah pengawas dosen itu marah bkepada Liuzzi.
"Kau! kau kenapa bertingkah seperti itu ha! apa kau tidak tahu malu! bagaimana dengan reputasi sekolah ini! kau kan masih masih dosen baru! mengapa kau melakukan keributan ha!?" teriak ibu pengawasan sembari menatap tajam kepada Liuzzi.
Mampusss, diakan ibu pengawasan dosen yang mengawasi setiap dosen di kampus ini, dengan wajah galak nya yang membuat semua para dosen senior mau pun nonton senior ketakutan, bukan hanya para dosen saja tetapi para mahasiswa pun dibuat ketakutan dengan wajah marah nya....
"Kenapa kau diam saja ayo jawab!" teriak ibu pengawasan itu, Liuzzi pun menarik nafasnya.
"Ya... apakah saya mengenal anda!?" ucap Liuzzi sembari tersenyum kepada ibu pengawasan dosen itu, yang membuat kepala sekolah dan juga Mikael pun terkejut dengan jawaban yang dilontarkan Liuzzi.
Apa yang sedang dipikirkan oleh Liuzzi sampe dia ngomong kaya gitu!?
"Kau kurang hajar sekali kau tidak mengenal diriku ya!" teriak ibu pengawasan itu dengan wajah nya yang semakin muak kepada Liuzzi.
Liuzzi pun tersenyum dan mulai mengerutkan alisnya "Maaf tapi ibu tidak sayang sama saya, jadi saya pun tidak sayang kepada ibu, kan ada kata pepatah, tak kenal maka tak sayang" untuk Liuzzi semabri tersenyum tipis kepada ibu pengawasan itu.
Mikael pun langsung menatap ke arah Liuzzi sembari menggeleng-gelengkan kepalanya, memberikan tanda kepada Liuzzi, agar tidak menjawab perkataan yang dilontarkan ibu pengawasan itu.
Liuzzi bodoh... bisa-bisanya dia ngelawan, pasti hari ini juga dia bakal dipecat sama ibu pengawasan dosen....