My Two Annoying Brothers

My Two Annoying Brothers
Bab 43 : Tertangkap



Halo, author hanya bilang maaf kalo bab ini fels dan juga bab nya kurang panjang dan gak bagus, karena author juga lagi gak enak badan, tapi tetep author usahan untuk up ya, meskipun emang gak banyak yang baca sih 😞😞😞


Tempat yang tidak berpenghuni!, mengapa pria itu membawa Liuzzi kearah sana!? apa jangan-jangan!!


"Seharusnya kalian tidak hanya diam saja!? ayo pergi cepat bawa tim kalian untuk membantu, anak saya sedang diculik!" ucap ayah Liuzzi sembari mengerutkan wajah nya, polisi itu pun segera pergi bersama rekan-rekannya.


Diperjalanan menuju, ketempat dimana Liuzzi pergi, mereka pun harus melewati banyak Jalan-jalan rusak didepan, yang menghang mereka di setiap jalan.


Disisi ibu Liuzzi dan juga Kenan, mereka sangat cemas sehingga membuat ibu Liuzzi tiba-tiba pusing, karena terlalu memikirkan keadaan Liuzzi.


"Kenan coba telepon abang kamua tau gak ayah mu sanah..." ucap Ibu Liuzzi yang telah melemas di sofa sembari berbaring disana, dengan dengan wajah pucat nya dan dengan mulut yang mulai mengering.


Kenan yang tengah berusaha untuk bisa menelepon ayah dan Aditya pun sia-sia karena ponsel mereka semua dimatikan, karena ingin fokus mencari Liuzzi yang membuat Kenan ingin melemparkan ponsel nya.


Sialan! ibu sedang sakit tetapi ayah dan Aditya masih mencari Liuzzi! huft... udah malah gua gak bisa mengemudi motor saat keadaan ibu kaya gini lagi! gua harus melakukan sesuatu tapi apa coba!?


"Oh iya! gua telepon aja si Yuri, kan bulan depan semuanyaa mahasiswa juga kan pada lulus, pasti dia mau ngobatin ibu!" ucap Kenan yang langsung mencari ponsel Liuzzi yang berada di kamar nya, Kenan pun langsung menekan nomor di ponsel Liuzzi untuk menghubungi Yuri.


Disisi Yuri yang tengah asik membaca novenovel di kamar nya sembari mendengar musik di ponsel nya, tiba-tiba ponsel nya pun berdering, membuat Yuri terkejut mendengar dering ponsenya itu.


Dirt-Dirt....


"Isih nih nada dering ponsel bikin gua kaget aja deh!" teriak Yuri dengan kesal, ia pun melihat nama penelepon itu dan rupanya Yuri pun melihat bahwa Liuzzi lah yang tengah menelepon dirinya.


"Halo Liuzzi kenapa nelepon?" ucap Yuri dengan cepat "Maaf tapi ini bukan Liuzzi, ini gua abang nya Kenan, gua mau bicara sama lu bentar" ucap. kenan yang membuat Yuri pun langsung menutup tempat suara ponsel itu berasal.


Ini beneran dia yang nelepon!? tapi kenapa tiba-tiba ya? rasanya ada yang aneh?


"Halo Yuri, lu ada disana gak? gua butuh bantuan lu datang ke rumah gua sekarang, soalnya ini darurat" ucap Kenan yang membuat Yuri semakin bingung kenapa dirinya harus pergi ke rumah Liuzzi.


"Ya... tapi ada darurat apa ya ko sampe kaya panik gitu!?" ucap Yuri "Karena ibu Liuzzi lagi sakit tolong lu kan anak jurusan kedokteran, apa lagi bulan depan lu juga mau lulus kuliah, tolong bantu dong" ucap Kenan yang seperti seseorang memohon kepada dirinya.


"Baiklah akalo gitu aku kesana tapi nanti kayanya aku siapkan dulu beberapa peralatan dan obat-obatan" ucap Yuri yang langsung meletakan ponsel di meja, dan mulai mengambil bebrapa alat rumah sakit sederhana milik nya dan juga beberapa obat yang pernah ia buat dan juga ia beli sebelum untuk kegiatan praktek.


Disisi Liuzzi yang mulai berpasrah dengan keadaan karena keluarga nya sma asekali belum menolong nya, Liuzzi pun matanya mulai melihat kearah jendela sudah menunjukkan malam hari telah tiba.


Kalo gua sampe nikah sama si cowok g*bl*k itu gua sih cuma pasrah aja, huft... semoga keluarga ku nolongin gua... ayolah bantu gua sedikit saja...


Wajah Liuzzi tampak suram, seperti tidak ada harapan dalam dirinya untuk bisa keluar dari sini, ditambah dengan riasan dan juga baju gaun yang amat membuat Liuzzi kerepotan.


Tiba-tiba seseorang pun mengetuk pintu itu, dengan cepat ia pun membuka nya dengan berlahan demi belahan, Liuzzi mengira bahwa itu adalah Greyson yang ingin masuk kedalam ruangan itu.


Tiba-tiba Liuzzi pun membulatkan matanya melihat bahwa seseorang itu bukanlah Greyson tetapi Zen yang tengah diam-diam masuk ke dalam kos-kosan bekas itu.


Zen!? akhirnya ada juga yang menyelamatkan gua, tolong gua Zen!


Tiba-tiba, suara langkah kaki seseorang pun datang ke arah ruang itu, yang membuat Zend an Liuzzi pun terdiam seperti patung disana.


Krek...


Pintu pun terbuka dengan cepat, membuat Zen pun ketahuan yang ingin melepaskan Liuzzi.


"Hei siapa kamu!" teriak Greyson dari pintu yang melihat Zen ingin melepaskan Liuzzi, kamu pengen ngelepas Liuzzi ya!?


"Hehehe iya saya mau lepasin Liuzzi, karena ehem semua!!" teriak Zen yang membuat Greyson pun terkejut bahwa banyak polisi yang datang dan mengarahkan pistol nya kearah Greyson, Zen pun mengambil kesempatan itu untuk membuka tali yang teriak di tangan dan kaki Liuzzi.


"Akhirnya gua terbebas dari jeratan orang bodoh!" tariak Liuzzi smebari meregangkan tubuh nya, Liuzzi pun mendekati Greyson dengan berani.


"Gua tanya sama lu, emang siapa yang ngelakuin kaya gini sama gua!? gua pengen tahu siapa yang berniat untuk membuat gua diculik kaya gini, soalnya... orang vua percayai dia gak percaya sama gua..." ucap Liuzzi sembari melirik matanya kearah Aditya, yang membuat Aditya pun merasa kebingungan dengan tatapan mata Liuzzi.


"Pak polisi saya pinjam pistol nya bentar ya, tenang saja saya tidak akan membunuh dia ok" ucap Liuzzi yang langsung diberikan pistol itu kepada nya yang membuat Greyson pun ketakutan.


"Coba jawab siapa yang nyuruh lu buat nyulik gua!? kasih tahu nama nya ya..." ucap Liuzzi sembari tersenyum dan mengarahkan pistol itu kearah Greyson, pak polisi pun dengan panik dan ketakutan karena Liuzzi takut menembak Greyson.


"Nona tolong jangan tembak Greyson, apakah anda mau dijadikan tersangka juga!?" ucap salah satu polisi disana, yang menahan Liuzzi untuk menembak Greyson.


"Tidak... aku kan masih mempunyai hati gak sampe nembak juga iya kan!?" ucap Liuzzi semabri melotot kearah Greyson, yang membuat Greyson ketakutan.