My Two Annoying Brothers

My Two Annoying Brothers
Bab 80 : Penolakan



"Kenapa memang nya!?" tanya Liuzzi yang mulai penasaran dengan perkataan Mikael.


"Ah... ini aku ingin itu... anu" ucap Mikael yang mulai gugup melihat wajah Liuzzi, Aditya selalu mendorong Mikael untuk mengatakan nya kepada Liuzzi tetapi Mikael masih belum berani.


"Abang cepat lah ngomong nya, ko pake di perlambatan segala sih!?" ucap Raa yang tidak sabaran, Mikael pun semakin ketakutan mengeluarkan sesuatu di dalam kantong nya itu.


"Itu... aku ingin..."


"Ingin apa Mikael!? lu sangat lama sekali ngomong nya? lu sebenarnya kenapa sih?" tanya Liuzzi yang mulai kesal, Mikael pun langsung mengulurkan tangan nya dan memberikan nya sebuah kotak kecil kepada Liuzzi.


"G-gua pengen lu bisa jadi pasangan hidup gua... lu mau gak nerima gua?" tanya Mikael sambung menutup matanya yang tidak kuat mendengar perkataan Liuzzi, Liuzzi pun sontak mengambil kotak itu.


Terkejut Liuzzi mengambil kotak itu, Mikael pun membuka matanya berlahan-lahan, Liuzzi pun melihat isi dari kotak itu, seketika Liuzzi pun tersenyum kepada Mikael.


Liuzzi ngambil kotak itu!? apa gua beneran di terima sama dia!?


Liuzzi pun langsung menutup kotak itu kembali dan memberikan nya kepada Mikael, semua orang terkejut, mereka mengira bahwa Liuzzi akan memakai cincin itu di jarinya, tetapi ia justru mengembalikan nya kepada Mikael.


"Eh!? Liuzzi kenapa lu gak ambil cincin nya itu!? kenapa lu balikin ke Mikael?" ucap Nay yang langsung terkejut dengan tindakan Liuzzi Liuzzi bpun tersenyum tipis lalu menatap ke arah Mikael dengan wajah nya yang langsung murung.


"Mikael... gua sebenarnya tidak menolak lu dan gua juga suka sama lu ko, tapi masalah nya hanya ada satu"


"Tapi emang apa masalah nya Liuzzi!? apa karena gua emang gak bisa kerja kaya abang lu atau emang karena gua gak kaya atau karena gua punya banyak kekuranga-"


"Diam!" teriak Liuzzi yang membuat perkataan Mikael terpotong.


"Huft... sebenarnya bukan karena itu gua hanya ingin menikmati masa muda gua dulu, masa gua langsung nikah aja gua juga butuh ketenangan hidup, meskipun banyak beban yang harus gua pikul sekaligus harus melalui banyak rintangan..."


"Gua ingin di masa ini gua menikmati keindahan dan juga lebih orang yang lebih baik lagi, apa lagu gua masih harus banyak belajar tentang menjadi seorang ibu dan istri nantinya"


"Semua butuh proses, gua masih belum bisa seperti Nay yang sudah bisa menjaga Hezel dan menjadi pendorong sekaligus penyemangat seperti ibu, gua merasa terbebani soal itu, gua masih belum siap..."


"Ibu mengerti apa yang kau inginkan Liuzzi, ibu memahaminya, ibu juga dulu seperti mu bagaimana nanti ketika ibu sudah menjadi ibu dan mengurus seorang anak, itu juga butuh banyak proses, tetapi percayalah semua orang yang ada di sekeliling mu akan mendukung mu dan membantumu setiap waktu" ucap ibu Liuzzi yang langsung memeluk Liuzzi.


"Dan juga aku masih agak trauma dengan kisah percintaan ku dulu..." ucap Liuzzi dengan nada pelan.


"Ya... tidak masalah gua juga tahu lu pengen gua bisa jadi milik lu kan? tetapi kata-kata yang kau ucapan juga ada benar nya, mahasiswa aja kadang bikin setres dan geleng-geleng kepala sama sikap mereka, rasanya aku mengingat anak murid gua yang selalu caper sama gua" ucap Liuzzi sembari tertawa kecil.


"Lah... masih mending lu, lah gua sampe dikejar-kejar sama banyak mahasiswa perempuan, rasanya mau istirahat aja udah kaya maling harus bersembunyi mulu" ucap Mikael dengan nada santai nya, Liuzzi pun ikut tertawa mendengar dan mengingat akan kejadian dulu.


Setelah pesta pernikahan, keluarga Liuzzi pun kembali pulang, Mirya dan Yuri yang tinggal di rumah Liuzzi pun merasa sedikit canggung, Liuzzi pun selalu membuat mereka tetap nyaman meskipun memang sangat susah dengan mereka.


Tetapi setelah pernikahan itu Abang Aditya dan Kenan tidur selamar, karena Mirya dan Yuri masih belum siap tidur sekamar, sebab itu lah Liuzzi menemani malam mereka agar bisa menjaga Mirya dan Yuri.


Tetapi Liuzzi bukan nya mengajak Yuri dan Mirya untuk tidur, Liuzzi malah menyuruh Mirya dan Yuri untuk nonton maraton drakor, kebetulan juga besok adalah hari minggu.


Mereka asik menonton sembari makan kue dan juga minuman untuk menemani cemilan mereka sembari menonton film.


Tetapi dari luar Kenan pun mendengar suara televisi yang sangat kencang, ia merasa bahwa Liuzzi sedang menonton drakor bersama Mirya dan juga Yuri, Kenan pun langsung mengetuk pintu itu dengan cepat dengan memasang wajah kesalnya itu.


"Oh ya abang Kenan kenapa!?" tanya Liuzzi sembari tersenyum lebar, Kenan pun langsung mengintip kamar nya itu, tetapi Liuzzi pun menghalangi pandangan matanya itu.


"Apa yang kalian lakukan di kamar!? jawab!" ucap Kenan dengan nada tegasnya kepada Liuzzi, Liuzzi pun sontak terkejut mendengar ucapan abang nya itu.


"Ah... itu aku sedang tidur abang, abang mengganggu saja perasaan" ucap Liuzzi yang mencari alasan untuk menghindari dari pertanyaan Kenan, semakin lama Kenan pun menatap tajam mata Liuzzi.


Liuzzi pun hanya bisa tersenyum lebar kepada abang nya itu "Jadi... apa aku bisa tidur kembali hahahaha, aku sangat mengantuk sekali abang" ucap Liuzzi dengan nada panik nya.


"Hem.... ya boleh, kalian jangan sampe nonton drakor korea bersama sampe harus maraton! jika kalian sampe melakukan itu abang akan menampar pipimu kau mengerti!" ucap Kenan dengan tegas.


Mampusss mau di tampar nih pipi gua!


"Liuzzi ayo film drakor korea nya udah mau dimulai nih!" teriak Yuri dari dalam kamar, Liuzzi pun seketika langsung ketakutan, Kenan pun langsung membulatkan matanya karena ia mendengar teriakan suara Yuri.


"Ah... abang Kenan jangan dengarkan kata-kata yang barusan ya, kayanya Yuri hanya mimpi nonton drakor korea deh, makanya dari itu aku harus kontrol dulu dianya ya" ucap Liuzzi yang langsung menutup pintu itu.


Tiba-tiba Kenan pun langsung menahan pintu itu yang membuat Liuzzi pun ingin memaksanya menutup pintu itu tetapi tidak bisa.


"Coba buka pintu kamar nya sekarang!" ucap Kenan dengan nada tegasnya dan dengan wajah nya yang menatap Liuzzi dengan serius.