
"Aku adalah abang nya! dan kau siapa ha!" teriak Aditya yang membuat Mirya pun terkejut bahwa dokter itu adalah abang Kenan.
Apa!? jadi Kenan punya abang!?
"Apa kau abang nya!? tanya Mirya yang masih tidak menyangka, Aditya pun semakin kesal siapa dirinya sebenernya.
"Iya, Aditya ini adalah abang Kenan, dan kamu siapa nya Kenan!? kenapa kamu kenal dan dekat dengan Kenan!?" tanya Yuri dengan nada lembut nya.
"Aku sebenarnya teman kerja Kenan, aku melihat Kenan di jalan sudah terpapar makanya aku membawanya ke rumah sakit" ucap Mirya sembari menundukkan kepalanya, Aditya pun langsung menelepon kedua orang tua nya dan juga Liuzzi agar bisa datang ke rumah sakit.
Setelah Aditya menelepon kedua orang tuanya itu dan juga Liuzzi, beberapa jam kemudian pun mereka datang dengan cepat.
"Abang Aditya gimana keadaan abang Kenan!?" tanya Liuzzi yang langsung datang membuka pintu itu tanpa mengetuk nya sembari membawa bingkisan buah.
Ibu dan ayah Liuzzi pun langsung memeluk Kenan yang masih terbaring disana, sedangkan Yuri sedang mengganti infus Kenan.
"Ya dia belum sadar saja" ucap Aditya yang datang membawa beberapa obat untuk Kenan.
"Owalah... oh iya semua aku bawa bingkisan buah semoga kalian suka, btw kamu siapa ya!?" ucap Liuzzi yang langsung mendekati Mirya yang membuat Mirya semakin ketakutan.
"Perkenalkan saya Mirya, saya adalah teman satu kantor nya Kenan, maaf saya mengganggu perkumpulan keluarga kalian, kalo kalian gak merasa enakan saya akan pergi dari sini" ucap Mirya, yang langsung membawa tasnya untuk pergi.
Tetapi Mirya pun menghentikan niatnya untuk pergi karena tiba-tiba Kenan pun tersadar, kedua orang tua Liuzzi pun langsung memeluk Kenan.
Liuzzi dan juga Aditya beserta Yuri pun tersenyum bahagia, bahwa Kenan sudah siuman.
"Eh... aku dimana!? oh iya Mirya kamu gak apa-apa kan!?" teriak Kenan yang langsung mencemaskan keadaan Mirya, Mirya pun langsung meneteskan air mata. dan mulai mendekati Kenan.
"Aku tidak apa-apa" ucap Mirya sembari berdiri, ibu Liuzzi pun mempersilakan Mirya untuk duduk disamping Kenan, Mirya pun dengan senang hari duduk disebelah Kenan dan tanpa pikir panjang pun memeluk nya.
Liuzzi dan yang lainnya pun terkejut melihat tingkah mereka yang langsung saling memeluk tanpa melihat keadaan, mereka semua pun hanya bisa terdiam.
"Oke seharusnya gua gak berada di sini" ucap Liuzzi, yang membuat Kenan dan juga Mirya sadar dan langsung melepaskan pelukan mereka.
"Ya sudah kali begitu, semuanya saya pergi dulu kekamar mandi" ucap Yuri dan langsung pergi begitu saja, Liuzzi merasa aneh dengan tingkat Yuri, tetapi itu hanyalah perasaannya sehingga ia hanya bisa menatap Yuri yang semakin jauh.
Beberapa menit kemudian, Liuzzi merasa ada yang aneh dengan keadaan Yuri yang masih belum balik juga dari kamar mandi, Liuzzi pun memutuskan untuk pergi ke kamar mandi tanpa pamit dulu.
"Oh iya kamu Mirya kan!? kamu katanya kamu salah satu teman kantor Kenan, saya mau nanya sesuatu sama kamu" ucap Imibu Liuzzi, yang membuat Mirya pun mengangguk kepalanya.
"Kenapa Kenan bisa terluka kaya gini nak!? apa ada seseorang yang ingin melukai Kenan!?" ucap ibu Liuzzi yang membuat Mirya pun mengingat kejadian dimana menejer itu meminta untuk memukuli Kenan.
Di sisi Liuzzi yang sedang menuju ke kamar mandi, ia pun langsung dikagetkan dengan Yuri yang sudah mengalami luka di bagian pipinya itu, yang membuat Liuzzi pun sontak panik.
"Yuri kamu kenapa bisa terluka kaya gini!?" ucap Liuzzi yang langsung mengulurkan tanganya untuk membuat Yuri bisa berdiri lagi Yuri pun langsung menutupi lukanya itu menggunakan plaster.
"Yuri, plaster gak mempan buat lokasi itu, sini mending biar aku aja yang obatin kanu, dari pada semakin parah" ucap Liuzzi yang langsung menarik tangan dan langsung mengambil obat p3k.
"Kenapa Yuri wajah kamu bisa kaya gini!? kenapa memang nya!? coba jelaskan apa yang bisa membuat mu seperti ini" ucap Liuzzi semabri mengobati luka Yuri, Yuri hanya terdiam menatap matanya kearah bawah.
"Aku tidak apa-apa ko Liuzzi kamu tidak usah seharusnya panik seperti itu" ucap Yuri dengan nada santai nya, yang membuat Liuzzi pun merasa bahwa Yuri sedang menyembunyikan sesuatu.
"Ayo jawab jangan mencoba untuk membohongi ku aku tahu kau punya masalah, ayolah aku ini teman mu" ucap Liuzzi yang langsung mengeluskan pundak Yuri. Yuri pun seketika menangis, Liuzzi pun langsung memeluk nya.
"Sebenarnya aku ini sedang dibully oleh para dokter di rumah sakit, karena aku selalu dekat dengan Aditya Liuzzi" ucap Yuri, yang membuat Liuzzi semakin kebingungan.
"Ha!? maksudnya apa!?"
"Sebenarnya oara dokter perempuan di rumah sakit ini menyukai Aditya, mereka selalu ingin dekat kepada Aditya, tetapi karena dia selalu dingin kepada semua dokter perempuan di rumah sakit ini, kecuali aku, padahal aku ingin menjauh dari Aditya agar bisa bekerja sebagai partner saja" ucap Yuri dengan panjang lebar.
"Kenapa lu pengen menjauhi Aditya!? padahal abang Aditya sudah bersikap dingin!?" ucap Liuzzi yang membuat Yuri terkejut mendengar kan kata Liuzzi.
"Apa!? memang Aditya berubah!?" ucap Yuri yang masih belum percaya dengan perkataan Liuzzi.
"Ya... dia di rumah selalu berbicara dengan ucap atau jawaban yang pendek" ucap Liuzzi, yang membuat Yuri pun kebingungan.
"Mengapa Aditya bisa dingin!?"
"Mungkin karena dirimu Yuri, dia menjadi dingin kepada semua orang, apalagi sama kamu, biar kamu ga terganggu juga pekerjaan nya" ucap Liuzzi yang membuat Yuri tidak enakan kepada Aditya yang harus mengubah sikap nya demi diri nya.
"Dia juga kayanya sayang banget sama kamu sampe buat ngubah sikapnya menjadi dingin kaya gitu" ucap Liuzzi semabri tersenyum tipis kepada Yuri.
Kenapa gua menjadi merasa sedih dan tidak enak kepada Aditya!? apa gua salah ya, hanya ingin mendapatkan ketenangan untuk bisa bekerja saja!? gua memang bodoh dan egois!
Baca karya lainnya...