My Two Annoying Brothers

My Two Annoying Brothers
Bab 21 : Kak Luzi & Yuli



"Liuzzi kenapa ke toilet?" ucap abang Aditya yang langsung kebingungan dan dengan tingkah Liuzzi, dan mengapa mata Liuzzi seperti habis menangis.


Di dalam toilet Liuzzi punn berusaha untuk mencuci wajahnya kembali dengan mendandani wajah nya kembali karena bekas air matanya, yang menetes.


"Hufh... gua harus kuat, gua harus buat mereka menjadi sial hari ini!" ucap Liuzzi yang langsung bersemangat dan keluar dari kamar mandi dengan senyuman lebar.


Sebenarnya gua jijik tersenyum kaya gini di depan para antagonis g*bl*k ini, tapi mau gimana gua harus bisa tenang


Di sebrang jalan Liuzzi pun melihat Zen dan juga Nay yang tengah berduaan di suatu mal di sebrang restoran itu. Liuzzi pun hanya melihat nya dengan wajah datarnya sembari makan bersama keluarga nya.


Zen sama Nay ada hubungannya apa sih sebenarnya? sampe sedeket itu?


"Liuzzi ayo, hey jangan bengong makan yang bener" ucap Aditya nya langsung membuat Liuzzi tersadar dari lamunan nya yang melihat Zen dan Nay berduaan.


"Kenapa lu sakit?" tanya Kenan yang membuat Liuzzi pun hanya membiarkan nya karena ia tahu bahwa berbicara dengan dirinya akan membuat ia semakin kesal aja.


"Desi dan Bela, duduk di samping tante yuk" ucap Ibu Liuzzi yang membuat Liuzzi pun semakin penasaran mengapa ibunya menyuruh Desi dan Bela duduk disamping ibunya.


"Iya tante kenapa emang nya?" tanya Bela dengan wajah serius bersama Desi di samping nya, Liuzzi pun tahu momen apa ini yang membuat nya pun langsung mengingat kejadian itu.


Jangan-jangan ibu Liuzzi akan... membagikan beberapa uang untuk awal dimana mereka akan menerima beberapa hadiah dari keluarga pria, di jelaskan di novel bahwa mereka akan mendapatkan uang masing-masing 10jt perorangan! dan bukan hanya itu saja hari ini gua harus mengagalkan ibu untuk memberikan uang itu kepada mereka!


"DIAM!!" teriak Liuzzi yang langsung memukul meja itu dengan kencang membuat semua pelanggan di restoran itu pun seketika terdiam dan menatap Liuzzi.


"Liuzzi kamu apa-apa!? malu-maluin orang tua aja kamu!" teriak Ayah Liuzzi yang langsung melotot ke arah Liuzzi, Liuzzi dengan rasa nya ia pun menahan nya, karena ini harus di tindakan nya membuat semua pengunjung mengarah kepada dirinya.


"Aku hanya tidak ingin ibu memberikan uang itu kepada mereka berdua, karena... aku tidak setuju jika abang Aditya dan Kenan menikah dengan mereka!!" teriak Liuzzi yang langsung mengambil tasnya lalu pergi begitu saja dari restoran itu, di sepanjang jalan Liuzzi hanya bisa berlari tanpa arah, ia terus berlari seperti orang kebingungan.


Liuzzi bodoh! lu ceroboh banget sehingga lu teriak didepan semua pengunjung cafe, rencana gua jadi berantakan! gegara gua terlalu gegabah mengambil tindakan


"Liuzzi hey!" teriak Yuri dari kejauhan bersama seorang anak laki-laki kecil, yang mengandeng tangan Yuri Liuzzi pun menghentikan langkah nya segera Yuri dan anak kecil itu pun menghampiri Liuzzi.


"Eh... Yuri kenapa emang nya?" tanya Liuzzi yang seolah-olah ia baik-baik saja di depan Yuri, Yuri pun tersenyum kepada Liuzzi dan langsung melihat ke arah anak kecil itu.


"Aku lagi ajak jalan-jalan keponakan ku Liuzzi, lihat lah dia gemes kan?" ucap Yuri yang langsung mengusap kepala anak kecil itu dengan lembut Liuzzi pun langsung melihat anak itu dan yang dikatakan oleh Yuri itu benar anak kecil itu sangat mengemaskan.


"Ihhhh iya gemes banget, terus kalian mau kemana?" ucap Liuzzi, Yuri pun lant menunjukkan jarinya ke arah mal di depan restoran yang ia lihat di sebrang jalan untuk membeli beberapa barang.


Sesampainya di mall, Yuri dan Liuzzi pun terpukau dengan keindahan mall itu, sedangkan anak kecil itu seperti orang yang sangat kebingungan disana.


Mamah dimana? kakak Yuri ko dari tadi diem aja gak jalan?


"Mau belanja apa cuy?"


"Kak Yuli ayo kita pegi ke tempat jajan" ucap anak kecil itu, yang membuat Liuzzi dan juga Yuri pun terpukau dengan suara nya yang sangat merdu itu.


"Astaga nih anak pengen aku peluk erat banget deh... dah imut suaranya lembut lagi" ucap Liuzzi yang langsung menggendong anak kecil itu, anak laki-laki itu pun kebingungan siapa orang itu sebenarnya.


"Kakak Yuli ini siapa?" ucap anak kecil itu, yang membuat Liuzzi pun memperkenalkan dirinya.


"Nama kak itu Liuzzi"


"Nama kak Luzi ya? holeee punya temen balu, ayo kita pegi ketempat makan kak Yuli, kak Luzi" ucap anak laki-laki itu yang langsung senang karena Liuzzi dianggap sebagai teman nya.


"Yuri nama anak ini siapa, dan kenapa kulit nua putih banget kaya hantu gitu?" ucap Liuzzi yang langsung bertanya-tanya Yuri pun langsung terdiam Liuzzi menanyakan hal itu.


"Namanya Joy, kenapa alasannya dia punya kulit putih itu karena.... dia punya penyakit albino, dan makanya dia mempunyai warna kulit yang sangat putih, bukan hanya itu warna dan rambut nya juga agak pucat" ucap Yuri yang langsung melihat Joy dengan senang melihat banyak makan di mall.


"Kamu yang sabar ya Joy, jangan pengen kalah sama keadaan ok" ucat Liuzzi yang langsung memeluk Joy dengan lembut, Joy pun membalas pelukan Liuzzi sembari tersenyum.


"Kak ayok kita beli bakso di sana" ucap Joy yang langsung menujukan jarinya ke arah tukang bakso yang tidak jauh dari pandangan mata mereka. Liuzzi dan Yuri pun bergi ke sana, Yuri yang memesan bakso itu sedang Liuzzi tengah menjaga Joy.


"Tada.... ini bakso nya dah datang" ucap Yuri yang langsung meletakan 3 mangkok bakso di meja itu, Liuzzi pun takut Joy terkena panas kuah bakso itu pun harus menyuapi Joy.


"Kak Luzi mau suapin Joy?" ucap Joy yang langsung tahu niat dirinya untuk menyuapi makan itu.


"Iya? Joy mau kan? biar cepet beres makan nya?" tanya Liuzzi yang menyakinkan diri Joy untuk di suapin, Joy pun terseyum lebar dan langsung membuka mulut nya lebar-lebar.


Dengan cepat Liuzzi pun meniup bbalso itu dan langsung menyuapi Joy, dengan senang Joy pun tersebut, tanpa Liuzzi sadari Zen pun melihat tingkah Liuzzi dan juga anak kecil itu yang membuat nya pun tersenyum tipis.


Lu perempuan baik Liuzzi, lu peduli ama anak kecil, gua jadi tambah pengen memiliki lu sepenuhnya... tapi apa daya gua sekarang gua udah gak berdaya, apa gua harus berjuang atau kalah begitu saja?