My Two Annoying Brothers

My Two Annoying Brothers
Bab 70 : Harapan Raa



Liuzzi dari kejauhan pun melihat Mikael yang sedang memukul kepala, Liuzzi pun tersenyum kepada Mikael.


Pasti dia mikir yang engga-engga nih tentang gua....


Setelah waktu mulai berlalu, sudah tiba saatnya perpustakaan tutup, Liuzzi beserta Raa pun menunggu Mikael yang masih berada di dalam perpustakaan.


"Ayo Raa kita balik m" ucap Mikael sembari memegang pegangan roda, Raa pun menggelengkan kepalanya "Aku tidak ingin pulang dulu, aku ingin masih bersama kak Liuzzi abang...." ucap Raa yang membuat Liuzzi pun mengusap kan kepala Raa.


"Raa.... kak bmnantu bakal bermain lagi ko sama kamu... ok, jadi jangan ngerasa sedih, jadi sekarang pulang lah... apa lagi kamu kan lagi masih belum keadaan stabil, jadi kamu pulang kapan-kapan abang mu yang menjengkelkan ini akan mengantarkan Raa ke kak biar bisa main lebih lama lagi ok" ucap Liuzzi sembari tersenyum.


Raa pun terdiam, tetapi ia pun melihat wajarh Liuzzi pun yang membuat nya pun mengangguk kan kepalanya dan langsung bersemangat kembali.


"Ya... abang nanti bisa nganterin Raa lagi ke sini buat main sama kak, tapi kak jangan lupain Raa ya" ucap Raa sembari memegang tangan Liuzzi Liuzzi pun memeluk Raa dan mengelus kan kepala nya.


"Iya dong masa kak lupain Raa yang sangat imut gini, gak mungkin kan!?" ucap Liuzzi, Mikael pun tersenyum kepada Liuzzi ia sangat berterima kasih karena telah membuat adik nya menjadi senang hari ini.


"Makasih Liuzzi lu udah buat adek gua seneng lagi, ya... meskipun lu orang nya menjengkelkan tapi ya lumayan lah... lu baik sama adik gua" ucap Mikael dengan santainya, Liuzzi pun tersenyum tipis "Ya iyalah... gua itu loh, gua mah baik sama anak kecil" ucap Liuzzi dengan bangga.


"Kak Liuzzi, abang Mikael... aku pengen kalian berdua bisa bersama-sama semoga doa-doa ku terwujud ya..." ucap Raa, yang langsung menarik tangan mereka berdua, Liuzzi dan Mikael pun terkejut dengan doa yang di inginkan oleh Raa.


"Ah... Raa seperti nya itu agak keterlaluan bukan ya doa-doa kamu" ucap Liuzzi dengan nada nya yang panik sekaligus jantung nya yang mulai berdegup kencang.


"Lah!? memang kak Liuzzi gak suka sama abang Raa!? padahal Raa berharap kalo kak Liuzzi jadi pasangan abang Raa loh?' ucap Raa, Mikael yang merasa malu pun langsung menutup mulut Raa, dan langsung pulang begitu saja dengan cepat.


"Ih... abang kenapa langsung dorong kursi roda ku! aku masih mau bicara juga sama kak Liuzzi!" teriak Raa dengan kesal, Mikael pun mengusap kepala adik nya itu.


"Kamu terlalu berharap banyak Raa" ucap Mikael sembari tersenyum, dari kejauhan Liuzzi pun masih melihat Raa dan juga Mikael yang mulai berjalan jauh.


"Tapi kalo harapan kecil Raa terwujud abang juga jadi senang kan!?" ucap Raa.


Liuzzi pun langsung pulang berjalan kaki, di sepanjang perjalanan Liuzzi pun masih mengingat harapan Raa untuk bisa menjadi pasangan Mikael.


Setelah beberapa menit di perjalanan Liuzzi pun sampai di rumah nya "Liuzzi pulang... " ucap Liuzzi sembari melepaskan sepatunya itu dan meletakan nya di rak sepatu.


"Oh.. Liuzzi kau sudah pulang ya!?" ucap Ibu Liuzzi yang langsung memeluk Liuzzi, Liuzzi pun memeluk balik ibunya itu.


"Em... abang Kenan dengan abang Aditya dimana ko kaga keliatan ekor mereka?" tanya Liuzzi "Kali abang nu Kenan lagi tidur dia, dai kecapean karena bergadang" ucap ibu Liuzzi.


"Ah... soal itu aku tidak senang ko, aku hanya bisa-biasa aja ko ibu" ucap Liuzzi dengan nada panik nya, ibu Liuzzi pun tersenyum.


"Kamu ini ya mulai bohong lagi sama ibu... ayo bicara aja sama ibu, ibu juga penasaran nih..." ucap ibu Liuzzi dengan nada memaksa, Liuzzi pun menarik nafas nya dan mulai bercerita.


Di rumah sakit, Yuri yang sudah kelelahan pun membereskan barang-barangnya untuk pulang ke rumah nya, Aditya pun datang mendekat Yuri.


"Yuri gua mau bicara sama lu, tentang tadi..." ucap Aditya dengan nada tegasnya, Yuri pun mengangguk kan kepalanya.


"Ya... ayo kita pergi dari sini" ucap Yuri, Aditya dan Yuri pun hanya berdiam disana di sepanjang perjalanan, mereka sama sekali tidak berbicara satu sama lainnya.


Sesampainya di taman dekat rumah, Aditya dan Yuri pun duduk berdua disana, mereka seketika terdiam tanpa berbicara sedikit pun "Ehem... jadi kenapa tadi pipi lu jadi ada bekas luka!?" ucap Aditya yang memberanikan dirinya untuk berbicara.


"Gua gak apa-apa, gua mau nanya sama lu... kenapa ku bisa jadi kepala rumah sakit!? kenapa gua gak pernah di kasih tahu ya!?" ucap Yuri dengan nada kesalnya itu, Aditya pun mulai panik mendengar perkataan Yuri.


"Ah... soal itu, gua sengaja menyembunyikan nya karena gua tidak ingin kau menjauh karena pangkat ku doang, gua pengen lu ada di sisi gu-" ucap Aditya yang langsung terpotong karena Yuri langsung berbicara.


"Lu jangan jadikan itu menjadi alasan ngerti gak! selama ini gua selalu di bully sama semua para dokter disana karena gaya seperti dokter caper dan bodoh tahu gak! gara-gara gua gak di kasih tahu bahwa lu udah punya pangkat ngerti gak!!" teriak Yuri dengan nada kesalnya, Aditya pun hanya terdiam.


"Maaf inbgua, gua emang salah gak ngasih tahu lu... tapi kenapa lu bisa di bully sama para dokter di rumah sakit!?" ucap Aditya, yang membuat Yuri semakin emosi dengan ucap Aditya.


"Diam! gara-gara lu gak kasih tahu gua dari awal, gua di cap sebagai dokter caper sama kepala rumah sakit lu tahun gak! gua udah cape nerima hinaan dari para semua dokter disana!" teisak Yuri yang langsung meneteskan air mata nya, Aditya pun terdiam ia merasa bersalah dengan Yuri.


"Jadi gua harus bagaimana agar lu bisa menjadi lebih baik!?" ucap Aditya yang muliai memasang wajah datarnya, Yuri noun langsung menghapus air matanya itu.


"Tolong sekali lagi jauhi gua-"


"Gua gak bisa dong jauh in lu, gua itu suka sama lu! kenapa lu gak ngerti sih!" teriak Aditya yang membuat Yuri terkejut dengan perkataan Aditya.


"Kalo lu gak ngejauhin gua, lu bakal direbut posisi lu sebagai kepala rumah sakit lu mau!" teriak Yuri yang membuat Aditya pun mengerutkan kepalanya.


"Gua bakal serahkan jabatan gua buat dia! tapi asalkan lu jangan jauh in gua itu udah lebih dari cukup buat gua Yuri..." ucap Aditya dengan nada tegasnya, Yuri pun menatap Aditya ia tidak menyangka betapa nekat nya Aditya demi dirinya dan langsung meneteskan air mata nya, lalu memeluk Aditya dengan erat, Aditya pun membalas pelukkan Yuri sembari mengusap kepalanya itu.


Sembari menunggu author update, baca karya teman author ya...