My Two Annoying Brothers

My Two Annoying Brothers
Bab 57 : Dokter Tampan



Mirya baik tapi kenapa dia masih tetap jomblo? padahal dia kan pinter, cantik, dan juga baik, masa gak ada sih yang mau sama dia!? aneh banget deh!? apa karena ada suatu masalah atau kejadian yang membuat nya masih tetap jomblo?


Setelah beberapa saat Kenan pun tertidur disana sedangkan Mirya telah selesai mengerjakan tugas Kenan, Mirya pun langsung membangunkannya Mirya pun pamit dulu untuk pulang, sedangkan Kenan pun bersiap-siap untuk pulang juga.


Setelah sesampainya Kenan di rumah, keadaan rumah pun sepi, semua keluarga nya pun telah tertidur, karena Kenan pulang pada pukul 12 malam, Kenan pun hanya bisa makan malam sendirian tanpa keluarga nya.


Rasanya sedih juga ya, makan di tengah malam tapi sendirian, gak ada yang nemenin buat aku makan.... jadi gini ya rasanya menjadi pekerja kantoran, mereka pulang tanpa mengenal waktu... dan uang gaji mereka ujung-ujungnya untuk makan keluarga nya...


Tiba-tiba Kenan pun dikejutkan oleh Liuzzi yang masih terbangun di malam hari, Liuzzi pun langsung duduk disamping abangnya itu dengan matanya yang setengah sadar.


"Abang Kenan udah pulang ya? ko pulang nya udah kaya ayah aja?" ucap Liuzzi sembari meminum air putih.


"Iya tadi ada beberapa data-data yang harus gua kerjakan dulu" ucap Kenan yang langsung meletakkan piring bekas makanan nya itu ketempat wastafel.


"Lu tahu gak kalo abang Aditya udah pergi dari jam 10, tadi sebenarnya harusnya abang Aditya berangkat jam 9, tapi karena nungguin lu kelamaan, jadi dia pergi duluan deh" ucap Liuzzi yang langsung balik lagi kekamar nya.


"Sampe-sampe gua gak bisa temenin abang Aditya buat anterin dia doang... sedih banget ketika Liuzzi berkata seperti itu.." ucap Kenan yang mulai merenungkan dirinya di sana.


Keesokan harinya di tempat kerja Aditya, Aditya pun datang kerumah sakit itu sembari memegang berkas, di sepanjang lorong rumah sakit banyak sekali dokter-dokter berpendidikan disana, yang membuat Aditya pun ya yakin bahwa diantara kumpulan di sini akan menjadi dokter terbaik.


Gi*a banyak banget dokter-dokter yang diterima di sini... tapi kenapa gua bisa keterima juga ya di rumah sakit ini!?


"Aditya kamu kerja di rumah sakit ini juga?" ucap salah satu orang yang membuat Aditya pun terkejut melihat bahwa Yuri bekerja di satu rumah sakit yang sama.


"Eh!? lu Yuri kan!? wah gak nyangka lu bisa kerja di sini juga" ucap Aditya sembari memasang wajah senangnya itu, semua dokter-dokter pun melihat Aditya dan Yuri seperti pasangan kekasih satu sama lain.


"Weh... dokter Aditya itu juga tampan ya... lu mau gak sama dia!?" bisik salah satu perempuan disana yang akan bekerja sebagai dokter juga.


"Ya gua mau lah... siapa sih yang gak mau punya pasangan setampan dia, tapi sayang nya dia udah punya pacar cik!" ucap teman nya itu yang ingin menjadi pasangan dengan Aditya, dengan wajah jijik nya yang menatap wajah Yuri yang tengah asik mengobrol dengan Aditya.


"Yuri kamu sedang menyukai seseorang tidak!?" ucap Aditya yang mulai penasaran dengan kehidupan Yuri, Yuri pun seketika terkejut mendengar perkataan Aditya.


"Ah... aku tidak tahu, tapi waktu dulu aku menyukai seseorang" ucap Yuri yang mulai berbicara seperti seseorang yang ingin menutupi sesuatu.


"Oh gitu ya, jadi dulu kamu suka sama seseorang, jadi kamu udah pernah tembak orang itu belum!?" ucap Aditya yang semakin penasaran.


"Ah... soal itu aku hanya bisa mencintai nya diam-diam saja ko" ucap Yuri yang membuat Aditya merasa bahwa Yuri telah memiliki seseorang.


Kenapa tiba-tiba Aditya ngomong soal hubungan ya!? padahal harusnya dia peka kalo aku dulu suka sama dia?


Tiba-tiba suara mikrofon pun terdengar


"Aditya dan juga Ananda Yuri sihlakan memasuki ruangan ke 5"


Aditya dan Yuri pun pergi sembari dilihat oleh semua orang dijalan, sesampainya di ruangan ke 5 Aditya dan Yuri pun masuk, ia pun tiba-tiba melihat 1 orang pasien dengan keadaan yang sedang terbaring lemas.


"Yuri ayok kita obati dan rawat pasien ini" ucap Aditya yang mulai membawa beberapa alat-alat kedokteran yang telah disiapkan.


"Lah buat apa emang nya!?"


"Karena kita sedang di uji Yuri, ayo daripada diam aja mending kita langsung obati saja" ucap Aditya langsung memberikan beberapa alat kedokteran kepada Yuri.


Setelah beberapa menit kemudian, Aditya dan Yuri pun telah selesai melakukan ujian itu, dan mulai mendapatkan beberapa alat kedokteran masing-masing, bukan hanya itu mereka berdua bahkan akan menjadi satu partner terbaik.


"Huft... aku tidak menyangka bahwa gua sma lu bisa jadi partner yang terbaik" ucap Yuri sembari mengelap keringat nya menggunakan tisu.


"Nih gua punya sapu tangan lu mau pake gak?" ucap Aditya yang mulai ketakutan jika Yuri menolak pemberian nya yang kedua kalinya.


"Makasih, gua terima ya, besok gua kembalikan dengan keadaan bersih ok" ucap Yuri semabri tersenyum dan mulai mengelap nya. Aditya pun terkejut melihat Yuri yang tidak menolak pemberian darinya.


"Lu mau ke kantin gak buat makan?" ucap Aditya yang menawarkan Yuri untuk makan bersama di kantin, Yuri pun mengangguk kan kepalanya.


Sesampainya di kantin Aditya dan Yuri pun mulai makan bersama, tetapi seseorang melihat mereka berdua, yang membuat semua para dokter itu iri karena Yuri mendekati Aditya.


"Lu lihat geh cewek yang ada di samping dokter Aditya itu" bisik salah satu dokter disana, bersama teman nya itu yang sedang makan disana.


"Iya gua lihat emang kenapa!?" ucap teman nya itu, sembari menatap Yuri da mn juga Aditya, seperti seorang kekasih.


"Kayanya cewek itu suka sama orang tanpan deh, masa baru hari pertama aja udah langsung deket sama dokter ganteng itu!? kan aneh, coba lu pikir geh" ucap dokter perempuan itu lagi dengan tatapan matanya yang sinis dengan Yuri.


Aditya pun mendengar pembicaraan mereka yang membuat Yuri sedih ia pun langsung memutuskan untuk pergi dari sana, Aditya yang merasa kesal dan marah pun mendekati dokter itu.


"Woi lu!"


"Eh!? iya kenapa dokter Aditya!?" ucap dokter perempuan itu dengan wajah nya yang berubah menjadi baik dan juga cantik.


"Lu gak usah sok manis deh! lu ngapain ngata-ngatain pacar gua Yuri!" teriak Aditya yang membuat Yuri pun terkejut mendengar perkataan Aditya dari kejauhan, sembari membayar makanannya.


Apa!? kenapa Aditya ngomong gitu! tapi perkataan nya bikin salting ahahahah....


"Maaf nak, jadi bayar makanan nya atau engga ya!?" ucap ibu kantin itu, sembari menatap wajah Yuri yang mulai memerah.


Hai makasih udah mau baca sampai bab ini, semoga bumbu percintaan nya agak sedikit terasa ya, kalo engga terasa, nanti author juga akan berusaha untuk membuat yang lebih unik.


Yuk mampir ke karya lainnya....