
"Abang itu pacar nya abang ya!?" ucap adik Mikael dengan nada senangnya, Liuzzi dan Mikael pun langsung menengok ke arah nya dengan tatapan tajam.
"Ha!? si bodoh ini pacar nya abang!? gak mungkin lah..." ucap Mikael dengan kesalnya, Liuzzi yang merasa kesal karena menuduh nya si bodoh pun, Liuzzi langsung mengambil buku komik dan memukul kepala Mikael.
"Auh! sakit bodoh! lu ngapain pukul kepala gua!" teriak Mikael, Liuzzi pun mengujurkan lidah nya pertanda tidak peduli.
"Bodo amat dong... lagian lu ngatain gua bodoh!" ucap Liuzzi dengan nada kesalnya, adik Mikael pun menatap Liuzzi tanpa mengedipkan matanya, Liuzzi yang merasa bahwa adik nya ketakutan pun langsung berbicara.
"Hai... nama mu siapa adik kecil!?" ucap Liuzzi sembari tersenyum,aman kecil itu pun hanya teriam merasa ketakutan kepada Liuzzi, Mikael pun ikut berbicara.
"Raa jangan takut ya sama kak ini, kak ini adalah salah satu teman dosen kak di kampus, jadi dia adalah dosen yang selalu membuat ulah" ucap Mikael sembari mengusap kepala Raa dengan lembut.
Liuzzi pun mengeluarkan sesuatu dari tasnya, ya itu sebuah permen lolipop dan langsung memberikan nya kepada Raa, Raa pun hanya terdiam, Liuzzi pun langsung menggoyang kan permen itu agar menggoda Raa untuk mengambil permen itu.
Raa pun langsung mengulurkan tangan nya, Liuzzi pun dengan sangat senang memberikan lolipop itu kepada Raa, Raa pun langsung memakan permen itu dengan lagap, Liuzzi pun mengulurkan tangan nya.
"Apakah kak bisa berteman dengan mu Raa!?" ucap Liuzzi sembari tersenyum, Raa pun dengan ragu-ragu pun mengulurkan tanganya.
"Coba perkenalkan diri kamu!?" ucap Liuzzi sembari tersenyum, Raa pun tersenyum merasa bahwa Liuzzi adalah orang yang baik ia pun langsung memberanikan dirinya untuk memperkenalkan diri nya.
"Nama ku Raa, aku sekarang sedang duduk di jenjang SD, salam kenal kak Liuzzi" ucap Raa dengan nada lembut nya, Liuzzi bpun dengan wajah kagum nya pun mengelus-ngelus rambut Raa.
Disini lain, di rumah sakit setelah jam istirahat Aditya dan juga Yuri yang tengah duduk berhadapan dengan para dokter lainya disana, seperti biasanya Yurid an Aditya berpura-pura tak kenal sama sekali.
Setelah selesai makan siang, Yuri pun pergi untuk ke kamar mandi, setapi tiba-tiba seseorang pun datang 4 orang dokter disana yang bersiap memberikan pelajaran kepada Yuri.
"Kalian!? kalian ngapain lagi ke sini!?" ucap Yuri dengan nada yang mulai ketakutan dengan wajah para dokter perempuan disana.
"Lu ngapain masih deket sama Aditya ha!" teriak salah satu dokter disana yang mulai mendorong tubuh Yuri, Yuri pun dengan ketakutan pun memberanikan dirinya untuk melawan.
"Lu ngapain dorong-dorong gua!? emang kenapa gua masih deket sama Aditya!" teriak Yuri yang berusaha untuk terlihat kuat di depan para dokter itu, seketika para dokter itu pun kesal dan langsung menampar pipi Yuri dengan kencang.
Sontak membuat Yuri pun kesakitan, dokter lainnya pun mendorong Yuri hingga terjatuh, seorang dokter laki-laki itu pun datang mendekat Yuri.
"Jika lu gak mau jauhin si Aditya dan lu gak mau dibully sama Kita-kita lagi.... lu harus mengabulkan permintaan gua!" teriak dokter laki-laki itu yang membuat Yuri pun memberanikan dirinya untuk berbicara lagi.
Jantung nya yang sudah mulai ketakutan ditambah dengan bulunya yang mulai ketakutan, rasanya Yuri ingin menghilang dari dari keadaan ini.
"Memang kau mau mau apa ha!" teriak Yuri dengan tegas Yuri pun langsung mengerutkan keningnya, dokter laki-laki itu pun tersenyum licik kepada Yuri.
"Gua mau kaloo posisi Aditya sebagai kepala rumah sakit 3, digantikan oleh gua!" teriak dokter itu, Yuri yang tidak mengerti apa yang dimaksud oleh dokter itu pun bertanya.
"Maksudnya lu apa ya!? Aditya kan seorang dokter biasa bukanya seorang kepada rumah sakit 3!?" ucap Yuri dengan wajah polos nya, para dokter itu pun tertawa dengan melihat kepolosan Yuri.
"Dasar bodoh! kau ini seperti nya ketinggian zaman ya... Aditya sudah naik jabatan sebelum tes berlangsung, aku sendiri mendengar nya, ia menyembunyikan indetitas nya sebagai kepada dokter 3 dari mu" ucap doker itu yang membuat Yuri pun terkejut mendengar perkataan dokter itu.
"Makanya sekarang.... kau tidak ingin di bully lagi kan!? bagaimana dengan tawaran ku, akan ku berikan kesempatan ini selama 2 hari, jadi jika selama 2 hari kau tidak memberikan kabar, artinya kau siap untuk kami beri pelajaran lebih kejam lagi" ucap dokter itu sembari menarik rambut Yuri dengan kencang.
Yuri yang hanya terdiam pun hanya bisa menahan rasa sakit yang semakin semakin kesakitan.
"Sudah lah... ayo kita pergi kawan-kawan" ucap salah satu dokter itu, semua pun pergi meninggalkan Yuri, sendirian disana, Yuri yang masih tidak menyangka bahwa Aditya seorang kepala rumah sakit di sini.
Seharusnya gua menghormati Aditya sebagai kepala rumah sakit, bukanya malah caper dan baper sama dia, makanya semua para dokter itu pada ngebully gua, rupanya gua gak sadar diri....
Yuri pun langsung berdiri, ia pun mencuci wajahnya sangat mulai memperbaiki rambutnya dengar benar dan dengan rapih, setelah itu Yuri pun pergi keluar seolah-olah ia tidak terjadi apa-apa.
Tiba-tiba Aditya pun melihat Yuri di lorong sembari melambaikan tanganya kepada Yuri, Yuri yang mengetahui jabatan Aditya sebagai dokter tertinggi di rumah sakit pun langsung menundukkan kepalanya.
"Eh Yuri!? kenapa lu menundukkan kepala lu? gua kan bukan atasan lu, jadi kenapa ku jadi kaya menghormati gua!?" ucap Aditya dengan kebingungan, Yuri pun terdiam sejenak.
"Ah... kau bukan kepala rumah sakit di sini, jadi mengapa aku tidak menghormati mu iya kan!?" ucap Yuri sebari tersenyum.
"Kenapa kau tahun jabatan ku sebagai kepala rumah sakit di sini Yuri!? dan kenapa dengan pipimu ini!?" ucap Aditya yang mulai kawatir dengan Yuri, semabri memegang pipinya.
"Kalau soal itu kau tidak usah tahu... aku akan pergi merawat pasien dulu" ucap Yuri yang langsung membalikkan tubuh nya, Aditya pun dengan cepat menarik tangan Yuri.
"Jawab pertanyaan ku dulu Ananda Yuri! " ucap Aditya dengan nada tegas nya kepada Yuri, Yuri pun langsung melepaskan tangan nya dengan kencang.
"Jika kau ingin bertemu temui aku ingin taman dekat rumah mu! aku sekarang sedang sibuk tolong jangan ganggu aku mengerti!" teriak Yuri dan langsung pergi begitu saja ke ruang pasien, Aditya yang menatap Yuri dari kejauhan.
"Mengapa Yuri bersikap seperti itu!? padahal tadi malam bukanya kamu sedang chatan!? mengapa sikapnya menjadi berubah!?" ucap Aditya dengan kebingungan sembari berjalan menuju ruangan nya untuk bekerja.
Disini Liuzzi yang sedang membaca buku bersama Raa du samping nya pun mengabaikan Mikael.
"Jadi cerita seru ya kk"
"Iya dong seru banget kan!? mau baca season selanjutnya gak Raa kecil?" ucap Liuzzi semabri mengusap kepala Raa, Mikael yang melihat kegiatan mereka dari belakang pun merasa senang melihat wajah adiknya yang mulai senang.
Aku senang, Raa bisa tersenyum lagi, sudah lama Raa gak pernah sesenang itu kepada orang lain, semoga Liuzzi bisa menjadi pasangan hidup gua.... eh!? gua tadi mikir apa sih!? astaga seharusnya gua gak mikir sampe situ!! ah dasar lu bodoh Mikael!!
Liuzzi dari kejauhan pun melihat Mikael yang sedang memukul kepala, Liuzzi pun tersenyum kepada Mikael.
Pasti dia mikir yang engga-engga nih tentang gua....
Baca karya teman ku ya...