
"Apa kau bilang!" teriak Liuzzi yang langsung mengeluarkan tongkat panjang lipat nya dari tas nya.
Mampusss dehh gua!
Tiba-tiba ketika Liuzzi hampir saja memukul Nay, suara Zen dan juga Yuri beserta kedua abang nya pun menghentikan niat Liuzzi untuk memukul Nay.
"Liuzzi.... lu mau ngapainin si Nay, jangan sampai dia terluka ya!" ucap Zen dengan tegas, seketika Liuzzi pun terdiam dan langsung menyimpan tongkat nya itu kedalam tasnya.
Kenapa gua ngerasa sedih gini ya, kenapa Zen jadi semakin membela Nay... aduh kenapa sih lu Liuzzi, seharusnya lu bersyukur bahwa Nay masih dicintai oleh Zen!
"Gak apa-apa ko Zen tenang aja, aku tadi sama Liuzzi cuman bercanda aja" ucap Nay, Zen pun terdiam menatap Liuzzi dengan pandangan seperti orang yang tidak saling mengenal satu sama lain, Yuri pun langsung menepuk pundak Liuzzi.
"Sabar ya... aku yakin ada cowok lain yang bakal lebih baik lagi dari pada Zen ayo semangat Liuzzi chan!" bisik Yuri tepat ditelinga Liuzzi, Liuzzi pun tersenyum dan langsung menatap mata Yuri yang mempunyai banyak harapan kepadanya.
"Makasih Yuri..." ucap Liuzzi yang langsung memeluk Yuri, Yuri pun membalas pelukan nya itu.
"Weh... di rumah kita bertiga ada acara perayaan kelulusan, kalo kalian bertiga mau ikutan dan gabung monggo datang aja kerumah kita bertiga ya" ucap Aditya, yang langsung pergi begitu saja, Liuzzi pun terheran-heran akan perkataan abang nya tadi.
"Bang Kenan, emang nanti di rumah bakal ada acara perayaan kelulusan!? lo ko gua baru tahu? kenapa gak pada kasih tahu sama gua?" ucap Liuzzi yang langsung memasang wajah keslanya, Kenan pun terdiam dengan tatapan dingin nya, seperti abang Aditya.
"Karena lu tadi gak ada, makanya lu lain kali jangan ngilang kaya kucing!" ucap Kenan yang langsung pergi begitu saja menggalkan Liuzzi, Nay dan Zen pun saling menatap satu sama lain, lalu pergi begitu saja dari hadapi Liuzzi dan Yuri.
Kini tinggal mereka berdua sajalah disana, Liuzzi pun memutuskan untuk duduk bersama Yuri di samping nya dengan wajah suram nya.
"Huft... sebenarnya gua bingung sama keadaan ini Yuri" ucap Liuzzi yang langsung memasang wajah sedih nya, Yuri pun mulai fokus mendengar perkataan Liuzzi.
"Emang lu bingung karena apa Liuzzi?"
"Sebenarnya gini, dulu abang Aditya dan Kenan gak sedingin sekarang, selalu jawab pertanyaan gua dengan pendek, biasanya juga mereka sering jahil sama gua, tapi sekarang gak... mereka gak jahil lagi sama gua..." ucap Liuzzi dengan nada ucapan nya yang mulai mengingat kenangan masa lalu.
"Dulu sebelum abang Aditya dan Kenan berpisah dengan Desi dan juga Bela, mereka tampak memiliki harapan di wajah mereka berdua, sering jahil, menjalani kehangatan"
"Tapi pas ada perkumpulan antara saudara aja, abang Aditya sibuk buat obat-obatan di laboratorium kamar nya, dan sedangkan abang Kenan selalu memikirkan perkembangan perusahaan"
"Liuzzi sebenarnya, abang kamu itu ada suatu perubahan dalam sikap mereka, mereka lebih dewasa dari kemarin-kemarin, mereka juga sadar bahwa mereka berdua adalah harap keluarga, kamu memang boleh berfikir seperti itu, tetapi senggang nya ubah mereka, untuk bisa menjalin hubungan persaudaraan yang baik, ajak mereka buat ngumpul bersama, atau bisa tarik mereka kalo mereka langsung bersikeras" ucap Yuri yang langsung membuat Liuzzi semakin lebih baik.
ibu dan ayah Liuzzi pun mendatangi mereka Liuzzi untuk segera pulang, untuk persiapan perayaan kecil-lecilan di rumah.
"Liuzzi ayo balik, oh iya calon menantu ku Yuri kamu bisa datang ya ke perayaan kelulusan nanti" ucap ibu Liuzzi sembari tersenyum.
Eh!? aya yang dibilang ibu Liuzzi tadi apa gua gak salah dengar!? calon menantu!?
Dirt-dirt...
Tiba-tiba telepon Liuzzi pun berbunyi, Liuzzi pun langsung cepat-cepat mengecek nya dan ternyata itu adalah ibu dosen nya, yang tiba-tiba menelepon nya. Liuzzi pun langsung mengangkat telepon ibu dosen itu dengan cepat.
"Halo Liuzzi... ibu hanya pengen kasih tahu saja, ibu hari ini sudah dapat surat pengajuan pengunduran diri ibu, nah sebagai gantinya besok Liuzzi harus mengajar ya, buat mahasiswa baru" ucap ibu dosen, Liuzzi oun terkejut, jantung nya pun mulai berdegup dengan cepat.
"A-apa!? aku besok harus mengajar!? kan hari ini aku baru lulus bu, masa langsung disuruh ngajar besok!?" ucap Liuzzi yang langsung cepat menjawab nya.
"Yah... gimana lagi dong, maaf ya Liuzzi jadi mendadak laya gini, oh iya, ibu juga udah megang surat lamaran kerja kamu sebagai dosen magang sih selama 1 tahun, tapi kalo kamu lulus tes dosen magang nanti kamu pasti bisa jadi dosen tetap" ucap ibu dosen sekali lagi yang membuat Liuzzi pun terkejut, ia pun mulai panik.
"Huaaaaa, bu dosen kenapa sih ibu tega banget sama saya, ibu udah kaya ada persiapan deh... ibu sebenarnya pake jurus apa sih!? pake jurus jitsu kah!? huhuhu" ucap Liuzzi yang langsung membuat tubuh nya lemas, kedua orang tua Liuzzi pun terbingung dengan sikap Liuzzi.
"Udah tenang aja, ibu sebenarnya punya jurus kaise, nanti kalo kamu masih gak bisa ngajar di hari pertama, tenang aja, nanti ada dosen yang sama angkatan kayanya kamu bakal bantuin kamu ok" ucap ibu dosen itu, yang membuat Liuzzi pun merasa sedikit lebih tenang dengan perkataan ibu dosen.
Tapi bu siapa sih sebenernya anak dosen itu yang satu angkatan dengan aku bu!?" ucap Liuzzi, tiba-tiba suara telepon pun mati, ibu dosen sengaja mematikan telepon Liuzzi, agar tidak memberi tahu siapa namanya.
Kayanya ada bau-bau disengajakan nih telepon nya dimatiin sama ibu dosen!! sabar nya diri ku ini ya...
"Arghhh dasar sialan! mendingan gua tadi tolak aja tawaran ibu dosen itu! kan gua jadi berabe gini!!" teriak Liuzzi yang mulai melemaskan tubuh nya lagi, ia seperti menyesal telah menerima tawaran ibu dosen itu.
"Liuzzi sebenarnya kamu telepon sama siapa sih!? ko kamu sampe stres sendiri?" ucap ibu Liuzzi yang makin penasaran dengan tingkat anehnya Liuzzi.